
"Abi, bajunya aku gantung di depan lemari ya." Khalisa setengah berteriak pada Azfan yang berada di kamar mandi. Ia baru selesai menyetrika jubah putih yang akan Azfan kenakan untuk menghadiri pengajian bersama Fawas di salah satu pondok pesantren di Jogja.
Pintu kamar mandi terbuka lalu Azfan muncul dengan badan yang masih basah, ia buru-buru melilit handuk sebatas pinggangnya saat keluar.
"Umma udah mau berangkat?" Tanya Azfan.
"Iya takut telat Bi, udah jam setengah satu." Khalisa melirik jam digital di atas nakas. Khalisa janjian pukul satu dengan Naura, jika jalanan tidak macet maka ia akan sampai tepat waktu.
"Tunggu aku selesai pakai baju dulu." Azfan melihat Khalisa dengan pandangan memohon.
Khalisa tersenyum, apakah Azfan sedang ingin menunjukkan ketampanannya karena mengenakan jubah putih pemberiannya. Kemarin Khalisa membelikan Azfan jubah putih di Alindra Mall dan itu sangat cocok di tubuh Azfan.
"Ya udah buruan." Khalisa mendorong Azfan masuk ke walk in closet dan menutup pintunya.
"Kok ditutup pintunya?"
"Abi nggak malu aku lihatin?"
Azfan melongokkan kepalanya dari balik pintu yang dibuka sedikit.
"Setiap malem kan Umma lihatin aku nggak pakai baju."
"Ih!" Khalisa tertawa, ia reflek membekap mulut Azfan. "Kapan aku gitu?"
"Waktu kita bikin adiknya Azka."
"Ih Abi, stop bilang kayak gitu!" Akhirnya Khalisa ikut masuk ke walk in closet dan mengunci pintunya. Walaupun tak akan ada orang yang tiba-tiba masuk tapi Khalisa ingin berjaga-jaga. Siapa tahu Nadira tak sengaja masuk saat mencari Khalisa di kamar.
"Wah bajunya bagus ya." Azfan selesai mengenakan jubah putih yang Khalisa belikan untuknya. Azfan mencium aroma parfum pada baju tersebut, Khalisa pasti telah menyemprotkan banyak parfum ke seluruh permukaannya.
"Abi cocok loh pakai baju kayak gitu."
"Kelihatan aneh nggak?"
"Enggak kok, nanti kalau udah biasa pakai pasti enggak aneh lagi dan bakal lebih percaya diri."
"Tapi wangi banget bajunya."
"Ah iya maaf Bi, tadi sebenarnya parfum Abi tumpah ke baju itu."
Azfan melangkah mendekat pada Khalisa, "aku pengen Umma ikut." Ia menangkup pipi Khalisa.
__ADS_1
"Lain kali aku ikut, aku udah telanjur bikin janji sama Mbak Naura."
"Hati-hati ya, nanti kalau ada apa-apa telepon aku." Azfan mengecup bibir Khalisa sesaat, tidak boleh lebih dari dua detik atau mereka tak akan jadi pergi.
"Aku bukan anak kecil." Khalisa berjinjit membalas ciuman Azfan.
"Aku tahu tapi kamu lagi hamil sayang, dan biasanya kita pergi bersama."
"Cuma sebentar kok, nanti kalau masih keburu, aku susul Abi kesana."
Azfan menggeleng, "tunggu aku di rumah." Ia memeluk Khalisa. "Aktifkan lokasi hp Umma, bukan aku nggak percaya tapi nanti kalau ada apa-apa kan aku bisa langsung samperin, Umma jadi bawa mobil sendiri?"
"Aku naik taksi aja, capek banget mau nyetir sendiri." Tadinya Khalisa hendak membawa mobil sendiri tapi ia merasa lelah setelah menempuh perjalanan dari Banyuwangi.
Khalisa mendengar suara ketukan pintu, ia melepas pelukan Azfan untuk membuka pintu kamar. Azfan muram karena ia belum puas memeluk sang istri.
Nadira datang untuk memberitahu bahwa Fawas sudah ada di bawah. Khalisa meminta Azfan untuk segera turun agar Fawas tidak menunggu terlalu lama.
"Aku berangkat dulu ya."
"Iya Bi, hati-hati." Khalisa mencium tangan Azfan.
"Azka dimana?"
Azfan turun ke lantai satu, sebelum berangkat ia menghampiri Azka untuk berpamitan. Jika Azka sudah lebih besar, Azfan akan mengajaknya ke pengajian. Azfan tak sabar menantikan saat itu.
"Umma juga mau berangkat, Azka sama Mbak Nadira dulu ya sayang." Khalisa menggendong Azka sebentar.
"Aku juga mau pamit sama adiknya Azka." Azfan merendahkan tubuhnya untuk mencium perut Khalisa yang masih rata karena bayi mereka di dalam sana baru memasuki usia 8 Minggu. "Jangan rewel di dalam perut Umma ya sayang."
"Adik nggak nakal kok Bi, buktinya Umma masih bisa kerja."
"Abi nggak sabar mau lihat kamu."
Nadira tersenyum melihat kemesraan Azfan dan Khalisa. Ia selalu berdua agar hubungan keduanya selalu harmonis seperti itu.
"Bilang dadah dulu sama Abi, dadah Abi." Ia membawa Azka mengantar Azfan hingga depan rumah. "Hati-hati di jalan ya Abi."
Azfan terlihat melambaikan tangan melalui jendela mobil yang terbuka. Khalisa baru masuk setelah mobil Fawas tidak terlihat meninggalkan halaman rumah.
Nadira mengambil alih Azka dari gendongan Khalisa.
"Bengong lihatin Abi nya pergi, coba kalau Mbak Khalisa yang pergi langsung nangis."
__ADS_1
"Katanya anak laki-laki itu lebih dekat dengan ibunya, Azka baik-baik ya di rumah, jangan nakal kasihan Mbak Nadira." Khalisa mengecup kening dan pipi Azka.
Azka mulai menangis ketika Khalisa melangkah keluar. Karena Azka sudah bisa mengenali wajah Umma nya, ia pasti menangis saat Khalisa meninggalkannya.
Nadira segera menutup pintu dan mencoba menenangkan Azka dengan membawanya ke ruang tengah untuk menonton tv.
"Umma cuma sebentar kok, nanti main lagi sama Azka." Nadira memberikan Teether berbentuk semangka kesukaan Azka tapi anak itu melemparnya. Azka tidak mau Teether, ia ingin Umma nya. "Eh main bebek karet ya." Nadira mencari keberadaan mainan bebek karet milik Azka karena mereka sempat memainkannya tadi.
"Ini nih bebek nya Azka." Nadira menemukan bebek itu di kolong meja. Namun Azka tetap menolaknya. Nadira menempelkan kepala Azka di dadanya. Nadira menimang Azka membawanya ke halaman belakang untuk mendapat udara segar karena Azka berkeringat.
Setelah cukup tenang Nadira memberikan jelly mangga buatan Khalisa pada Azka.
"Enak ya? pinter banget Umma bikin jelly nya." Nadira tersenyum lebar melihat Azka menikmati jelly itu. Azka memang suka makanan dingin seperti jelly dan es krim. Ini mengingatkan Nadira pada Khalisa waktu kecil.
******
"De Jeeva ya Pak." Khalisa memastikan tujuannya sekali lagi pada supir ketika taksi meluncur membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Untungnya jalan raya tidak terlalu padat, Khalisa harap ia bisa sampai tepat waktu di De Jeeva.
Supir taksi itu menjawabnya dengan anggukan.
Mendung mulai menggantung di atas langit kota Sleman. Khalisa melihat keluar jendela, pemandangan gedung-gedung pencakar langit menemani perjalanannya.
Khalisa merogoh tas selempang nya, ia hendak mengirim pesan pada Naura untuk memberitahu bahwa ia sedang dalam perjalanan. Khalisa mencari ponselnya tapi ia tak menemukan benda pipih itu disana. Khalisa membuka tasnya lebih lebar, benar ia telah meninggalkan ponselnya di rumah. Khalisa menimbang-nimbang apakah ia harus putar balik untuk mengambil ponsel, tapi jika kembali ke rumah ia akan terlambat. Khalisa tak mau membuat Naura menunggu terlalu lama.
"Ck kok bisa lupa sih?" Gerutu Khalisa, pada saat seperti ini mengapa ia justru lupa membawa ponsel. Khalisa memiliki satu ponsel lain yang selalu ada di dalam tasnya tapi ia tak ada kontak Naira disana.
Mungkin karena buru-buru Khalisa lupa memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Khalisa menoleh ke sisi kiri jalan, jika ia tidak salah ingat De Jeeva sudah dekat dari kawasan toko buku yang dulu sering ia datangi bersama Huma.
"Loh kok kelewat Pak, itu De Jeeva." Khalisa menepuk-nepuk belakang kursi menegur sang supir karena mobil yang membawa mereka telah melewati bangunan De Jeeva cukup jauh. "Pak, berhenti." Khalisa menepuk bahu supir itu, ia yakin suaranya sudah cukup kencang.
"Pak, saya bilang tolong berhenti!" Khalisa mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia kesal karena supir taksi itu mengacuhkannya.
Ketika taksi melaju lebih kencang Khalisa mulai panik, ia melihat ke kanan dan kiri. Mereka melewati jalanan yang tidak Khalisa kenal. Jika ini Banyuwangi Khalisa pasti hafal setiap jalannya, bahkan jalan yang melewati yang sempit pun ia tak akan lupa. Namun ini Yogyakarta, Khalisa belum melewati semua jalanan nya.
"Kamu siapa?" Khalisa menarik topi yang supir itu kenakan hingga ia bisa melihat rambut panjang supir laki-laki itu menjuntai melewati bahu.
"Kamu nggak mungkin lupa kan sama aku?" Suara itu membuat bulu kuduk Khalisa berdiri. Suara yang jauh lebih menyeramkan dari hantu apapun di dunia ini. Tidak, pasti hanya suara yang mirip dengan orang yang Khalisa kenal.
Laki-laki itu menoleh, meski hanya sebagian wajahnya yang terlihat tapi Khalisa bisa mengenalinya. Setiap lekuk wajah itu terekam jelas di otak Khalisa.
"Berhenti!" Seru Khalisa, dari pada teriakan suaranya justru terdengar seperti tikus kejepit. Tubuh Khalisa bergetar, pandangannya terfokus pada jendela yang tertutup. Lalu Khalisa menggeleng, ia tak mungkin meloncat dari sana disaat mobil melaju kencang. Khalisa bisa mati konyol menghantam aspal atau lebih parah, ia akan tertabrak apapun yang ada di belakang mobil ini.
"Akhirnya kita ketemu lagi." Laki-laki itu tersenyum miring, ekspresi wajahnya berbanding terbalik dengan Khalisa. Ia tampak santai dan puas karena berhasil melakukan semuanya sesuai keinginan.
__ADS_1