Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
66


__ADS_3

Pandangan Khalisa tidak terlalu jelas ketika baru membuka mata, samar-samar ia melihat sosok Azfan tepat di depan wajahnya. Khalisa tersenyum melihat wajah tenang Azfan yang sedang terlelap. Khalisa mendengar suara dengkuran halus Azfan, ia gemas tidak bisa menahan diri untuk tak menyentuh hidung Azfan.


Khalisa menutup mulutnya sendiri agar tidak menimbulkan tawa yang terlalu kencang sambil memencet hidung mancung Azfan. Ia berpindah ke alis Azfan yang tebal meski tidak setebal milik Fawas.


Azfan menggeliat ketika ia merasakan tangan seseorang menyentuh wajahnya. Khalisa segera menyingkirkan tangannya karena ia telah membangunkan Azfan.


"Sudah subuh ya?" Tanya Azfan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Belum." Khalisa merapatkan tubuhnya pada Azfan menyingkirkan jarak di antara mereka.


Azfan memeluk tubuh mungil sang istri yang begitu mudah didekap dan kembali memejamkan mata. Untuk sesaat tubuh Khalisa menegang karena belum terbiasa dengan keberadaan Azfan. Namun setelah beberapa saat Khalisa bisa rileks ketika Azfan menepuk-nepuk punggungnya seperti sedang menidurkan anak kecil.


"Banyuwangi dingin sekali." Gumam Azfan.


"Mau mandi air hangat?" Rasa kantuk Khalisa telah hilang sepenuhnya karena ia terbiasa bangun sebelum subuh.


"Ide bagus." Azfan membuka mata menatap wajah Khalisa.


"Aku isi airnya dulu." Khalisa hendak melepaskan diri dari perangkap lengan Azfan tapi Azfan justru mengeratkan pelukannya. "Mas, katanya mau mandi."


Dengan berat hati Azfan melepaskan pelukannya dan membiarkan Khalisa turun dari tempat tidur. Ia ikut bangun dan bergegas membereskan tempat tidur mereka yang berantakan. Bahkan satu bantal teronggok di lantai dengan menyedihkan. Azfan heran apa yang mereka lakukan semalam hingga tempat tidur king size tersebut begitu berantakan.


Tunggu dulu, barusan Azfan mendengar Khalisa memanggilnya Mas, sejak kapan?


Mula-mula Azfan menurunkan semua bantal dan dua boneka berbentuk kelopak bunga di ujung tempat tidur agar ia mudah merapikan bed cover yang tampak kusut.


Azfan menyusun kembali dua bantal dan melipat selimut tebal. Terakhir ia meletakkan boneka di sudut tempat tidur seperti semula.


"Sudah." Khalisa muncul dari balik pintu kamar mandi. Ia terkejut ketika kembali tempat tidur mereka sudah rapi. Ah rupanya Azfan jago soal membereskan rumah. Khalisa tahu ketika berkunjung ke tempat kos Azfan, meski sempit tapi Azfan menatanya hingga nyaman untuk ditinggali. "Mandi bareng ya."


"Hm?" Alis Azfan terangkat, mandi bareng? Ia bahkan tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. "Haura nggak takut?"


"Takut kenapa?"


"Takut aku melakukan sesuatu seperti semalam." Azfan melangkah menghampiri Khalisa di depan pintu kamar mandi.


"Memangnya mau lagi?"


"Kamu capek kan?" Azfan mengusap rambut Khalisa dengan lembut.


"Itu bukan sesuatu yang bikin aku capek."


Azfan terkekeh melihat ekspresi Khalisa yang menggemaskan, "ayo mandi." Bagaimana mungkin Khalisa mengatakan itu bukan sesuatu yang melelahkan padahal Azfan bisa melihat dengan jelas jika Khalisa kelelahan. Apalagi mereka tidak istirahat dari pagi.


"Kamu berendam gih, aku mau langsung mandi aja." Pinta Khalisa, ia sudah mengisi bathub dengan air hangat dan menabur garam laut serta sabun hingga bathub itu penuh dengan busa.


"Aku belum pernah mandi di bak seperti ini."


"Nggak apa-apa masuk aja, nanti pas beres mandi kulit kamu bakal lembut seperti bayi."


"Apa ini rahasianya kulit Haura bisa halus dan putih?" Azfan naik ke bathub penuh busa itu.


Khalisa tertawa, ia bahkan tak memperhatikan hal itu.


"Mau shampo ini?" Khalisa menunjukkan botol shampo berwarna hitam pada Azfan.


"Alindra?" Azfan membaca merek shampo tersebut, ia tak tahu jika perusahaan Daniel juga mengeluarkan produk shampo seperti ini.


"Iya, Alindra Beauty punya banyak produk shampo, sabun dan perawatan lain yang ditangani sama Ai Aisyah."


"Wah." Hanya itu yang berhasil keluar dari mulut Azfan karena terlalu kagum. "Semua keluarga Haura sangat produktif."


"Aku pijitin kepalanya sekalian." Khalisa mengambil alih shampo tersebut dan membasahi rambut Azfan sebelum menuangkan sedikit shampo karena rambut Azfan tidak terlalu tebal. Sepertinya Azfan baru mencukurnya.

__ADS_1


"Makasih Haura." Azfan memejamkan mata menikmati pijatan Khalisa di kepalanya.


"Akong bilang kesuksesan bukan milik orang yang malas, kalau kita lebih suka leyeh-leyeh sambil main hp sedangkan orang lain bekerja maka jangan heran kalau kesuksesan nggak bisa jadi milik kita."


Azfan tersenyum, pantas saja ia hampir tidak pernah melihat Khalisa berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Setiap ada kesempatan pasti Khalisa menggambar desain pakaian atau hal lainnya. Ternyata sifat itu sudah ditanamkan pada keluarga Khalisa sejak kecil.


"Haura nggak malu punya suami seperti aku?"


Khalisa menghentikan gerakannya karena terkejut dengan pertanyaan Azfan, ia tidak suka Azfan bertanya seperti itu.


"Aku bukan orang hebat seperti kalian." Azfan hanya punya toko kecil, itu saja berkat kebaikan hati Daniel yang membiarkannya menggunakan bangunan toko itu. Kalau tidak pasti sampai sekarang Azfan masih bekerja di Mangan Gelato dan tidak ada waktu untuk mengikuti kegiatan organisasi.


"Awhh!" Azfan memekik karena Khalisa memijat kepalanya dengan kencang. "Ada apa sayang?"


"Jangan nanya kayak gitu, aku nggak suka." Khalisa mengakhiri layanan pijatnya dan memilih mandi. "Sebelum melamar kamu, aku sudah memikirkannya berkali-kali dan berhari-hari jadi itu bukan keputusan yang aku ambil dengan gegabah, itu hasil pemikiran panjang ku dan aku nggak punya alasan untuk malu." Khalisa mengucapkan itu semua dengan menggebu-gebu, ada rasa sesak yang hinggap di dadanya ketika Azfan mengatakan hal seperti itu.


Ketika keluarga Khalisa menyetujui pilihannya untuk menikahi Azfan mengapa lelaki itu justru berpikir bahwa Khalisa malu punya suami sepertinya.


Mereka sama-sama terdiam. Hanya gemericik air yang terdengar di kamar mandi tersebut. Azfan menyelesaikan mandinya dengan cepat dan mengenakan bathrobe putih yang tergantung di dekat bathub.


Khalisa juga sudah selesai mandi dan mengenakan bathrobe yang sama dengan Azfan karena itu memang disediakan untuk mereka.


"Maafkan aku." Azfan menahan tangan Khalisa di depan pintu, "maafkan aku, Haura, aku nggak akan bertanya seperti itu lagi."


Khalisa memutar kepala, matanya memerah bukan karena hendak menangis tapi karena ada busa shampo yang masuk ke matanya barusan.


"Di mataku, kamu sempurna nggak ada cela."


Azfan menarik Khalisa ke dalam pelukannya, ia menyesal telah bertanya seperti itu pada Khalisa. Itu telah menyinggung perasaan Khalisa.


"Kamu harus berjalan dengan percaya diri di sampingku, semua orang memujimu, kamu tampan dan memiliki suara yang bagus, kamu selalu mencerminkan sifat ghadhul bashar, gimana aku nggak jatuh cinta sama kamu."


Masya Allah, kenapa Haura bisa mengatakan sesuatu yang membuat hati ini terasa tenang.


"Aku hanya bisa mencurahkan seluruh cinta ku untuk mu." Azfan mengecup kening Khalisa lama, ia benar-benar berterimakasih karena Khalisa menerima dirinya tanpa menuntut apapun.


Azfan menuruni anak tangga dengan hati-hati, dari atas sini ia bisa melihat ruang tamu yang luas dengan sofa berwarna merah hati. Terdapat foto pernikahan Daniel dan Ica di salah satu sisi dinding dan foto keluarga dengan ukuran bingkai paling besar bahkan lebih besar dari mahar Khalisa.


Saat pertama kali berkunjung ke rumah ini Azfan tidak terlalu memperhatikan foto-foto tersebut, semalam ia juga tak sempat melihatnya.


Di sisi lainnya terdapat banyak kaligrafi yang ditata begitu apik sehingga sedap dipandang. Tiga di antaranya adalah kaligrafi buatan Azfan yang Daniel beli saat festival kampus. Senyum Azfan tersungging ternyata Daniel benar-benar memajangnya.


"Papa." Azfan melihat Daniel ketika ia membuka pintu utama rumah itu. Tadinya ia pikir Daniel berangkat lebih dulu.


"Ayo pergi bersama, saya memang nungguin kamu." Daniel beranjak dari kursi yang terletak di teras depan, ia menyampirkan sajadah di pundaknya. "Naik motor ya."


"Kalau gitu biar saya yang nyetir Pa."


"Oke."


Mereka menaiki mobil Honda Scoopy milik Daniel yang ia punya sejak awal-awal menikah dengan Ica dan masih bisa digunakan sampai sekarang asal jaraknya tidak terlalu jauh.


"Ini motor tua, masih pakai bensin." Daniel naik di belakang Azfan.


"Tapi masih bagus, Pa." Azfan menghidupkan motor itu dan mulai menjalankannya. Satpam membukakan gerbang untuknya dengan cekatan.


Masjid itu bisa dijangkau 5 menit menggunakan motor dengan kecepatan sedang apalagi sepanjang perjalanan Azfan dan Daniel mengisinya dengan obrolan ringan. Pembawaan Daniel yang ramah seperti Khalisa membuat Azfan mudah akrab dengan sang mertua. Apalagi sebelumnya mereka juga sering mengobrol baik langsung maupun melalui telepon.


******


"Azfan." Ica membawa sepiring kurma menghampiri Azfan yang baru masuk.


"Iya Bu Ica eh Mama." Azfan belum terbiasa memanggil Ica dengan sebutan mama.

__ADS_1


"Tolong bawa ini ke atas ya, buat kamu dan Khalisa." Ica menyodorkan piring tersebut pada Azfan.


"Terimakasih Ma." Azfan mengambil alih sepiring kurma itu dari tangan Ica.


"Papa mau." Daniel muncul dari balik pintu.


"Ada di belakang, Pa." Tukas Ica, ia mencium punggung tangan sang suami yang baru pulang dari masjid.


"Barang siapa mengonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun atau sihir.” Daniel menyebutkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim tentang kurma ajwa.


"Makan ini aja nggak apa-apa, Pa." Azfan menawarkan kurma itu pada Daniel.


"Eh jangan itu Mama udah hitung buat Khalisa sama Azfan, di dapur masih banyak, ayo." Ica menarik Daniel menuju dapur untuk makan kurma.


"Makan pipi Mama boleh nggak?" Daniel merangkul Ica dari samping dan menggigit pipi sang istri.


"Papa ih malu tahu ada Azfan." Ica menyikut perut Daniel agar berhenti melakukan hal itu.


Azfan tersenyum melihat Daniel dan Ica yang begitu romantis seperti pengantin baru. Azfan melangkah menaiki tangga untuk sampai ke kamar yang berada di lantai. Ia mengetuk pintu sebelum membukanya.


Ketika masuk Azfan melihat Khalisa sedang berdzikir di atas sajadah menggunakan tasbih digital. Khalisa menghentikan aktivitasnya dan menoleh mendengar Azfan datang.


"Mama ngasih kurma." Azfan ikut duduk di atas sajadah menyodorkan kurma ajwa yang ia bawa.


Khalisa mengulas senyum meletakkan tasbihnya untuk memakan kurma setelah mengucapkan bismillah.


"Aku suapin, tanganku bersih kok." Azfan menyuapkan kurma itu pada Khalisa bahkan ia juga memisahkan bijinya.


"Minumnya nggak ada, aku ke bawah dulu ambil minum." Khalisa beranjak dari atas sajadah untuk mengambil air karena botol yang ada di kamarnya sudah kosong sejak tadi malam.


Khalisa terkejut melihat Mar berada di depan pintu.


"Eh maaf Non Khalisa, saya disuruh Ibu nganter minum." Mareta memberikan dua botol air mineral pada Khalisa.


"Aku baru aja mau turun buat ambil minum, Mama perhatian banget deh." Khalisa tersenyum lebar karena Ica begitu memperhatikan dirinya dan Azfan.


"Nanti Non sama Mas Azfan mau sarapan di bawah atau makanannya saya anterin kesini?"


"Aku turun kok sebentar lagi, makasih ya Bi Mar."


"Sama-sama Non, saya permisi dulu."


Khalisa kembali menutup pintu dan meletakkan dua botol air mineral di atas meja.


Setelah menghabiskan 7 butir kurma, Khalisa meminta Azfan untuk menyimak bacaannya. Ia sedang menghafal kembali terjemahan Al-Qur'an yang sempat hilang di beberapa juz. Jika ia bisa mengingat nama orang maka lain halnya dengan terjemahan Al-Qur'an, beberapa kali Khalisa tidak lancar menyebutkannya.


"Surat apa sayang?" Tanya Azfan.


"Dimulai dari An-nisa ayat pertama, Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu .... "


"Mau aku baca arabnya terlebih dahulu?"


"Boleh biar lebih enak." Khalisa senang jika Azfan mau membacakan ayat pertama untuknya sehingga ia bisa lebih mudah mengingatnya.


Khalisa memperhatikan Azfan yang sedang membacakan surat An-Nisa ayat pertama. Suara merdu Azfan memenuhi kamar itu, jika AC bisa mendinginkan tubuh Khalisa maka suara Azfan bisa menyejukkan hatinya. Kabar baiknya Khalisa bisa mendengar suara itu tiap pagi tanpa ia harus membuka laptop untuk memutar video Azfan saat lomba MTQ di kampus.


"Haura silakan lafal kan terjemahannya." Seru Azfan tapi Khalisa tidak berkutik, "Haura." Ia sedikit mengguncang tubuh sang istri, "kamu melamun?"


"Hm? enggak kok." Khalisa mengusap wajahnya, ia terlalu mengagumi Azfan hingga tidak sadar bahwa suaminya itu telah menyelesaikan bacaannya.


Azfan tersenyum lebar, mengapa tingkah Khalisa begitu menggemaskan.


"Bagaimana bisa ingat kalau Haura nggak serius."

__ADS_1


Khalisa tertawa malu, ia tidak seharusnya berhadapan seperti ini dengan Azfan karena ia jadi tak bisa fokus karena ketampanan sang suami.


"Aku lapar jadi nggak bisa konsentrasi." Khalisa memegangi perutnya, jujur saja ia memang lapar karena kemarin hanya makan sedikit. Khalisa tidak mau gaun pengantinnya terlihat jelek karena ia makan terlalu banyak. "Mau peluk dulu." Khalisa merentangkan tangannya memeluk Azfan.


__ADS_2