
Rindang gembira setelah membeli puluhan jilbab salah satu merek terkenal di Alindra Mall. Rindang hendak membagikan jilbab tersebut pada teman-temannya di komunitas mualaf. Jika sebagian besar gamis atau jilbab yang Rindang kenakan berasal dari endorsement maka untuk dibagikan ia membelinya sendiri.
"Awh!" Rindang memekik ketika seseorang di belakangnya menginjak gamisnya, hampir saja ia jatuh tersungkur ke lantai. Untungnya Rindang masih berpegangan pada pinggiran eskalator jika tidak, pasti sekarang wajahnya sudah mencium permukaan eskalator yang kasar.
Rindang menoleh mendapati seorang perempuan yang memasang tampang tidak bersalah. Rindang menggigit bibir bawahnya berusaha menahan kata-kata kasar yang hendak keluar dari mulutnya. Jika Rasulullah tidak berkata bahwa Allah sangat membenci orang yang berkata kasar pasti Rindang sudah mengeluarkan sumpah serapah pada perempuan yang terlihat sengaja menginjak gamisnya.
"Kita saling kenal?" Tegur Rindang setelah mereka turun dari eskalator. Ia memperhatikan mimik wajah perempuan itu, "kayaknya enggak, kalau kamu nggak sengaja nginjek bajuku seenggaknya kamu bisa minta maaf."
"Lagian kamu ngapain ke mall pakai baju kayak gini?" Balas perempuan berambut pirang tersebut, ia melihat Rindang dengan pandangan mengejek.
Lah daripada aku nggak pakai baju, bisa heboh nih satu Mall.
"Ini bukan musholla." Tambah perempuan itu.
"Ini bukan mukena." Seru Rindang tidak mau kalah, kau tahu meski mengenakan cadar tapi suaranya masih terdengar amat jelas di tengah keramaian Alindra Mall siang itu.
Rindang meletakkan 3 paper bag berisi belanjaannya dan merendahkan tubuh untuk membersihkan noda sepatu di ujung gamisnya.
Gila nih orang! Astaghfirullah, ya Allah beri aku kesabaran yang banyak.
"Celine, kamu apa-apaan sih?"
"Apa sih, ini kan cewek yang sering kamu lihat media sosial." Celine menunjuk Rindang.
"Jadi kamu maksa ngajak aku kesini karena mau ngikutin Rindang?"
Rindang menegakkan tubuhnya mendengar percakapan antara perempuan yang telah menginjaknya dan seorang lelaki yang suaranya begitu familiar. Rindang tidak terlalu terkejut melihat Jason di hadapannya, karena dua detik yang lalu ia telah menduga bahwa itu adalah suara Jason. Lalu perempuan ini? apa dia kekasih Jason yang baru? sepertinya iya.
Setelah Jason lulus, Rindang tak pernah bertemu lagi dengan mantan pacarnya itu. Namun Rindang masih bisa mengenali suara Jason.
"Aku nggak sengaja nginjek bajunya." Celine membela diri.
"Jadi kamu nginjek baju Rindang?" Jason terkejut setelah tahu bahwa perdebatan yang terjadi antara Celine dan Rindang disebabkan oleh Celine yang menginjak gamis Rindang. "Kamu kayak gini bisa bikin orang lain celaka tahu nggak?" Omelnya.
"Kamu sengaja kesini cuma mau nginjek bajuku karena Jason sering lihatin media sosial aku?" Rindang melihat perempuan bernama Celine itu, sekarang ia mulai mengerti situasinya. "Kenapa kamu buang-buang waktu untuk ngelakuin ini semua?" Rindang hampir tertawa tapi ia menahannya karena tidak mau mempermalukan Celine.
"Aku cuma penasaran cewek kayak apa sih yang bikin Jason susah move on, ternyata bentukannya kayak gini?"
"Bentukan?" Rindang mengulang kata yang Celine ucapkan, itu terdengar berlebihan di telinganya.
"Disaat yang lain tampil fashionable ke Mall, kamu malah pakai baju kayak gini?" Celine memandang Rindang dari ujung kepala hingga kaki. Celine sedang mencari-cari cela Rindang tapi bahkan ia tidak bisa melihat 1 inci pun permukaan kulit Rindang.
Rindang menahan napas sekaligus emosi yang sebentar lagi hendak meledak seperti petasan di hari raya tapi ia tidak boleh membuang tenaganya untuk hal ini.
"Fashionable emang bukan tujuan ku, aku cuma mengikuti perintah Tuhan aja dan kalau ternyata pacar kamu nggak bisa move dari aku setelah sekian lama itu artinya kamu nggak bisa bikin dia bahagia kayak yang dulu aku lakuin ke dia."
Celine gelagapan, ia pikir Rindang akan menyebutkan harga pakaian itu sebagai bentuk perlawanan terhadap ucapannya. Namun Rindang justru mengatakan sesuatu yang membuat Celine kalah telak.
Rindang meraih barang-barang belanjaannya dan berlalu dari sana setelah melirik Celine tajam. Ah Rindang benar-benar tidak ingin membuang waktunya untuk hal seperti ini apalagi ia sedang buru-buru menuju tempat pertemuan dengan komunitas mualaf.
"Rindang tunggu!" Seru Jason.
"Kamu mau ngejar dia?" Celine menahan tangan Jason yang hendak mengejar Rindang, ia melihat Jason tak percaya. Bahkan Jason berani melakukan hal ini di depannya.
"Lepasin." Jason menepis tangan Celine dan berlari mengejar Rindang ke lobi Mall. "Tunggu Rin, berhenti sebelum aku pegang tangan kamu."
Rindang menghentikan langkah meskipun sebenarnya ia ingin berlari tapi ia tahu Jason pasti akan berhasil mengejarnya.
"Aku minta maaf atas perlakuan Celine barusan."
__ADS_1
"Kamu walinya?"
"Bukan, maksudku—"
"Kamu nggak perlu minta maaf atas kesalahan pacar kamu."
"Tapi semua terjadi juga karena aku jadi aku harus minta maaf—bukan untuk Celine tapi untuk diriku sendiri."
"Kita udah selesai, kalau kamu kayak gini terus kamu bisa nyakitin Celine atau siapapun yang jadi pacar kamu."
"Rindang, aku juga mau memeluk Islam."
Rindang membelalak, apakah ia tidak salah dengar?
"Jangan main-main."
"Aku serius."
"Kalau gitu perbaiki lagi niat kamu." Rindang segera pergi dari sana, ia tidak tahu apakah Jason benar-benar serius ingin memeluk Islam. Kalaupun Jason tidak berbohong, itu tak ada hubungannya dengan Rindang. Jason bisa melakukan itu tanpa mengatakannya lebih dulu pada Rindang.
Rindang bergegas masuk mobil dan menancap gas keluar dari tempat parkir Alindra Mall. Rindang tidak sabar membagikan jilbab tersebut pada teman-temannya. Beberapa dari mereka memang belum berjilbab tapi Rindang akan berbagi pada semuanya. Mungkin saja hati mereka bisa terketuk melalui jilbab pemberiannya. Mereka tak akan pernah tahu dari mana hidayah itu datang. Kadang ia seperti panah yang tiba-tiba menembus ke dalam dada. Kadang juga seperti seekor siput yang lambat. Sesekali hidayah juga perlu dijemput.
******
"Kamu kenapa?" Khalisa melihat Rindang turun dari mobil dengan ekspresi murung. Khalisa mengenal Rindang sejak bayi jadi walaupun ia hanya bisa melihat sepasang mata Rindang, ia tahu jika saat ini sahabatnya itu sedang kesal.
Khalisa juga baru turun dari mobil di depan sebuah bangunan yang dikhususkan untuk tempat pertemuan rutin komunitas mualaf. Hari ini dirinya dan Azfan diundang oleh Levin untuk ikut berbagi pengalaman mengenai Islam. Azfan juga diminta untuk membaca beberapa ayat Alqur'an di depan mereka.
"Ketemu Jason tadi di Mall, dia sama cewek barunya tapi bukan itu yang bikin aku kesel."
"Ceweknya nginjek baju aku dan bilang, kamu kenapa ke Mall pakai baju kayak gini sih?" Rindang menirukan gaya bicara Celine tadi. "Tapi bukan itu juga yang bikin aku kesel, eh tapi bajuku najis nggak ya dibuat shalat?"
Khalisa bingung hendak memberi tanggapan apa karena Rindang mengatakan banyak hal dalam satu kali tarikan napas.
"Nggak najis kok itu tinggal bersihin lagi atau kalau kamu ragu, ganti baju aja."
Rindang mengeluarkan 3 paper bag miliknya dari jok belakang.
"Jadi apa yang bikin kamu kesel?"
"Jason mau masuk Islam juga katanya, aneh banget tuh orang tinggal masuk aja kenapa bilang ke aku dulu."
"Serius Jason bilang itu?"
"Tahu deh, aku nggak percaya sama dia." Rindang mengibaskan tangan melangkah terlebih dahulu. "ayo masuk."
"Terimakasih kalian udah mau dateng." Levin menyambut Khalisa dan Azfan, "padahal perjalanannya jauh dari rumah tapi kalian datang lebih awal, yang lain masih banyak yang belum datang."
"Nggak apa-apa Ko, aku sama Mas Azfan emang lagi nggak ada kerjaan." Khalisa mengulas senyum.
"Aku udah siapin kursi buat Khalisa, pasti susah kan duduk di bawah." Levin mengajak mereka masuk. Bangunan itu cukup luas, ada satu ruangan seperti aula tanpa kursi. Terdapat pintu di belakang ruangan yang menghubungkan dengan dua toilet.
"Nggak usah Ko, aku bisa kok duduk di bawah." Khalisa tak mungkin duduk di kursi sementara yang lain duduk di karpet.
Khalisa dan Azfan memberi salam menyapa semua orang yang berada di ruangan itu. Laki-laki dan perempuan duduk di sisi kiri dan kanan dipisahkan jarak sekitar satu meter. Khalisa dan Azfan juga duduk menghadap mereka semua. Khalisa merasa terharu setiap kali melihat mereka. Orang-orang pilihan yang hatinya disinari cahaya hidayah Allah. Khalisa juga bangga pada papanya yang telah mendirikan komunitas ini.
"Kita tunggu yang lain dulu." Tukas Levin yang dibalas anggukan oleh Khalisa dan Azfan.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Azfan melihat Khalisa memijit punggung, ia ikut mengusap bagian itu dengan perlahan. Akhir-akhir ini Khalisa mengeluh sakit punggung apalagi mereka baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh.
"Pegel." Keluh Khalisa tapi dengan senyum yang masih setia terlukis di wajahnya.
Azfan menuntun tangan Khalisa ke depan, "biar aku yang pijit."
"Xie-xie Mas."
"Bu yong xie, ini tugasku sebagai Ayah."
"Bahasa Mandarin Mas Azfan bagus, siapa yang ajarin?"
"Wanita cantik yang sekarang ada di sampingku."
Khalisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang pasti sekarang sudah memerah.
Satu per satu anggota mulai berdatangan. Akhirnya Levin membuka pertemuan siang itu dengan salam dan kata-kata motivasi yang bisa membangkitkan semangat mereka semua. Meskipun iman mereka masih lemah tapi tak boleh ada kata menyerah.
"Untuk yang belum tahu, saya akan memperkenalkan dua special guest kita hari ini yaitu Azfan dan istrinya Khalisa, Khalisa adalah anak sulung Bapak Daniel." Levin mengedarkan pandangan kepada mereka semua yang hadir di pertemuan.
"Akhirnya bisa bertemu langsung dengan anak sulung Pak Daniel." Ucap salah satu dari mereka.
"Kalau ketemu di jalan, jangan sungkan untuk menyapa karena Khalisa ini orangnya super duper ramah." Tambah Levin. "Hari ini Azfan akan membacakan Al-Qur'an, bukan tanpa alasan—suaranya bagus sekali."
"Nggak lebih bagus dari Kak Levin." Sahut Azfan.
"Dulu saya memang melatih Azfan tapi sekarang dia jauh lebih bagus dari saya."
Tawa terdengar riuh di ruangan itu menanggapi pembicaraan Azfan dan Levin. Dua laki-laki Sholeh yang saling merendah, tidak ada kesombongan di hati mereka meskipun banyak pujian yang membanjiri keduanya. Mereka tak berhak menyombongkan diri karena semua ini milik Allah.
Azfan melantunkan surat Adz-Dzariyat ayat 51-56 tentang larangan untuk menyekutukan Allah dan tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya.
Suara Azfan menggetarkan hati meskipun sebagian dari mereka belum mengerti arti ayat tersebut. Namun kasih sayang Allah yang telah tertanam pada diri mereka masing-masing telah berhasil menumbuhkan cinta.
Azfan menjelaskan tentang kandungan ayat tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti.
"Tujuan utama kita diciptakan di bumi ini adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah—bukan karena mengharap surga ataupun takut kepada siksaan Allah tapi inilah bentuk cinta kita kepada sang pencipta karena sesungguhnya bukan amal yang membuat kita bisa masuk surga tapi karena cinta Allah yang jumlahnya tak terhingga, rasakan dalam hati betapa luasnya cinta Allah maka insya Allah ibadah yang kita lakukan akan lebih nikmat." Khalisa menambahkan.
Pandangan Azfan penuh kekaguman pada Khalisa, ia serius soal tak ada yang sempurna di dunia ini lalu darimana datangnya Khalisa?
"Terimakasih Khalisa sudah hadir disini, kami ingin mendoakan Khalisa dan bayinya sehat dan lahir dengan selamat dan sempurna." Tukas salah satu dari mereka.
Khalisa mengucapkan terimakasih karena mereka mau mendoakannya dan bayi yang berada di kandungannya.
"Bagaimana kalau kita semua mendoakan agar ketua komunitas mualaf yang berada disini agar segera mendapatkan jodohnya supaya nggak sendiri terus." Ujar mereka seraya melihat Levin.
"Astaghfirullah." Levin geleng-geleng, kenapa mereka berinisiatif untuk melakukan itu?
"Jadi apa sudah ada wanita yang mencuri hatimu, Levin?" Tanya mereka.
"Ada kok, kalian nggak usah mengkhawatirkan nasib ketua kalian ini." Levin nyengir seraya mengusap dadanya, sesekali ia melihat Rindang yang berada di barisan paling depan.
"Buruan dilamar nanti diambil orang." Celetuk mereka.
"Kalau sudah jodoh nggak akan kemana." Kata Levin yakin padahal hatinya dipenuhi keraguan. Bisakah ia mengutarakan perasaannya pada Rindang? Levin takut jika Rindang menilainya aneh karena ia dulu pernah menaruh rasa suka pada Khalisa. Bukankah terasa aneh jika Levin menyukai dua orang yang bersahabat baik. Levin yang dulu sempat mengungkapkan perasaan pada Khalisa dengan penuh percaya diri tetapi mendapat penolakan kini tak lagi memiliki kepercayaan diri sebesar itu. Apalagi setelah mendengar bahwa Rindang tidak ingin menikah.
Azfan membantu Khalisa beranjak dari duduknya. Pertemuan hari ini berakhir dengan banyak pelajaran yang mereka dapat. Tak hanya anggota komunitas saja yang mendapat pelajaran, Azfan dan Khalisa juga belajar banyak dari mereka. Bagaimana cinta Allah tertanam begitu kokoh di hati mereka masing-masing. Cerita perjalanan mereka menemukan Islam terkadang tidak mudah tapi cinta Allah yang terkemas di dalamnya membuat jalan itu terasa nikmat.
__ADS_1