
Azfan memasuki gerbang utama kampus UII dengan senyum bermekaran di wajahnya seperti bunga matahari dimusim semi. Ia tak pernah bersemangat seperti ini saat hendak pergi kuliah. Azfan bertanya-tanya apa yang telah membuatnya begitu senang melihat kampus ini lagi. Apakah karena 1 bulan sudah Azfan tidak menginjakkan kaki disini.
Ketika melewati jalan boulevard Azfan melihat banyak mahasiswa baru yang mengenakan pakaian hitam putih. Ini adalah hari pertama bagi mereka melaksanakan Pesona Ta'aruf atau disingkat Pesta biasa dikenal ospek di universitas pada umumnya.
Azfan memarkirkan motornya di depan ruang sekretariat HAWASI karena ia ditunjuk membaca ayat Al-Qur'an untuk pembukaan Pesona Ta'aruf nanti. Azfan tak pernah bermimpi menjadi bagian dari acara Pesta tersebut kecuali mahasiswa biasa. Namun rupanya Azfan tidak boleh menyimpan suara merdunya untuk diri sendiri. Pikiran Azfan lebih terbuka, mungkin dari bacaan Al-Qur'an itu ia bisa mengetuk hati seseorang untuk mendekatkan diri pada Allah. Azfan berusaha memikirkan kemungkinan terbaik atas apa yang ia lakukan.
"Assalamualaikum." Azfan memasuki ruangan itu. Beberapa anggota yang telah hadir lebih dulu menjawab salamnya termasuk Hasan yang langsung mempersilakan Azfan duduk.
"Assalamualaikum." Suara lain menyusul yang membuat mereka kembali mengalihkan perhatian pada pintu masuk.
Deg!
Setelah sekian lama tidak melihat sosok itu, jantung Azfan jadi berdebar tidak karuan. Azfan tersenyum kaku ketika Khalisa melihat ke arahnya sekilas.
"Maaf saya terlambat." Khalisa meletakkan tas kain di atas meja panjang di tengah ruangan.
"Enggak sama sekali." Balas mereka.
"Apa itu?" Mereka penasaran pada apa yang Khalisa bawa karena tampak menggembung dan sesak. Selain ramah dan mudah bergaul, Khalisa juga terkenal sering membagikan oleh-oleh.
"Makanan manis khas Banyuwangi jadi kalau ada yang bilang aku cuma doyan pedes itu salah ya." Khalisa tersenyum lebar disambut tawa oleh mereka karena terakhir kali Khalisa membawa nasi tempong dengan sambal super pedas itu membuatnya dicap sebagai penggila pedas. Padahal itu tidak sepenuhnya benar.
"Temen-temen harus coba, boleh bantu bagi?" Khalisa mengeluarkan kotak-kotak berisi kue Bagiak, Pia Glenmore dan Savana Cake. Sepertinya sekarang Khalisa memiliki hobi baru yakni mengenalkan oleh-oleh khas daerah pada orang-orang di sekitarnya.
"Kamu belum sempet coba ini kan waktu ke Banyuwangi karena lagi puasa." Khalisa meletakkan satu kotak dekat Azfan.
"Makasih Khalisa." Ucap Azfan.
"Khalisa kamu nggak pernah datang dengan tangan kosong." Aliyah menarik tangan Khalisa untuk melihat telapak tangannya, "jangan bawa yang berat-berat, sayang." Candanya.
"Ya Allah Mbak, jangan gitu dong." Khalisa mengusap lengan Aliyah sebelum duduk di samping seniornya itu.
Mereka berkumpul untuk melakukan doa bersama sebelum menjalankan tugas menjadi panitia Pesona Ta'aruf pada divisi masing-masing yang telah ditentukan.
Ruangan itu terasa lebih sepi karena anggota senior seangkatan Levin sudah selesai mengikuti wisuda.
"Selamat menjalankan tugas masing-masing." Ucap Hasan setelah selesai memimpin doa bersama.
Azfan melihat Khalisa mengenakan jas berwarna biru dengan lambang palang merah di bagian belakang. Itu berarti Khalisa menjadi panitia medik.
"Ini apa bedanya sama bakpia?" Tanya Ikha.
"Sekilas kelihatan sama tapi pia lebih garing terus kulitnya berlapis-lapis gitu Kha."
Azfan ikut membuka kotak miliknya melihat 5 potong kue bolu dengan topping bervariasi berwarna merah, hijau, biru serta keju dan potongan coklat.
"Apa arti dari topping yang berbeda di setiap potongannya?" Azfan melihat Khalisa.
Khalisa tampak terkejut karena pertanyaan Azfan, ia kira tak akan ada yang menanyakan arti topping berwarna-warni itu.
"Emang ada artinya?" Syifa ikut menimpali, dari tadi ia ingin bicara dengan Azfan tapi menunggu momen Azfan bicara lebih dulu.
"Itu mewakili destinasi wisata di Banyuwangi." Jawab Khalisa.
"Wah kue bukan sembarang kue tapi ada filosofi nya." Sahut yang lain.
"Pantai Pulau Merah, Teluk Ijo, Blue Fire di kawah Ijen dan pantai Wedi Ireng." Jelas Khalisa.
"Takut hitam maksudnya?" Tanya Ikha mengartikan nama pantai yang terakhir Khalisa sebutkan.
__ADS_1
"Wedi untuk pasir bukan takut." Khalisa tertawa, bahasa jawa kadang memang memiliki arti yang membuat orang-orang salah paham.
Mereka masih memiliki waktu sebentar sebelum Pesona Ta'aruf dimulai. Mereka memanfaatkannya untuk memakan oleh-oleh yang Khalisa bawa, lumayan untuk mengisi tenaga hingga sampai waktu makan siang nanti.
Syifa beranjak dari duduknya menyodorkan kertas pada Azfan, itu adalah kutipan surat Ali Imran ayat 102 hingga 106 yang akan Azfan bacakan nanti untuk pembukaan acara Pesta.
Melihat itu Khalisa penasaran apa yang mereka bicarakan tapi ia tidak bisa mendengarnya karena ruangan itu ramai oleh anggota HAWASI lainnya yang sedang mengobrol. Interaksi antara keduanya terlihat semakin dekat. Khalisa tidak mau membuat prasangka apapun karena ia bisa mendatangkan sesuatu yang buruk untuk dirinya sendiri.
"Aku keluar dulu." Khalisa beranjak membawa kotak P3K di tangannya.
Azfan mendongak mendengar suara Khalisa hendak keluar, sekilas ia melihat mimik wajah Khalisa muram. Atau hanya perasaannya saja karena beberapa detik yang lalu Khalisa masih bicara dengan senyum di wajahnya.
"Makasih ya Khalisa kuenya." Ujar mereka sebelum Khalisa keluar ruangan dan tak terlihat di balik pintu.
Khalisa melangkah melewati koridor untuk berkumpul dengan divisi medik.
"Cece!"
Khalisa terperanjat melihat sosok laki-laki yang tiba-tiba berada di depannya. Ia mendelik setelah tahu bahwa itu adalah Kafa yang telah rapi mengenakan kemeja putih, celana hitam dan jas biru tua.
"Ya ampun udah ganteng gini, kamu mau kuliah apa cari cewek hm?" Khalisa heran melihat rambut Kafa begitu rapi padahal biasanya disisir saja tidak pernah.
"Mau cari calon menantu buat Ummi."
"Masya Allah, semoga dapat wanita shalihah yang bisa menerima kecerewetan kamu ya." Khalisa meledek Kafa, "udah gih ke lapangan, Cece mau kumpul sama panitia lain."
"Selamat bertugas Ce, nanti kalau aku pingsan tolong jangan dibiarin ya."
"Kamu nggak akan pingsan." Khalisa tahu betapa kuatnya Kafa karena sepupunya itu pernah menjadi paskibra nasional dengan pelatihan keras.
Tari Gambyong menjadi pembukaan upacara Pesona Ta'aruf. Tahun ini ada 5000 mahasiswa baru yang berhasil lolos seleksi masuk UII dengan 6 mahasiswa non muslim yang berarti terjadi penurunan jika dibandingkan tahun kemarin.
Dilanjutkan dengan acara sambutan oleh ketua OC, ketua SC, ketua LEM, ketua DPM, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan terakhir rektor UII.
Suara merdu bacaan basmalah membuat Khalisa yang semula menunduk kini mengangkat wajah, ternyata ini jawaban kenapa tadi Azfan dan Syifa terlihat serius membicarakan sesuatu.
"Sejak menang lomba itu Azfan jadi lebih banyak disorot." Gumam Diah— mahasiswi kedokteran seangkatan Khalisa yang juga menjadi panitia Pesta di bagian divisi medik.
Khalisa mengangguk samar, ia ikut senang karena dengan begitu Azfan bisa lebih mengembangkan diri. Khalisa mengusap lengannya yang terasa dingin mendengar lantunan surat Ali Imran ayat 102 tersebut. Khalisa mengikuti bacaan Azfan dalam hati.
Suara keras benda terjauh mengejutkan semua orang lalu diikuti teriakan peserta upacara sedetik kemudian. Sebuah ranting trembesi jatuh mengenai kepala Azfan.
"Sa, Azfan!" Diah menepuk lengan Khalisa.
Khalisa membelalak melihat Azfan terjatuh dari atas mimbar tempat ia membacakan Al-Qur'an barusan. Khalisa yang berada di belakang berlari sekencang mungkin membelah barisan para peserta Pesta.
"Azfan!"
Pandangan Azfan berkunang-kunang, ia berusaha membuka matanya selebar mungkin demi melihat seseorang yang meneriakkan namanya tapi tak bisa. Kepalanya pening dan perih pada saat yang bersamaan. Itu suara Khalisa kan?
"Tolong tandu Kak." Pinta Khalisa sembari melepas jasnya karena ia melihat darah mengalir dari kepala bagian belakang Azfan, ia menekan luka tersebut dengan jasnya untuk menghentikan perdarahan.
"Itu cuma ranting kering." Lirih Azfan dengan suara tersendat.
Khalisa menoleh melihat ranting berukuran cukup besar yang sekarang telah diangkut oleh dua panitia keluar lapangan. Tidak peduli apakah itu ranting kering atau selembar kain pun, itu tetap melukai Azfan. Khalisa melihat Azfan mulai tidak sadarkan diri.
Azfan masih mendengar suara ribut di sekitarnya tapi pandangannya benar-benar gelap.
Dua mahasiswa bergegas memindahkan Azfan ke tandu dan membawanya masuk ke dalam mobil ambulan.
__ADS_1
"Khalisa, tolong bertahan dengan posisi kamu." Titah Dafa yang merupakan senior dari FK.
Khalisa mengangguk sembari mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, ia berharap tak ada luka serius di kepala Azfan seperti saat dirinya dilempar kursi oleh Revan. Seharusnya luka pada kepala yang membuat perdarahan itu berarti lukanya tidak serius. Khalisa menenangkan dirinya sendiri dengan pikiran itu.
Mereka membawa Azfan ke klinik UII agar segera mendapat tindakan oleh dokter. Khalisa mengentikan langkah di depan UGD ketika beberapa perawat menutup pintu dan memintanya menunggu di luar. Khalisa mengepalkan tangannya yang penuh darah Azfan.
"Semoga lukanya nggak parah." Ujar Dafa yang berdiri di belakang Khalisa. Ia meminta Khalisa duduk di atas kursi sembari menunggu dokter melakukan tindakan pada Azfan.
Khalisa mengangguk, ia juga berharap demikian.
"Bukan kah kalau berdarah harusnya nggak parah?" Khalisa duduk di kursi tunggu jarak 1 meter dengan Dafa.
"Teorinya begitu." Setidaknya itu yang Dafa pelajari di jurusan kedokteran. Ia terkejut dengan spontanitas Khalisa saat melihat Azfan tertimpa ranting tadi. Dafa yang juga bagian dari divisi medik berada di belakang barisan para mahasiswa baru dan ia melihat Khalisa berlari sangat cepat menghampiri Azfan yang sudah tergeletak di lantai.
"Sebaiknya kamu cuci tangan sebelum darahnya kering." Dafa melihat tangan kanan Khalisa yang penuh darah bahkan menetes di lantai sampai terlihat seolah tangan Khalisa yang terluka. "Kalau kering lebih sulit dibersihkan."
Khalisa beranjak mencuci tangan pada kran di dekat situ. Azfan bahkan belum menyelesaikan bacaan Al-Qur'an nya tapi ia lebih dulu tidak sadarkan diri.
Dafa melihat bahu Khalisa naik turun dengan cepat, rupanya Khalisa masih menangis. Ia tidak tahu hubungan Khalisa dengan Azfan. Dafa justru tahu kalau Levin—seniornya itu sempat bercerita bahwa ia menyukai Khalisa tapi belum berani mengungkapkannya. Dafa mengerti kenapa Levin menyukai Khalisa karena gadis itu terlihat tulus dan senang menyapa orang lain. Dafa yang hanya beberapa kali bicara dengan Khalisa pun bisa melihat kebaikan gadis itu.
Khalisa kembali duduk. Tahun ini ia sudah terhitung 3 kali ia berada di UGD. Pertama saat Rindang masuk rumah sakit lalu dirinya sendiri dan sekarang Azfan.
"Gimana dokter?" Khalisa beranjak melihat dokter keluar setelah sekitar 30 menit mereka menunggu.
"Tidak ada luka dalam, perdarahan disebabkan karena kulit kepalanya robek dan kami sudah menjahit luka itu." Dokter memberi penjelasan untuk menenangkan Khalisa.
"Tidak perlu dilakukan CT Scan?" Tanya Khalisa.
"Saya rasa tidak perlu tapi kalau kamu mau memastikannya boleh dilakukan CT Scan dan kami akan membuat surat rujukan ke rumah sakit."
"Khalisa, sebaiknya kita temui Azfan dulu." Dafa ikut beranjak, ia penasaran pada kondisi Azfan sekarang.
"Iya Kak, permisi dokter." Khalisa masuk ke UGD diikuti Dafa.
Azfan sudah sadarkan diri sejak ia dibawa masuk ke UGD meski awalnya ia sangat pusing tapi sekarang ia merasa lebih baik. Azfan tidak menyangka bahwa Khalisa ikut mengantarnya kesini, ia pikir hanya dua mahasiswa yang tentu saja tak dikenalnya. Azfan tidak banyak mengenal mahasiswa disini.
"Nggak usah CT Scan." Lirih Azfan saat Khalisa duduk di dekatnya. Ia mendengar percakapan Khalisa dengan dokter di depan pintu tadi.
"Aku cuma mau mastiin nggak ada luka dalam." Balas Khalisa.
"Aku baik-baik aja." Azfan tidak mau menyusahkan orang lain lagi pula dokter sendiri yang bilang kalau memang tak ada luka dalam.
"Beneran?"
"Iya Khalisa buktinya aku bisa ngenalin kamu kan." Azfan mencoba bercanda agar Khalisa tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Maaf, kalian ada hubungan apa?" Dafa akhirnya berani bertanya karena ia melihat interaksi Khalisa dan Azfan sangat dekat.
"Hm?" Khalisa dan Azfan sama-sama melihat Dafa yang berdiri di samping Khalisa.
"Azfan dan aku ada dalam organisasi yang sama." Jawab Khalisa. "Kenapa Kak?"
"Aku lihat kalian sangat akrab, Khalisa juga nggak berhenti nangis selama dokter menangani Azfan."
Azfan melihat Khalisa, ia baru sadar kalau ada jejak air mata di wajah gadis itu. Kenapa Khalisa menangis? apakah Khalisa begitu mengkhawatirkannya?
"Aku cuma takut Azfan kenapa-napa." Khalisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas, tidak bisa kah Dafa berpura-pura tidak melihatnya menangis. Sekarang Khalisa merasa telah tertangkap basah. Apakah Dafa tidak bisa bertanya saat hanya berdua dengan Khalisa sehingga Azfan tak akan tahu bahwa Khalisa menangis tadi. Ahh Khalisa benar-benar malu, ia ingin kabur saja dari sini.
Azfan mengucapkan terimakasih kepada Dafa dan Khalisa yang telah membawanya kesini. Selain itu Azfan inti mengalihkan pembicaraan karena ia tahu Khalisa tidak nyaman dengan pertanyaan Dafa. Meskipun Azfan penasaran mengapa Khalisa sampai menangis tapi kenyamanan Khalisa tetap lah menjadi prioritasnya.
__ADS_1