
Azfan berdiri di depan pintu kamar menunggu Khalisa bangun dari sujudnya. Azfan sudah berdiri disitu sekitar 3 menit yang lalu tapi Khalisa belum juga bangkit dari sujudnya.
Semalam setelah sampai di rumah Khalisa terlihat baik-baik saja, ia tertawa saat bercanda dengan Azka seolah-olah tak terjadi apapun sebelumnya. Azfan pikir Khalisa telah melupakan surat itu. Namun melihat betapa lama nya sujud Khalisa pagi ini, ia sedang tidak baik-baik saja. Khalisa pandai menyembunyikan kesedihannya bahkan di depan Azfan.
Azfan melangkah masuk ketika Khalisa selesai salam. Ia memeluk Khalisa dari belakang dengan erat. Tubuh Khalisa sempat menegang karena mendapat pelukan tiba-tiba.
"Ini aku." Lirih Azfan, baru lah Khalisa bisa tenang setelah tahu itu suaminya. "Sujud Umma sangat lama, ada apa?"
Khalisa tidak menjawab, ia bingung memilih kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.
"Karena aku menyukainya, aku mau buka mukenah dulu Bi."
Azfan melepas pelukannya dengan berat hati sementara Khalisa melepas mukenah dan melipat sajadahnya.
"Umma." Panggil Azfan.
"Hm?" Khalisa yang tengah menyisir rambutnya memutar kepala melihat Azfan.
"Umma masih mikirin surat itu?"
Khalisa kembali terdiam, ia bahkan tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan surat itu.
"Umma nggak percaya sama aku?"
"Aku percaya."
"Lalu?"
"Seorang wanita yang tutur katanya baik, sering datang ke pengajian itu ternyata jauh lebih menakutkan dibandingkan wanita centil yang suka menggoda suami orang."
"Siapa yang Umma bicarakan?"
"Wanita di surat itu, bahasanya sangat sopan, sepertinya dia juga punya kepribadian yang baik." Khalisa duduk di depan meja rias dan mengoleskan pelembap di wajahnya. "Andai wanita itu kasar dan berpakaian terbuka pasti Abi langsung nggak suka, tapi wanita seperti ini berbeda."
"Aku nggak peduli."
Khalisa memutar badan melihat Azfan sepenuhnya.
"Aku nggak peduli sama wanita di luar sana, mau kepribadiannya baik kayak bidadari aku nggak peduli, aku nggak peduli." Azfan mengulang kata itu hingga tiga kali, ia tak peduli pada wanita selain Khalisa. Wanita baik mana yang berani mengirim surat cinta pada lelaki yang telah bersuami.
Khalisa menghela napas berat, ia penasaran apakah mungkin seseorang yang sudah menikah bisa jatuh cinta lagi?
Kali ini Azfan bertekad tidak akan mau menerima undangan pengajian dengan jamaah perempuan. Harusnya waktu Khalisa cemburu ketika Azfan berfoto dengan jamaah perempuan, Azfan tak menerima undangan pengajian dengan jamaah perempuan lagi.
Azfan beranjak, "kalau Umma percaya sepenuhnya sama aku, harusnya Umma nggak kayak gini."
"Aku percaya sama Abi tapi aku nggak bisa mengendalikan perasaan Abi."
"Keraguan Umma bikin aku sakit hati." Azfan merendahkan tubuhnya menatap wajah Khalisa. Mata Khalisa sembab karena banyak menangis. "Tapi aku harus berusaha lagi bikin Umma percaya."
Khalisa mendongak membalas tatapan Azfan, ia sempat ragu tapi menatap wajah sang suami yang begitu tulus membuatnya yakin bahwa Azfan akan selalu setia. Bagaimana mungkin Khalisa ragu padahal saat berpapasan dengan wanita saja Azfan menahan napas. Khalisa pernah bertanya mengapa Azfan melakukan itu. Azfan menjawab bahwa ia berjaga-jaga kalau saja mencium aroma parfum dari wanita itu. Padahal para wanita itu belum tentu menggunakan parfum. Begitulah cara Azfan menjaga diri.
"Maafin aku Bi." Khalisa memeluk Azfan, "maafin aku."
Azfan tersenyum, akhirnya ia bisa membuat Khalisa menepis keraguan di dalam hatinya. Azfan mengangkat Khalisa lalu menghempasnya ke tempat tidur. Khalisa memekik tertahan karena takut membuat Azka bangun.
"Abi mau ngapain, aku belum selesai pakai pelembap."
Azfan ikut naik ke tempat tidur, ia menyangga pipinya dengan satu tangan. Azfan meratakan krim pelembap yang masih tersisa di kening Khalisa.
"Udah."
"Belum."
"Apalagi?" Azfan mengerutkan kening, ia sudah meratakan krim itu di wajah Khalisa.
"Sunscreen."
"Matahari belum terbit, nanti saja pakainya." Azfan mengecup bibir Khalisa sembari melepas kunciran rambut sang istri. Ia tahu Khalisa baru saja menyisir rambut itu tapi Azfan lebih suka melihat rambut Khalisa tergerai.
"Undangannya jam berapa?" Khalisa mengingatkan Azfan bahwa mereka harus hadir pada acara talk show yang berlokasi di gedung Castle Apartment yang juga merupakan tempat tinggal Kafa.
"Jam sepuluh, masih lama." Azfan melepas dua kancing teratas kemeja Khalisa. "Umma kenapa pakai baju yang kancingnya banyak?"
"Memangnya kenapa?" Khalisa tersenyum jahil, ia tak tahu jika Azfan menginginkannya pagi ini.
"Ini menyulitkan ku."
"Maaf-maaf." Jika Khalisa tahu, ia akan mengenakan pakaian yang dapat memudahkan Azfan saat melepasnya.
Di tengah pergulatan panas di atas ranjang pagi itu, Khalisa tiba-tiba mendengar suara rengekan Azka.
"Bi, Azka bangun Bi." Khalisa menyentuh kepala Azfan untuk menyadarkan sang suami.
__ADS_1
"Apa?" Azfan tidak mendengar perkataan Khalisa barusan meski jarak mereka sangat dekat—lebih tepatnya tak ada jarak di antara keduanya.
"Azka bangun." Ulang Khalisa lebih keras.
Azfan ingin menangis saat itu juga ketika mendengar ucapan Khalisa. Mengapa Azka bangun pada saat seperti ini. Tidak bisa kah mereka membiarkan Azka sebentar. Hanya sebentar.
Azfan hendak menahan Khalisa tapi terlambat, Khalisa sudah turun dari ranjang dan melangkah mendekat ke tempat tidur Azka.
Sekarang Azfan tergolek menyedihkan di atas tempat tidur. Pada akhirnya Azka selalu memenangkan Khalisa.
"Anak Umma udah bangun." Khalisa mengintip ke dalam box Azka.
Azka merengek dan mengulurkan tangan pada Khalisa, itu tandanya ia ingin digendong.
"Mau minum ya?" Khalisa mengangkat Azka, ia duduk di kursi samping Baby Tafel untuk menyusui Azka. "Azka boleh minum sepuasnya, setelah dua tahun nanti Azka udah nggak boleh minum susu Umma."
Azka membalas tatapan Khalisa seolah mengerti apa yang Umma nya katakan.
"Jadi nanti Umma bikinin susu pakai gelas ya, mau kan?"
Azka menggeleng. Khalisa tertawa dan mencium pipi Azka dengan gemas. Tingkah Azka selalu tidak terduga, selalu ada hal baru yang ia lakukan setiap harinya, itu membuat Khalisa dan Azfan kagum pada sang anak.
"Ayo samperin Abi." Khalisa membawa Azka mendekat pada Azfan. "Bi, Azka minta maaf, Azka cuma mau minum susu, Abi jangan ngambek."
Azfan masih berada di posisi yang sama seperti tadi saat Khalisa menghampirinya. Azfan membuka mata, tadinya ia ingin marah tapi melihat wajah polos Azka, ia tak jadi marah.
"Untung kamu menggemaskan, kalau nggak, Abi udah makan kamu sampai habis." Azfan mengambil alih Azka. "Kenapa kamu selalu menang, hm?"
Azka mengoceh membalas ucapan Azfan. Ocehan yang tidak Azfan mengerti.
"Abi belum selesai lo tadi sama Umma." Azfan mencium pipi Azka dan menggigitnya pelan. "Kayaknya kita udah harus siapin kamar buat Azka."
"Jangan dulu lah Bi."
"Nggak apa-apa disiapin dari sekarang jadi Azka nggak kaget nanti kalau udah harus tidur sendiri."
Khalisa belum siap tidur terpisah dengan Azka walaupun kamar mereka bersebelahan.
"Abi." Panggil Azka.
"Apa sayang."
Setelahnya Azka mengeluarkan ocehan yang tidak jelas. Sepertinya Azka berpeluang untuk menjadi cerewet setelah tumbuh besar nanti.
Tema Talk Show yang akan dibahas pagi itu adalah Rahasia Keharmonisan Rumah Tangga Khalisa dan Azfan. Acara itu bertempat di gedung Castle Apartment yang juga merupakan tempat tinggal Kafa. Nanti setelah acara itu berakhir, Khalisa dan Azfan akan mampir ke apartemen Kafa untuk menengok keponakan mereka Zulaikha.
Acara itu dihadiri oleh ratusan orang laki-laki dan perempuan yang memenuhi salah satu ruang pertemuan di lantai 11 apartemen. Butuh waktu lama untuk Azfan bersedia hadir di acara itu, alasan utamanya tentu saja adalah Azfan punya demam panggung. Walaupun sudah sering menghadiri acara lain sebelumnya tapi Azfan masih belum percaya diri. Namun karena Khalisa juga ikut, maka Azfan menyetujuinya.
Khalisa tersenyum geli membaca backdrop di atas panggung, apakah ia pantas membicarakan tentang keharmonisan padahal semalam ia dan Azfan baru saja berselisih paham. Pada dasarnya tak ada rumah tangga yang benar-benar harmonis. Setiap hubungan pasti memiliki masalahnya masing-masing. Lalu seperti apa hubungan dua manusia yang bisa disebut harmonis? Khalisa sendiri tak tahu.
"Sebelumnya para audiens disini pasti sudah tahu tiga tamu spesial kita hari ini." Pembawa acara mengawali. Pemirsa yang hadir pagi itu bersorak menjawab pertanyaan pembawa acara, tentu saja mereka tahu.
Pemirsa yang didominasi oleh kaum wanita itu bahkan datang dari berbagai daerah tak hanya dari Sleman demi menyaksikan pasangan Azfan dan Khalisa secara langsung.
"Perkenalkan saya Khalisa Syanin Alindra." Khalisa memperkenalkan diri seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ia menebak-nebak apakah pemirsa yang hadir hari ini sudah menikah atau masih lajang. Ia juga penasaran apakah wanita yang mengirim surat pada Azfan itu ada disini sekarang. Khalisa ingin tahu seperti apa wanita yang memiliki tutur kata baik dan sering datang ke pengajian Azfan itu.
"Saya Azfan Khuffa Ameezan dan di pangkuan saya putra pertama kami Azka Kashif Alindra."
Azka tertawa dan bertepuk tangan mengikuti semua orang yang ada disitu. Ia tampak antusias bertemu banyak orang.
Pemirsa bersorak riuh saat Azfan memperkenalkan diri. Khalisa melirik Azfan, sekarang ia mengerti mengapa ada saja wanita yang jatuh hati pada Azfan meski mereka tahu jika Azfan sudah menikah. Ternyata suaminya itu terlihat tampan saat berada di atas panggung. Jika Khalisa saat ini duduk di depan panggung, pasti ia juga jatuh hati pada Azfan.
"Saya mau tanya dulu, sudah berapa lama kalian menikah?" Dua Pembawa acara laki-laki dan perempuan itu memberi pertanyaan secara bergantian.
"Hampir 4 tahun." Jawab Khalisa dan Azfan bersamaan. Lalu keduanya saling berpandangan lalu tersenyum simpul seolah tak percaya pada kekompakan mereka.
"Boleh diceritakan awal pertemuan Khalisa dan Azfan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah."
Khalisa menceritakan secara singkat awal ia dan Azfan saling mengenal lalu jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.
"Dulu kami sempat tinggal di rumah kontrakan kecil dan saya bersyukur karena Umma nya Azka ini nggak pernah mengeluh soal itu padahal sebelumnya dia tinggal di apartemen mewah." Azfan menyentuh paha Khalisa, ia amat bersyukur memiliki istri Khalisa.
Para pemirsa berdecak kagum dengan cerita Azfan. Khalisa yang merupakan putri sulung Daniel ternyata bisa menyesuaikan diri hidup sederhana bersama sang suami.
"Dulu sempat kesulitan beradaptasi nggak, karena sebelumnya tinggal di tempat mewah tiba-tiba harus pindah ke rumah sederhana dan hidup apa adanya."
"Enggak sih, justru saya mendapat banyak hal baru seperti awalnya saya nggak mau makan ceker ayam sekarang jadi suka." Khalisa tersenyum lebar di ujung kalimatnya. Sejak kecil Khalisa hanya diperkenalkan makan daging ayam tapi setelah menikah, ia jadi makan ceker bahkan usus ayam.
Suara tawa memenuhi ruangan itu disusul riuh tepuk tangan.
"Jadi apa nih rahasia keharmonisan pasangan Khalisa dan Azfan, kita semua penasaran dan siapa tahu bisa jadi contoh."
"Sebenarnya kami kurang yakin apakah hubungan ini sudah bisa dikatakan harmonis atau belum karena dalam rumah tangga pasti ada saja masalah yang menghampiri." Jawaban Khalisa langsung disetujui oleh semuanya yang hadir. "Tapi kami selalu berusaha menyelesaikan masalah sesegera mungkin dan menekan ego, saling mengerti serta mengetahui porsi suami dan istri dalam rumah tangga."
__ADS_1
"Sekarang Azfan kan bisa dikatakan sukses baik dalam bidang kaligrafi atau qiroah yang suaranya terkenal sudah dimana-mana, baru kemarin kaligrafi karya Azfan terjual seharga 300 juta pada acara lelang event tahunan di Malioboro."
"Alhamdulillah, pembelinya adalah orang yang sangat baik." Hingga saat ini bahkan Azfan belum percaya jika kaligrafi itu terjual dengan harga yang sangat tinggi.
"Pertanyaan selanjutnya agak sensitif, kalau nggak mau boleh nggak dijawab ya." Pembawa acara itu melihat Khalisa, "Khalisa ada rasa takut nggak, dengan kesuksesan Azfan sekarang tiba-tiba ada wanita lain di antara kalian."
"Rasa takut pasti ada apalagi saya nggak bisa sepanjang waktu bersama suami, di luar sana pasti ada wanita yang mengagumi Mas Azfan dan saya nggak bisa mengendalikan perasaan mereka jadi saya cuma bisa berdoa pada Allah untuk menjaga suami saya dimanapun dia berada, saya pasrahkan semuanya pada Allah karena nggak akan ada yang bisa menjaga hubungan ini kecuali sang Maha Cinta."
"Terakhir, pesan untuk para wanita yang mengagumi Azfan berlebihan apa nih?"
"Kalian boleh kagum tapi jangan berani macam-macam sama suami saya atau kalau nggak saya siram kalian dengan asam sulfat." Khalisa mengatakan itu dengan nada bercanda tapi sorot matanya tajam ke arah kamera.
"Waduh candaan anak farmasi memang beda ya."
"Boleh saya menambahkan?" Tanya Azfan.
"Silakan." Pembawa acara mempersilakan.
"Kalaupun ada wanita di antara kami, itu adalah anak-anak kami nanti." Azfan melihat Khalisa lalu meraih tangannya. Mata Azfan berbinar-binar memancarkan cinta pada sang istri.
Setelah acara berakhir, Khalisa dan Azfan berbincang sebentar di belakang panggung bersama pembawa acara dan kru.
Khalisa dan Azfan mendapat hadiah perjalanan liburan ke Lombok dari acara tersebut. Itu akan menjadi perjalanan liburan pertama kali bagi mereka.
"Bi, popoknya Azka ketinggalan di mobil, kayaknya udah mulai penuh ini." Khalisa menyentuh bokongg Azka yang terlihat menggembung.
"Ya udah aku yang ambil, Umma ke apartemen Kafa aja dulu."
"Makasih ya Bi."
Khalisa masuk ke lift yang akan membawanya naik menuju apartemen Kafa sedangkan Azfan menuju basemen untuk mengambil popok Kafa.
Khalisa menurunkan Azka di dalam lift karena sepertinya si kecil penasaran ingin menapaki lantai. Ada seorang perempuan lainnya yang lebih dulu berada di lift tersebut.
"Kamu Khalisa kan?" Perempuan itu menegur Khalisa.
Khalisa memutar kepala melihat perempuan bergamis ungu tersebut.
"Iya." Khalisa mengulas senyum lebar.
"Tadi aku lihat talk show kalian."
"Oh gitu, semoga mendapat manfaat dari acara itu." Khalisa kembali mengawasi Azka.
"Kamu nyindir aku?"
Mata Khalisa melebar lalu menoleh pada perempuan itu, ia tak mengerti apa maksud dari kalimat itu. Khalisa melirik kiri dan kanan tapi memang hanya mereka bertiga disini. Tak ada orang lain.
"Gimana?"
"Kamu bilang jangan macem-macem sama Azfan atau nanti kamu bakal siram wanita itu dengan asam sulfat."
Khalisa tampak berpikir lalu ia mengerti arah pembicaraan perempuan tersebut.
"Saya nggak menyebut nama siapapun dan kamu merasa tersindir?" Alis Khalisa terangkat, ini sungguh percakapan yang menarik.
Perempuan itu gelagapan, tanpa sadar ia telah menggali kuburnya sendiri dengan mengatakan hal seperti itu.
"Kamu si pengirim surat itu?" Khalisa berjalan mendekat, tatapannya tak lagi ramah. "Dimana kamu tinggalkan rasa malu mu?" Khalisa menarik Azka dan menggendongnya. "Jangan-jangan ketinggalan di rumah, itu makanya kamu berani bicara sama aku."
Dari ekspresinya, Khalisa yakin bahwa perempuan di depannya ini adalah si pengirim surat yang selalu datang ke pengajian Azfan.
"Aku nggak nyangka seorang Khalisa bisa bicara kayak gitu?" Perempuan itu mengangkat dagu agar terlihat berani padahal nyalinya ciut sejak 5 menit yang lalu.
"Apa yang kamu pikirkan tentang aku? Kalau kamu berpikir aku lemah lembut kamu salah besar." Tatapan Khalisa begitu mengintimidasi. Khalisa terlatih menghadapi orang-orang yang berusaha menjatuhkannya. Khalisa lahir untuk menghadapi orang seperti itu.
"Jangan pernah datang ke pengajian suamiku lagi, jangan berani deketin dia."
"Kenapa emangnya?"
"Karena aku selalu bawa asam sulfat disini." Khalisa menepuk-nepuk tasnya. Ia berjalan semakin mendekat. "Aku penasaran gimana jadinya kalau aku tuang sedikit aja asam sulfat ini ke kulit kamu."
Perempuan itu terpaku bahkan tanpa sadar ia menahan napas. Jantungnya berdegup kencang seperti hendak melompat dari peradabannya. Pandangannya turun ke arah tas Khalisa, benar saja ia melihat sesuatu berbentuk seperti botol di dalam sana.
"Kalau gitu kamu boleh deketin Mas Azfan sesuka mu dan buktikan sendiri kalau dia nggak akan pernah bisa berpaling dari ku." Khalisa keluar ketika pintu lift terbuka, ia telah sampai.
Perempuan itu mengembuskan napas keras setelah Khalisa tak terlihat. Ia belum bisa meredakan ketakutannya pada sosok Khalisa.
Ia berpapasan dengan Azfan di lobi. Sebelumnya ia berniat menyapa Azfan jika tak sengaja berpapasan. Namun mengingat ucapan Khalisa tadi, ia urung melakukannya. Melihat Azfan pun ia tak berani.
__ADS_1
Khalisa: I'm a queen!