Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
93


__ADS_3

Gumpalan awan putih bergumul di bawah sana dengan pemandangan gunung yang terlihat samar di bawahnya. Gunung apakah itu? gunung Merapi? Azfan menggeleng menjawab pertanyaan dirinya sendiri bahwa ia tidak tahu gunung apa yang baru saja dilewati oleh pesawat yang membawa 120 penumpang termasuk dirinya.


Tiba-tiba Azfan tersenyum melihat gunung tersebut, jika memang gunung Merapi itu artinya ia hampir sampai. Bukan pemandangan gunung yang membuatnya senang tapi bayangan senyum Khalisa membuat Azfan tidak sabar ingin segera sampai di rumah.


Ayolah ini baru dua hari Azfan meninggalkan Khalisa tapi itu adalah dua hari paling lama dalam hidupnya. Azfan tidak bisa tidur nyenyak meskipun kasur hotel begitu empuk dengan AC dingin atau makanannya yang enak-enak. Panitia acara benar-benar memperlakukan Azfan dengan baik. Namun semua itu tidak membuat Azfan betah lebih lama berada di Malang tanpa Khalisa.


"Ibu-ibu dan Bapak-bapak, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja anda berada dalam posisi tegak. Dan pastikan juga sabuk pengaman anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan anda, atau di penyimpanan atas. Terima kasih."


Pemberitahuan oleh pramugari yang Azfan tunggu-tunggu akhirnya terdengar. Setelah beberapa saat pesawat mendarat dengan mulus, para penumpang mengambil barang-barang mereka dan turun satu per satu dengan tertib.


Jantung Azfan berdebar melihat Khalisa dari kejauhan, ia seperti seorang yang baru jatuh cinta padahal mereka telah lama hidup bersama. Langkah Azfan semakin cepat bahkan tak terasa ia setengah berlari menghampiri Khalisa yang menunggunya dengan gamis putih yang sangat cantik di tubuhnya.


"Assalamualaikum." Azfan mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Khalisa.


"Waalaikumussalam." Khalisa mencium tangan Azfan lama, Azfan juga mencium tangan lalu keningnya. "Gimana perjalanannya Mas?" Khalisa memeluk Azfan, ia amat rindu aroma Azfan bahkan semalam ia tidur dengan memeluk jaket yang biasa Azfan kenakan. Meskipun tidak sama tapi setidaknya itu bisa membantu Khalisa tidur lebih nyenyak.


"Rasanya lama banget karena nggak ada Haura."


Khalisa tersipu melepas pelukan, biasanya mereka memang selalu bepergian bersama.


"Aku bawa banyak oleh-oleh, semoga Haura suka." Azfan sedikit mengangkat tas kain di tangan kirinya yang berisi makanan ringan khas Malang untuk Khalisa dan Huma karena telah menemani Khalisa selama ini pergi.


"Pasti suka, keripik apel nya Malang nggak pernah gagal."


"Haura tahu ini keripik apel?" Azfan mengangkat alisnya karena Khalisa tahu sebelum ia menunjukkan isi tas tersebut.


"Tahu dong, apalagi yang orang bawa dari Malang selain ini?" Khalisa tersenyum lebar mengambil alih tas di tangan Azfan.


"Pihak panitia juga ngasih kerajinan tangan." Mereka melangkah keluar bandara menuju tempat parkir, Azfan tidak sabar menunjukkan mug keramik dengan tulisan nama dirinya dan Khalisa pemberian pihak panitia. Menjadi imam disana adalah salah satu pengalaman paling berharga bagi Azfan, ia ingin pergi kesana lagi dengan Khalisa.


"Mereka baik banget."


"Itu makanya aku nggak mau terima imbalan sayang, itu adalah kehormatan buat aku dan alangkah nggak pantas kalau aku terima upah."


"Yang mereka kasih udah jauh lebih banyak dari pada apa yang Mas kasih." Khalisa menggandeng tangan Azfan, ia mendukung tindakan Azfan tersebut.


"Benar Haura."


Azfan duduk di kursi kemudi, karena Khalisa sudah menyetir dari rumah kesini maka Azfan akan menggantikan Khalisa menuju rumah. Walaupun Khalisa dengan suka rela menyetir tapi Azfan tetap tidak bisa duduk tenang di kursi penumpang.


"Cuacanya cerah, aku bisa lihat gunung dari atas pesawat." Azfan mulai menjalankan mobil.


"Kelihatan asap nya nggak?"


Azfan menggeleng ragu, ia tidak tahu karena gunung itu tertutup awan putih.


"Katanya aktivitas gunung Merapi meningkat 12 jam terakhir, semoga nggak serius ya Mas."


"Oh ya?" Azfan tidak membaca berita karena kegiatannya di Malang cukup padat. "BMKG ada naikin levelnya nggak?"


"Ng ... nggak sih, mereka bilang masyarakat nggak boleh panik."


"Semoga semuanya baik-baik aja."


Khalisa membuka tas kain berwarna hijau yang Azfan bawa tadi, ia meminta izin untuk melihat isi tas tersebut. Khalisa tidak sabar ingin segera mencicipi makanan-makanan itu.


"Kemarin Naira ambil dua kaligrafi ayat kursi sama Al-Fatihah yang warna dasarnya hitam terus tulisannya warna gold, itu cantik banget Mas." Khalisa mengeluarkan kotak yang cukup berat.


"Waktu bikin aku minta saran Haura kan, makanya kaligrafi itu pas jadi cantik banget." Azfan menoleh sesaat pada Khalisa. "Itu pasti mug nya."


"Aku boleh buka ya?"


"Boleh sayang." Tanpa minta izin pun Azfan akan selalu memperbolehkan Khalisa melakukannya.


Khalisa mengeluarkan mug tersebut dari kotaknya, "wah cantik banget." Matanya berbinar-binar melihat mug berwarna emerald, "mereka tahu nama aku?" Khalisa tak percaya namanya terukir pada mug itu.


Azfan tersenyum lebar, kenapa Khalisa begitu kaget kalau orang lain tahu namanya.


"Sebelum tahu namaku, mereka pasti sudah tahu nama Haura dulu." Ujar Azfan karena nama keluarga Daniel Alindra sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat termasuk anak-anak dan kerabatnya.


"Ah!" Khalisa memekik bersamaan dengan suara benda jatuh dan pecah. Azfan spontan menginjak rem melihat Khalisa yang menjatuhkan salah satu dari mug tersebut. "Maaf Mas, aku nggak sengaja."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, hati-hati jangan dipegang itu tajam lo." Azfan meminggirkan mobil, "biarin aja."


Khalisa melihat mug di bawahnya yang sudah tidak berbentuk-terpecah belah menjadi beberapa bagian. Itu adalah mug yang memiliki ukiran nama Khalisa pada permukaannya.


"Mas aku nggak sengaja." Mata Khalisa berkaca-kaca, ia menyesal karena membuka mug tersebut disini. Harusnya ia lebih sabar hingga sampai rumah. Jika Khalisa mau sedikit bersabar pasti itu tidak akan terjadi. Walaupun membelinya lagi pasti kesannya tak akan sama karena mug itu hadiah dari panitia.


"Aku tahu sayang, nanti aku bersihin sampai rumah ya, kaki Haura naik dulu takutnya kena pecahan mug nya."


Khalisa menaikkan kakinya dan duduk bersila, "Mas nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa kan Haura nggak sengaja, lagi pula masih ada satu lagi Haura bisa pakai."


Khalisa menekuk bibir bawahnya menunduk dalam menatap pecahan mug tersebut. Azfan kembali menjalankan mobil dengan kecepatan sedang di jalanan yang cukup lengang.


"Jangan sedih, apa Haura mau aku satuin lagi pecahan itu?"


Khalisa melihat Azfan lalu menggeleng pelan, mana mungkin ia meminta Azfan melakukan itu. Mereka memiliki banyak mug hadiah dari teman-teman Khalisa tapi tetap saja Khalisa merasa amat bersalah.


"Makasih karena Mas nggak marah." Khalisa mengulurkan tangan mengusap paha Azfan.


"Sayang, aku nggak mungkin marah karena hal seperti ini."


Sesampainya di rumah Khalisa meminta Azfan segera masuk dan istirahat sementara ia membersihkan pecahan mug di dalam mobil. Khalisa juga memberitahu Azfan untuk tidak masuk ke kamar dulu karena Huma masih tidur disana.


Bahan mug itu cukup tebal, harusnya tidak pecah ketika mengenai bagian bawah mobil yang tak sekeras lantai keramik.


"Belum rezeki." Gumam Khalisa seraya menyapu pecahan itu menadah nya dengan tempat sampah. "Padahal warna kamu cantik banget." Khalisa mengikat kantong plastik yang melapisi tempat sampah lalu memasukkannya ke tempat sampah lain yang lebih besar di depan pagar.


"Udah?" Azfan keluar setelah berganti baju rumahan.


"Udah Mas."


"Nggak apa-apa, kan masih ada satu lagi." Azfan mengusap kepala Khalisa. "Lain kali Haura harus hati-hati takutnya pecahannya kena kulit."


"Tapi itu yang punya Mas Azfan."


"Haura boleh pakai, milik ku milik Haura juga." Azfan mengajak Khalisa kembali masuk ke rumah untuk membuka oleh-oleh yang lain sekaligus mengalihkan pikiran Khalisa dari mug tersebut.


"Biar aku pijit ya." Khalisa memijat bahu Azfan.


"Aku tadi cek di YouTube acara isra' mi'raj di Masjid Jami' Agung Malang belum ada, aku pengen lihat Mas Azfan."


"Haura bisa lihat secara langsung nggak perlu dari video itu." Sahut Azfan.


"Iya sih, tapi aku tetep pengen lihat yang disitu kan biasanya kalau Mas jadi imam shalat, aku di belakang jadi nggak tahu ekspresi Mas gimana."


Azfan meraih ponselnya dan membuka email, ia tahu pihak panitia mengirimkan videonya ke email. "mereka kirimin videonya kok."


"Mau lihat." Khalisa meletakkan dagunya pada bahu Azfan.


Azfan memutar video saat dirinya menjadi imam shalat magrib di Masjid Jami' Agung. Ada sekitar 10 ribu jamaah yang hadir tadi malam.


"Masya Allah, suamiku kok ganteng banget." Khalisa berbinar-binar melihat wajah Azfan pada layar ponsel.


"Haura baru sadar?" Canda Azfan, untung saja Khalisa berada di belakangnya sehingga wajahnya yang mulai memerah tidak akan ketahuan.


Khalisa menahan senyum, ia sendiri tidak tahu kapan menyadari bahwa Azfan itu pria yang tampan. Azfan yang selalu berbalut pakaian sederhana tapi itu tak membuatnya kehilangan pesona. Jujur saja Khalisa selalu ingin memiliki Azfan dan sekarang hal itu telah terwujud. Khalisa kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia rela berbagi cinta dengan wanita lain. Tentu Khalisa tidak rela tapi apakah ada cara lain agar ia memiliki keturunan di keluarga itu. Ada banyak cara. Namun Khalisa sudah memutuskan satu hal. Itu seperti jalan keluar yang akan mencelakai Khalisa sendiri.


Huma keluar dari kamar Khalisa mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang tidak asing di telinganya. Tanpa ikut melihat video yang diputar pada ponsel itu pun Huma tahu kalau itu adalah suara Azfan.


"Wah Ar-Rahman kamu merdu banget." Puji Huma mendengar suara Azfan melafalkan surat Ar-Rahman, "itu sholat apa?"


Khalisa menyodorkan sebungkus keripik nangka pada Huma yang duduk bergabung dengan mereka di sofa.


"Sholat isya'." Jawab Azfan.


"Jadi malu karena aku hampir setiap shalat bacanya


qul huwallahu aḥad.


"

__ADS_1


"Kenapa malu?" Azfan dan Khalisa bertanya bersamaan membuat Huma tersentak, tangannya yang hendak mengambil sepotong nangka kering terhenti di udara.


"Karena—pendek." Jawab Huma. "Malu sama Allah."


"Kamu pikir Allah bakal ketawain kamu karena baca surat-surat yang pendek aja, kalau iya maka kamu salah besar, surat Al-Ikhlas berisi pujian pada Allah, semua ayat dalam Al-Qur'an adalah firman Allah sekaligus bentuk cinta Allah, kenapa harus malu?"


Huma melongo beberapa saat lalu nyengir, itu berarti ia bisa berbangga hati meskipun selalu membaca surat-surat paling pendek dalam jus Amma.


******


Aroma tanah diguyur hujan lebat menyeruak menembus dinding. Sepanjang pagi hingga siang matahari bersinar cerah, menjelang malam hujan mulai mengguyur. Cuaca semakin tidak bisa diprediksi seperti halnya hati wanita yang sama sekali tak bisa ditebak. Orang bilang hati wanita paling susah diselami bahkan oleh penyelam profesional sekalipun.


Khalisa gusar ingin mengatakan sesuatu pada Azfan selepas shalat magrib dan tilawah beberapa lembar Al-Qur'an. Kalimat yang sudah ia rangkai sedemikian rupa tercekat di tenggorokan. Khalisa bukan orang yang mudah ragu-ragu tapi ini adalah perkara serius.


"Mas." Panggil Khalisa pada Azfan yang sedang mengganti baju koko nya dengan kaos oblong.


"Kenapa sayang?" Azfan menggantung bajunya di belakang pintu karena ia akan mengenakannya lagi besok.


"Mas." Khalisa memanggil sekali bukan karena ia tidak mendengar jawaban Azfan, tapi ia ingin meyakinkan dirinya sendiri sebelum benar-benar mengatakan hal tersebut.


"Ada apa, aku lihat setelah Huma pergi Haura gelisah, Haura mau Huma menginap disini lagi?" Azfan duduk di samping Khalisa, "mau lepas mukenah?"


Khalisa menggeleng, "Mas inget waktu aku bahas soal film?"


Azfan mengangguk.


"Sudah satu tahun berlalu dan kita belum bisa memiliki keturunan dan penyebabnya ada di aku, walaupun dokter bilang bukan nggak mungkin bagi ku bisa hamil dan aku selalu percaya bahwa Allah pasti kasih kita jalan." Suara Khalisa sedikit tersendat, ia ingin pingsan saja agar tidak perlu melanjutkan kalimat ini. Namun Khalisa sudah membuat pilihan, ia harus melakukannya. "Kemarin aku ketemu Naira—Mas, dia setuju menikah dengan mu."


Azfan tertegun—dadanya bagai dihujam benda tumpul berkali-kali—sakit tapi tidak berdarah tapi itu mampu menyumbat aliran napasnya. Apa yang Khalisa katakan? kenapa Khalisa meracau seperti ini. Jadi benar dugaan Azfan, Khalisa sempat menyinggung soal film itu karena ingin melakukan hal ini. Lalu jika Naira setuju apakah Khalisa tak perlu menanyakan pendapat Azfan lebih dulu.


"Maksud Haura apa?" Azfan bukannya tidak mengerti kalimat to the point Khalisa, ia ingin Khalisa mengatakannya sekali lagi barangkali sekarang Khalisa dalam keadaan setengah sadar saat mengucapkan nya.


"Aku ikhlas jika Mas Azfan menikah apalagi wanita itu Naira, dia sangat baik dan cantik." Khalisa mengucapkan itu dengan gemetar, ia telah berusaha se-tegar mungkin tapi sorot matanya tak bisa dibohongi.


Manik hitam Azfan redup, tangannya yang tadi menyentuh paha Khalisa perlahan merosot. Tega sekali Khalisa memintanya menikah lagi, apakah pernikahan ini hanya sebatas keturunan dan selebihnya tak ada artinya lagi bagi Khalisa. Apakah Khalisa juga bisa seenaknya menentukan takdir Azfan.


"Kamu egois sekali Khalisa." Azfan beranjak.


Kalimat pendek itu terdengar amat dingin membuat Khalisa beku terpaku di tempatnya. Khalisa memejamkan mata menelan saliva dengan susah payah. Sakit. Namun apa boleh buat, bukankah kebahagiaan tak didapatkan dengan jalan yang mudah.


"Mas." Khalisa mengikuti Azfan keluar kamar.


"Sejak kapan kamu memikirkan ini semua?" Azfan berbalik menatap Khalisa tajam. "Kamu bilang Naira setuju? apa aku peduli? dan kamu juga nggak peduli gimana perasaan ku?" Azfan berusaha untuk tidak meninggikan suaranya, "apa di mata kamu cuma anak, kenapa nggak minta pendapat ku lebih dulu, aku ini kamu anggap apa?"


"Mas, aku tahu kamu juga menginginkan anak." Khalisa memegang lengan Azfan.


"Aku ingin tapi enggak dengan menikah sama wanita lain, Khalisa, seandainya kamu nggak pernah bisa hamil, sampai kapanpun aku nggak akan nikah sama wanita lain!" Kali ini Azfan tidak bisa mengendalikan emosi nya, ia menepis tangan Khalisa dengan keras.


"Kamu meremehkan perasaan ku, Khalisa."


Kalimat itu seperti pedang yang menghunus tepat ke dalam jantung Khalisa. Sakit sekali. Perasaan menyesal merembes masuk ke hati Khalisa. Ia telah gegabah.


"Aku selalu menganggap pernikahan ini suci, hubungan kita nggak akan pernah goyah karena saling menguatkan tapi ternyata kamu menganggap semuanya dangkal, mungkin karena kamu terbiasa mendapatkan apa yang kamu mau sejak kecil jadi hal seperti ini juga kamu paksain tanpa mikirin perasaan aku."


"Aku tahu kamu begitu mendambakan anak, kita akan berusaha tapi bukan dengan menghadirkan orang lain di antara kita."


Khalisa merosot ke lantai dengan menggenggam tangan Azfan.


"Sekarang aku tanya, seandainya aku yang memiliki masalah itu dan bukan kamu, apa kamu akan menikah lagi dan meninggalkan aku?"


Khalisa mendongak hingga Azfan bisa melihat wajah Khalisa basah oleh air mata. Azfan begitu hancur melihat Khalisa menangis tapi perasannya telah lebih dulu dihancurkan oleh wanita yang paling dicintainya itu.


Azfan mengangkat kakinya melewati tubuh Khalisa, ia membuka pintu hingga suara hujan yang tadinya lirih kini santer terdengar.


"Mas Azfan mau kemana?" Khalisa bangkit mengejar Azfan yang telah berada di teras rumah.


"Pikirkan lagi, sekecil apa cintamu sama aku sampai kamu tega seperti ini, apa mungkin lebih kecil dari biji sawi?" Azfan berkata dengan perasaan perih yang menusuk-nusuk hatinya. Hati Azfan lebih remuk dari mug berwarna emerald yang Khalisa jatuhkan tadi.


"Selain memecahkan mug, kamu juga ahli memecahkan perasaan ku Khalisa." Azfan setengah berlari keluar rumah, ia tidak mempedulikan suara Khalisa yang terus memanggilnya.


Khalisa mengambil payung berlari mengejar Azfan yang sudah jauh di depan sana. Hujan yang turun begitu teras membuat jarak pandang Khalisa terbatas. Dimana Azfan? kenapa Azfan menghilang begitu cepat?

__ADS_1




__ADS_2