Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
58


__ADS_3

Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar menggema hingga ke pelataran masjid Ulil Albab. Bacaan surat Al-Baqarah ayat 185 itu terdengar merdu menyentuh hingga ke ulu hati, mengalirkan kesejukan ke seluruh jiwa. Angin bertiup menggoyangkan pohon sawo kecik, pohon kepel,palem dan kurma yang ditanam di sepanjang jalan utama Boulevard hingga depan masjid.


"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah."


Khalisa yang sore itu mengenakan gamis hitam mengusap-usap lengannya yang terasa dingin, bulu kuduknya meremang bukan karena tiupan angin melainkan karena merdunya bacaan Al-Qur'an yang berhasil menelusup ke dalam indra pendengarannya hingga ke hati. Suara itu mampu membuat sekujur tubuhnya bergetar.


Perasaannya campur aduk antara tidak ingin Qiro'ah itu segera usai tapi pada saat yang bersamaan ia ingin segera bertemu dengan sang qari' yang telah membuatnya jatuh hati. Ia dibuat nyaman oleh bacaan itu sekaligus gugup karena hendak mengungkapkan perasaannya yang selama ini tertahan.


Bagaimana jika ia menolak ku? bagaimana jika ia punya sosok perempuan lain yang telah menjadi istri idamannya? bagaimana jika ....


Bagaimana jika ternyata Azfan diam-diam menyukai Syifa yang pandai membaca Alqur'an dengan indah. Namun Khalisa meyakinkan dirinya lagi setelah mengingat percakapan Azfan dengan Kafa waktu itu. Khalisa jelas mendengar Azfan tengah memperjuangkannya.


Ia berdebat dengan dirinya sendiri, meski sudah memikirkannya selama beberapa hari dan mengumpulkan keberanian tapi tetap saja, ia adalah seorang perempuan. Kadang sisi lain dari dirinya berkata, pantaskah kamu sebagai perempuan mengungkapkan perasaan lebih dulu dan mengajaknya menikah? apa kamu gila? Namun kadang ia berkata bukankah tak ada larangan bagi perempuan melamar lelaki lebih dulu? seperti Bunda Khadijah yang jatuh cinta pada akhlak mulai Rasulullah dan ingin menjadikannya suami. Namun itu Bunda Khadijah tentu tak bisa dibandingkan dengan seorang Khalisa si gadis biasa.


Setelah menyelesaikan bacaannya, Azfan diam sejenak lalu beranjak dari sana. Sekilas ia melihat sosok Khalisa di depan masjid, Azfan mengerjapkan mata memastikan penglihatannya tidak salah. Mengapa Khalisa disini? apakah ibu Azfan mengajak Khalisa buka bersama lagi seperti kemarin?


"Khalisa." Panggil Azfan, ia memperhatikan punggung mungil Khalisa, gamis Khalisa tertiup angin sore yang cukup dingin. Azfan tak kuasa melihat Khalisa kedinginan karena tiupan angin, ia ingin merengkuhnya untuk memberi kehangatan. Itu adalah doa yang selalu Azfan panjatkan sepanjang malam berharap munajatnya bisa menembus langit dan didengar oleh Allah.


Itu dia, ayo Khalisa kamu bisa melakukannya, bukankah selama ini kamu tak pernah merasa malu begini? bahkan kau tidak malu menyapa semua orang yang baru kamu temui? kau sudah lama mengenalnya, mengapa harus malu? tentu saja aku malu—malu sekaligus takut ditolak. Daniel bilang perempuan hakikatnya selalu dihiasi rasa malu.


Khalisa kembali berdebat dengan dirinya sendiri, siapa lagi yang bisa diajaknya berdebat, tak ada orang lain disini. Sepertinya setelah ini Khalisa harus ikut organisasi debat karena ternyata ia juga mahir dalam hal itu.


"Khalisa." Ulang Azfan karena Khalisa tidak segera berbalik, apakah ia salah lihat karena terlalu sering memikirkan Khalisa. Astaghfirullah!


"Ya?" Khalisa memasang senyum paling lebar saat membalikkan badan, ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya meskipun itu sia-sia. Pipi Khalisa memanas hingga menimbulkan semburat kemerahan disana.


"Berapa lama kamu berdiri disini?" Tanya Azfan, siapakah yang tega membuat Khalisa menunggu? Azfan akan menjitak kepala orang yang telah melakukan hal itu pada Khalisa apalagi disore yang dingin ini. Berani sekali orang itu.


"Barusan kok." Khalisa mencengkram gamis yang ia kenakan, kedua tangannya tiba-tiba kesemutan saking tegangnya.


"Sepertinya kamu menunggu seseorang." Duga Azfan, tapi siapa? tak ada orang disini. Apakah ada seseorang yang bersembunyi di balik pohon sawo rimbun itu?


Khalisa mengangguk dalam. Rasa percaya diri yang biasa ia miliki kini menghilang entah kemana, mungkin terbawa angin bersama jatuhnya daun kepel yang mulai menguning.


"Menungguku?" Ah percaya diri sekali kamu Fan, bagaimana jika bukan kamu yang Khalisa tunggu, mau ditaruh dimana muka kamu? di bawah keset masjid lalu diinjak-injak oleh para jamaah yang baru selesai berwudhu.


Khalisa spontan mendongak terkejut, bagaimana mungkin Azfan tahu kalau Khalisa sedang menunggunya.

__ADS_1


Azfan tertawa, "nggak ada orang lain lagi di dalam masjid." Ujarnya seraya mengusap tengkuk lalu tangannya yang lain mengusap telinganya yang mulai memanas. Pasti sekarang telinga Azfan juga sudah memerah. Padahal beberapa saat yang lalu Azfan mengatakan ini adalah sore yang dingin tapi sekarang tiba-tiba udara di sekelilingnya terasa panas.


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Khalisa maju satu langkah agar suaranya bisa didengar dengan jelas, kan tidak lucu kalau ia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengungkap perasaan lalu suaranya tertiup angin dan hanya menggantung di udara.


"Ada apa? kenapa kamu gugup gitu?" Ia tersenyum menunggu dengan sabar kalimat apa yang akan Khalisa ucapkan setelah ini meski dirinya juga sedang gugup luar biasa.


Khalisa menelan liur, ia mengucapkan bismillah dalam hati sebelum mengeluarkan kalimat yang sudah ia siapkan sejak jauh hari.


"Menikah lah denganku, Azfan, dengan begitu kita bisa meraih cinta Allah bersama-sama."


Kalimat itu seperti sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh tubuh, senyum yang semula terlukis di wajah Azfan perlahan lenyap. Manik Azfan berbinar berkaca-kaca, apakah telingaku bermasalah? ia menggeleng samar mengerjapkan mata.


Ya Allah, Engkau telah menjawab doaku. Cincin itu akan tersemat di jari manis Khalisa.


Azfan berpegangan pada tiang masjid karena tubuhnya limbung, telinganya berdenging. Setetes kristal bening membentuk anak sungai di pipi Azfan.


"Enggak, Khalisa." Suara Azfan sedikit tercekat.


Khalisa membelalak, pandangannya nanar tak percaya pada apa yang didengarnya. Azfan menolaknya? Ya Allah, aku ditolak. Ya Allah sesungguhnya aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima apapun jawaban yang akan Azfan berikan tapi ternyata rasanya sangat sakit. Lebih baik Khalisa teriris pisau dapur berkali-kali dibandingkan harus menerima penolakan. Ah ternyata Azfan tidak menyukai Khalisa lalu apakah Khalisa salah dengar bahwa Azfan tengah memperjuangkannya?


"Aku akan datang ke rumah mu bersama Ibu dan Pak Dhe Tris untuk meminang mu."


Khalisa mengangkat wajah, jadi Azfan tidak menolaknya?


"Aku akan menemui Papa dan Mama kamu, Khalisa, aku ingin mengatakan ini sejak lama tapi nggak pernah punya keberanian, ternyata kamu mendahuluiku."


Bibir Khalisa tersenyum tapi ia tak dapat menahan air matanya yang kini telah mengalir deras. Itu adalah tangisan bahagia yang pernah Khalisa rasakan sebelumnya.


Khalisa mendongak mengusap hidungnya yang ikut basah karena menangis.


Azfan tak tahu harus berbuat apa sekarang, akhirnya ia menjitak kepalanya sendiri saat Khalisa tidak melihat. Ternyata orang yang telah membuat Khalisa menunggu adalah Azfan mana ia menjitak kepalanya beberapa kali karena telah membuat Khalisa kedinginan di depan masjid.


******


10 hari yang lalu


"Masya Allah, Alhamdulillah cuma tersisa 5 kaligrafi." Azfan tak henti mengucapkan hamdalah ketika hendak kembali ke toko usai mengikuti festival kesenian di jalan Malioboro. Azfan merasakan pertolongan Allah begitu dekat karena ia tak pernah mendapat hasil penjualan yang lebih banyak dari hari ini.

__ADS_1


Ketika Azfan berniat dalam hati untuk memperjuangkan Khalisa, rasanya kemudahan senantiasa datang kepadanya.


"Makasih udah bantu aku hari ini." Azfan memberikan sejumlah uang untuk Idris karena telah bersedia membantunya hari ini.


"Fan, ini banyak banget." Idris hendak mengembalikan beberapa lembar pada Azfan.


"Itu upah mu, kalau nggak ada kamu, aku nggak akan bisa ikut festival ini." Azfan mendorong tangan Idris agar menerima imbalan tersebut.


Azfan juga menyumbangkan uang itu ke yayasan panti sosial. Meski tidak seberapa tapi Azfan berharap uang itu bermanfaat untuk mereka yang kekurangan.


Sepulang dari panti, Azfan dengan penuh keyakinan melangkah masuk ke salah satu toko emas yang tidak jauh dari area toko miliknya. Meski tak pernah sekalipun masuk ke toko perhiasan tapi Azfan memberanikan diri untuk mengatakan tujuannya.


"Saya mau cari cincin." Ucap Azfan saat ditanya oleh salah satu karyawan toko perhiasan tersebut.


"Boleh saya tahu untuk siapa?"


"Untuk seorang gadis."


"Baik, silakan disini." Karyawan berjilbab itu mengarahkan Azfan ke etalase dimana berbagai model cincin dipajang di sana. Azfan silau dengan kemilau barisan cincin yang tertata rapi itu.


"Apa Mas tahu ukuran jarinya?"


Azfan terdiam, ia tidak tahu berapa ukuran jari Khalisa. Ia pikir hanya pakaian yang memiliki ukuran ternyata cincin juga ada. Azfan berusaha mengingat jemari Khalisa, itu lentik dan sepertinya sangat kecil. Azfan juga tak pernah benar-benar memperhatikan jari-jari Khalisa. Lalu selama ini apa yang ia perhatikan? entahlah, Azfan tak pernah berani melakukan itu.


"Sepertinya lebih kecil dari kelingking saya." Azfan menunjukkan kelingkingnya, ia yakin kalau jari manis Khalisa sangat kurus tapi panjang. "Tolong pilihkan model yang sederhana." Pintanya karena Khalisa menyukai sesuatu yang sederhana. Azfan juga tak pernah melihat Khalisa mengenakan perhiasan apapun di tangannya.


"Apakah ini untuk tunangan?"


"Iya."


"Bagaimana dengan ini?" Karyawan itu mengeluarkan dua cincin dengan permata putih di tengah dan tiga permata di pinggir kanan kiri berukuran lebih kecil. "Kalau jari gadis itu kecil, kemungkinan ukurannya nomor 10."


"Boleh yang ini." Azfan memilih salah satu karena model apapun akan terlihat cantik di jari Khalisa.


Karyawan itu memasukkan ke dalam kotak perhiasan berbentuk persegi. Azfan membayar cincin sekaligus kotak perhiasannya lalu keluar dari toko itu dengan senyum yang tidak bisa ia tahan padahal Khalisa belum tentu menerima lamarannya. Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? bibirnya bisa kaku karena terlalu lama tersenyum.


__ADS_1


__ADS_2