Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
87


__ADS_3

Khalisa baru saja selesai mendirikan shalat isya dan membaca beberapa halaman Al-Qur'an ketika mama nya menelepon. Sebelum menjawabnya Khalisa berpindah ke ruang tamu, ia meletakkan laptop nya pada meja dan duduk di atas lantai. Karena Azfan masih belum pulang dari masjid, Khalisa akan menunggu di ruang tamu agar saat Azfan datang, ia langsung tahu.


"Assalamualaikum." Khalisa tersenyum lebar menjawab panggilan video dari mama nya, kini layar laptop Khalisa menampilkan wajah Ica yang juga masih mengenakan mukena.


"Waalaikumussalam, sudah shalat Ce?"


"Baru aja selesai, Mama sendirian di kamar?" Khalisa tidak menemukan papa nya di dekat Ica.


"Papa keluar sama Azmal katanya ada sesuatu yang mau mereka beli, Zunai udah tidur."


"Tumben Zunai jam segini udah tidur."


"Tadi pagi sampai siang dia main sama anak-anak komplek sini sampai lupa tidur siang jadi jam segini udah tidur tuh, gimana disana Ce, baik-baik aja kan?"


"Alhamdulillah Ma."


"Mama denger Khalisa berantem lagi sama Kafa?"


Senyum Khalisa memudar, entah berapa kali orangtuanya harus mendengar tentang pertengkaran nya dengan Kafa. Khalisa sudah jengah tapi Kafa selalu membuat ulah.


"Setiap orang itu punya cara yang berbeda untuk menunjukkan kasih sayangnya, ada yang pakai kata-kata romantis atau tindakan manis tapi ada juga yang justru bertingkah kasar seperti Kafa, semua tindakan yang dia lakukan itu untuk mencari perhatian Khalisa."


Khalisa menghela napas berat, "tapi Kafa udah keterlaluan Ma."


"Mama tahu Kafa salah tapi kan kalian sama-sama jauh dari orangtua, disana Kafa nggak punya siapa-siapa lagi cuma Khalisa saudaranya, hampir satu tahun lo kalian berantem, masa kalian mau seperti ini terus."


Khalisa menggeleng pelan, ia sudah minta maaf berkali-kali pada Kafa karena ia tidak nyaman dengan keadaan mereka yang seperti sekarang. Khalisa ingin hubungan mereka kembali seperti dulu. Namun semakin Khalisa dan Azfan meminta maaf dan mencoba merayu Kafa, anak itu justru makin berulah.


"Khalisa kan yang lebih tua dan sudah menikah, buang ego Khalisa jauh-jauh untuk berpikir lebih dewasa, mungkin itu cara Kafa menunjukkan kasih sayang sama Cece nya."


"Kalau Kafa tetep nggak mau maafin Khalisa dan Mas Azfan gimana Ma?" Khalisa menekuk bibir bawahnya membayangkan Kafa akan menghindar lagi jika bertemu dengannya.


"Coba dulu, besok Khalisa ke apartemen Kafa sama Azfan dan minta maaf, tahu nggak kalau kalian mau minta maaf duluan sekalipun nggak salah itu membuktikan bahwa kalian memiliki pikiran yang terbuka, itu nggak bikin harga diri kalian rendah kok, percaya sama Mama."


"Selain itu Khalisa juga harus menyiapkan pintu maaf seluas-luasnya untuk Kafa atas tindakannya selama ini, dia melakukan ini karena sayang sama Khalisa, walaupun caranya salah tapi niat dia baik kok, nanti inshaa Allah Kafa akan merenungkan perbuatannya, Cece nggak bisa melawan batu dengan batu nanti akan sama-sama hancur, Cece harus jadi air untuk Kafa."


Khalisa melihat ke arah pintu mendengar suara ketukan disusul dengan salam.


"Sebentar ya Ma, Khalisa buka pintu dulu." Khalisa beranjak membuka pintu untuk Azfan. "Waalaikumussalam, izin nggak salim dulu ya soalnya masih mau tilawah."


Azfan tersenyum, tangannya yang telanjur terulur terpaksa ia tarik kembali. "Siapa yang telepon?"


"Mama." Khalisa kembali ke tempatnya barusan disusul Azfan.


Azfan mengucapkan salam pada mertuanya dan menanyakan kabarnya.


"Waalaikumussalam, Azfan barusan Mama bilang sama Khalisa, Mama menyarankan kalian datang ke apartemen Kafa untuk meminta maaf lebih dulu, Azfan tolong ridhoi Khalisa untuk melakukan itu."


"Ma, Azfan akan selalu meridhoi Khalisa untuk menyambung kembali tali silaturahmi dengan Kafa, itu yang Azfan harapkan dari dulu."


"Mama bilang gini bukan karena Kafa itu saudara Khalisa tapi Azfan tahu kan Allah sangat membenci orang-orang yang memutus silaturahmi."


"Azfan mengerti Ma."


"Terimakasih atas kebijaksanaan mu Azfan."


Azfan menggeleng, "Azfan yang harus berterimakasih sama Mama karena Mama dan Papa selalu menasehati kami, mengarahkan kami jika salah jalan."


Khalisa menyelipkan tangannya ke lengan Azfan.


"Eh katanya mau tilawah." Azfan kaget ketika Khalisa tidak sengaja menyentuh tangannya.

__ADS_1


"Ah lupa!" Khalisa menarik tangannya kembali padahal ia sendiri yang bilang tidak akan menyentuh Azfan dulu karena ia belum menyelesaikan tilawah nya.


"Nggak apa-apa, wudhu lagi." Timpal Ica, ia tersenyum melihat keduanya.


"Ma tapi disini lagi dingin banget." Keluh Khalisa.


"Ya sudah nggak usah tilawah." Sahut Azfan.


"Ya udah, Mama cuma mau bilang itu aja, besok Mama telepon lagi ya, kalian baik-baik disana jangan berantem."


"Iya Ma." Jawab Khalisa dan Azfan bersamaan padahal beberapa hari yang lalu mereka baru saja bertengkar hebat. Namun malam itu juga mereka menyelesaikannya. Khalisa segera minta maaf pada Azfan.


"Wudhu lagi ah, jangan iseng pegang-pegang." Khalisa beranjak melepas mukena nya.


"Kok dibuka disini?" Azfan panik melihat ke arah jendela, ia segera menutup gorden takut jika ada orang lain yang melihat dari luar.


Khalisa tertawa jahil melangkah menuju kamar mandi.


"Mas Azfan nggak wudhu?" Khalisa setengah berteriak dari kamar mandi.


"Gantian dong sayang, masa berdua." Jika di apartemen mungkin mereka masih bisa mandi berdua tapi lain halnya disini, kamar mandinya tidak cukup untuk mereka.


"Aku udah hafal terjemahan surat Al-Waqi'ah." Khalisa keluar dengan wajah basah, ia menyeka air yang mengalir di pipinya.


"Kalau gitu nanti tahajjud baca surat Al-Waqi'ah." Azfan berjalan melewati Khalisa untuk berwudhu.


Khalisa terdiam, berapa lama waktu yang akan mereka habiskan jika membaca surat Al-Waqi'ah saat tahajjud. Salah satu momen paling indah setelah menikah bagi Khalisa adalah berdiri di belakang Azfan sambil memperhatikan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an ketika melaksanakan tahajjud berjamaah. Azfan mengisi seluruh ruang di hati Khalisa dan menghangatkannya.


"Sebentar lagi Mas tes hafalan ku ya." Ujar Khalisa melihat Azfan telah selesai wudhu.


"Ingatan Haura sangat cemerlang, nggak dites pun nggak masalah."


"Mas jangan gitu dong, ingatan ku paling kuat kalau soal nama orang sedangkan untuk Al-Qur'an beda lagi."


******


Keesokan harinya Khalisa dan Azfan pergi ke apartemen Kafa sesuai saran Ica tadi malam. Kebetulan ini adalah akhir pekan sehingga Khalisa bisa memasak beberapa makanan untuk sarapan bersama Kafa. Khalisa amat berharap hubungan mereka kembali seperti dulu.


"Aku punya kartu akses apartemen Kafa." Khalisa mengeluarkan kartu akses apartemen Kafa dari dalam tas selempang nya begitu mereka sampai di depan gedung apartemen Kafa.


Kafa memberikan kartu akses tersebut ketika baru sampai karena Khalisa sering berkunjung untuk makan bersama.


"Selamat pagi Mbak Khalisa ya?" Resepsionis menyapa Khalisa.


"Iya Mbak Shil, saya mau mengunjungi adik saya Kafa." Khalisa menunjukkan kartu akses pada petugas resepsionis.


"Baik silakan." Ia mengembalikan kartu tersebut pada Khalisa.


Khalisa menggandeng tangan Azfan menaiki lift menuju lantai 16 dimana unit apartemen Kafa berada.


"Ini pertama kalinya aku kesini." Azfan melihat sekeliling, apartemen ini sama mewahnya dengan Casey Avenue.


"Apartemen ini juga pilihan Ama." Sahut Khalisa.


"Ama selalu memilih yang terbaik untuk cucu-cucunya."


"Mas, aku boleh nanya nggak?" Tiba-tiba Khalisa kembali memikirkan tentang percakapan Azfan dan Renata saat di rumah sakit waktu itu.


"Boleh sayang." Apasih yang enggak buat istriku.


"Waktu itu Mas dan Ama ngobrolin apa?" Khalisa ingin menanyakan ini sejak lama tapi setiap kali mengingat Renata ia selalu sedih dan tak sanggup untuk mengucapkannya. Sekarang Khalisa sudah jauh lebih tabah setelah lebih dari setengah tahun berlalu.

__ADS_1


Azfan terdiam untuk beberapa saat memilih kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Khalisa. Azfan pikir Khalisa tak akan pernah menanyakan hal itu apalagi kejadiannya sudah sangat lama. Bagaimana jika jawabannya menyakiti perasaan Khalisa. Namun Azfan juga tidak mungkin membohongi Khalisa.


"Gimana kalau nanti aja setelah kita pulang dari sini?" Azfan melihat lift hampir sampai di lantai yang mereka tuju.


Khalisa menghela napas padahal ia sangat penasaran pada percakapan mereka saat itu. Namun mereka sudah hampir sampai.


Khalisa menekan bel apartemen Kafa beberapa kali dan menunggu hingga Kafa membukakannya pintu.


Tak lama kemudian pintu terbuka lalu muncul sosok Kafa yang masih mengenakan piyama dengan wajah kusut. Begitu melihat Khalisa, Kafa hendak menutup pintu kembali tapi Khalisa menahannya.


"Tunggu Kafa." Khalisa menahan pintu agar Kafa tidak menutupnya.


"Mau ngapain Cece kesini?"


"Cece mau minta maaf, tolong kasih Cece kesempatan untuk minta maaf lagi, selama ini kamu nggak pernah maafin Cece, apa kamu nggak capek berantem terus sama Cece?"


Kafa menatap Khalisa dan Azfan bergantian, ekspresinya datar. Siapa yang tidak lelah? ia juga lelah seperti ini. Akhirnya Kafa membiarkan Khalisa dan Azfan masuk.


"Duduk." Kafa mempersilakan Khalisa dan Azfan duduk sementara ia masuk ke kamarnya lagi untuk mencuci muka. Ia tidur lagi setelah shalat subuh tadi karena ia baru tidur tiga jam semalam. Kafa diberi wejangan selama berjam-jam oleh Umar dan Aisyah setelah Kafa menceritakan kejadian kemarin pada mereka. Kafa menyesal segera setelah bercerita karena mama dan papa nya pasti akan selalu menyalahkannya.


Azfan melihat kaligrafi buatannya terpajang di ruang tamu, itu adalah kaligrafi yang Kafa beli sebelum Azfan dan Khalisa menikah.


Kafa kembali setelah mengganti piyama nya dengan celana pendek dan kaos putih.


"Kafa, Cece minta maaf soal kemarin karena sudah salah paham dan terlalu keras sama Kafa, Cece juga minta maaf karena udah bikin Kafa kecewa sama keputusan Cece untuk menikah dengan Mas Azfan, Cece tahu Kafa melakukan ini karena sayang sama Cece."


Kafa hanya melihat Khalisa dengan ekspresi datar membiarkan kakak sepupunya itu menyelesaikan kalimatnya.


"Sekarang Cece tanya, kenapa Kafa nggak suka sama Mas Azfan padahal waktu pertama ketemu Kafa kelihatan nggak ada masalah."


"Cece nggak nyesel nanya itu ke aku?"


"Kenapa harus nyesel."


"Karena aku mau jawab jujur."


"Silakan."


"Karena Mas Azfan miskin, Cece nggak berpikir realistis sebelum memutuskan untuk menikah."


"Oke." Khalisa merubah posisi duduknya lebih tegak menghadap Kafa, "Cece tahu selama ini kamu mengawasi kami dari jauh dan apa kamu pernah lihat Cece sedih?"


Kafa menggeleng.


"Emang nggak pernah karena Mas Azfan selalu memperlakukan Cece dengan baik, dan kalau kamu bilang Cece nggak berpikir realistis kamu salah karena untuk apa menggunakan alasan dunia yang sejatinya bukan milik kita, Cece mau hidup dengan seorang lelaki yang bisa membimbing Cece untuk senantiasa taat kepada Allah dan mencintai-Nya, dunia ini hukuman bagi Nabi Adam lalu mengapa kita justru terlena di dalamnya."


Kafa tertegun mendengar jawaban Khalisa yang sama sekali tidak salah. Sebenarnya Kafa berpikir seperti itu hanya ketika pertama kali ia mendengar bahwa Khalisa hendak menikah dengan Azfan. Seiring berjalannya waktu Kafa sudah bisa menerima keputusan Khalisa hanya saja ia gengsi untuk meminta maaf. Bahkan untuk menerima maaf Khalisa saja Kafa terlalu dikuasi oleh rasa gengsi.


"Mas Azfan adalah laki-laki terbaik untuk Cece maka kamu juga harus percaya kalau sekarang ini adalah pilihan yang tepat untuk Cece jadi Cece harap kamu juga menerima keputusan ini, Cece mau kita baikan seperti dulu."


Kafa menggigit pipi bagian dalamnya, ia harus menghukum mulutnya sendiri karena telah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati Azfan.


"Aku juga minta maaf Kafa, aku sama sekali nggak bermaksud merusak hubungan kamu dan Haura, mari menyambung tali silaturahmi yang sempat terputus, kapanpun kamu butuh bantuan, aku siap bantu kamu sebisa ku."


Kafa menunduk dalam dan tanpa sadar air matanya meleleh bersama ingus. Kafa membersit hidungnya berusaha menelan kembali air yang menggenang di pelupuk matanya. Jika boleh jujur Kafa ingin berbaikan sejak lama. Kafa menyadari bahwa Azfan memang laki-laki terbaik untuk Khalisa.


"Tapi kalau sampai Mas Azfan nyakitin Cece, aku berdiri paling depan buat bela Ce Khalisa." Kafa mengangkat wajah menatap Azfan tajam. Hanya saja kali ini pandangan Kafa terlihat lebih lembut dari biasanya.


"Aku janji." Azfan tersenyum mendengar jawaban Kafa, ia merasa beban yang selama ini berada di pundaknya terlepas seketika.


"Aku kangen banget sama Ce Khalisa!" Kafa merentangkan tangan hendak memeluk Khalisa tapi sebelum itu terjadi Azfan lebih dulu memeluk Kafa.

__ADS_1


"Biar aku yang mewakilinya untuk memeluk mu." Azfan menepuk-nepuk punggung Kafa.


Kafa hendak protes tapi ia segera sadar bahwa Khalisa dan dirinya bukan anak kecil lagi yang bebas berpelukan. Bahkan dulu mereka tidur bersama di rumah Kafa karena Aisyah sering mengajak Khalisa menginap.


__ADS_2