
Para mahasiswa kedokteran berpakaian olahraga tengah asyik bermain basket di lapangan usai kelas pertama. Beberapa mahasiswi bersorak di pinggir lapangan menyemangati tim yang mereka dukung. Itu bukan pertandingan sesungguhnya melainkan hanya permainan untuk mengisi waktu luang disela tugas yang memusingkan.
"Kafa, ayo main!" Teriak salah satu mahasiswa seraya melambaikan tangan pada Kafa yang berdiri di pinggir lapangan sambil melipat tangan di depan dada. Teriknya matahari membuat Kafa enggan bergabung dengan mereka. Kafa lebih suka olahraga di dalam apartemennya dengan peralatan gym yang sudah disediakan.
"Males ah." Sahut Kafa.
"Takut kalah lu?" Teriak teman Kafa yang berasal dari Jakarta tersebut.
"Nggak salah denger? aku atlet basket waktu SMA tahu nggak." Kafa akhirnya melangkah masuk ke lapangan hingga menimbulkan sorakan dari teman-temannya. Rupanya kalimat itu mampu memancing Kafa untuk ikut bermain.
"Lepas dulu jam tangan mahalnya nanti pecah."
Kafa melepas smartwatch yang tadinya melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia melempar benda kecil itu ke rerumputan.
"Wih sombong banget lu smartwatch dilempar sembarangan gitu."
"Bukan sombong, emang itu jam nggak bakal kenapa-napa lagian aku lemparnya ke rumput bukan batu!" Kafa menggulung lengan kaos olahraganya yang kembali memancing riuh para mahasiswi di pinggir lapangan. "Yuk ah mulai."
Kafa mendribble bola dengan cekatan lalu melempar bola pada keranjang dari jarak cukup jauh. Cewek-cewek di pinggir lapangan bersorak ketika Kafa mencetak poin.
"Kafa semangat!"
Kafa mengalihkan perhatian ke arah sudut lapangannya mendengar suara itu, ia melihat Mahira melompat-lompat seraya bertepuk tangan dan meneriakkan namanya. Penampilan Mahira hari ini berbeda dari biasanya, untuk sesaat Kafa dibuat terkesima oleh Mahira.
"Kafa! gimana sih lu!" Teman satu tim Kafa bersorak kesal karena Kafa tidak fokus hingga bola mereka berhasil direbut tim musuh.
"Fokus Fa!" Ucap Kafa pada dirinya sendiri, ia mencoba kembali fokus pada permainan basketnya.
Peluh menetes dari rambut Kafa hingga ke pelipis setelah permainan selesai dan dimenangkan oleh timnya. Kafa menyelesaikan permainan itu dengan cepat dan berlari ke sudut lapangan.
Mahira terlihat anggun mengenakan gamis hitam dan jilbab lebar segiempat bermotif abstrak. Tanpa sadar Kafa tidak berkedip melihat Mahira.
Apaan sih Kafa, dia cuma pakai gamis, kedip sekarang juga!
Kamu cantik banget
Hampir saja kalimat itu lolos dari mulut Kafa jika ia tidak menutup mulutnya dengan tangan dan melihat ke arah lain. Kemana saja yang penting bukan Mahira.
Kafa melangkah keluar lapangan dan duduk di bangku yang berada di koridor. Mahira menyusul Kafa, duduk sekitar setengah meter dari cowok itu.
"Ngapain?" Tanya Kafa sinis.
"Aku cuma mau ngasih ini, yang waktu itu kan kamu kasih buat Mbak Khalisa jadi aku bikinin lagi." Mahira menyodorkan kotak makanan yang sama seperti saat ia memberikan nasi goreng pada Kafa dulu. Mahira sengaja memberi jarak cukup lama untuk menghilangkan rasa kesal Kafa. Namun Kafa tetaplah Kafa, ia selalu sinis bahkan hanya dengan mendengar suara Mahira.
Kafa hanya melirik kotak itu tanpa menerimanya meski dulu ia sempat berharap Mahira mau membuat nasi goreng lagi untuknya.
"Coba dulu sesuap, kalau nggak suka biar aku yang abisin." Mahira membuka kotak makanan itu hingga aroma nasi goreng mencuri perhatian Kafa. "Mau aku suapin?"
"Gila kamu." Kafa merebut kotak itu dan melahap sesuap nasi goreng buatan Mahira. Rasa gurih menyebar di lidah Kafa ditambah rasa manis jagung serta lembutnya telur dadar.
"Enak nggak?" Mahira tersenyum melihat reaksi Kafa setelah mengunyah nasi goreng itu.
"Biasa aja." Kafa melahap suapan kedua, kali ini bersama nugget ayam yang garing tapi daging di dalamnya benar-benar lembut. Itu tidak terasa seperti nugget Frozen yang biasa Kafa makan saat malas memasak.
"Tapi kok nyuap terus?" Mahira menahan tawa karena Kafa tidak berhenti melahap nasi goreng itu.
"Laper abis main basket." Elak Kafa padahal nasi goreng itu benar-benar enak dan ia tak rela memberi jeda pada mulutnya untuk mengunyah.
"Pelan-pelan aja, minum nih ntar keselek." Mahira memberikan sebotol air mineral pada Kafa.
Mahira melihat teman-teman cewek Kafa melihat ke arahnya dan sesekali berbisik-bisik. Mahira penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Kamu kenapa masih disini, cuma mau ngasih ini doang kan?"
"Hm?" Alis Mahira terangkat, "iya."
"Ya udah sana pergi, nasinya udah aku makan kan."
Mahira mengerucutkan mulutnya kesal lalu beranjak dari sana.
__ADS_1
"Bilang makasih kek." Gerutunya.
"Terimakasih." Sahut Kafa.
Mahira berbalik, ia pikir Kafa tidak mendengarnya.
"Kamu kenapa pakai itu?" Kafa menunjuk Mahira dengan sendok dari atas sampai bawah.
"Kenapa? bagus ya?" Mahira berputar-putar menunjukkan gamisnya, senyumnya melebar karena akhirnya Kafa sadar akan perubahan penampilannya.
"Jelek." Balas Kafa singkat.
Mahira mendelik, ia pikir Kafa akan memujinya. "Kalau pakai celana?"
"Lebih jelek." Kafa menunduk tidak lagi melihat Mahira.
"Terus aku cantiknya kapan?" Mahira dibuat dongkol setengah mati dengan sikap Kafa.
"Kalau pergi dari hadapan aku." Kafa mendongak melihat Mahira dengan sepasang mata dinginnya. Dingin sekali hingga membuat Mahira membeku.
Sadis banget nih cowok satu!
Mahira menghentakkan kakinya berlalu dari sana, "gila si Kafa, dia bisa lembut waktu ngomong sama Mbak Khalisa dan orangtuanya tapi kenapa jadi galak banget kalau berhadapan sama aku." Ia menggerutu sepanjang koridor menuju ke kelasnya. Untung saja kampus sepi karena sebagian besar mahasiswa telah pulang sehingga Mahira bebas mengomel tanpa khawatir ada yang mendengarnya.
Kafa memasukkan tempat makan milik Mahira ke dalam tas setelah menghabiskan isinya hingga tandas tak tersisa.
"Aku duluan ya!" Seru Kafa pada teman-temannya yang masih berada di lapangan. "Kalian lihat apa sih?" Ia mengikuti arah pandang teman-temannya. "Erupsi lagi ya?"
"Iya, aku lihat beritanya tadi pagi BMKG naikin statusnya jadi siaga."
"Udah ah, balik duluan." Kafa menepuk bahu temannya dan berlalu dari sana.
Mobil Kafa keluar dari tempat parkir menuju gerbang utama. Kafa menurunkan laju mobilnya ketika melihat Khalisa.
"Cece." Kafa menurunkan kaca jendela mobil menegur Khalisa yang berjalan menuju gerbang. "Cece jalan kaki?"
"Iya, muka kamu kok merah gitu habis ngapain?" Khalisa mengerutkan kening melihat wajah merah padam Kafa.
Khalisa tersenyum, itu berarti Kafa ada perkembangan dari tidak mau berteman dengan siapapun sekarang sudah bisa bermain basket bersama.
"Ayo aku anterin, Mas Azfan kemana?" Ajak Kafa.
"Mas Azfan udah berangkat ke Surabaya tadi pagi, di depan ada Rindang kok, Cece tidur di apartemen Rindang malam ini."
"Ya udah ayo aku anterin ke depan, masa Cece jalan kaki, matahari nya lagi panas banget."
Khalisa terkekeh, "nggak apa-apa Cece jalan aja, biar sehat." Ia mengusap-usap perutnya.
Tangan Kafa terulur untuk ikut mengusap perut Khalisa, "ya udah, hati-hati Ce."
"Kamu juga."
Kafa melihat Khalisa sekali lagi melalui spion memastikan Cece nya aman sebelum melajukan mobilnya keluar dari area kampus.
Khalisa mempercepat langkah melihat mobil Rindang di depan gerbang. Khalisa hanya akan menginap satu malam di apartemen Rindang karena besok Azfan sudah kembali. Sebenarnya Khalisa tak masalah sendiri di rumah karena sebelum menikah ia juga sendiri di apartemen. Namun justru Azfan yang tidak tenang jika meninggalkan Khalisa sendirian di rumah. Katanya keamanan di rumah tidak bisa disamakan dengan apartemen. Apalagi ruko di kanan kiri mereka belum berpenghuni.
"Nunggu lama nggak?" Khalisa masuk ke mobil Rindang.
"Enggak kok, baru aja sampai." Rindang melihat Khalisa mengenakan seatbelt "langsung pulang?"
"Iya." Khalisa mengeluarkan ponselnya membalas pesan dari Azfan. Azfan memberitahu bahwa ia akan segera memulai pengajiannya.
"Kamu sering ditinggal Azfan gini nggak apa-apa?" Rindang mulai menjalankan mobilnya. "Maksud aku, kamu kelihatan bucin banget sama suami mu apalagi sekarang lagi hamil dan Azfan sering diundang keluar kota."
Pertanyaan Rindang mengingatkan Khalisa pada momen saat Azfan hendak berangkat tadi pagi. Khalisa enggan melepaskan pelukannya pada Azfan sambil menangis seperti anak kecil. Khalisa tidak ingin jauh dari Azfan meskipun hanya sebentar. Namun Azfan juga memiliki kewajiban mensyiarkan ayat-ayat Allah melalui qiroah nya. Allah telah memberi Azfan suara yang luar biasa maka ia tak boleh menyimpannya untuk diri sendiri. Itulah yang selalu Khalisa tanamkan pada pikirannya sendiri saat hendak melepas Azfan keluar kota.
"Sebenernya ini berat banget buat aku tapi mau gimana lagi, aku nggak boleh egois dengan menahan Mas Azfan, siapa tahu ada orang yang tersentuh hatinya dan mau merubah dirinya lebih baik setelah mendengar ayat suci yang mas Azfan lantunkan, kita nggak akan pernah tahu karena Allah sudah mengatur semuanya."
"Aku salut sama kamu."
__ADS_1
"Ini kewajiban Mas Azfan juga."
"Kabar baiknya adalah aku nggak sendirian lagi di apartemen, ada kamu." Rindang girang karena malamnya tak akan sepi lagi meski besok Khalisa sudah harus kembali ke rumahnya.
"Aku mau ganti tangki insulin dulu." Rindang melempar tas kuliahnya ke sofa sesampainya di apartemen. "Minta tolong copot yang ini dong."
"Bentar aku cuci tangan dulu." Khalisa bergegas pergi ke dapur untuk mencuci tangan dengan sabun.
"Di kamar aja ya." Rindang menyimpan semua alat medisnya di kamar jadi lebih baik ia mengganti tangki insulin disana.
Rindang membuka gorden kamar dan pintu yang menghubungkan dengan balkon. Siang ini matahari bersinar terik membuat Rindang enggan pergi ke balkon meskipun pemandangan gunung Merapi cukup indah tanpa awan yang menutupinya.
"Merapi erupsi terus." Rindang berbalik menyadari keberadaan Khalisa.
"Tadi pagi aku lihat asap tebal dari Merapi, warga disana juga udah dievakuasi." Khalisa melepas jarum selang insulin yang menempel di perut Rindang.
"Ko Levin katanya mau kesini."
"Kapan?"
Rindang melihat arloji di tangan kirinya, "bentar lagi kayaknya sampe." Pandangan Rindang turun ke perutnya sendiri. "Jelek banget perut aku ya, banyak bekas hitamnya."
"Alhamdulillah sekarang udah ada alat ini jadi kamu nggak perlu suntik insulin bolak-balik, ini fungsinya sama kayak pankreas kan." Khalisa mengusap perut bagian kanan Rindang dengan alkohol swab sebelum menusukkan jarum yang terhubung dengan selang. "Sakit nggak?"
"Nggak, perut aku udah kapalan jadi nggak berasa sakit lagi."
Aktivitas Khalisa terhenti ketika ia merasakan guncangan di ruangan itu.
"Eh berasa nggak?" Khalisa berpegangan pada meja.
"Berasa banget." Rindang langsung beranjak keluar kamar. "Gempa!" Ia menyambar cadar di pegangan sofa sembari berteriak memanggil Khalisa agar segera keluar.
Khalisa ikut panik mengekori Rindang. Penghuni apartemen lain juga berhamburan keluar karena guncangan itu cukup besar. Biasanya gempa tak akan begitu terasa dari bangunan apartemen tersebut.
Mereka berdesakan turun melalui lift dan tangga darurat mengikuti arahan staf apartemen.
Rindang gemetaran memegang tangan Khalisa ketika lift turun membawa mereka ke lantai satu. Mengingat Khalisa sedang hamil membuat Rindang makin takut. Ia berdoa semoga lift ini masih bisa berfungsi dengan baik di tengah guncangan.
Orang-orang berkerumun di lobi ketika mereka sampai di lantai satu. Guncangan gempa masih begitu terasa hingga Rindang dan Khalisa keluar apartemen. Mereka melihat bangunan di sekitar sudah roboh tak berbentuk.
"Takut banget!" Rindang memeluk Khalisa masih dengan tubuh gemetar, ia tak pernah merasakan gempa sekuat ini sebelumnya.
"Aku juga." Khalisa mendudukkan Rindang di kursi karena lututnya juga gemetar. Khalisa mencoba tenang padahal selama menuruni lift tadi ia tak henti merapalkan doa agar Allah melindungi mereka semua. Jantung Khalisa berdegup kencang serasa hendak melompat dari peradabannya. Untunglah jantung itu buatan Allah sehingga tak mudah rusak semudah itu.
"Kalian aman kan?" Suara Levin mengalihkan perhatian Rindang dan Khalisa.
"Ko Levin, Alhamdulillah kami semua aman kok, Koko gimana?" Khalisa balik bertanya.
"Aku juga, barusan lagi di jalan." Levin memeriksa ponselnya untuk mencaritahu tentang gempa yang baru saja terjadi. "Kita harus hati-hati karena akan ada gempa susulan."
"Rindang kamu kenapa?" Khalisa melihat Rindang yang mencengkram tangannya begitu kuat. Rindang terlihat kesulitan bernapas.
"Ada apa?" Levin langsung memasukkan ponselnya dan ikut melihat Rindang. "Rindang sesak napas, apa dia belum disuntik insulin?"
"Astaghfirullah, barusan aku belum selesai ganti tangki insulin Rindang, aku cuma pasang selang dan konektor aja." Khalisa beranjak, ia harus mengambil tangki insulin Rindang ke atas. "Aku ambil dulu."
"Khalisa." Levin menahan lengan Khalisa. "Gimana kalau ada gempa susulan?" Ia membaca informasi terbaru mengenai aktivitas gunung Merapi barusan. Status gunung Merapi dinaikkan menjadi level awas dan akan ada banyak gempa susulan.
"Ko, aku harus ambil insulin Rindang."
"Bahaya Khalisa, kamu lagi hamil, biar aku yang ambil."
"Koko nggak tahu pin masuk apartemen Rindang, lepasin Ko." Khalisa berusaha melepas pegangan Levin pada lengannya.
Levin menatap Khalisa khawatir tapi kondisi Rindang sekarang juga sedang tidak baik-baik saja. Jika mereka tidak segera menanganinya maka Rindang tak bisa diselamatkan.
Akhirnya dengan berat hati Levin melepaskan Khalisa, ia duduk di samping Rindang dan melepas cadar gadis itu dengan hati-hati agar Rindang lebih leluasa bernapas.
"Aku boleh lepas?" Levin mencoba bicara dengan Rindang.
__ADS_1
Rindang memejamkan matanya rapat, ia kesulitan bernapas sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan Levin. Levin menyandarkan Rindang, ia berusaha tetap tenang seperti yang telah dipelajarinya di rumah sakit saat menangani pasien.
Jika ini adalah hari terakhir Rindang bisa melihat bumi, bisa mendengar suara orang-orang yang mengerumuninya atau terakhir kalinya menggandeng tangan Khalisa maka ia ikhlas. Allah yang maha pemurah telah begitu baik pada Rindang dengan mengizinkannya bernapas hingga hari ini. Jika ini adalah hari terakhir Rindang maka ia tak akan menuntut apapun pada Allah. Rindang akan berterimakasih karena dengan penyakit ini ia bisa berjalan meraih cinta Allah meski langkahnya tertatih. Rindang hanya bisa berdoa agar Allah memangku nya dalam ketenangan.