Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
124


__ADS_3

Sepulang dari masjid Azfan langsung menuju kamar mencari keberadaan Khalisa. Azka juga tidak ada di dalam box nya. Kemana perginya Khalisa, tidak mungkin ia kabur dari rumah karena cemburu pada Azfan kan? Azfan menggelengkan kepala kuat, ia tak boleh berpikir macam-macam.


Layar ponsel Khalisa menyala mencuri perhatian Azfan. Terdapat satu pesan dari Zunaira. Azfan meraih ponsel tersebut dan memasukkannya ke dalam saku baju.


Azfan mengecek ke kamar mandi yang lantainya basah, itu berarti Khalisa baru saja dari sana. Azfan pergi ke kamar sebelah dan memanggil sang istri tapi tidak ada jawaban. Harusnya Azfan bisa segera menemukan Khalisa di rumah mereka yang tidak besar tapi karena panik ia merasa rumah itu terlalu luas.


Azfan turun ke lantai bawah berjalan menuju dapur, tidak ada siapapun disana. Akhirnya Azfan keluar melalui pintu belakang, rasa lega menyelimutinya kala melihat Khalisa berada di halaman belakang bersama Azka. Jantung Azfan berdegup tidak karuan karena tak segera menemukan Khalisa.


"Umma, assalamualaikum." Azfan menghampiri Khalisa yang sedang duduk di kursi kecil sambil menimang Azka.


"Waalaikumussalam." Khalisa mencium tangan Azfan sebentar lalu pura-pura fokus pada Azka, ia membuat tangannya sibuk mengusap kepala Azka.


Azfan duduk di samping Khalisa, biasanya cium tangannya bolak-balik kok sekarang cuma satu detik.


"Umma sudah sholat?"


"Udah."


"Maafkan aku Umma." Azfan merangkul Khalisa, ia tidak mau mereka bertengkar terlalu lama. Apalagi kalau sampai Khalisa mendiamkannya, Azfan tidak mau. "Aku nggak akan foto sama jamaah perempuan lagi."


Khalisa melirik Azfan. Tidak semudah itu, apa aku bilang parfum mu terlalu wangi hingga jamaah wanita ingin foto hanya denganmu, aku nggak diajak padahal aku istrinya.


"Aku juga nggak akan mau, tapi tadi kamu yang mengizinkannya sayang." Azfan sering diajak foto bersama jamaah perempuan, tadi itu bukan pertama kalinya. Namun Azfan selalu menolak sebisanya tapi karena tadi Khalisa telah memberi izin maka ia tak kuasa untuk menolak mereka.


"Kalau aku larang nanti mereka mikir aneh-aneh, lagian kamu bisa tolak loh Mas."


Azfan tersenyum, "baiklah lain kali aku akan tolak."


"Lain kali?"


"Seterusnya aku akan tolak."


Khalisa tetap memasang tampang ketus.


"Sayang, kalau kamu mau aku hanya akan terima undangan pengajian yang jamaahnya laki-laki saja."


Khalisa menoleh, "beneran?"


"Aku akan melakukan apapun untuk mu sayang, aku akan selalu mengutamakan kamu."


Khalisa tersenyum, kalimat Azfan membuatnya meleleh tak berdaya seperti es krim yang dijemur di bawah terik matahari.


"Peluk aku." Azfan merentangkan tangannya untuk memeluk Khalisa, "ya Allah istriku kalau marah bikin deg-degan."


"Umma ... Umma!"


Azfan mengurai pelukan mendengar Azka memanggil Umma nya. Mereka terkejut karena ini pertama kalinya Azka bicara seperti itu.


"Duh bayi nya sudah bisa panggil Umma ya?" Mata Khalisa berbinar-binar melihat Azka.


"Panggil Abi juga dong sayang."


"Azka, Abi mau dipanggil juga katanya."


Azka tertawa merespon ucapan Abi nya tapi yang keluar dari mulutnya justru Bababa ...


"Ini Baba ya?" Azfan menunjuk dirinya.


"Bababa." Azka mengucapkan kalimat itu sambil tertawa ceria, netra nya yang jernih membuat Azfan dan Khalisa terpesona.


"Abi tetap boleh datang ke pengajian walaupun jamaah nya perempuan, aku nggak akan mempermasalahkannya lagi asal Abi jangan foto dikerubungi jamaah seperti tadi." Khalisa menyentuh punggung tangan Azfan lalu menggenggamnya. Khalisa harus mengerti bahwa keberadaan Azfan bukan hanya untuk dirinya sendiri. Azfan adalah milik masyarakat, ia harus menyampaikan ayat-ayat Al-Qur'an melalui qiroah nya. Khalisa tidak boleh egois.


Azfan tersenyum, Khalisa memang mudah memaafkan walaupun tadi ia sempat dibuat ketakutan. Memang tak ada rumah tangga yang berjalan mulus tanpa masalah tapi sebisa mungkin Azfan mengalah setiap kali mereka berselisih paham.


"Oh iya," Azfan merogoh sakunya memberikan ponsel Khalisa, "ada pesan dari Zunai."


"Dia lagi seneng kirim-kirim foto, Mama bolehin Zunaira pegang hp tiap hari Minggu." Khalisa memeriksa pesan dari Zunaira. "Ih!" Khalisa melempar ponselnya melihat foto yang Zunaira kirimkan.



"Ada apa?" Azfan terkejut memungut ponsel Khalisa di lantai, ia melihat foto Zunaira sedang menggendong kucing berbadan gemuk. Pantas saja Khalisa langsung melempar ponselnya. "Aku hapus ya." Azfan buru-buru menghapus foto tersebut.


"Ah Zunaira iseng banget." Khalisa mengepalkan tangannya yang gemetar dan berkeringat.


"Mungkin Zunai nggak sengaja, dia kan masih belajar." Azfan mengusap-usap punggung Khalisa untuk menenangkannya.


Khalisa menarik napas panjang dan mengembuskan nya. Khalisa mengulanginya beberapa kali, itu adalah cara yang psikolog ajarkan padanya saat sedang ketakutan.


"Udah aku hapus kok, tenang ya."


Khalisa mengangguk pelan menelan salivanya dengan susah payah.


Perhatian Azfan teralih ketika ponsel Khalisa kembali menyala dan bergetar panjang. Tertulis nama Papa pada layar tersebut.


"Papa telepon nih." Azfan kembali memberikan ponsel Khalisa dan mengambil alih Azka agar istrinya itu lebih leluasa berbicara dengan Daniel.


Azfan beranjak dari duduknya menimang Azka membawanya jalan-jalan di sekitar halaman belakang yang kosong. Hanya ada satu pohon mangga yang masih kecil. Saat baru pindah kesini Daniel menanam bibit pohon mangga itu di halaman belakang yang sempit.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Pa."


"Waalaikumussalam Khalisa, Alindra Beauty dituntut atas penggunaan bahan berbahaya pada krim anti strechmark yang baru kita luncurkan."


Khalisa membelalak berusaha mencerna kembali kalimat yang papa nya ucapkan.


"Khalisa tenang dulu karena ini bukan pertama kalinya, dulu Ai Aisyah juga pernah dituntut soal shampo Alindra Beauty tapi ternyata produk yang dia gunakan palsu."


"Pa, tapi zaman sekarang sudah hampir nggak ada barang palsu Alindra Beauty yang beredar di pasaran."


"Papa tahu, makanya kita akan menyelidiki lebih dulu, Khalisa tenang aja Alindra Beauty punya izin BPOM dan krim itu sudah lulus uji seleksi."


Sebagai orang yang mengambil pendidikan farmasi Khalisa yakin bahwa komposisi yang digunakan pada krim tersebut sudah sesuai dan tak ada bahan berbahaya.


"Papa sudah kirim surat gugatan nya ke kamu, tolong dibaca sama Azfan, dia pasti lebih tahu."


"Makasih Pa." Khalisa meletakkan ponselnya dengan lemas, ia tahu ini adalah resiko pekerjaannya. Membuat suatu produk memang tidak mudah, Khalisa telah menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membuat produk tersebut. Khalisa telah mencoba krim itu sendiri dan 5 orang lainnya. Mereka juga tidak menunjukkan reaksi alergi terhadap krim tersebut.


"Ada apa?" Azfan melihat ekspresi Khalisa setelah menerima telepon.


"Ada yang menggugat Alindra Beauty lebih tepatnya krim anti strechmark yang aku bikin." Khalisa menyodorkan ponselnya agar Azfan membaca surat gugatan itu.


Azfan membacanya dengan teliti, terdapat foto memar kemerahan pada kulit lengan dan perut, ia menduga itu adalah tanda bukti yang disertakan bersama surat gugatan tersebut.


"Dia menuntut atas tuduhan penggunaan bahan berbahaya pada krim itu?"


Khalisa mengangguk, "Bi, dia punya bukti catatan dari dokter."


"Sayang, kamu tenang ya karena kita juga punya surat izin yang dari BPOM, dia nggak akan bisa menuntut kita."


"Tapi kulit orang ini parah banget sampai bengkak dan keunguan apalagi dia lagi hamil, wajar kalau dia nuntut kita."


"Menurut alamatnya, dia nggak jauh dari sini, gimana kalau kita pergi kesana untuk lihat kondisinya."


Khalisa mengangguk, perasaannya campur aduk antara terpukul dan khawatir dengan kondisi seseorang yang telah menuntutnya. Namun ia juga takut terhadap nama baik Alindra Beauty. Ini pertama kalinya Khalisa membuat produk, awalnya ia senang karena masyakarat menerima dengan baik saat krim tersebut baru diluncurkan.


Layaknya jalanan, tentu pasti ada yang berlubang atau kerikil yang akan membuat kita tersandung dan jatuh. Khalisa harus bangun, jika ia membiarkan dirinya terjatuh karena kerikil itu maka sama saja ia telah kalah terhadap dirinya sendiri. Khalisa hanya perlu menyingkirkan kerikil tersebut. Hanya saja caranya jauh lebih rumit dibandingkan kerikil di jalanan.


******


Rumah bergaya minimalis dengan taman kecil di depan rumah itu tampak sepi ketika Azfan dan Khalisa sampai. Khalisa memeriksa ponsel memastikan jika itu adalah alamat seseorang yang telah melaporkan Alindra Beauty pada pihak kepolisian. Wanita itu bernama Elena.


Azfan turun lebih dulu menanyakan keberadaan Elena pada seseorang yang berada di sekitar situ. Tak lama kemudian setelah berbicara sebentar dengan dua orang di luar, Azfan kembali masuk mobil.


"Dia di rumah sakit." Azfan kembali menjalankan mobil.


"Semuanya akan baik-baik saja sayang." Azfan mengulurkan tangannya mengusap lengan Khalisa.


"Semoga Bi."


10 menit perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Itu adalah rumah sakit yang paling dekat dengan rumah Elena. Azfan memperkirakan Elena dirawat di rumah sakit ini karena warga sekitar tidak menyebutkan secara spesifik nama rumah sakit tempat Elena dirawat.


Setelah menanyakan kepada resepsionis mereka menuju lantai tiga rumah sakit itu. Dugaan Azfan benar, Elena dirawat di rumah sakit ini.


"Semoga Elena baik-baik aja." Gumam Khalisa ketika mereka menaiki lift.


Azfan memutar kepala melihat Khalisa. Azfan bertanya-tanya mana kah yang lebih Khalisa khawatirkan, Alindra Beauty atau keadaan Elena hingga raut wajahnya terlihat begitu gusar.


"Kamar nomor 32 kan Bi, ini kan?" Khalisa menghentikan langkah di depan ruangan bernomor 32.


"Iya benar."


Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter dan dua perawat keluar dari sana.


"Dokter, maaf saya mau tanya apakah benar ini ruangan Bu Elena?" Tanya Khalisa


"Iya benar."


"Terimakasih dokter."


Dokter itu meninggalkan ruangan diikuti dua perawat.


"Kalian siapa?"


Azfan dan Khalisa melihat seorang lelaki bertubuh gempal berusia sekitar 40 tahunan berdiri di depan pintu.


"Saya Azfan dan ini istri saya, Khalisa." Azfan mengulurkan tangan pada lelaki tersebut.


Lelaki itu menatap Khalisa dan Azfan bergantian tanpa membalas uluran tangan Azfan.


"Saya orang yang bertanggungjawab di Alindra Beauty, izinkan kami melihat kondisi Bu Elena."


"Kalau kalian mau kesini cuma untuk meminta kami menghentikan kasus ini maka itu sia-sia karena saya akan tetap melanjutkan laporan kami hingga ke pengadilan."


"Tidak Pak, kami memang ingin melihat kondisi Bu Elena." Balas Khalisa sopan.


Akhirnya lelaki itu mengizinkan Azfan dan Khalisa masuk.

__ADS_1


Seorang wanita tampak terbaring di atas brankar, ia Elena sedangkan seorang lelaki itu merupakan suaminya.


"Mereka siapa Pa?" Tanya Elena.


"Dari Alindra Beauty."


"Maaf sebelumnya karena kami tiba-tiba kesini tanpa memberitahu." Ucap Khalisa.


"Apa tujuan kalian kesini?" Tanya Elena dengan ketus.


"Kami hanya ingin melihat keadaan Bu Elena."


"Saya akan tunjukkan seberapa parah krim itu membuat permukaan kulit perut saya rusak." Elena menyingkap selimutnya.


Azfan segera mengalihkan pandangan, itu adalah bagian yang tidak boleh ia lihat.


"Abi keluar aja dulu." Pinta Khalisa.


Azfan mengangguk dan segera keluar dari sana. Ia percaya Khalisa bisa menangani ini. Khalisa sudah terbiasa berinteraksi dengan orang asing dan ia bisa mengatasinya dengan baik.


"Saya mohon maaf secara pribadi karena telah membuat kondisi Bu Elena seburuk ini." Khalisa mendekat, ia tak kuasa melihat permukaan kulit Elena yang berwarna keunguan. "Kami akan menanggung biaya pengobatan Ibu."


"Kamu pikir setelah bilang begitu saya akan mencabut tuntunan itu?" Elena mengangkat dagunya, "saya nggak mau diperlukan semena-mena hanya karena Alindra Beauty itu brand besar."


"Enggak Bu, kami akan tetap mengikuti aturan sesuai hukum tapi sekarang biarkan saya mengurus administrasi rumah sakit."


Elena mengangguk.


"Saya mengerti perasaan anda karena saya juga pernah hamil."


"Jangan sok tahu, ini kehamilan kedua saya dan sebelumnya saya pakai krim anti strechmark merek lain nggak ada efek berbahaya tapi Alindra Beauty bukannya mencegah strechmark malah bikin perut saya begini."


"Sekali lagi saya minta maaf, boleh saya lihat krim yang Ibu pakai?"


Suami Elena memberikan tube krim berwarna hijau dengan tulisan Alindra Beauty pada Khalisa.


Krim tersebut memiliki dua varian, tube berwarna putih tanpa fragrance dan hijau dengan tambahan fragrance bergamot dan lavender.


"Apa sebelumnya Bu Elena memiliki alergi terhadap bergamot?" Tanya Khalisa.


"Saya tidak wajib menjawab pertanyaan anda."


Khalisa mengangguk mengembalikan krim itu pada suami Elena.


"Anda kesini untuk mengurus administrasi kan?"


"Benar."


"Silakan." Suami Elena menunjuk arah pintu meminta Khalisa segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Kalau begitu saya permisi." Khalisa menurut, ia tak mau membuat Elena semakin marah karena ia banyak bertanya.


Ketika keluar Khalisa tidak menemukan Azfan disitu. Khalisa menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Azfan, ada beberapa orang di sepanjang koridor tersebut tapi ia tak melihat Azfan.


Khalisa menempelkan ponsel ke telinganya menghubungi nomor Azfan. Nada sambung terdengar beberapa kali tapi tak ada jawaban dari Azfan.


Lift membawa Khalisa turun ke lantai satu. Khalisa berjalan menuju bagian administrasi untuk membayar biaya rumah sakit Elena sambil tetap berusaha menghubungi Azfan.


Kemana perginya Azfan padahal Khalisa hanya bicara sebentar dengan Elena tadi tapi Azfan menghilang secepat itu. Tak mungkin Azfan meninggalkan Khalisa sendirian.


"Mungkin nunggu di mobil." Khalisa mengambil kartu nya kembali setelah membayar biaya rumah sakit Elena.


Khalisa melangkah keluar rumah sakit, ia menengadah melihat langit yang mulai gelap. Mereka tak akan sempat jika shalat magrib di rumah.


"Kemana Abi?" Khalisa menoleh ke belakang sekali lagi tapi sejauh mata memandang ia tak melihat Azfan. Akhirnya Khalisa melangkah menuju mushalla rumah sakit karena adzan magrib telah berkumandang. Khalisa yakin Azfan juga akan pergi kesana ketika mendengar adzan.


Untung saja Khalisa membawa mukena di tas nya sehingga ia tak khawatir kehabisan mukena di mushalla.


Usai shalat Khalisa duduk sedikit tersembunyi untuk mengenakan kaos kakinya.


"Biar aku yang pasangin."


Khalisa terkejut melihat seorang lelaki tiba-tiba mengambil alih kaos kakinya tapi sedetik kemudian ia tersenyum setelah mengetahui bahwa laki-laki itu adalah suaminya sendiri.


"Abi dari mana aja?"


"Sebentar lagi aku ceritain di mobil." Azfan memasangkan kaos kaki Khalisa lalu sepatunya.


Mereka bergegas kembali ke mobil. Saat keluar dari ruangan Elena tadi Azfan sengaja mengikuti dokter yang memeriksa Elena.


"Bu Elena punya riwayat alergi terhadap bergamot sebelumnya jadi ini nggak bisa dikatakan sebagai kesalahan Alindra Beauty karena kita sudah membuat takaran sesuai ketentuan, nggak sembarangan, kita juga membuat varian tanpa fragrance untuk mereka yang alergi terhadap bergamot."


Khalisa mengangguk, ia juga berpikir seperti itu. Sekarang ia harus mempertimbangkan apakah akan mengganti fragrance dengan essential lain sedangkan bergamot lebih banyak peminatnya.


"Umma juga menambahkan essential lavender untuk meminimalisir reaksi alergi, dan kita telah mencobanya pada seseorang yang memiliki alergi bergamot buktinya dia baik-baik aja."


Khalisa menghela napas berat, terlalu banyak hal di kepalanya untuk ia pikirkan. Rasanya kepala Khalisa seperti mau pecah tapi untung saja kepala itu buatan Allah kalau tidak pasti sudah hancur berantakan karena tak mampu menampung pikiran terlalu banyak.

__ADS_1


"Kita pasti bisa melalui ini." Azfan menarik Khalisa ke pelukannya.


__ADS_2