
Suara merdu Azfan memenuhi ballroom hotel Jinggo membuat seluruh tamu undangan terkesima dan tak terasa menahan napas untuk beberapa saat. Tak hanya memberikannya melalui kaligrafi, Azfan juga melantunkan surat Ar-Rum ayat 21 itu dengan suara yang mampu merasuk ke dalam bilik-bilik hati.
Khalisa menatap Azfan yang fokus menyelesaikan bacaannya, ia tidak berkedip demi melihat wajah laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.
"Masya Allah, Habibi." Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Khalisa setelah Azfan menyelesaikan bacaannya, ia terkejut beberapa saat karena mengucapkan itu.
Azfan menoleh tak kalah terkejut mendengar Khalisa memanggilnya seperti itu.
"Sesungguhnya bagian kosong di hatiku terasa penuh setelah mendengar lantunan ayat tersebut." Lirih Khalisa, ia menggenggam tangannya sendiri hingga berkeringat.
Azfan mengulum senyum tidak mampu membalas ucapan itu maka ia menarik tangan Khalisa dan menggenggamnya. Azfan memperhatikan jemari mungil dan lentik milik Khalisa dengan cincin yang tersemat di jari manisnya. Melihat itu saja membuat Azfan jatuh cinta, apalagi jika ia memperhatikan wajah Khalisa.
Dari kejauhan Kafa menatap lurus ke arah Khalisa dan Azfan yang tampak romantis, tatapan mereka tak bisa bohong, keduanya memang saling mencintai. Namun Kafa belum bisa menerima ini, ia hanya bisa mendoakan Khalisa dalam hati agar jalan yang dipilih kakak sepupunya itu adalah pilihan yang benar. Setelah memikirkan ini selama beberapa hari, Kafa sadar diri bahwa ia tak bisa menilai pilihan seseorang itu buruk atau tidak. Maka Kafa hanya bisa memperhatikan dari jauh.
Kafa terkejut ketika pandangannya dan Khalisa bertemu, meski dari jarak sejauh ini rupanya Khalisa menyadari keberadaannya. Kafa buru-buru menunduk dan memutar badan berharap Khalisa tidak menyadari bahwa itu dirinya.
"Astaghfirullah, maaf-maaf." Kafa tak sengaja menabrak seorang gadis yang melangkah dari arah berlawanan. Gadis itu tersungkur ke lantai karena berbenturan dengan tubuh Kafa yang tinggi. "Aku nggak sengaja."
"Maaf-maaf, bukannya ditolongin." Gadis itu mengangkat wajah dan berdiri dengan susah payah karena ia mengenakan kebaya yang membuatnya sulit bergerak. "Lagian yang lain di dalam, kamu di luar." Gerutunya.
"Aku nggak dapat undangan." Dusta Kafa. "Kamu siapa?" Kafa memperhatikan gadis berkebaya panjang berwarna moka sesuai dengan dress code acara hari ini.
"Mahira, temannya Kak Khalisa, permisi aku mau masuk." Gadis bernama Mahira itu adalah adik tingkat Khalisa sesama anggota HAWASI.
"Tunggu-tunggu, kamu angkatan tahun ini?"
"Iya."
"Fakultas apa?"
"FIAI." Gadis bernama Mahira itu berlalu meninggalkan Kafa menyusul teman-temannya yang lain, ia tertinggal karena Kafa menabraknya barusan.
Khalisa dan Azfan sedang melakukan prosesi sungkem terhadap orangtua Khalisa dan ibu Azfan yang matanya sudah sembab karena pada momen bahagia ini Ayah Azfan tidak bisa turut menyaksikannya.
"Ibu, Azfan minta maaf yang sebesar-besarnya karena selama ini Azfan banyak salah sama Ibu, Azfan juga belum bisa membahagiakan Ibu." Azfan mengecup punggung dan telapak tangan ibunya, air matanya kembali jatuh tanpa bisa dicegah.
"Bagi Ibu, kelahiran kamu adalah suatu kebahagiaan." Kirana mengecup kening anaknya penuh kasih sayang, sesungguhnya air mata yang menetes di pipinya adalah karena kebahagiaan. "Terimakasih sudah memilih menantu yang cantik buat Ibu."
Azfan tersenyum, ia memeluk ibunya sekali lagi sebelum berpindah ke Daniel.
"Titip Khalisa, Fan." Lirih Daniel.
Azfan mencium punggung tangan Daniel, "saya akan menjaga Khalisa sepenuh hati, saya sudah berjanji di hadapan Allah dan Pak Daniel serta Bu Ica."
"Panggil saya Papa seperti Khalisa memanggil saya." Daniel memeluk Azfan dan menepuk punggungnya pelan.
"Baik, Papa."
"Khalisa itu selalu terlihat ceria tapi ia sering menangis saat sendirian, saya pasrahkan Khalisa untukmu, dia milikmu saya mohon perlakukan dia dengan baik." Suara Daniel gemetar, ia tak kuasa menahan tangis kala mengucapkan kalimat tersebut pada Azfan. Meski ia yakin Azfan akan memperlakukan Khalisa dengan baik tapi tetap saja ia merasa khawatir.
"Terimakasih Papa sudah mempercayakan Khalisa kepada saya, inshaa Allah saya akan mencurahkan seluruh cinta saya kepada Khalisa seperti apa yang Papa lakukan." Azfan tersenyum ketika Daniel menatapnya teduh.
__ADS_1
"Ibu, terimakasih sudah merestui Khalisa dan Azfan." Khalisa mencium punggung tangan Kirana.
"Bagaimana Ibu nggak merestui sedangkan kamu adalah gadis yang baik, Ibu nggak punya alasan untuk menolak mu Khalisa." Kirana mengusap puncak kepala Khalisa penuh kasih sayang, sejak Khalisa pertama kali berkunjung ke rumah ia sudah menyukai gadis itu.
"Ibu adalah Ibu yang luar biasa karena melahirkan dan mendidik Azfan hingga menjadi seperti sekarang."
"Ibu harap kehidupan rumah tangga kalian selalu bahagia." Ibu menarik Khalisa ke dalam pelukannya.
Khalisa dapat merasakan tubuh Kirana berguncang karena menangis.
Azfan membantu Khalisa beranjak, ia mengusap pipi Khalisa yang basah karena air mata.
Khalisa tersenyum malu-malu saat Azfan melakukan itu. Ia ingin bertemu dengan cermin karena takut jika air mata merusak riasannya. Namun untungnya Khalisa tidak memakai bulu mata pasangan sehingga ia tak perlu khawatir jika bulu matanya bisa copot. Namun Khalisa percaya MUA pilihan mamanya tidak akan mengecewakan.
Azfan dan Khalisa turun menghampiri kakek dan nenek Khalisa serta Akong dan Ama. Azfan dan Khalisa mencium tangan dan memeluk mereka meminta doa agar pernikahan itu membawa berkah.
"Khalisa pandai memilih suami, dia memilih lelaki tampan dan inshaa Allah baik agamanya seperti mu." Puji Yusuf, kakek Khalisa, ia mengusap pundak Azfan dengan senyum terukir di wajahnya.
"Alhamdulillah, terimakasih Kakek, saya beruntung bisa mengenal lalu jatuh hati padanya." Balas Azfan.
"Semoga kamu dan Azfan selalu bahagia." Jaya bangkit dari kursi rodanya memeluk Khalisa, meski ia telah menahannya dari tadi tapi ada saja air mata yang lolos. Khalisa adalah salah satu anugerah terindah di keluarga Alindra karena dengan adanya Khalisa, keluarga mereka bisa kembali bersatu.
"Jangan nangis Akong." Khalisa mengusap pipi Jaya lembut.
"Tolong jaga Khalisa." Ucap Jaya pada Azfan.
"Saya akan selalu menjaganya." Tegas Azfan.
Kini giliran tamu undangan yang berasal dari pondok pesantren Al-Falah tempat 6 tahun Khalisa belajar dan teman kampus termasuk anggota HAWASI.
"Make-up kamu masih on point kok." Rindang berbisik di telinga Khalisa ketika ia naik ke pelaminan bersama Huma untuk foto bersama. Karena mereka telah bersahabat sejak bayi maka Rindang mengerti arti dari ekspresi wajah Khalisa.
"Kamu perlu ucapan selamat dari aku nggak?" Huma melihat Khalisa.
"Nggak perlu, kehadiran kamu disini udah cukup buat aku." Khalisa memeluk Huma terlebih dahulu sebelum sahabatnya itu memeluknya. "Makan yang banyak ya, itu masakan Ibunya Geza loh." Bisiknya.
"Terus apa hubungannya sama aku?"
Khalisa mengurai pelukan menatap Huma penuh arti.
"Eh mau ngapain?" Khalisa menarik tangan Rindang yang hendak menjabat tangan Azfan.
"Ya ampun, lupa!" Rindang menepuk jidatnya sendiri. "Maaf ya Fan, enggak sengaja."
Azfan mengangguk tersenyum lebar melihat tingkah Rindang.
Anggota HAWASI satu persatu naik ke atas pelaminan memberi selamat pada Khalisa dan Azfan sekaligus berfoto bersama. Hampir semua anggota HAWASI datang termasuk mahasiswa baru yang baru bergabung. Namun Khalisa tidak melihat Syifa, apakah Syifa marah padanya karena ucapannya hari itu.
"Syifa nggak ada?" Tanya Khalisa pada Aliyah.
"Syifa berhalangan untuk datang." Jawab Aliyah, "semoga kamu dan Azfan bahagia dan pernikahan ini membawa berkah nggak hanya untuk kalian tapi orang-orang di sekitar kalian."
__ADS_1
"Aamiin, makasih Mbak Aliyah." Ucap Khalisa.
"Ini anak paling diem tapi malah nikah duluan, wah dunia emang penuh kejutan." Ujar Lutfhi seraya menepuk-nepuk bahu Azfan.
"Eh katanya yang melamar duluan itu Khalisa ya, bener nggak?" Tanya Ikha.
Khalisa tertawa lalu menoleh melihat Azfan, untuk beberapa saat pandangan keduanya terkunci seolah-olah tengah berkomunikasi melalui tatapan tersebut.
"Bener." Jawab Khalisa akhirnya dengan senyum yang semakin lebar.
Khalisa dan Azfan duduk di kursi pelaminan yang dari tadi nganggur karena sepanjang tamu menyalami, mereka terus berdiri. Sekarang semua tamu sedang menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Aku boleh panggil Khalisa dengan Haura?" Akhirnya Azfan bisa mengajukan pertanyaan itu pada Khalisa karena dari tadi ia tidak memiliki kesempatan.
"Haura?" Ulang Khalisa.
"Seperti kata Marwah kulit mu sangat putih, dalam bahasa Arab Haura memiliki arti putih bersih dan itu sangat cocok untuk mu."
"Aku suka." Khalisa mengangguk. Ia menyukai nama panggilan itu, dari mana Azfan mendapatkan nama panggilan secantik itu. Apakah Azfan telah memikirkannya selama ini? Khalisa bahkan tak pernah memikirkan nama panggilan untuk Azfan setelah menikah, tapi sekarang ia telah mendapatkannya. Setelah tahu bahwa usia Azfan beberapa bulan lebih tua dari Khalisa maka ia akan memanggil Azfan Mas saja. Beberapa kali Khalisa juga pernah memanggil Azfan dengan Mas di depan Azmal dan Zunaira untuk memberi contoh pada mereka. Jadi Khalisa tak akan merasa canggung lagi.
******
Malam harinya giliran keluarga dekat yang datang ke ballroom hotel tersebut. Azfan dan Khalisa telah berganti pakaian dengan warna abu-abu setelah tadi beristirahat sebentar dan mendirikan shalat.
Azfan langsung bisa mengenali keluarga dari pihak Daniel karena pakaian mereka berbeda dari tamu lain yang mengenakan jilbab.
"Selamat Khalisa dan Azfan." Fawas naik ke pelaminan seorang diri, seharusnya ia datang tadi siang bersama mahasiswa UII tapi karena ada beberapa urusan ia baru bisa datang di malam harinya. "Semoga pernikahan ini membawa keberkahan untuk kalian."
"Makasih Kak Fawas." Balas Khalisa dan Azfan.
"Ternyata kamu yang Khalisa pilih, dia beruntung memilihmu, lelaki yang mencintai Al-Qur'an dan paham agama." Fawas menjabat tangan Azfan.
"Saya pernah dengar bahwa jodoh tidak akan tertukar."
"Benar." Fawas mengangguk beberapa kali.
"Saya dengar Kak Fawas juga akan menikah." Tukas Khalisa.
"Inshaa Allah, ditunggu undangannya ya." Fawas mengusap bahu Azfan singkat sebelum turun dari pelaminan.
"Itu Fatah dan Fatimah, adiknya Kafa." Khalisa menunjuk dua bocah yang sedang menuju pelaminan bersama Umar dan Aisyah.
"Mereka kembar?" Tanya Azfan karena mereka terlihat seumuran meski wajahnya tidak terlalu mirip.
"Ya, mereka bukan kembar identik, usianya terpaut dua tahun dengan Zunaira." Khalisa mengembangkan senyum lebar menyambut Fatah dan Fatimah. "Aduh ganteng banget nih Fatah pakai baju batik." Khalisa mencubit pipi Fatah gemas.
"Fatimah cantik nggak?" Tanya Fatimah tidak mau kalah.
"Tentu saja, Fatimah cantik banget, kalian belum kenalan kan, ini Mas Azfan." Khalisa mengenalkan Azfan pada Fatah dan Fatimah.
Anggota keluarga yang lain bergantian memberi selamat pada Khalisa dan Azfan. Khalisa menyebutkan nama mereka satu per satu pada Azfan sekaligus sebutan untuk memanggil mereka. Sebutan dengan bahasa hokkien itu terasa amat baru bagi Azfan sehingga ia tak bisa mengingat semuanya. Namun Khalisa bilang tak perlu menghafalnya karena ia akan selalu mengingatkan Azfan.
__ADS_1