Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
112


__ADS_3


Baby Care adalah surganya peralatan bayi di Alindra Mall. Semua barang yang dibutuhkan bayi ada disana. Mulai dari kebutuhan bayi baru lahir hingga balita. Peralatan makan, mandi, pakaian hingga tempat tidur dengan berbagai bentuk dan jenis.


Khalisa dan Azfan yang tidak pernah memiliki pengalaman soal peralatan bayi, sebelum pergi ke Alindra Mall sudah lebih dulu mencaritahu melalui internet. Khalisa juga bertanya pada Ica peralatan apa saya yang harus ia beli dan benar-benar digunakan. Sebab Khalisa tidak mau jika telanjur membelinya ternyata barang tersebut tak dibutuhkan.


Rindang mengekori Khalisa dan Azfan karena ia ingin ikut memilih peralatan bayi tersebut. Melihat pakaian bayi membuat Rindang gemas dan betah berlama-lama berada disana. Tidak. Ia memang betah berlama-lama di Mall.


"Jadi kalian nggak mau ngasih tahu gender bayinya?" Rindang masih merayu Khalisa yang merahasiakan jenis kelamin bayi itu setelah USG.


"Rahasia." Khalisa dan Azfan menjawab bersamaan.


Rindang memutar bola mata kesal, mengapa mereka kompak sekali merahasiakannya dari Rindang. Akhirnya Rindang berjalan ke bagian peralatan makan membiarkan Khalisa dan Azfan memilih box bayi.


"Mas, warna putih bagus kelihatan bersih." Khalisa menyentuh salah satu tempat tidur berwarna putih berukuran tidak terlalu besar.


"Boleh." Azfan mengangguk setuju.


"Mau ini Ce?" Salah seorang karyawan toko menghampiri Khalisa.


"Kami mau lihat yang lain dulu."


"Untuk baju newborn nya ada di sebelah sana Ce." Karyawan tersebut mengarahkan Khalisa dan Azfan ke bagian baju.


Mata Khalisa berbinar-binar melihat deretan baju yang tergantung dengan berbagai motif di bagian depannya.


"Yang ini kainnya lembut banget." Khalisa menyentuh salah satu baju bayi berwarna putih polkadot.


"Ambil saja sayang." Sahut Azfan.


"Kandungannya sudah berapa bulan Ce?" Tanya karyawan itu.


"Udah lewat delapan Mbak." Khalisa mengulas senyum, ia dan Azfan baru sempat berbelanja kebutuhan bayi karena kemarin-kemarin mereka sibuk kuliah . Azfan juga harus melakukan bimbingan di kampus dan di rumah.


Selain beberapa baju mereka juga membeli topi bayi, kaos kaki, dan selimut. Khalisa juga membutuhkan alat pompa ASI dan bottle sterilizer. Semuanya baru sempat dibeli hari ini.


"Dari kemarin aku khawatir banget kalau sampai dia lahir tapi kita belum beli peralatannya." Tukas Khalisa ketika hendak membayar semua belanjaan mereka.


"Alhamdulillah hari ini kita punya waktu luang untuk pergi kesini." Sahut Azfan, ia menyodorkan kartu ATM miliknya pada kasir.


"Kami akan membawanya ke mobil Ce Khalisa." Ujar karyawan laki-laki yang telah bersiap membantu mereka membawa belanjaan ke mobil.


"Kamu beli apa?" Khalisa terkejut melihat Rindang ikut pergi ke kasir dengan membawa beberapa barang.


"Beli gelas sama piring, lucu nih." Rindang meletakkan dua gelas dan piring berbentuk kepala Mickey Mouse berbahan silikon.

__ADS_1


"Buat apa?" Khalisa mengernyit heran.


"Buat aku sendiri lah, nah kalau buat dia," Rindang menyentuh perut Khalisa, "aku udah beliin stroller." Ia melihat ke arah karyawan yang mendorong stroller berwarna hitam menuju kasir.


"Ya ampun, kenapa kamu beliin ini segala sih?" Melihat itu Khalisa tahu kalau stroller tersebut tidak murah atau bahkan lebih mahal dari tempat tidur bayi yang dibelinya.


"Kenapa sih, nggak usah protes ini aku belinya buat keponakan aku bukan buat kamu." Rindang meminta kasir melayani pembayarannya. "Tapi nanti boleh nggak anak kamu panggil aku Mama?"


Khalisa mengangguk dan memalingkan wajah, tiba-tiba kalimat itu membuat hatinya terasa perih. Rindang pernah bilang bahwa ia tidak mungkin hamil karena penyakit yang dideritanya. Rindang sudah cukup kesusahan selama ini dan ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika hamil nanti. Rindang tak sanggup.


Sebelum pergi mereka mampir ke salah satu restoran Arab yang berada di lantai satu Alindra Mall untuk makan siang. Khalisa sudah lama penasaran ingin makan di restoran yang menjual berbagi masakan khas Arab tersebut. Walaupun Khalisa tak tahu apakah rasanya akan cocok di lidahnya.


Mereka memesan Nasi Biryani, Samosa Daging dan Luqaimat sebagai makanan penutup serta minuman Sahlab sedangkan Rindang memilih Mint Lemonade karena cuaca sedang panas.


"Wah porsinya gede juga nih satu nampan, nyesel nih pesen satu nampan begini." Rindang melihat Nasi Biryani di tengah meja mereka. Terdapat potongan ayam, mentimun dan tomat di atas nasi berwarna kuning tersebut.


"Kalau nggak habis dibungkus aja." Khalisa yakin mereka tak akan bisa menghabiskan satu nampan sekaligus.


Mereka melahap suapan pertama, sesendok nasi ditambah suwiran ayam. Rasa rempah begitu kuat saat nasi itu menyentuh permukaan lidah.


"Wah enak." Ujar Khalisa dan Rindang bersamaan.


"Sayang nggak bisa makan banyak." Rindang melahap suapan kedua.


"Oh iya, katanya Jason udah seminggu lebih nggak dateng ke tempat komunitas." Khalisa ingat Levin sempat mengatakan bahwa Jason tidak pernah datang ke pertemuan padahal Ustadz Malik telah menjadwalkan pembelajaran thaharah terhadapnya. Bahkan Levin tidak dapat menghubungi nomor telepon Jason.


"Ngomong apa?"


"Jason bilang dia mau memperbaiki diri untuk nikahin aku jadi aku bilang perbaiki niat hanya karena Allah bukan karena makhluk karena dia akan kecewa dan aku juga belum tentu nikah sama dia."


"Terus?"


"Terus dia marah dan mengungkit masa pacaran kami, katanya dia udah memperlakukan aku dengan baik, aku akuin Jason emang baik banget tapi tetep aja aku nggak mau nikah sama dia."


"Kamu bilang gitu terus Jason ngilang?"


"Maybe." Rindang mengedikkan bahu.


"Pasti dia sakit hati karena kata-kata kamu, iman dia masih lemah harusnya sebagai saudara sesama muslim kita harus rangkul dia agar Jason bisa Istiqomah."


"Kok kamu nyalahin aku sih?" Rindang tersinggung dengan kalimat Khalisa yang seolah-olah menyalahkan dirinya.


"Aku nggak bermaksud nyalahin kamu."


"Jadi maksud kamu, aku harus iyain aja kalau dia bilang mau nikahin aku?"

__ADS_1


"Rindang, bukan gitu maksud aku." Khalisa menggeleng.


"Itu yang aku tangkap dari kalimat kamu barusan." Rindang beranjak. "Kamu sahabat aku loh, kenapa kamu malah belain Jason sih?"


"Rindang, duduk dulu." Khalisa menarik tangan Rindang tapi Rindang segera menepisnya. "Duduk Rin!"


"Aku pulang!" Rindang melenggang pergi meninggalkan meja mereka, ia berjalan ke kasir untuk membayar semua pesanan.


Khalisa setengah berlari mengejar Rindang, sungguh dalam hal ini ia tak bermaksud menyalahkan Rindang.


"Tunggu Rindang, kamu nggak boleh pergi dalam keadaan marah kayak gini." Khalisa menahan lengan Rindang.


"Sekarang aku tanya, apa aku bertanggungjawab terhadap masa depan Jason?"


"Enggak." Khalisa menggeleng.


"Kalau dia nggak bisa mempertahankan agamanya apa aku yang salah?"


"Rindang, aku minta maaf, ayo duduk lagi kita bicarakan pelan-pelan." Khalisa masih mencoba berbicara dengan suara pelan apalagi restoran itu sedang ramai bertepatan dengan jam makan siang.


Rindang menepis tangan Khalisa setelah kasir mengembalikan kartu miliknya. Ia pergi tanpa mengucapkan apapun lagi pada Khalisa.


"Sudah biarkan Rindang sendiri lagi." Azfan menyusul Khalisa, ia mengusap-usap lengan sang istri. "Makan lagi yuk."


Khalisa menggeleng, ia sudah tidak memiliki selera untuk makan lagi.


"Ya udah kalau gitu aku minta bungkus aja, sayang lo kita baru makan sedikit."


Khalisa menempelkan keningnya pada dada Azfan. Ia dan Rindang hampir tidak pernah bertengkar. Namun sekalinya bertengkar, Rindang sulit untuk dirayu.


"Mau samperin Rindang ke apartemennya?" Tanya Azfan setelah mereka kembali ke mobil.


"Nggak usah dulu." Khalisa memegangi perutnya yang terasa kram, mungkin karena ia tidak bisa mengendalikan emosinya barusan.


"Tarik napas pelan-pelan, jangan terbawa emosi, aku ngerti kok Haura nggak bermaksud menyalahkan Rindang apalagi membela Jason." Azfan mengusap perut Khalisa pelan.


Khalisa membersit hidungnya yang basah, ia bisa menahan air mata tapi tidak dengan ingusnya.


"Masih kram?"


"Iya,duh kaku banget sebelah sini." Khalisa menyentuh perut bagian kanannya yang terlihat lebih menonjol.


"Dia nggak mau Umma nya sedih."


Khalisa mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Azfan.

__ADS_1


"Nanti kita bicara lagi sama Rindang ya, sekarang dia masih marah makanya gitu." Azfan mencoba menenangkan Khalisa.



__ADS_2