
Degup jantung Levin terdengar dua kali lebih cepat sejak ia menginjakkan kaki di halaman rumah Rindang yang dipenuhi tanaman hias serta kolam ikan koi di tengah taman. Levin sengaja berdiri cukup lama di samping mobilnya membiarkan terik matahari menghangatkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa amat dingin. Bahkan tangan Levin basah mengeluarkan keringat dingin. Levin menduga ini karena ia hanya sarapan segelas teh hangat—mungkin perutnya menginginkan sesuatu yang lain seperti nasi atau roti. Namun karena ingin cepat-cepat menemui orangtua Rindang, Levin tak sempat sarapan dengan benar.
Kebetulan Rindang sedang berada di rumah dalam waktu yang lama, tinggal menunggu wisuda jadi Levin merasa ini adalah saat yang tepat untuknya melamar gadis itu. Ketika Levin mengatakan ingin melamar, Rindang tidak menolak. Rindang hanya diam dan Levin menganggap itu sebagai tanda persetujuan.
"Silakan masuk Mas." Seorang ART mempersilakan Levin masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Rumah itu tampak sepi karena Rindang adalah anak semata wayang Jonas dan Michelin. Pasti selama ini orangtua Rindang selalu kesepian karena Rindang harus mengenyam pendidikan jauh dari Banyuwangi. Apakah nanti Levin harus tinggal di rumah ini, Jonas dan Michelin pasti tidak memperbolehkan Rindang pergi kemana-mana lagi. Ah, kenapa Levin jadi berpikir macam-macam padahal lamarannya saja belum tentu diterima.
"Selamat pagi Ai, Susuk." Levin beranjak ketika melihat papa dan mama Rindang datang. Ia mengulas senyum sama lebarnya dengan orangtua Rindang.
"Silakan duduk Nak Levin." Jonas mempersilakan Levin duduk lalu ia juga menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk itu. Jonas membenarkan posisi kacamata tebal yang bertengger di tulang hidungnya yang tinggi.
Levin mengusapkan telapak tangan pada celana hitam yang dikenakannya untuk mengeringkan keringat dingin disana.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Michelin.
"Sudah Ai." Levin mengangguk walaupun kini perutnya terasa benar-benar kosong, segelas teh hangat tentu hanya lewat begitu saja. Senyum Levin berubah kikuk, ayolah dimana kata-kata yang ia persiapkan sejak tadi malam untuk memulai obrolan dengan orangtua Rindang. Setelah berhadapan seperti ini kata-kata tersebut seolah menguap terbawa angin.
"Walaupun ini pertama kalinya kita bertemu tapi Rindang sering bercerita tentang kamu." Michelin menatap lurus pada Levin, senyum ramah senantiasa tersungging di bibirnya.
"Oh ya Ai?" Alis Levin terangkat, melihat senyum itu, ia merasa seperti ada lampu hijau menyala terang di atas kepala mama dan papa Rindang.
"Kamu banyak membimbing Rindang ilmu agama Islam karena kami tidak dapat melakukannya maka saya mengucapkan terimakasih kepada Nak Levin."
"Sama-sama Ai." Levin mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian seorang ART mengantarkan kapucino yang masih mengepulkan asap dan kue kering untuk Levin.
"Ai, Susuk terimakasih sudah menerima kedatangan saya." Akhirnya Levin memiliki kesempatan untuk mengucapkan hal tersebut.
"Kami memang sudah seharusnya menerima kedatangan mu." Jonas melihat istrinya sekilas lalu pada Levin.
"Kedatangan saya kesini Inshaa Allah dengan niat baik, jika Ai Michelin dan Suk Jonas mengizinkan, saya hendak meminang Rindang untuk menjadi istri saya." Suara Levin terdengar gemetar dan timbul tenggelam seperti terbawa angin yang entah dari mana datangnya. Levin meremass celananya menunggu jawaban Jonas.
"Sebelum kamu datang, Rindang sudah memberikan jawaban dan mempercayakan saya untuk menyampaikannya pada mu Levin." Jonas kembali memperbaiki posisi kacamatanya yang sebenarnya sama sekali tidak melorot, tapi ia ikut gugup mendengar ada seorang lelaki yang ingin mempersunting anak semata wayangnya. Di balik lensa tebal itu mata Jonas berkaca-kaca, ia bisa melihat ketulusan dari seorang Levin dan ia merasa Levin adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup Rindang. "Namun sebelum itu, izinkan saya bertanya menyapa kamu mantap ingin menikahi Rindang, bukankah kamu tahu persis keadaan Rindang sekarang?"
"Sejak Rindang memeluk Islam dan kami sering bertukar pesan karena dia menanyakan banyak hal tentang Islam dan ketika saya melihat perubahan penampilan Rindang, saya mulai sadar bahwa saya telah jatuh hati padanya, walaupun pertemuan itu singkat tapi kami banyak bertukar cerita sebagai sesama mualaf, ketaatan Rindang terhadap agama lah yang membuat saya mantap ingin menikahinya." Mata Levin berbinar-binar saat menceritakan hal itu pada Jonas dan Michelin.
__ADS_1
Jonas mengangguk mengerti, ia bisa melepas Rindang dengan tenang bukan karena Levin dokter tapi karena Levin terlihat begitu mencintai Rindang.
"Lalu bagaimana dengan orangtuamu?" Kini giliran Michelin bertanya, ia sudah mendengar cerita dari Rindang bahwa orangtua Levin seperti tidak menyukainya.
Sinar pada netra Levin meredup mendengar pertanyaan itu, ia pergi ke Banyuwangi tanpa persetujuan dari papa dan mama nya tapi tekad Levin sudah bulat, ia tetap akan menikahi Rindang meski tanpa restu orangtuanya.
"Sebenarnya mereka belum mengizinkan saya menikah tapi niat saya sama sekali tidak pudar, bagi saya restu Ai dan Susuk sudah cukup."
"Kalau begitu dengan senang hati kami menerima lamaran mu Levin." Jonas tersenyum lebar yang membuat mata Levin kembali berbinar.
"Terimakasih Ai, Susuk." Levin mengangguk beberapa kali, perasaan berdebar kembali membuncah di dalam dadanya. Levin sampai memeganginya seolah takut jantungnya akan melompat keluar. Levin merasa ada gelembung sabun di dalam perutnya lalu meletup-letup tak terkendali.
"Bagaimana rencana mu setelah menikah?"
"Kalau Rindang ingin tinggal disini maka saya akan menurutinya dan saya akan mendaftarkan diri ke rumah sakit Kafasa."
"Baiklah, setelah ini kalian bicarakan berdua, saya percaya kalian sudah dewasa dan pasti bisa memutuskan segala sesuatu dengan baik."
Levin mengulumm senyum sekali lagi berterimakasih karena mereka menerima dirinya dengan baik. Rasa gundah yang selama ini menghantuinya hilang seketika. Doa-doa panjang Levin di sepertiga malam akhirnya terjawab. Tentu tak ada doa yang tergantung di langit dengan sia-sia. Bahkan jika Allah tidak mengabulkan doa mu, Dia akan menggantinya dengan pahala yang bergunung-gunung di akhirat nanti.
Rindang tidak tahan untuk menceritakan semua yang telah didengarnya pagi tadi di ruang tamu pada Khalisa. Rindang menunggu hingga Khalisa tidak terlalu sibuk. Jam dinding menunjukkan pukul 8 ketika Rindang mengirim pesan pada Khalisa.
Sebenarnya tadi pagi Rindang menyaksikan pertemuan orangtuanya dengan Levin bahkan ia mendengar semua pembicaraan mereka. Rindang sengaja tidak menemui Levin karena ia ingin melihat kesungguhan Levin untuk menikahinya.
Rindang berada di kamar yang paling dekat dengan ruang tamu, melalui monitor CCTV ia bisa mendengar semua kalimat Levin dengan jelas. Sesekali Rindang melirik ke arah pintu seolah-olah takut jika Levin mengetahui keberadaannya atau bahkan mendengar gemuruh dalam dadanya. Apalagi saat mendengar jawaban Levin saat papa dan mama Rindang menanyakan alasan mengapa Levin mantap ingin menikahi Rindang. Dada Rindang terasa hangat kala mendengarnya.
Dering ponsel membuat Rindang terperanjat dan terpaksa menariknya kembali ke dunia nyata setelah melayang-layang membayangkan kejadian tadi pagi. Tertulis nama Khalisa pada layar ponsel, Rindang tersenyum lebar memegangi dadanya yang berdebar sebelum menjawab telepon Khalisa.
"Assalamualaikum Khalisa eh selamat atas kemenangan Alindra Beauty." Rindang menonton siaran langsung dari depan kantor polisi saat Daniel melakukan konferensi pers tadi. Rindang melihatnya dengan puas walaupun dari awal ia yakin bahwa Alindra Beauty tak akan bisa dituntut dengan tuduhan kandungan berbahaya pada krim itu.
"Waalaikumussalam, ini bukan kemenangan, udah nggak usah basa-basi jadi tadi beneran Ko Levin ke rumah kamu?" Nada bicara Khalisa terdengar tidak sabar.
Rindang tertawa sengaja mengulur waktu untuk membuat Khalisa semakin penasaran. Ia memang paling hobi menggoda Khalisa.
"Rindang ih buruan cerita."
"Azka kemana kok nggak denger suaranya?"
__ADS_1
"Udah tidur, ayo cerita keburu Azka bangun Rin."
"Waktu itu Ko Levin sempet bilang mau ke rumah terus kemarin tiba-tiba dia bilang udah ada di Banyuwangi."
"Terus?"
"Aku bilang sama Mama Papa kalau Ko Levin mau ke rumah, mereka tanya, apa sudah saatnya?" Rindang menirukan nada bicara papa nya tadi malam saat ia memberitahu bahwa Levin akan datang.
"Ya ampun kenapa sih disaat kayak gini kamu harus jauh dari aku, aku pengen peluk kamu tahu nggak sekarang."
Rindang tertawa, ia juga ingin memeluk Khalisa setelah berbagi cerita bahagianya.
"Terus kamu terima kan lamarannya?"
"Menurut kamu, ya aku terima Khalisa karena sejak Ko Levin mengungkapkan perasaannya pertama kali aku selalu berdoa agar Allah memberikan petunjuk kalau memang Ko Levin laki-laki terbaik buat aku."
"Aku bisa tenang kalau kamu nikah sama Ko Levin."
"Karena?"
"Karena aku yakin dia bisa jaga kamu dengan baik dan bisa sabar sama emosi kamu yang sering berubah."
"Eh Khalisa tapi gimana kalau aku tiba-tiba bosen?"
"Bosen?"
"Dulu aku gampang bosen sama pacarku makanya hubungan kami tuh nggak pernah lama."
"Enggak mungkin bosen, hatimu akan tertambat selamanya pada Ko Levin karena dia adalah orang yang Allah pilihkan buat kamu."
Rindang tersenyum, dadanya kembali menghangat membayangkan pernikahan. Rindang tidak memiliki rencana untuk menikah tapi Allah justru menggariskan takdir yang begitu tidak terduga.
"Kamu kan udah 3 tahun nikah sama Azfan, ada rasa bosen nggak?"
"Sama sekali nggak ada."
Rindang menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang memeluknya nyaman. Rasanya ia ingin terbang ke Sleman untuk memeluk Khalisa. Mereka telah banyak melewati susah dan senang bersama.
__ADS_1