Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
41


__ADS_3

Hangatnya matahari menyentuh permukaan kulit Khalisa yang sedang duduk di pinggir pantai menikmati pemandangan laut pagi hari. Usai shalat Dhuha Khalisa bergegas pergi ke Resor Jinggo milik mamanya tersebut karena selain rumah, sejak kecil ia juga banyak menghabiskan waktu di resor yang terletak di pinggir pantai ini.


Saat Khalisa kecil bangunan resor hanya berada di pinggir pantai. Namun sekarang tamu juga bisa memilih kamar yang terapung di atas laut. Biasanya kebanyakan tamu berasal dari pasangan yang baru menikah. Resor Jinggo banyak berkembang dari tahun ke tahun tanpa menghilangkan nuansa alamnya.


Khalisa beranjak setelah puas bermain-main dengan air laut yang membuat tangannya terasa lengket. Khalisa membawa banyak paper bag berukuran sedang di tangan kanan dan kirinya. Di dalamnya terdapat bakpia pathok, gantungan kunci yang Khalisa beli di Malioboro dan satu produk lipstik keluaran baru pilihan Rindang. Khalisa akan memberikannya pada karyawan disini.


"Selamat pagi Mbak Zelva Mbak Dania." Khalisa mengulas senyum menyapa dua karyawan resepsionis.


"Lagi libur ya Ce?" Mereka membalas dengan senyum ramah.


"Iya libur panjang banget, kamar nomor 3 kosong nggak Mbak?" Khalisa sudah minta izin pada mamanya untuk bermalam disini nanti. Khalisa biasanya menginap di kamar nomor 3 tapi sejak ia berkuliah kamar tersebut juga digunakan untuk para tamu.


"Kosong Ce, seminggu yang lalu Bu Ica bilang untuk mengosongkan kamar itu dulu karena Ce Khalisa mau pulang." Jawab Zelva.


Khalisa tersenyum, mamanya begitu perhatian padahal ia juga belum tentu menginap disini. Namun Ica tetap mengosongkan kamar itu untuk Khalisa.


"Ini buat Mbak Zelva dan Mbak Dania." Khalisa meletakkan dua paper bag di atas meja resepsionis.


"Wah terimakasih Ce." Ucap mereka bersamaan. Lihatlah Khalisa tak pernah berkunjung dengan tangan kosong, pasti ada saja sesuatu yang Khalisa berikan pada para karyawan disitu.


"Sama-sama, aku lanjut dulu ya." Khalisa pergi ke dapur untuk menemui Dianis dan para karyawan disana.


"Selamat pagi semuanya." Khalisa mengalihkan perhatian mereka yang sedang sibuk memasak. Sikap mereka langsung siaga bersiap jika Khalisa membutuhkan sesuatu. "Eh nggak apa-apa, lanjutin pekerjaan kalian." Ujarnya.


"Pagi Nona muda." Dianis menghampiri Khalisa. "Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanyanya karena terakhir kali mereka bertemu Khalisa baru pulang dari rumah sakit.


"Everything okay, ini buat kepala Chef, terimakasih karena telah memasak makanan enak untuk kami." Khalisa memberikan paper bag untuk Dianis, ia telah menulis nama-nama karyawan di setiap paper bag tersebut.


"Kamu sarapan disini kan, mereka lagi bikin croissant yang adonannya dari kemarin nggak bisa perfect." Dianis mengintip ke dalam paper bag bermotif batik itu.


Khalisa mengangguk, ia datang kesini memang untuk sarapan. Khalisa meletakkan paper bag itu di meja dekat pintu agar setelah selesai membuat sarapan nanti mereka langsung bisa mengambilnya.


"Makasih Ce oleh-olehnya." Ucap mereka.


"Iya sama-sama, semangat ya semuanya." Seru Khalisa pada mereka sebelum meninggalkan dapur. "Nanti yang pertama jadi buat aku ya."


"Siap Ce."


Ketika Khalisa keluar dapur, ia melihat Ica turun dari tangga menghampirinya dengan langkah cepat.


"Kenapa Ma?"


"Bi Mar bilang ada tamu dari Jogja, Khalisa ada janji sama temen dari Jogja ya?" Ica masih melihat layar ponselnya melihat rekaman CCTV di halaman rumah. Ia melihat sebuah mobil terparkir disana. Mar tidak akan membiarkan orang asing masuk sampai Ica mengizinkannya.


"Enggak kok." Khalisa menggeleng, ia tak merasa membuat janji dengan siapapun. Teman-temannya di kampus juga tak ada yang hendak mengunjunginya kesini. "Bukan Ko Levin ya?" Tanya Khalisa.

__ADS_1


"Bukan Ce, coba Cece periksa hp nya siapa tahu orangnya telepon."


Khalisa merogoh tas selempang nya mengambil ponsel dan memeriksa beberapa pesan masuk.


"Nggak ada Ma."


"Ini Bi Mareta telepon lagi." Ica menempelkan ponsel di telinganya, "siapa Mar? dosen Khalisa?" Ica terkejut melihat Khalisa yang juga sama terkejutnya.


Khalisa mengerutkan kening, ia tak merasa memiliki masalah apapun dengan dosen karena ujian kemarin berjalan lancar tak ada hambatan. Nilai yang Khalisa dapat juga sangat baik. Kalaupun ada masalah dengan kuliahnya tak mungkin seorang dosen mengunjungi mahasiswa nya lebih dulu apalagi tanpa memberitahu sebelumnya.


"Ayo pulang dulu." Ajak Ica.


"Sebentar Ma." Khalisa mencari seseorang untuk membagi oleh-olehnya. "Mbak Yuni minta tolong nanti kasih ke temen-temen ya, udah ada namanya, makasih ya Mbak." Khalisa memberikan belasan paper bag yang tersisa pada Yuni salah satu karyawan disana.


Perjalanan dari resor menuju rumah hanya memakan waktu sekitar 10 menit dengan mobil. Namun 10 menit itu terasa sangat lama bagi Ica dan Khalisa karena mereka diselimuti rasa penasaran pada seseorang yang tiba-tiba mengunjungi rumah mereka. Dan dosen? meski memikirkannya Khalisa tidak bisa menebak dosen mana yang tiba-tiba datang kesini.


"Itu mobil Papa, Ma." Khalis menunjuk mobil Daniel yang lebih dulu masuk ke halaman rumah mereka. "Kok Papa pulang juga?"


Ica tidak menjawab karena ia juga tak tahu mengapa Daniel pulang. Apakah Mareta juga menghubungi Daniel agar pulang. Memangnya ada apa dengan Khalisa, kenapa dosen tersebut harus jauh-jauh ke Banyuwangi untuk bertemu Daniel dan Ica.


"Ma, itu Pak Husein dosen agama aku." Khalisa terkejut untuk kesekian kalinya melihat Husein berdiri di samping mobil dan seorang lelaki lainnya yang memiliki tubuh lebih tinggi serta badan kekar.


"Agama apa?"


Khalisa melongo merasa seperti dejavu karena beberapa waktu lalu ia juga bertanya demikian pada Syifa. Mungkin itu karena mereka hidup di lingkungan keluarga berbeda agama.


Ica turun dari mobil lebih dulu menghampiri Daniel, "kok Papa pulang?"


"Pak Husein tadi telepon bilang mau kesini." Jawab Daniel, ia mengusap punggung Ica sebelum menyapa Husein dan anaknya.


Khalisa juga menyapa sang dosen dengan sopan dan takut—takut karena ia tak pernah berpikir Husein akan mengunjunginya ke rumah. Khalisa yakin Husein datang bukan tanpa alasan, dan mengapa harus membawa laki-laki itu. Khalisa melihat laki-laki yang tersenyum manis ke arahnya, alis dan bulu matanya yang tebal seolah ikut tersenyum bersama bibirnya.


Namanya Fawas. Khalisa ingat ucapan Syifa saat mereka berada di masjid Ulil Albab ketika Fawas datang untuk membimbing para calon peserta lomba MTQ termasuk Azfan. Khalisa akui bahwa suara Fawas begitu indah hingga membuat bulu kuduknya meremang kala itu.


"Kak Fawas." Sapa Khalisa.


"Khalisa." Balas Fawas.


Khalisa merasa momen akward terjadi sepersekian detik, ia ingin kabur saja dari sini.


Daniel mempersilakan mereka masuk lebih dulu meski ia sudah penasaran maksud kedatangan mereka kesini. Daniel yakin Khalisa bukan tipe mahasiswa pembuat masalah atau mahasiswa istimewa yang harus dikunjungi dosennya. Khalisa sama seperti mahasiswa lainnya.


"Sebelumnya kami minta maaf karena kedatangan kami begitu tiba-tiba." Husein mulai berbicara. Dosen berusia sekitar 60 tahunan itu memperbaiki kacamata tebalnya yang sudah bertengger sempurna di hidungnya yang mancung.


"Pak maaf," Khalisa menyela, "saya tidak membuat masalah apapun kan di kampus?"

__ADS_1


Husein tersenyum begitupun dengan Fawas yang sesekali curi pandang pada Khalisa.


"Tidak Khalisa bahkan kamu menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat nilai terbaik."


Khalisa bisa sedikit tenang karena kedatangan Husein bukan karena dirinya membuat masalah. Namun Khalisa semakin penasaran tujuan Husein dan Fawas kesini.


"Beberapa Minggu yang lalu Fawas melihat Khalisa ketika dia memimpin latihan qiraah di masjid Ulil Albab lalu hari-hari berikutnya Fawas sering memperhatikan Khalisa di kampus dan akhirnya hari ini saya datang bukan sebagai dosen Khalisa melainkan Abi nya Fawas."


Tubuh Daniel menegang, sorot matanya berubah tajam mengerti arah pembicaraan Husein, dosen agama Islam keturunan Arab tersebut. Ica menatap Daniel, ia juga mengerti maksud dari perkataan Husein sedangkan Khalisa menunduk memperhatikan lantai marmer yang mengkilap, pasti Mar selesai mengepel pagi ini.


"Kami ingin melamar Khalisa." Ucapan Husein membuat Khalisa dan orangtuanya amat terkejut.


Mareta hampir saja menjatuhkan nampan di tangannya mendengar itu, sungguh ia tak berniat menguping tapi telinganya masih berfungsi dengan baik sehingga ia bisa mendengar kalimat itu. Ia meletakkan dua gelas teh untuk Husein dan Fawas serta dua toples kue kering.


Khalisa yang semula memperhatikan lantai kini mengangkat wajah melihat Husein dan Fawas sekilas lalu papa dan mamanya.


Mareta melirik Khalisa, ia telah merawat Khalisa sejak bayi sehingga ia juga merasa berat jika ada yang melamar Khalisa.


"Maaf apakah keluarga Pak Daniel hanya mau pada lelaki keturunan Chinese untuk menjadi pasangan Khalisa?" Tanya Husein.


Daniel menegakkan tubuhnya berdeham singkat sebelum menjawab pertanyaan Husein.


"Sebelumnya kedatangan Pak Husein dan Fawas memang sangat tiba-tiba dihari yang sibuk ketika saya dan istri saya bekerja, kami memang tidak membuat kriteria khusus soal pasangan Khalisa, yang terpenting adalah dia Islam dan mereka saling mencintai maka saya akan merestui hubungan itu." Daniel sedikit mengangkat tangannya agar Husein tidak menyela lebih dulu karena ia belum selesai bicara.


"Namun untuk sekarang saya dan Mama Khalisa belum berpikir untuk menikahkan Khalisa karena dia baru mau semester tiga." Daniel melihat Khalisa dengan sorot mata menenangkan.


"Tentu tak ada yang salah dari menikah muda, Fawas baru saja lulus fakultas Dirasat Islamiyah dan sudah mengajar di salah satu universitas swasta di Jogja, Fawas cukup mapan untuk menikah."


"Boleh saya bertanya sama Fawas?" Daniel melihat Fawas.


"Silakan Pak." Balas Fawas.


"Mama sama Khalisa boleh kembali ke resor biar Papa disini." Pinta Daniel pada Ica.


"Iya Pa." Ica mohon undur diri pada Husein dan Fawas serta membawa Khalisa ikut bersamanya karena tadi mereka memang sedang berada di resor sebelum Mareta menelepon.


"Kenapa kamu mau melamar Khalisa, apa alasannya?" Tanya Daniel setelah Khalisa dan Ica keluar dari rumah megah mereka.


"Ketika pertama kali melihat Khalisa, saya lihat dia gadis baik dan shalihah, dia benar-benar menjaga pandangannya tapi pada saat yang bersamaan dia juga gadis ceria yang mudah bergaul dengan teman-temannya lalu saya memantapkan hati untuk pergi ke Banyuwangi dan berniat mengkhitbah Khalisa."


Daniel mengangguk mengerti.


"Saya sangat menghargai niat baik Pak Husein dan Fawas yang sudah jauh-jauh kesini."


"Kami akan memberi waktu untuk Khalisa, kami tahu ini terlalu tiba-tiba jadi Khalisa tidak perlu langsung menjawab." Timpal Husein.

__ADS_1


"Baik, terimakasih, silakan teh nya Pak Husein dan Fawas." Daniel mempersilakan mereka meminum teh hangat di atas meja.


Sebagai seorang papa, Daniel tahu ini pasti terjadi dimana anak gadisnya akan dilamar seorang lelaki. Meski Daniel belum siap tapi ia tahu lambat laut ia harus menyerahkan anak gadisnya untuk menikah. Dan Daniel tidak sanggup membayangkan itu semua, ia masih ingin menghabiskan waktu dengan anak-anaknya.


__ADS_2