Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
102


__ADS_3

Pandangan Azfan menyapu seluruh ruangan di lantai satu ruko yang telah menjadi tempat tinggalnya selama seminggu terakhir. Ruangan itu jauh dari kata mewah. Tidak ada kursi, hanya ada alas karpet yang digelar hingga ke seluruh ruangan itu. Dindingnya dihiasi empat buah kaligrafi berukuran sedang hasil karya tangan Azfan yang selalu Khalisa sebut ajaib.


Membuka bimbingan hafalan Al-Qur'an adalah salah satu mimpi Azfan. Beruntung Azfan menikah dengan Khalisa yang memiliki mimpi sama. Azfan yakin hari ini terjadi karena doanya di masa lalu yang akhirnya Allah kabulkan. Azfan yakin doa-doa nya tidak mengangkasa dengan sia-sia.


Bimbingan tersebut dibuka khusus mereka yang berasal dari kalangan tidak mampu tapi ingin menghafal Al-Qur'an. Khalisa dan Azfan menggunakan uang pribadi mereka untuk diberikan pada guru pembimbing. Khalisa dan Azfan sendiri juga akan ikut membimbing para murid.


"Alhamdulillah bimbingan hari pertama lancar." Khalisa datang dari arah dapur, ia baru saja selesai memasukkan stok sayuran dan buah ke dalam kulkas.


3 pendaftar pertama Taman Tahfidz berusia belasan tahun. Setelah melakukan survey Azfan baru bisa menerima mereka dan mulai melakukan bimbingan sore tadi.


Mereka mendengar bel berdenting beberapa kali lalu seseorang mengucapkan salam.


"Biar aku yang buka." Azfan melangkah membuka pintu, ia mendapati Levin berdiri di depan pintu dengan senyum lembut. Laki-laki bermata sipit itu kembali mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh Azfan dan mempersilakannya masuk.


"Kak Levin, harusnya kami yang datang berkunjung." Baik Azfan maupun Khalisa tidak tahu jika Levin sudah kembali dari Banyuwangi. Jika tahu sebagai orang yang lebih muda pasti mereka akan mengunjungi Levin terlebih dahulu.


"Nggak apa-apa, aku juga pengen tahu rumah baru kamu dan Khalisa."


"Loh Ko Levin kapan pulang?" Khalisa terkejut melihat Levin karena tiba-tiba ada disini tanpa mengabari lebih dulu.


"Baru kemarin sampai, Rindang yang ngasih tahu tempat tinggal baru kalian." Levin duduk bersila di atas karpet diikuti Azfan.


Khalisa bergegas mengambil minuman untuk Levin dan dua toples kue kering.


"Kak Levin udah selesai koas ya?" Tanya Azfan.


"Iya Fan, Alhamdulillah semuanya lancar tapi perjalanan belum selesai." Levin masih harus menjalani internship selamat satu tahun.


"Menjadi dokter butuh perjuangan yang panjang, nggak hanya tenaga dan pikiran tapi materi yang nggak sedikit dan Kak Levin bener-bener luar biasa karena memilih profesi mulia tersebut."


"Justru aku kagum sama kamu dan Khalisa karena mau membuka bimbingan gratis." Levin melihat Khalisa dan Azfan bergantian.


"Koko mau gabung sama kami?" Canda Khalisa, ia tahu Levin tak akan punya waktu untuk hal tersebut.


"Sebenernya pengen banget gabung sama kalian tapi setelah ini aku pasti sibuk."


"Cobain kue putri salju nya Ko, Rindang yang bikin." Khalisa mendekatkan toples berisi kue putri salju berbentuk bulan sabit pada Levin.


"Rindang bikin?" Levin membuka toples tersebut dan melahap satu kue berwarna hijau yang bertabur gula halus tersebut. Rasa manis seketika menyebar ke mulut Levin. Anehnya rasa manis itu juga menghangatkan hatinya. Kue apa ini? aneh sekali.


"Rindang cuma bikin sih nggak berani makan."


"Tapi akhir-akhir ini gula darahnya selalu stabil kok." Sahut Levin setelah menghabiskan kue lembut yang meluncur mulut ke kerongkongannya.


"Kok Koko tahu?" Alis Khalisa terangkat.


"Dia selalu bikin video daily activity nya di Instagram." Levin iseng meng-install aplikasi tersebut di ponselnya dan mencari akun Instagram milik Rindang dan ia menemukan video kegiatan Rindang sehari-hari sebagai Type 1 Diabetes survivor. Tanpa sadar setiap hari Levin mengecek keadaan Rindang melalui Instagram.


"Oh iya ngomong-ngomong soal Rindang, apa dia sudah berpikir untuk menikah?" Suara Levin amat pelan hingga Khalisa dan Azfan hampir tidak mendengarnya. Levin memejamkan mata berharap mereka mendengarnya karena ia sudah menyiapkan kalimat itu sejak jauh hari.


"Aku inget Rindang bilang nggak akan pernah menikah tapi tentu aja sebagai sahabat aku akan ngasih motivasi supaya dia berhenti berpikir bahwa nggak ada laki-laki yang mau menikahinya."


"Kenapa dia berpikir seperti itu?" Raut wajah Levin berubah tegang, kenapa Rindang berpikir seperti itu padahal ia yakin di luar sana banyak laki-laki yang ingin mendekati Rindang, hanya saja mereka terlalu malu karena Rindang sulit digapai. Bagi Levin juga demikian, Rindang memiliki segalanya termasuk materi, agama Islam dan penampilan sempurna. Bagi Levin tak ada yang lebih sempurna dari tadi itu.


"Karena penyakitnya, Rindang bilang kalau menikah pasti suaminya menginginkan anak dan dia sudah cukup menderita menjalani semua proses untuk bertahan hidup, dia nggak mau lebih menderita lagi, Koko pasti paham kondisi Rindang kan."


Levin mengangguk pelan, ada rasa sakit yang menelusup ke dalam dadanya menggantikan perasaan hangat sekilas setelah makan kue barusan.


"Tapi aku yakin suatu hari Rindang akan menemukan sosok laki-laki yang bisa menerima keadaannya tanpa menuntut apapun." Sahut Azfan memancing senyum lembut di bibir Khalisa.


"Kenapa Koko nanya itu, Ko Levin tertarik sama Rindang?" Goda Khalisa.


Levin hanya tertawa mendengar perkataan Khalisa, ia segera meneguk minuman di hadapannya hingga tersisa setengah.


"Jangan menggoda Kak Levin, lihat wajahnya memerah." Azfan menahan senyum melihat ekspresi cowok yang 3 tahun lebih tua darinya itu.


"Xie-xie karena Khalisa sudah mengizinkanku koas di rumah sakit Kafasa." Ucap Levin setelah berusaha mengkondisikan ekspresi wajahnya.


"Bu yong xie." Khalisa mengibaskan tangannya. Justru ia senang jika rumah sakit itu memberi manfaat untuk orang lain tak hanya bagi pasien tapi semua orang yang berada di dalamnya.


Azfan muram mendengar percakapan Khalisa dan Levin diselingi bahasa Mandarin yang tidak ia mengerti. Sepertinya Azfan harus mulai belajar bahasa Mandarin. Apalagi jika Khalisa sedang bicara dengan Daniel, Jaya dan Rindang, mereka sering menyelipkan bahasa Mandarin.


Setelah cukup lama berbincang, Levin pamit pulang. Ia juga harus mengunjungi teman-temannya yang lain termasuk Kafa. Karena Levin penasaran pada tempat tinggal baru Azfan dan Khalisa, rumah ini menjadi tempat pertama yang ia kunjungi setelah kembali dari Banyuwangi.


"Haura." Azfan menahan tangan Khalisa yang hendak membereskan gelas dan toples setelah mengantar Levin hingga depan rumah.


"Kenapa Mas?"


"Aku ingin belajar bahasa Mandarin."


Khalisa mengerutkan kening, kenapa tiba-tiba Azfan ingin belajar bahasa Mandarin. Menonton serial Chinese saja Azfan tak pernah tertarik.


"Kok tiba-tiba mau belajar bahasa Mandarin, aku aja waktu sekolah paling nggak suka pelajaran bahasa Mandarin."


"Supaya aku ngerti juga kalau Khalisa ngobrol sama orang lain pakai bahasa Mandarin contohnya seperti barusan, aku nggak ngerti kalian ngomong apa."


Alis Khalisa terangkat, ia mengingat-ingat obrolannya dengan Levin barusan.

__ADS_1


"Ah itu Ko Levin bilang terimakasih terus aku jawab nggak usah berterimakasih, itu aja kok."


"Tetep aja aku nggak ngerti."


Khalisa tersenyum melihat wajah Azfan muram, "Mas Azfan cemburu sama Ko Levin?" Ia mendekat menggoda Azfan.


Azfan menggeleng.


"Kok mukanya ditekuk gitu?"


"Enggak kok."


Khalisa menggelayut ke lengan Azfan, "senyum dong kalau emang nggak cemburu."


Azfan kembali menggeleng, ia tidak bisa tersenyum sekarang.


"Haura istri Mas Azfan yang cantik minta maaf karena bikin suaminya cemburu, maafin aku." Khalisa mengecup punggung tangan Azfan beberapa kali.


Akhirnya Azfan tersenyum, bagaimana mungkin ia bisa tahan dengan sikap manis Khalisa yang seperti itu.


"Nanti aku ajarin bahasa sehari-hari aja ya." Kini Khalisa mencium telapak tangan Azfan yang selalu wangi, bukan aroma parfum tapi aroma alami tubuh Azfan.


"Kalau minta maaf harusnya jangan cium disitu."


"Dimana?" Khalisa mendongak.


"Disini." Azfan mengetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk.


"Baiklah, sesuai permintaan, jangan lupa beri rating bintang lima ya." Khalisa mendekat dan mengecup bibir Azfan.


"Bintang sepuluh aku kasih buat Haura." Azfan akhirnya tersenyum, wajahnya memerah hingga ke telinga. "Biar aku yang beresin." Ia mengambil gelas bekas minuman Azfan dan kue kering untuk mengembalikannya ke dapur.


"Mas sudah pesen tiket pesawat belum?" Khalisa beranjak menyusul Azfan ke dapur.


"Sudah sayang."


Orangtua Huma mengundang Azfan ke pengajian dalam rangka peresmian gedung perusahaan percetakan mereka yang baru.


"Mas, aku pengen banget ikut tapi bayangin perjalannya di pesawat aku udah mual kayak waktu terakhir aku naik pesawat dari Banyuwangi kesini." Sebenarnya Huma begitu kekeuh mengajak Khalisa ke Surabaya. Namun kondisi Khalisa tidak memungkinkan untuk ikut, ia bisa muntah-muntah sepanjang perjalanan.


"Aku akan pulang cepet."


"Geza jadi ikut?"


"Iya, waktu aku bilang disana akan ketemu orangtua Huma dia semangat banget mau ikut."


Khalisa tertawa, "si Geza ikut bukan mau pengajian tapi pengen ketemu Bapak Ibunya Huma."


"Iya Mas, aku udah siapin barang-barang yang mau dibawa."


"Terimakasih sayang." Azfan mengecup puncak kepala Khalisa dan mengusap perut sang istri, "aku merindukannya." Gumamnya.


"Belum pernah ketemu tapi sudah rindu." Khalisa merasakan hal yang sama. Belum bertemu tapi sudah jatuh cinta dan rindu yang teramat sangat. Khalisa tidak sabar bertemu sang anak bahkan rasanya ia ingin mengunjungi dokter seminggu sekali untuk USG agar bisa selalu melihat janin di dalam perutnya. Namun dokter hanya menyarankan pergi kesana paling cepat sebulan sekali. Khalisa merasa itu adalah waktu yang sangat lama.


******


Cafe yang berjarak 2 kilometer dari apartemen Kafa itu menjadi tempat favorit Kafa untuk mengusir kebosanannya sepulang kuliah. Sejak pertama kali berkunjung ke cafe itu bersama Sandi dulu, Kafa jadi ketagihan datang kesini. Selain dekat, makanannya juga cocok dengan selera Kafa.


Kali ini Kafa mengajak Levin ke cafe itu, dari pada bertemu di apartemen mereka memilih cafe tersebut untuk mengobrol ditemani makanan ringan dan kopi.


"Kamu jago minum kopi juga ya?" Levin melihat segelas Americano dingin milik Kafa.


"Nggak jago sih Ko tapi kalau minum ini jadi lancar aja BAB nya." Kafa terkekeh, ia tahu itu aneh tapi begitulah yang terjadi padanya. "Koas nya lancar Ko?"


"Alhamdulillah semuanya lancar." Levin juga mengucapkan terimakasih pada Kafa karena telah mengizinkannya koas di rumah sakit Kafasa.


"Berarti aku harus panggil dokter mulai sekarang."


"Duh terlalu dini untuk dipanggil dokter." Levin menyesap capuccino miliknya. "Kuliah kamu gimana?"


"Alhamdulillah, aku enjoy sih sama jurusan ini karena aku suka sesuatu yang menguras pikiran dan ini bener-bener nguras otak aku banget Ko." Kafa tertawa di ujung kalimatnya mengingat dirinya jarang memiliki waktu santai sejak memasuki semester 4. "Awalnya aku nggak suka kopi tapi sekarang dia jadi temen aku begadang."


"Apalagi waktu koas itu seru banget Fa, ngikutin dokter kemana-mana udah kayak rombongan mau liburan."


Mereka tergelak bersama, Kafa menikmati setiap proses ini meski tentu saja tidak mudah. Kafa benar-benar merasa cocok berada di jurusan ini.


Tawa Kafa terhenti melihat sosok yang paling ia hindari dalam hidupnya sekarang berada tak jauh dari tempatnya duduk dan berjalan ke arahnya. Jangan bilang ia mau bergabung dengan Kafa dan Levin. No! Kafa berteriak dalam hati.


"Kursi ini nggak ada yang punya kan? soalnya meja lain penuh semua."


Kafa memejamkan matanya rapat sementara Levin melirik gadis yang tengah melihat Kafa tersebut.


"Kamu temennya Kafa?" Tanya Levin.


Kafa membuka mata dan mengepalkan tangannya kuat, mengapa ia harus bertemu Mahira dimana-mana. Dunia ini begitu sempit sampai Kafa harus selalu bertemu dengan orang yang sama setiap hari.


Mahira melirik Levin, "iya, jadi boleh duduk nggak?"

__ADS_1


"Boleh."


Mahira duduk di kursi yang masih kosong dengan senyum lebar, sungguh ia tak berniat bertemu Kafa disini. Namun sepertinya semesta selaku mendukung Mahira untuk bertemu Kafa lagi selain di kampus.


"Kamu ngikutin aku?" Kafa menatap Mahira tajam.


"Enggak." Mahira menggeleng dengan wajah polos.


Kafa mengembuskan napas keras, berhenti berdebat dengannya, jangan membuang tenaga. Kafa berbisik pada dirinya sendiri.


"Kamu anak FK juga?" Levin kembali menyesap capuccino miliknya dan menyendok Red Velvet ke dalam mulutnya.


"Bukan, aku FIAI."


"Kalian kok kayak musuhan gitu?" Levin tertawa geli melihat ekspresi dingin Kafa sejak gadis itu datang. "Aku ragu kalau kalian berteman."


"Ko, sebenarnya aku emang nggak pernah punya temen perempuan, dia aja yang ngaku-ngaku."


"Tapi kita pernah jalan ke Mall bareng, apa namanya kalau bukan temen." Mahira membantah.


"Itu nggak bisa disebut temenan ya."


"Tapi kamu beliin aku minuman mahal." Mahira tak mau kalah, meskipun saat itu Kafa melempar tas miliknya dan menyuruhnya pulang sendiri. Namun bagi Mahira itu sudah cukup untuk menyebut Kafa seorang teman.


"Mahal? kamu gila ya?" Kafa makin kesal karena itu adalah kalimat hinaan untuknya.


"Udah-udah, kenapa kalian jadi debat begini?" Levin berusaha menengahi Kafa dan Mahira.


Perdebatan itu terhenti ketika seorang waiter mengantar pesanan Mahira.


"Maaf Ko." Kafa tidak enak karena obrolannya dengan Levin harus terganggu karena kehadiran Mahira. "Atau kita mau cari tempat lain aja."


"Enggak usah, kenalin aku Levin, kamu siapa?" Levin memperkenalkan diri pada Mahira.


"Aku Mahira, Koko ini temannya Kafa?" Mahira spontan memanggil Levin dengan Koko.


"Iya."


"Koko Levin terlihat seperti dokter."


"Belum sih." Levin terkekeh, memangnya apa yang Mahira lihat dari dirinya. Apakah ia bau etanol atau rumah sakit? tidak mungkin kan.


"Oh calon dokter." Mahira membelalak karena tebakannya benar padahal ia hanya asal bicara.


"Sok akrab banget." Gerutu Kafa seraya meneguk Americano dingin miliknya. Sedingin hati Kafa saat ini. Dingin dan pahit.


"Kamu kenapa sih sensi banget sama aku?" Mahira melotot pada Kafa, ia hanya duduk dan mencoba berbaur dengan teman Kafa.


Mulut Kafa terbuka hendak menjawab kalimat Mahira tapi Levin lebih dulu menegurnya.


"Pak Umar sama Bu Aisyah disini, kamu janjian sama mereka?" Levin melihat ke arah pintu masuk cafe.


Kafa menoleh, "enggak kok, sebentar ya Ko aku samperin mereka." Ia beranjak dari kursi. "Abi, Ummi kok kesini?"


"Barusan Abi ke apartemen mu katanya kamu lagi keluar, terus Abi cek lokasi mu ternyata ada disini."


"Kafa kan udah kasih tahu pin nya, kok nggak masuk aja Bi, Abi sama Ummi udah makan belum?"


"Udah kok." Jawab Aisyah. "Kami mau pamit pulang."


"Fatah sama Fatimah dimana?"


"Di mobil, mereka tidur."


"Ya udah Abi Ummi hati-hati di jalan, Kafa Minggu depan pulang kalau nggak terlalu banyak tugas." Kafa memeluk Umar dan Aisyah bergantian.


"Kamu juga hati-hati disini, jangan berantem lagi sama Cece dan Mas mu, cuma mereka yang bisa jagain kamu disini kalau lagi jauh sama Ummi dan Abi." Aisyah memeluk dan mencium Kafa penuh kasih sayang.


"Ma, Mas Azfan cuma satu tahun lebih tua dari aku, mana mungkin dia bisa jagain aku."


"Kafa, tapi tetep aja dia Mas kamu." Timpal Umar.


Mahira ikut melihat sosok perempuan bercadar berpakaian serba hitam dan laki-laki yang mengenakan jubah putih. Kafa tampak berbicara akrab dengan mereka.


"Mereka siapa Ko?" Tanya Mahira pada Levin.


"Orangtuanya Kafa."


Mahira mendelik, ia langsung ciut melihat penampilan mereka lalu penampilannya sendiri yang hanya mengenakan celana longgar dan blouse serta pashmina yang ia lilit asal. Mahira seperti tumbuhan putri malu yang disentuh langsung layu.


Mahira pikir Kafa adalah anak orang kaya yang sok-sokan taat agama dan tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis. Penilaian Mahira terbantahkan setelah melihat orangtua Kafa. Ah Kafa makin tidak bisa digapai. Tampan, kaya, taat agama dan memiliki orangtua yang penampilannya sungguh luar biasa.




__ADS_1



Bisa bedain tiga cowok ini nggak?


__ADS_2