
Hari ini bakpia orangtua Mahira resmi buka di Alindra Mall. Setelah menjalani proses yang cukup sulit akhirnya bakpia tersebut memiliki tempat di tengah mall berdampingan dengan brand makanan lain yang sudah terkenal. Awalnya bakpia tersebut tidak memiliki merek, Kafa mengatakan mereka harus memberikan nama merek pada bakpia tersebut agar lebih mudah dikenal. Setelah berunding mereka sepakat memberi nama Bakpia Arutala. Arutala sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang berarti memiliki cita-cita tinggi.
Pada grand opening pengunjung cukup ramai karena mereka memberikan promo buy one get one. Kafa yakin Bakpia Arutala akan disukai pengunjung karena saat pertama kali mencoba ia langsung ketagihan. Terlepas dari banyak merek bakpia yang sudah Kafa makan sebelumnya.
"Silakan dicoba dulu." Mahira memberikan sepotong kecil bakpia isi coklat pada salah satu pengunjung agar mencicipi terlebih dahulu sebelum membeli.
Alih-alih menerima bakpia dari tangan Mahira, pengunjung laki-laki itu justru membuka mulutnya. Mahira membelalak kaget karena ini terlihat seolah-olah ia sedang menyuapi laki-laki yang sepertinya seumuran atau sedikit lebih muda darinya.
"Enak, manis kayak yang jual." Ia tersenyum manis pada Mahira, "boleh coba satu lagi?"
"Silakan ambil sendiri." Mahira memberikan tusukan pada pengunjung itu.
Dari jarak sekitar 3 meter Kafa melihat Mahira dan pengunjung genit itu, ia sudah mengepalkan tangan bersiap memberi pelajaran pada laki-laki yang telah menggoda istrinya.
"Sayang, biar aku yang jaga disini." Kafa menghampiri Mahira, ia mengulas senyum yang dibuat-buat dan Mahira menyadari bahwa Kafa mulai marah.
"Nggak apa-apa, aku disini aja nanti kamu capek berdiri terus." Mahira harus segera menyuruh laki-laki di dekatnya ini pergi sebelum Kafa mengeluarkan tanduknya. Kalau sudah marah Kafa jauh lebih seram dari pada pocong terbang, nenek gayung atau jenis hantu lainnya. Mahira tidak bohong.
"Aku bisa berdiri seharian kok, demi kamu." Kafa menatap Mahira lalu memberi kode agar segera pergi dari situ.
Mahira tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Kafa, ia tak mau kena marah juga.
"Kamu mau coba satu lagi?" Kafa mengambil satu bakpia utuh.
"Iya." Laki-laki itu manggut-manggut, ia belum menyadari sinyal bahaya di sekitar situ padahal tatapan Kafa begitu tajam seolah-olah bersiap mengajak perang.
"Ini." Kafa menyuapkan bakpia pada mulut laki-laki tersebut.
Pengunjung itu mendelik mendapat satu suap bakpia yang memenuhi mulutnya sementara Kafa hanya tersenyum miring melihatnya.
"Enak kan, silakan borong bakpia kami."
Laki-laki berambut ikal itu menggoyang-goyang tangannya takut setelah menyadari kemarahan Kafa.
"Makanya jangan godain istri orang sembarangan." Tandas Kafa.
"Aku nggak tahu kalau dia sudah menikah." Katanya tidak jelas karena mulutnya masih penuh bakpia.
"Kalaupun belum menikah, kamu nggak pantas melakukan hal seperti itu pada orang asing."
"Sorry-sorry." Ia membalikkan badan hendak pergi dari sana tapi Kafa menahannya.
"Kamu harus beli beberapa kotak, jangan pergi seenaknya setelah godain istri aku." Kafa menarik baju laki-laki itu.
"Iya-iya, aku beli." Akhirnya ia membeli 3 kotak bakpia karena takut melihat tatapan tajam Kafa yang bisa menghunus ke dalam jantungnya.
"Dasar buaya." Gerutu Kafa melihat kepergian laki-laki genit itu setelah membayar 3 kotak bakpia.
Mahira tertawa menghampiri Kafa, "kamu kok tega banget sih kayak gitu?"
"Salah siapa dia godain kamu."
Mahira mengusap air mata yang keluar bersama dengan tawanya, ia menggandeng tangan Kafa untuk menggodanya.
"Tapi dia cakep juga loh."
__ADS_1
Kalimat Mahira seperti bahan bakar di tengah asap yang mengepul, Kafa makin panas tapi ia tak mau menunjukkannya.
"Kita harus ke dokter mata sekarang." Kafa menarik Mahira keluar dari situ.
"Mau ngapain?" Mahira menepuk-nepuk punggung tangan Kafa agar berhenti menariknya.
Kafa tidak mempedulikan Mahira yang memintanya untuk berhenti. Kafa membawa Mahira masuk mobil.
"Mau ke dokter mata beneran?" Mahira tak percaya jika Kafa sungguh akan membawanya ke dokter mata.
Kafa mengaitkan seat belt untuk Mahira berjaga-jaga agar tidak kabur. Ia menjalankan mobilnya keluar dari parkiran Alindra Mall yang sangat padat siang itu.
Sekitar 10 menit mereka sampai di klinik mata milik salah satu kenalan Kafa. Klinik tersebut tampak sepi saat Mahira turun dari mobil. Klinik itu memang tutup setiap akhir pekan. Mahira merasa dirinya aman karena mereka bisa putar balik dan kembali ke mall.
"Sayang, kamu nggak serius kan mau bawa aku kesini, mataku sehat loh." Mahira menggelayut pada lengan Kafa, ia menatap sang suami dengan pandangan memelas. Setelah ini Mahira tak mau lagi menjadi kompor bagi si tukang marah Kafa.
Kafa mengabaikan Mahira yang terus melancarkan aksi merayunya, ia tak akan terpengaruh semudah itu. Ibu jari Kafa sibuk menekan layar ponselnya.
"Yang paling ganteng tuh cuma kamu Kafa, serius deh." Mahira masih belum menyerah merayu Kafa, "lagian kliniknya tutup ayo pulang, aku masakin buat kamu yuk kan kita belum makan siang."
"Siapa bilang tutup." Kafa menunjuk ke arah pintu dengan dagunya, ia telah menghubungi dokter Putra memberitahu kedatangannya.
"Kafa, tumben kamu kesini nggak ngabarin dulu tiba-tiba udah ada di depan sini." Putra merentangkan tangan menyambut kedatangan Kafa.
"Iya maaf sudah mengganggu waktu libur dokter Putra." Kafa menjabat tangan Putra.
"Tidak masalah, kamu bisa datang kesini kapanpun, ini istri kamu ya?" Putra melihat Mahira yang berdiri di samping Kafa.
"Iya Dok, tolong periksa dia." Kafa menarik Mahira agar mendekat.
Putra melakukan pemeriksaan terhadap mata Mahira sesuai permintaan Kafa.
"Kalau boleh tahu gejalanya apa?" Tanya Putra.
Mahira melirik Kafa, ia sungguh tak menduga kalau Kafa akan berbuat sejauh ini. Mahira tak akan mengulanginya lagi, sungguh.
"Penglihatannya sedikit kabur Dok." Jawab Kafa dengan wajah tanpa dosa.
"Kalau begitu kita tes ketajaman mata dulu ya."
Mahira menjalani berbagai pemeriksaan seperti pasien pada umumnya. Sedangkan Kafa duduk di sofa sambil memperhatikan istrinya yang tampak bosan.
"Kafa, bukannya kita harus jemput Mbak Khalisa di bandara?" Mahira masih belum menyerah meski pemeriksaannya sudah setengah jalan.
"Kita masih punya waktu." Balas Kafa tanpa melihat Mahira, ia sungguh kesal mengingat Mahira memuji cowok genit itu.
"Setelah melakukan berbagai pemeriksaan sepertinya tidak ada masalah pada matanya, atau mungkin saya salah, kita bisa coba periksa satu kali lagi."
"Nggak usah Dok." Mahira menolak, ia menghabiskan waktu satu jam disini hanya untuk memeriksakan matanya yang sehat.
"Dia memuji orang lain tampan jadi saya pikir matanya bermasalah." Ujar Kafa dengan santainya, ia beranjak dari sofa dan mengeluarkan ponselnya.
Untuk sesaat Putra terperangah dengan alasan Kafa membawa istrinya kesini tapi kemudian ia tersenyum karena Kafa tak pernah berubah. Masih keras kepala seperti dulu.
"Terimakasih dokter Putra sudah mau memeriksanya, saya akan membayar." Kafa melakukan scan pada QR code yang telah tersedia di meja Putra.
__ADS_1
"Tidak perlu, saya hanya melakukan pemeriksaan biasa." Tolak Putra.
"Saya harus tetap membayar karena sudah mengganggu waktu dokter." Kafa menekan beberapa angka untuk membayar jasa Putra. "Terimakasih sekali lagi."
"Semoga Kafa tidak akan pernah membawamu kesini lagi dengan alasan yang sama." Ucap Putra pada Mahira.
Mahira tersenyum hambar, orang kaya selalu punya cara untuk membuang-buang uang. Dan Kafa paling pandai memberi pelajaran yang pasti akan Mahira ingat seumur hidupnya.
"Saya permisi dokter." Pamit Kafa.
"Hati-hati di jalan." Putra melihat kepergian Kafa, ia harap setelah ini Kafa dan istrinya akan berdamai. "Ada-ada saja tingkah laku pasangan muda itu."
"Kafa, kamu masih marah?" Mahira setengah berlari menyusul Kafa yang sudah berada di dalam mobil. "Aku minta maaf, aku nggak bakal ngulangin lagi." Mahira menarik tangan Kafa dan menggenggamnya. "Aku nggak serius tadi, bahkan aku nggak lihat wajahnya."
"Lantas?"
"Aku sengaja ngelakuin itu biar kamu cemburu, maaf jangan marah lagi." Mahira mengecup tangan Kafa berkali-kali agar suaminya itu memaafkannya.
"Kamu minta maaf sambil cium tangan?"
Mahira melongo, lalu apa yang harus ia lakukan jika bukan mencium tangan Kafa.
"Jangan marah lagi!" Mahira kehabisan cara untuk merayu Kafa, akhirnya ia naik ke pangkuan Kafa dan memeluknya. "Kamu kayak monster kalau lagi marah, aku takut, udahan dong marahnya."
Akhirnya seutas senyum terbit di wajah Kafa setelah Mahira memeluknya. Walaupun Kafa harus menahan beban tubuh Mahira, baginya tak masalah.
"Kalau kamu puji cowok lain lagi, aku nggak akan bawa kamu ke dokter mata tapi ke luar angkasa dan membuatmu meneriakkan nama ku."
Mahira bergidik ngeri membayangkan hal itu, ia suka melakukan sesuatu yang memacu adrenalin tapi kemarahan Kafa sama sekali bukan hal yang menyenangkan.
"Iya aku maafin, udah turun dari sini, aku nggak bisa nyetir kalau kamu gini terus."
"Beneran maafin nggak?" Mahira melepas pelukan menatap wajah Kafa.
"Iya aku maafin."
"Senyum dulu baru aku turun."
"Nanti aja senyumnya." Kafa sedang tidak ingin tersenyum.
"Ya ampun tinggal senyum aja."
Dengan terpaksa Kafa tersenyum agar Mahira turun dari pangkuannya karena mereka harus segera pergi ke bandara untuk menjemput Khalisa dan Azfan.
Mahira hendak turun dari pangkuan Kafa tapi karena mengenakan gamis, ia jadi sulit bergerak. Padahal barusan Mahira bisa naik dengan mudah. Sepertinya Kafa harus membeli mobil yang lebih luas agar Mahira leluasa bergerak.
"Makanya kamu tuh ada-ada tingkahnya." Kafa mengangkat tubuh Mahira dan memindahkannya ke jok sebelah. Kafa heran istrinya itu sangat aktif seperti anak kecil yang tidak pernah bisa diam. Pernah suatu kali Mahira membuat gamisnya robek saat ia naik ke pohon mangga di depan rumahnya. Saat itu Kafa langsung melarang Mahira naik pohon lagi.
"Dari pada galak." Cibir Mahira.
Kafa tidak lagi menanggapi ucapan Mahira karena ia mulai fokus menyetir.
__ADS_1
Ada yang kangen mereka nggak?