Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
171


__ADS_3

Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.


Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.


Ritual sakral sumpah digemakan oleh 62 dokter baru Universitas Islam Indonesia. Dengan memegang mushaf suci mereka mengikrarkan sumpah dokter. Perjuangan yang sesungguhnya akan segera dimulai.


Kafa menunduk dalam menahan air mata dengan sekuat tenaga walaupun itu percuma. Air matanya tak butuh izin untuk luruh membasahi pipi dan jatuh di atas mushaf dalam dekapannya.


Gelar ini untuk Akong, Kafa janji nggak akan pernah mengecewakan Akong.


Setelah besar nanti, Kafa harus jadi dokter yang hebat ya.


Kenapa Akong?


Dokter itu pekerjaan mulia, mereka menyelamatkan banyak nyawa manusia.


Kafa mulai terisak mengingat percakapan dirinya dengan Jaya saat ia masih berusia 5 tahun.


Dulu Kafa tak mengerti mengapa ia dan Khalisa mendapat hadiah sebuah rumah sakit. Saat itu mereka hanya tahu bahwa mendapat hadiah adalah sesuatu yang menyenangkan. Mereka berlari di sepanjang koridor rumah sakit saat pertama kali berkunjung ke gedungnya.


Setelah tumbuh dewasa akhirnya mereka mengerti bahwa terkadang hadiah tak selalu menyenangkan. Mereka harus menanggung tanggungjawab besar. Namun satu hal yang Kafa mengerti bahwa hadiah selalu bermanfaat.


"Kenapa Akong nggak nunggu Kafa? sebentar saja." Gumam Kafa di tengah isak tangisnya. Kafa harusnya berbahagia karena semua waktu dan tenaga yang selama ini ia kerahkan akhirnya terbayar. Enam tahun menjalani pendidikan, koas, internship sudah Kafa lalui. Harusnya Jaya melihat Kafa mengenakan jubah dokter kebanggaannya. Namun manusia boleh berencana tapi Allah tetap Maha menentukan segalanya.


Semalam Kafa mendapat kabar bahwa Jaya meninggal. Kafa begitu terpukul mendengarnya karena pagi harinya ia masih bicara dengan Akong nya itu melalui telepon. Kafa yakin Jaya dalam keadaan sehat saat mereka bicara untuk terakhir kalinya.


Jaya tiba-tiba ditemukan sudah tidak bernyawa di taman belakang rumah oleh Umar.


Kafa ingin pulang malam itu juga tapi hari ini ia harus menjalani prosesi sumpah dokter.


Bagaimana Kafa bisa bahagia jika orang yang paling memberinya motivasi untuk menjadi dokter telah tiada.


Kafa akan masuk FK, biar Cece di FMIPA.


Kamu yakin?


Iya Kong, Kafa tahu impian Cece bukan jadi dokter.


Lalu apa impianmu?


Membahagiakan Akong.


Akong bangga sama kamu.


Sejak kecil Kafa memang lebih dekat dengan Jaya sedangkan Khalisa dekat dengan Renata. Mungkin karena sama-sama lelaki, Jaya lebih mengerti perasaan Kafa.


Langkah Kafa gontai ketika keluar gedung, rasanya ia tak mampu berdiri dengan dua kakinya. Ia menunduk dalam menatap sepatu pantofel hitam mengkilap yang membungkus kakinya. Tak ada perpisahan yang menyenangkan. Kafa menyesal karena tidak ada di samping Jaya disaat-saat terakhirnya.


"Papa!"


Suara itu membuat Kafa mengangkat wajahnya, ia tersenyum samar melihat Zulaikha berlari tertatih menghampirinya.


Kafa mengangkat tubuh mungil Zulaikha tinggi-tinggi lalu mencium pipi sang putri penuh kasih sayang.


"Selamat Pa." Mahira tersenyum pada Kafa, ia mengusap lengan sang suami lalu memeluknya.


Kafa tak bisa tersenyum dihari bahagianya tapi setelah melihat Mahira dan Zulaikha, ia merasa sedikit terhibur.

__ADS_1


"Kamu udah mewujudkan mimpi Akong." Lirih Mahira.


"Terimakasih Mahira." Kafa membalas pelukan Mahira dengan satu tangan karena tangannya yang lain menahan tubuh Zulaikha. "Terimakasih istriku, Mama Zulaikha."


Mahira mengurai pelukan menatap wajah Kafa, ia tak pernah melihat wajah sang suami begitu sedih seperti ini. Itu tidak terlihat seperti Kafa yang selalu memasang wajah galak dengan mata elang yang menakutkan. Kafa tampak lemah dan hancur meski pakaiannya hari ini membuatnya terlihat gagah.


"Terimakasih kamu sudah menemaniku hingga hari ini."


"Aku juga akan nemenin kamu sampai nanti." Mahira menangkup wajah Kafa, ia tak kuasa melihat Kafa seperti ini.


Kafa kembali memeluk Mahira, selama koas di rumah sakit ia selalu pulang malam dan berangkat pagi. Mahira harus menjaga Zulaikha sendiri karena Kafa memiliki jadwal yang sangat padat. Kadang beberapa kali Kafa tidak bisa pulang. Namun Mahira selalu sabar, ia mengerti proses yang harus dijalani untuk menjadi seorang dokter itu tidak mudah.


Pada saat tertentu Mahira merasa lelah dan ingin marah karena Kafa tak ada di sampingnya terutama ketika Zulaikha rewel atau sakit. Namun Mahira berusaha menekan amarahnya, ia bisa saja menelepon Kafa dan mengomel tapi itu tak ada gunanya. Mahira tahu ini juga berat bagi Kafa.


Helikopter Alindra mendarat di depan gedung pelantikan dokter untuk menjemput Kafa dan Mahira serta Zulaikha menuju Banyuwangi untuk mempersingkat waktu.


Jaya akan dimakamkan hari ini juga di pemakaman yang sama dengan Renata.


"Makan dulu Pa." Mahira hendak menguapkan sepotong roti pada Kafa karena tadi pagi sang suami tidak sempat sarapan.


Kafa menggeleng, mulutnya tertutup rapat, ia tidak memiliki selera makan sekarang. Kafa hanya ingin segera sampai di rumah untuk melihat Jaya yang terakhir kalinya.


"Pa, kamu harus makan." Rayu Mahira seraya menatap wajah pucat Kafa. "Sedikit aja."


"Nanti aja."


"Zulaikha, Papa nakal nih nggak mau makan." Mahira menggunakan senjata terakhir untuk merayu Kafa.


"Papa harus makan." Ucap Zulaikha yang berada di pangkuan Kafa tidak terlalu jelas, ia belum terlalu lancar bicara.


Kafa tidak punya pilihan selain menyambut sepotong roti dari Mahira. Ia mengunyah roti rasa keju itu dengan terpaksa. Kafa tidak memiliki energi untuk mengunyah.


Mahira menggenggam tangan Kafa yang dingin, ia tak tahu bagaimana caranya menghibur sang suami pada saat seperti ini. Mahira selalu memiliki seribu cara untuk membuat Kafa tersenyum dan tertawa tapi tidak sekarang.


Pandangan Kafa nanar ketika kakinya menginjakkan kaki di jalan rumah Jaya yang juga menjadi tempat tinggalnya sebelum kuliah. Ia tak percaya Jaya telah meninggal, ini terlalu tiba-tiba. Bahkan Jaya tidak sakit sebelumnya.


"Kafa."


Kafa mengerjapkan mata membuat setetes kristal bening jatuh melewati pipinya, ia melihat Khalisa berdiri di hadapannya—dengan wajah putih pucat dan mata bengkak. Tidak, kulit Khalisa memang putih pucat tapi kali ini jauh lebih pucat dari biasanya.


"Ce." Kafa menghambur ke pelukan Khalisa, ia tak sanggup pura-pura kuat lagi seperti yang biasa dilakukannya. Kafa selalu bersikap paling kuat dan bisa segalanya tapi hari ini ia adalah Kafa yang lemah dan tak berdaya.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu sudah bikin Akong bahagia disaat-saat terakhirnya, Akong pasti bangga sama kamu, Kafa."


Pelukan Kafa terlepas, ia hampir saja terjatuh jika Azfan tidak menahan tubuhnya. Azfan menggandeng Kafa masuk ke dalam rumah.


Air mata Kafa kembali merebak melihat peti yang terletak di tengah-tengah ruang tamu, ia ingin segera melihat Akong nya tapi pada saat yang bersamaan ia tak sanggup melakukannya.


"Akong." Tangis Kafa pecah melihat Akong nya terbaring kaku di atas peti. Kafa mengusap wajah Jaya dengan perlahan seolah ingin mengingat setiap bagiannya dengan jelas. "Akong ingin Kafa jadi dokter, sekarang Kafa sudah mewujudkannya."


Aisyah bergegas merangkul Kafa dan mengusap-usap punggung sang putra sulung. Ia juga amat terpukul karena kehilangan satu-satunya orangtua yang tersisa.


Sejak kecil Kafa diajari oleh Ummi dan Abi nya bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kafa diajari bagaimana caranya ikhlas tapi ternyata itu adalah hal paling sulit di dunia.


"Ummi, kenapa Akong nggak nunggu Kafa sebentar aja?" Kafa melihat Aisyah dengan deraian air mata.


Aisyah tak bisa menjawab pertanyaan Kafa, ia tak bisa melakukan apapun kecuali memeluk Kafa.

__ADS_1


Kafa melepas pelukan Aisyah dan kembali melihat Jaya, "Akong, Kafa janji nggak akan pernah berantem lagi sama Cece." Jaya selalu memarahinya saat ia jahil pada Khalisa bahkan sampai dewasa Kafa hobi mencari gara-gara dengan Khalisa. "Kafa janji akan menjaga Fatah dan Fatimah dengan baik begitupun dengan Azmal dan Zunaira."


"Kafa, kita keluarga, kita akan saling menjaga satu sama lain." Khalisa berusaha menghibur Kafa, air matanya sudah mengering karena menangis semalaman hingga tadi pagi.


Angin bertiup menggoyangkan pohon kamboja dan cempaka. Area pemakaman itu terletak di atas bukit. Suara ombak berkejar-kejaran juga terdengar ditambah kicau burung. Meski memiliki pemandangan indah tapi itu bukan tempat yang menyenangkan. Itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi manusia.


Jaya dimakamkan tepat di samping pusara Renata. Sebelumnya Jaya telah membeli dua lahan tanah makam sekaligus untuk dirinya dan Renata.


"Papa akan selalu bersama Mama meski tak lagi di dunia karena mungkin kamu dan Daniel nggak akan pernah bertemu kami lagi di dunia lain, jalan kalian sudah berbeda."


Aisyah menatap peti Jaya yang perlahan turun ke liang lahat. Percakapannya dengan Jaya kembali berkelebat. Kesedihan paling dalam adalah ketika Aisyah tak bisa mengajak orang terkasih ke jalan yang sama dengannya. Aisyah dan Umar bisa memberi ratusan kata motivasi untuk para saudara muslim yang berada di Komunitas Mualaf Daniel. Aisyah diliputi penyesalan terdalam karena tak bisa melakukan itu pada papa dan mama nya. Aisyah bersembunyi di balik kata-kata bahwa mereka memiliki jalan masing-masing. Mereka harus menghargai perbedaan.


"Taburkan bunga untuk Papa." Daniel menyodorkan keranjang berisi kelopak mawar pada Aisyah. "Kak Atalie," Daniel menyentuh lengan Aisyah.


Aisyah akhirnya mengangkat wajah melihat Daniel yang begitu rapuh, ia merentangkan tangan dan memeluk sang adik.


"Kita belum jadi anak yang baik untuk Papa dan Mama." Lirih Aisyah dengan suara terbata.


"Sabar Kak." Daniel berusaha tetap tegar meski itu percuma. "Kak Atalie harus kuat."


Aisyah mengangguk beberapa kali lalu mengurai pelukan untuk menabur bunga di atas pusara papa nya.


Khalisa berjongkok mengusap foto Jaya yang terlihat gagah. Itu adalah foto yang diambil sekitar 10 tahun lalu. Khalisa ingat saat itu Daniel dan Aisyah dibuat kesal karena Jaya menyiapkan foto itu seolah-olah sudah siap meninggal. Namun ternyata Renata mendahului Jaya.


"Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan." Seorang Romo yang memimpin pemakaman mengucapkan kutipan Alkitab untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.


******


"Saya akan membacakan surat wasiat Bapak Jaya Alindra." Seorang lelaki dengan setelan jas berdiri di hadapan seluruh anggota keluarga Jaya Alindra yang berkumpul di ruang tengah. Ia adalah pengacara keluarga Alindra yang telah menjadi kepercayaan Jaya.


Jaya menyiapkan surat wasiat itu setelah kelahiran Khalisa. Saat itu ia memutuskan untuk pensiun dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan cucunya. Kelahiran Khalisa yang memberikan kebahagiaan bagi seluruh keluarga.


Namun setelah Khalisa dan Kafa menikah, Jaya melakukan beberapa perubahan pada surat wasiat tersebut.


"Alindra Grub dan kantor pusat akan berada di bawah pimpinan Daniel Alindra selaku anak laki-laki. Alindra Mall Banyuwangi diberikan kepada Atalie Alindra. Hotel Jinggo untuk Zaidan Umar Kahfi, Resor Jinggo diberikan kepada Alisha Sabiya Nadifah."


"Alindra Beauty untuk Khalisa Syanin Alindra, Rumah Sakit Kafasa diberikan kepada Athaillah Kafa Alindra, Alindra Carnival untuk Azmal Rahesya Alindra dan Zunaira Alindra, Alindra Mall Jember untuk Fatah Alindra dan Fatimah Alindra, Alindra Tour untuk Azfan Khuffa Ameezan, Alindra Mall Yogyakarta untuk Mahira Atiqah."


Pengacara itu menjelaskan pembagian tersebut secara terperinci. Ia mengatakan bahwa Khalisa harus membantu Kafa untuk mengelola rumah sakit. Karena cucu Jaya yang lain belum cukup umur untuk mengelola bisnis Alindra, maka Daniel yang harus melakukannya.


"Jika ada yang kurang jelas silakan ditanyakan." Pengacara laki-laki berusia 50 tahun itu mengedarkan pandangan pada seluruh anggota keluarga yang tidak terlihat antusias. Ia tahu mereka masih dalam keadaan berkabung tapi surat wasiat ini harus disampaikan secepatnya.


"Terimakasih Pak, kami akan memahaminya." Ucap Daniel akhirnya memecah keheningan karena tak ada yang menjawabnya.


"Khalisa izin ke atas dulu." Khalisa beranjak pamit undur diri terlebih dahulu pada semuanya. Azfan juga ikut pamit menyusul sang istri, jika tidak untuk menemani Khalisa maka ia tak akan ikut berada disini.


"Umma tunggu." Azfan menahan tangan Khalisa. "Umma nggak apa-apa?"


Khalisa menggeleng, "aku cuma pengen tidur."


"Ya udah yuk, aku temenin." Azfan menggenggam tangan Khalisa ketika menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Azka masih terlelap saat Khalisa dan Azfan sampai di kamar. Dengan hati-hati mereka ikut naik ke atas ranjang. Azfan memindahkan Azka ke pinggir agar ia bisa berbaring tepat di samping Khalisa.


"Kita akan melalui kesedihan ini bersama-sama." Azfan mendekap Khalisa, ia bisa memahami kesedihan Khalisa saat ini. "Mari menjadikan kesedihan sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.


Khalisa membenamkan wajahnya pada dada Azfan, ia terisak di tengah keheningan dalam pelukan damai sang suami.

__ADS_1




__ADS_2