
Khalisa terbangun oleh suara gedoran pintu apartemen yang terdengar memburu. Karena Khalisa berada di ruang tamu, ia bisa mendengar dengan jelas suara tersebut. Ternyata itu lebih kencang dari perkiraan Khalisa, pantas saja Rindang merasa gelisah apalagi gedoran itu terjadi lebih dari satu kali.
Khalisa menyambar ponselnya dan membuka kamera lalu menekan rekam video dan mengarahkannya pada pintu apartemen yang hanya berjarak 3 meter dari tempatnya saat ini. Ia melihat jam pada ponselnya, pukul 01:13. Persis seperti yang Rindang katakan. Lalu pandangan Khalisa fokus pada monitor di samping pintu berharap bisa melihat seseorang yang berada di depan sana. Namun seolah mengerti jika Khalisa melihat layar monitor, orang tersebut menutup kamera sehingga Khalisa tidak bisa melihat apapun.
Jantung Khalisa berdegup kencang, sejujurnya ia takut karena tak pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya. Khalisa menduga orang tersebut memang berniat meneror Rindang sekaligus menarik perhatian sahabatnya itu. Menjadi selebgram itu memang tak seindah kelihatannya.
Apakah tak ada penghuni lain yang mendengar gedoran ini?
Tak lama kemudian gedoran itu tidak lagi terdengar, Khalisa menghentikan rekaman videonya yang berdurasi 3 menit tersebut. Khalisa terduduk di lantai karena selama mendengar gedoran itu ia menahan napas saking tegangnya.
Siapa itu? mengapa dia bisa masuk ke apartemen ini? apakah itu salah satu staf apartemen yang terobsesi pada Rindang?
Khalisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tak ada yang bisa membuktikan hal itu secara pasti. Padahal Khalisa tadi sudah yakin kalau ia bisa mengetahui sosok tersebut tapi ternyata orang itu lebih dulu menutup kamera di depan itu seolah hafal pada letaknya. Tak salah lagi, pasti orang itu paham betul pada seluk-beluk apartemen ini.
Khalisa penasaran ingin melihat secara langsung, tangannya memegang kenop pintu hendak memutarnya. Namun Khalisa ingat ucapan Azfan bahwa jangan pernah membukakan pintu untuk orang tersebut. Akhirnya Khalisa mengurungkan niat membuang jauh rasa penasarannya.
Khalisa melangkah ke kamar tamu, karena ia sudah bangun maka sekalian melaksanakan shalat tahajjud.
Ponsel Khalisa berdering panjang ketika si pemilik baru selesai berwudhu. Khalisa menduga itu adalah mama nya yang memang biasa menelepon tengah malam begini untuk membangunkannya shalat tahajjud.
"Halo, Ma." Khalisa mengawali.
"Khalisa, Mama dengar dari Mama Rindang kalian tadi diserang tiga orang pria yang ngaku fans Rindang, Khalisa baik-baik aja kan?"
"Ma, Khalisa nggak apa-apa kok, Mama nggak usah khawatir ya." Suara Khalisa lembut agar tidak membuat mama nya khawatir. "Tapi sekarang Rindang masih di rumah sakit, dia pasti syok setelah pria itu melakukan pelecehan pada Rindang."
"Khalisa, kamu jauh dari Papa dan Mama, kamu harus jaga diri baik-baik, jangan jalan cuma berdua sama Rindang apalagi ke tempat sepi seperti itu, Mama dan Papa nggak bisa tenang setelah dapat kabar ini."
"Mama percaya sama Khalisa, disini Khalisa aman inshaa Allah berkat doa Papa dan Mama disana."
"Terus gimana kamu bisa selamat dari mereka?"
"Tadi Azfan buru-buru dateng setelah Khalisa telfon, dia melawan tiga pria itu sampai akhirnya polisi datang."
Mama Khalisa berhenti sejenak tidak segera membalas kalimat Khalisa.
"Azfan memang terlihat baik waktu Mama ketemu dia pertama kali waktu itu, oh iya Khalisa, Ama besok pagi berangkat ke Yogya bareng sama Ai Aisyah."
Khalisa terkejut, mengapa Ama nya tiba-tiba pergi kesini? "Ama kenapa tiba-tiba kesini Ma?"
"Khalisa tahu sendiri Ama seperti apa, setelah dengar kabar kalau kamu dan Rindang diserang para pria itu Ama langsung pengen berangkat kesana jadi Ai Aisyah nemenin Ama karena nggak mungkin kan Ama berangkat sendirian."
"Kenapa Ama nggak kasih tahu Khalisa dulu?"
"Kalau ngasih tahu pasti nggak Khalisa bolehin, Ama juga kangen sama Khalisa."
Khalisa menghela napas panjang, ia tahu bagaimana sifat ama nya yang keras kepala.
"Ya udah, kamu shalat tahajjud dulu ya, Mama tutup dulu."
"Iya Ma." Khalisa memutus sambungan setelah mengucapkan salam.
Khalisa meletakkan ponsel dan mengenakan mukenah setelah menggelar sajadah untuk mendirikan shalat tahajjud. Khalisa mencoba untuk tidak memikirkan kejadian yang hari ini ia alami termasuk seseorang yang menggedor pintu apartemen Rindang.
__ADS_1
******
Levin keluar setelah mengikuti kelas selama 2 jam. Dari tadi ia tidak bisa fokus pada materi kuliahnya karena terus memikirkan Khalisa. Levin telah mendengar kabar bahwa Khalisa dan Rindang baru mengalami insiden pelecehan seksual oleh 3 pria tidak dikenal. Begitu selesai kelas, Levin langsung menuju kelas Khalisa untuk melihat keadaannya.
Dari kejauhan Levin melihat Khalisa sedang duduk di depan kelas bersama teman-temannya. Ada perasaan lega yang menelusup di hati Levin setelah melihat kedaan Khalisa. Langkah kaki Levin terasa lambat karena ia ingin segera sampai di depan kelas Khalisa.
"Eh-eh itu cowok kedokteran yang kemarin masangin tali sepatu Khalisa." Salah satu dari teman Khalisa berbisik saat melihat Levin melangkah ke arah mereka.
Khalisa mengikuti arah pandang mereka, ternyata cowok kedokteran yang mereka bicarakan adalah Levin. Khalisa melambaikan tangan pada Levin yang mengulas senyum lebar kepadanya.
"Ya ampun Khalisa beruntung banget bisa pacaran sama anak FK, itu cowok idaman aku banget." Clarin ikut berbisik lalu segera beranjak dari duduknya saat Levin semakin dekat.
"Hus, kalian ngomong apa sih." Khalisa memicing pada teman-temannya yang sedang membicarakan Levin.
"Halo Kak, nyari Khalisa ya?" Clarin menyapa Levin lebih dulu dengan senyum paling manis yang pernah ia tunjukkan pada siapapun.
"Iya, nggak apa-apa aku ganggu kalian sebentar?" Levin menyapa teman-teman Khalisa ramah.
"Oh sama sekali no problem Kak." Kata mereka.
Khalisa beranjak, "ada apa Ko?"
Levin memberi kode untuk sedikit menjauh dari teman-teman Khalisa.
Khalisa berjalan mengekori Levin melewati koridor kelas.
"Aku udah denger kabar tentang semalem, gimana keadaan kamu?" Levin memperhatikan Khalisa dari atas sampai bawah.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, aku khawatir banget sama kalian."
"Tadi malam itu kejadian paling serem sih selama 19 tahun aku hidup di bumi." Khalisa nyengir karena merasa kalimatnya lucu.
"Terus gimana kalian bisa lolos dari para pria itu?"
"Aku telfon Azfan, untungnya dia langsung dateng."
"Kamu telfon Azfan?" Tanya Levin, apakah ia tidak salah dengar? mengapa Khalisa menelepon Azfan, tentu saja mereka teman tapi ia tidak tahu kalau Khalisa dan Azfan sudah berteman seakrab itu sehingga pada saat genting Azfan menjadi pilihan pertama bagi Khalisa. Padahal kalaupun Khalisa menghubungi Levin pasti ia akan segera datang menyelamatkan Khalisa dan Rindang.
Khalisa menjawab pertanyaan Levin dengan anggukan.
Levin membuang jauh pikiran buruknya, "yang penting kalian baik-baik aja." Ia tersenyum hambar.
"Aku mau langsung pulang, Koko pulang nggak?" Khalisa ingat ama nya akan datang siang ini jadi ia harus langsung pulang.
"Aku ada rapat organisasi."
"Oh." Khalisa manggut-manggut, "kalau gitu aku duluan ya." Khalisa melangkah lebih dulu melambaikan tangan pada Levin yang menyiratkan kekecewaan di wajahnya.
Khalisa menyipitkan matanya melihat dua wanita di depan gerbang utama yang juga sedang menatap ke arahnya. Khalisa tersenyum lebar berlari kencang menghampiri mereka.
"Ama Ai!" Khalisa setengah berteriak. "Kenapa kalian kesini, aku baru aja mau pulang." Khalisa memeluk Renata yang berdiri memegang tongkat.
"Ama nggak sabar ketemu kamu." Aisyah mengerlingkan mata pada Khalisa.
__ADS_1
"Khalisa baik-baik aja kan?" Renata memeriksa seluruh bagian tubuh Khalisa, ia memang paling protektif terhadap cucu pertamanya tersebut.
"Ama, Khalisa baik-baik aja kok." Khalisa menggenggam tangan Renata untuk menenangkannya, "ayo pulang, disini panas nanti kulit Ama gosong."
Renata tertawa, "nggak mungkin lah kulit Ama gosong, Ama sudah pakai sunscreen."
"Oh ya?" Khalisa nyengir, gagal merayu Renata untuk segera kembali ke apartemennya.
"Ama pengen ketemu temen kamu yang semalam menyelamatkan kamu."
"Siapa? Azfan?"
Renata mengangguk.
"Azfan kalau jam segini kerja Ama, nanti kita malah ganggu dia." Khalisa menoleh ke kanan dimana halaman Mangan Gelato terlihat dari sini. Biasanya tempat itu padat oleh mahasiswa yang baru selesai kelas.
"Memangnya dia kerja dimana?" Aisyah bertanya.
"Azfan kerja disitu tuh Ai." Khalisa menunjuk sebuah tempat yang halamannya penuh oleh motor.
"Nanti sore aja kalau gitu." Aisyah setuju dengan Khalisa.
"Ama maunya ketemu sekarang." Renata bersikeras.
Khalisa menggeleng samar paham dengan sifat Renata, "ya udah ayo, Ama bisa nggak jalan kesana, kalau nggak kuat Khalisa gendong."
"Kamu tuh kayak kuat aja gendong Ama." Renata memukul punggung Khalisa pelan.
******
Azfan mengembangkan senyumnya melihat Khalisa di depan pintu. Namun ekspresi Azfan sedikit berubah melihat wanita paruh baya melangkah di belakang Khalisa lalu disusul wanita lain berusia sekitar 40 tahunan. Apakah dugaan Azfan benar? apakah itu nenek Khalisa?
"Azfan!" Khalisa melambaikan tangan pada Azfan.
Azfan membalasnya dengan senyum manis karena ia sedang sibuk membuat gelato untuk para pembeli. Khalisa tampak berjalan ke arah Azfan sambil menuntun Renata.
"Oh ini Azfan, kamu lebih tampan dilihat secara langsung." Puji Renata saat melihat Azfan.
"Azfan, ini Ama ku, baru sampe langsung pengen ketemu kamu."
"Halo Ama." Azfan menganggukkan kepala menyapa Renata dengan kikuk, ia gugup bertemu mereka secara tiba-tiba. "Harusnya saya yang menemui Ama."
"Ya udah kalau gitu nanti kamu ke apartemen Khalisa ya, kita makan malam bersama."
Azfan membelalak tak menyangka jika Renata langsung mengundangnya ke apartemen Khalisa.
"Baik Ama, terimakasih sudah datang kesini dan mengundang saya." Azfan mengangguk sopan tak kuasa menolak permintaan itu meski sebenernya ia malu karena itu akan menjadi pertama kalinya ia masuk ke apartemen Khalisa. Semalam Azfan hanya mengantar Khalisa sampai depan pintu lalu pulang.
"Kalau gitu aku pulang dulu, takut ganggu kamu kerja." Pamit Khalisa.
"Jangan lupa datang ya, kamu harus coba masakan Ama." Renata memperingatkan Azfan sekali lagi.
Azfan melihat kepergian Khalisa, Renata dan Aisyah hingga depan pintu. Senyum Azfan mengembang lebar setelah pertemuannya dengan Renata. Entah kenapa Azfan jadi tidak sabar pergi ke apartemen Khalisa, kemana rasa malunya pergi? Entah lah.
__ADS_1