Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
105


__ADS_3

Tenda-tenda didirikan di area evakuasi warga terdampak erupsi Merapi. Mereka harus menempati area itu hingga waktu yang tidak bisa ditentukan karena Merapi masih menunjukkan kenaikan aktivitas.


Kondisi beberapa kabupaten yang paling dekat dengan pusat gempa benar-benar kacau. Dalam hitungan detik banyak bangunan yang roboh serta pohon tumbang. Tidak butuh waktu lama bagi Allah untuk menunjukkan kekuasaannya mengingatkan manusia bahwa mereka bukanlah apa-apa lalu mengapa mereka berjalan di kolong langit dengan congkaknya.


Banyak mahasiswa yang menjadi relawan membantu warga memenuhi kebutuhan mereka mulai dari air bersih, makanan, pakaian hingga obat-obatan. Hujan abu vulkanik membuat banyak warga terserang batuk, penyakit mata dan penyakit kulit.


Para relawan dari UII mendirikan tenda untuk mereka yang semula tidur berdesakan karena minimnya tempat. Tiga mobil yang membawa pasokan air bersih juga datang bersama pakaian bekas layak pakai.


"Tangannya kenapa?" Khalisa menghampiri seorang bocah perempuan berusia 4 tahunan yang entah sudah berapa lama memperhatikan lengannya. Khalisa menarik lengan bocah itu, tampak beberapa kulitnya melepuh dan mengelupas.


Bocah itu menunjuk ke arah Merapi yang masih menyemburkan awan panas ke udara. Ini adalah hari ketiga sejak terjadinya gempa vulkanik. Puluhan gempa terjadi dalam sehari, hanya saja dengan skala kecil yang tidak dapat dirasakan masyarakat.


"Nama kamu siapa?" Khalisa berjongkok menyamakan tinggi dengan anak itu.


"Alma, nama Mbak siapa?"


"Nama Mbak Khalisa." Khalisa mengucapkan namanya dengan perlahan. "ayo ikut biar Mbak obatin lukanya ya." Khalisa mengajak Alma menuju tenda medis untuk mengobati luka bakar di lengan Alma.


"Kenapa Sa?" Tegur Clarin yang tengah menata obat-obatan pada rak bersama dua orang teman lainnya.


"Kena abu panas." Khalisa mengangkat Alma dan mendudukkannya ke kursi sementara ia membersihkan luka Alma dengan handuk basah.


"Ini ada salepnya." Clarin memberikan salep khusus luka bakar pada Khalisa.


"Makasih Rin." Khalisa mengoleskan salep tersebut pada lengan Alma dengan hati-hati.


"Mbak Khalisa hamil ya?" Alma bertanya dengan wajah polosnya, ia melihat perut buncit Khalisa.


"Iya sayang." Khalisa meniup luka itu, ia kagum karena Alma tidak mengaduh kesakitan padahal luka tersebut cukup parah.


"Alma boleh pegang nggak?"


"Boleh."


Alma menyentuh perut Khalisa dengan ragu, takut jika ia akan menyakiti bayi di dalam sana padahal tidak sama sekali.


"Adik nya cewek atau cowok?"


"Mbak belum tahu nih." Sebenarnya Khalisa tidak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya terlebih dahulu tapi Azfan selalu penasaran dan tak sabar untuk melihatnya saat USG.


"Mbak Khalisa pengennya apa?" Alma mendongak menatap Khalisa. Bola matanya yang kecoklatan terlihat berbinar.


"Mmm ... " Khalisa tampak berpikir padahal ia tidak mempermasalahkan apapun jenis kelamin anaknya nanti. Ia hanya ingin membuat percakapannya dengan Alma lebih menarik. "Kayaknya cewek, biar kuat kayak kamu." Ia menyentuh ujung hidung Alma gemas.


"Kalau Ayahnya pengen cewek atau cowok?"


Tangan Khalisa yang semula berada di ujung hidung Alma perlahan turun, ia menunduk dalam. Pertanyaan sederhana seperti itu membuatnya tiba-tiba begitu merindukan Azfan. Harusnya Azfan ada disini tapi Khalisa juga tak tahu kapan sang suami bisa kembali karena bandara ditutup.


Tiba-tiba air mata Khalisa meleleh membentuk anak sungai di pipinya, ia sudah berusaha tegar tapi sungguh munafik jika ia mengatakan tidak merindukan Azfan karena selama ini mereka belum pernah berpisah jauh lebih dari 2 hari. Setelah bertengkar hebat pun keesokan harinya mereka langsung bertemu kembali.


"Cowok mungkin?"


"Dulu waktu Ibu aku hamil adik, Bapak pengen cowok terus keluarnya beneran cowok Mbak."


"Oh ya? apa anak Mbak nanti juga cowok?" Khalisa mengambil tali rambut dari kantong jasnya untuk menguncir rambut Alma. Sayangnya Khalisa tak membawa sisir sehingga kunciran rambut Alma tidak terlalu rapi. "Oh iya, adik Alma, Bapak dan Ibu ada dimana? mereka juga kena abu panas nggak?"


Alma menjawab pertanyaan Khalisa dengan anggukan. Akhirnya Khalisa memasukkan beberapa obat-obatan ke dalam kotak yang bisa dibawa kemana-mana. Khalisa pergi ke tenda warga untuk mengobati mereka dengan diantar Alma.


Para mahasiswa yang menjadi relawan mengenakan jas berwarna merah hati untuk membedakan dengan warga sehingga keberadaan mereka mudah ditemukan jika ada yang membutuhkan pertolongan.


Mereka berbagi tugas menyiapkan makanan, mengobati warga dan membagikan selimut serta pakaian. Mereka juga akan bermalam di area evakuasi tersebut.


"Mau mie nggak?" Ikha menyodorkan mie instan cup pada Khalisa yang sudah ia seduh.


"Mau, makasih ya." Khalisa mengambil alih mie tersebut. Apalagi yang bisa dimakan saat keadaan seperti ini. Tadi mereka memasak sup ayam dan tahu goreng untuk warga. Sedangkan para relawan harus siap makan mie instan karena masakan itu sudah habis.


"Kirain anak konglomerat nggak mau makan mie instan."


Khalisa tertawa, "kamu selalu gitu ya Kha, yang konglomerat itu Martin Hartono kalau aku cuma remahan debu lagian mie instan itu makanan sejuta umat."


"Pertama ya, kalau kamu remahan debu terus aku apa dan kedua kalau mie instan makanan sejuta umat—kamu umat yang ke satu juta satu."


Khalisa kembali tertawa, ada-ada saja lawakan Ikha. Khalisa jadi merindukan Huma dan Geza yang suka melawak. Rasanya hidup Khalisa benar-benar berbeda tanpa mereka.


"Kok nggak dimakan nanti bengkak loh mie nya." Ikha melihat Khalisa meletakkan mie nya, "jangan-jangan kamu beneran umat yang ke satu juta satu."


"Tunggu agak dingin, nggak apa-apa bengkak, tetep enak kok." Mungkin Khalisa termasuk orang yang aneh karena baginya mie instan tetap enak meskipun sudah bengkak.


"Oh makanan panas nggak boleh ditiup ya?"


"Nih pakai kipas aja." Khalisa menyerahkan kipas portabel pada Ikha untuk mendinginkan mie nya.


"Makasih." Ikha menghidupkan kipas itu pada cup mie nya. "Adik kamu tuh." Ia menyikut Khalisa melihat Kafa setengah berlari ke arah mereka.


Dari tadi Kafa sibuk mendirikan tenda dan memeriksa warga yang berada di area evakuasi serta memberi obat.


"Sayang banget adik kamu nggak gabung HAWASI."

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Ya biar ada yang nyegerin mata." Ikha mengedikkan bahu dan tersenyum. "Awalnya sih Kak Levin terus Azfan tapi Azfan kan punya kamu jadi kami sungkan."


"Astaghfirullah!" Khalisa memukul lengan Ikha pelan, jadi selama ini mereka memperhatikan Azfan.


Ikha hendak membalas ucapan Khalisa tapi Kafa lebih dulu sampai jadi ia terpaksa menelan kembali kalimatnya.


"Buat Cece." Kafa duduk di samping Khalisa dan memberikan sekotak salad buah.


"Dapet dari mana?"


"Aku bawa dari apartemen, katanya Cece sembelit jadi aku bawain itu ada yogurt nya."


Khalisa membekap mulut Kafa dengan tangannya. Bisa-bisanya Kafa membahas hal seperti itu saat mereka sedang makan. Jika hanya berdua mungkin tak masalah tapi ada Ikha dan beberapa teman lain di belakang.


"Ih tangan Cece bau etanol." Kafa menyingkirkan tangan Khalisa dari mulutnya.


"Xie-xie saladnya." Khalisa membuka tutup kotak salad buah itu dan menawarkannya pada yang lain.


Kafa mendelik, ia membawakan salad itu untuk Khalisa tapi Khalisa justru memberikannya pada orang lain.


"Nanti aku tidur di mobil."


"Emang tendanya nggak cukup?'


"Cukup tapi aku nggak mau Ce, nanti digigit nyamuk susah ngilangin bekasnya." Kafa menikmati satu kotak salad buah lainnya. Itu adalah stok salad yang ada di kulkasnya sebelum gempa terjadi.


Setelah makan mereka bersiap untuk tidur. Hari ini terasa amat panjang karena berada di tempat evakuasi bukanlah hal yang menyenangkan. Mereka harus tidur berdesakan dengan orang asing di tempat yang juga tak senyaman rumah.


Selanjutnya yang akan terjadi adalah pasokan bahan pokok sulit didapat karena jalan-jalan utama belum diperbaiki. Pertanian warga juga mengalami kerusakan. Ini akan menghambat perekenomian masyarakat.


Sementara yang lain tidur, Khalisa pergi ke kamar mandi yang dibuat dadakan tadi pagi untuk berwudhu. Suasana area evakuasi sepi, hanya ada beberapa orang yang masih terjaga termasuk Khalisa.


Khalisa sempat melihat Kafa di mobilnya memastikan adik sepupunya itu baik-baik saja karena Kafa termasuk rewel soal tempat tidur. Mungkin besok Kafa akan mengeluh tubuhnya pegal-pegal akibat tidur di mobil.


Khalisa menghabiskan malamnya dengan bermunajat kepada sang pencipta memohon agar mereka semua diberikan hati yang kuat untuk menghadapi bencana ini.


Malam adalah waktu favorit Khalisa mengutarakan semua keluh kesahnya pada sang pemilik hati. Ia bisa menyembunyikan rasa sakitnya dari siapapun, memasang wajah ceria di depan banyak orang. Namun sebenarnya Khalisa rapuh. Khalisa menyatakan kerinduannya terhadap Azfan dan berharap sang suami segera kembali.


Jika Khalisa mengatakan rindu langsung pada Azfan, ia khawatir akan membebani hati Azfan karena ia tahu suaminya itu juga ingin pulang. Lebih baik Khalisa menyatakannya melalui doa yang ia langitkan malam ini.


Ponsel Khalisa bergetar pendek mengalihkan perhatian si pemilik yang sedang berdzikir menggunakan aplikasi tasbih digital pada ponsel itu. Khalisa melihat ada 2 pesan masuk dari Azfan.


Semoga pesan ini nggak ganggu tidur Haura. Bagaimana ini, aku nggak bisa tidur jadi aku memutuskan untuk tahajjud. Nggak ada yang lebih menyakitkan dari pada berjauhan dengan istriku.


Aku merindukanmu, Haura.


Bibir Khalisa spontan tersenyum, sungguh tidak adil jika ia tak berani mengucap rindu tetapi Azfan justru menulisnya dengan mudah. Khalisa mendial nomor telepon Azfan dan melihat ke sekitar, ia merendahkan suaranya agar tidak mengganggu tidur mereka.


"Maaf Haura, aku membangunkan mu."


"Aku emang belum tidur."


"Kenapa belum tidur, apa disana sibuk sekali padahal ini sudah tengah malam."


"Enggak kok, yang lain udah tidur, aku belum ngantuk." Khalisa kembali melihat teman-temannya yang terlelap. Meski harus berdesakan tapi mereka tidur nyenyak mungkin karena kelelahan.


"Berat ya?"


Khalisa terdiam, menunduk dan mulai terisak. Mengapa berjauhan dengan suami rasanya sesakit ini. Khalisa tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.


"Orang bilang jarak diciptakan agar muncul kerinduan."


Khalisa mengusap air matanya kasar, "Tapi Mas, jarak kelas kita yang nggak terlalu jauh aja aku bisa kangen pengen buru-buru beres kelas."


"Anggap saja kita lagi pacaran, biasanya orang yang lagi pacaran bicara lewat telepon sampai berjam-jam, bukankah kita belum pernah melakukan itu sebelumnya?"


"Mas tahu dari mana?"


"Bimo sering bercerita, Idris pun begitu."


Khalisa tertawa dan membersit hidungnya yang basah. Kalimat Azfan berhasil menghiburnya. Ini adalah pengalaman baru bagi mereka karena sebelumnya jarang sekali bicara lewat telepon atau bertukar pesan sebab mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Telepon atau SMS hanya ketika ada sesuatu yang penting tapi sekarang setiap saat rasanya ingin menelepon.


******


Khalisa dan tiga temannya sedang membantu anak-anak mencuci muka dan tangan mereka sebelum sarapan. Ia meminta mereka antre dengan tertib menunggu giliran.


Hari ini matahari bersinar cerah, asap hitam masih membumbung tinggi dari puncak Merapi meskipun tidak setebal kemarin. Warga berharap erupsi segera berakhir agar mereka bisa kembali ke rumah masing-masing.


"Bisa sikat gigi nggak?" Khalisa mengeluarkan pasta gigi menaruhnya ke permukaan sikat gigi sebesar biji jagung.


"Bisa." Bocah 5 tahun itu menerima sikat gigi dari Khalisa.


"Pinter deh." Khalisa mengusap puncak kepala bocah laki-laki itu.


Setelah cuci muka mereka juga menguncir rambut anak-anak perempuan agar lebih rapi sembari menunggu makanan matang. Karena makanan yang dibuat dalam porsi besar, waktu yang dibutuhkan juga lama meskipun mereka sudah memulainya pagi-pagi sekali.

__ADS_1


"Khalisa." Syifa datang menghampiri Khalisa.


"Ya?" Khalisa yang sedang menyisir rambut Alma melihat Syifa.


"Adik mu nyariin kamu tuh dari tadi."


"Ada apa?"


"Nggak tahu." Syifa mengedikkan bahu. "Samperin gih, dia udah kayak anak ayam kehilangan induknya."


"Bentar aja, tanggung nih." Khalisa masih harus menguncir tiga anak lainnya yang sudah menunggu giliran.


"Nggak apa-apa biar aku yang nguncir." Syifa mengambil alih sisir di tangan Khalisa.


"Makasih ya, aku samperin Kafa dulu."


Sebenarnya hubungan Khalisa dan Syifa baik-baik saja meskipun awalnya Syifa mendiamkan Khalisa. Namun perlahan hubungan keduanya seperti layaknya teman seperti biasa. Hanya saja beberapa orang yang tidak menyukai Khalisa justru berkata buruk seolah mengadu domba mereka. Termasuk kejadian di depan kelas waktu itu. Namun Khalisa tak akan mudah terpengaruh, ia akan tetap menjaga hubungan baik dengan siapapun.


"Kamu nyariin Cece?" Khalisa melihat Kafa sedang membuat pesawat kertas dengan beberapa anak laki-laki.


"Iya nih." Kafa beranjak, "kalian bikin aja sendiri dulu ya."


"Ada apa?"


"Mata Cece dikompres pakai sendok dingin gih, bengkak banget."


"Kelihatan banget ya?" Khalisa menyentuh pipinya, itu pasti karena semalam ia menangis dan kurang tidur. Mata Khalisa memang mudah bengkak.


"Banget, terus hitam kayak panda."


Khalisa mendelik, ia tidak melihat cermin dari kemarin karena benda itu memang tak ada disini. Namun ia tak menyangka jika penampilannya seburuk itu. Jika hewan panda yang memiliki lingkaran hitam terlihat lucu maka tidak dengan manusia.


Pepohonan di sekitar bergoyang-goyang bersamaan dengan suara deru helikopter yang terbang semakin rendah. Perhatian orang-orang teralih pada helikopter tersebut termasuk Khalisa dan Kafa. Untuk sesaat Khalisa melupakan masalah mata bengkaknya melihat tulisan pada badan helikopter tersebut.


"Alindra bukannya nama belakang kamu ya?" Ikha menepuk bahu Khalisa dari belakang.


"Hm?" Khalisa tak bisa mencerna pertanyaan Ikha ketika ia melihat seseorang yang turun dari helikopter tersebut. "Mas!" Khalisa melompat melewati apapun yang menghalangi jalannya.


Azfan tersenyum lebar, perasaan lega seketika menyelimutinya melihat Khalisa berlari ke arahnya. Tak terasa kakinya juga membawanya melangkah lebih cepat. Seolah jarak 10 meter itu sangat jauh bagi mereka.


"Papa jadi nomer dua sekarang." Daniel yang berjalan tak jauh di belakang Azfan bergumam pada Ica.


"Tentu saja, Khalisa sudah menikah Mas maka suami akan menjadi nomor satu."


Daniel tersenyum melihat Khalisa melompat menghambur ke pelukan Azfan.


"Tapi Papa akan selalu jadi nomor satu buat aku." Ica mengusap punggung Daniel untuk menghibur hati seorang ayah yang iri melihat anaknya lebih mengutamakan sang suami.


"Haura baik-baik aja kan?" Azfan menatap Khalisa lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajah Khalisa pucat dan terlihat begitu kelelahan apalagi semalam ia kurang istirahat.


"Kangen banget." Khalisa kembali memeluk Azfan, "aku nggak mau lepas Mas Azfan lagi."


"Aku boleh membawa Haura kemanapun?"


Khalisa mengangguk, ia akan ikut kemanapun Azfan pergi. Khalisa akan selalu menempel pada Azfan seperti perangko.


Selain mengantar Azfan dan melihat keadaan Khalisa, kedatangan Daniel dan Ica juga bermaksud untuk memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan dan selimut kepada warga di area evakuasi. Daniel mendengar bahwa mereka kekurangan selimut dan bahan makanan.


"Papa nggak dipeluk?" Daniel melipat tangan di depan dada pura-pura memasang wajah marah pada Khalisa.


"Peluk juga dong." Khalisa memeluk Daniel dan Ica bergantian. "Khalisa nggak apa-apa, Alhamdulillah semuanya baik-baik aja disini tapi kenapa kalian nggak ngabarin sih kalau mau kesini, Mas Azfan juga tadi malem nggak bilang padahal kita tuh telponan sampai jam 1."


"Haura, sebenarnya aku pengen ngasih tahu tapi Papa melarangnya."


"Papa?" Kini giliran Khalisa yang memasang wajah kesal.


"Sengaja, salah siapa kamu nggak angkat telepon Papa waktu itu."


"Udah-udah, kenapa jadi berantem sih?" Ica mencoba menengahi perdebatan Daniel dan Khalisa.


Mereka menurunkan bantuan dari Daniel dan Ica memindahkannya ke tenda khusus menyimpan stok bahan makanan.


Kemudian mereka juga sarapan bersama. Menu pagi ini adalah nasi dan capcay kuah dengan kerupuk putih. Hanya dua menu yang membuat mereka semua makan dengan lahap.


"Semoga nggak dikritik makanan Chinese di depan orang chindo nya langsung." Celetuk Clarin.


Ica tersenyum, "sebenernya capcay buatan kalian ini jauh lebih enak dari pada masakan saya."


Mereka tertawa mendengar kalimat Ica yang terdengar seperti candaan padahal Ica mengatakan apa adanya.


"Jangan bilang seperti itu." Daniel menyentuh paha Ica.


"Aku bicara kenyataan, Pa."


Daniel menggeleng, ia tidak suka jika Ica merendahkan diri sendiri seperti itu padahal ia selalu menghabiskan masakan Ica walaupun katanya tidak enak.


__ADS_1


__ADS_2