
Warung bakmi yang berada di tengah pasar itu cukup ramai meski baru buka. Karena tempatnya yang tidak terlalu luas hampir tidak ada kursi kosong. Khalisa dan Rindang mengedarkan pandangan bingung mencari tempat duduk untuk mereka.
"Itu Azfan." Khalisa menunjuk Azfan yang duduk di sudut ruangan. Beruntung Azfan datang lebih dulu sehingga mereka tidak perlu menunggu pengunjung selesai makan untuk mendapat tempat kosong.
Azfan mendongak melihat kedatangan dua gadis berbeda penampilan itu, ia mengulas senyum dan mempersilakan keduanya duduk. Azfan juga telah memesan tiga bakmi dengan topping bakso, suwiran ayam dan jamur serta tambahan pangsit goreng. Ini pertama kalinya Azfan memesan bakmi dengan topping lengkap karena ada Khalisa dan Rindang.
Rindang mengeluarkan alat medisnya untuk menyuntikkan insulin sebelum makan.
"Kamu baca buku apa?" Tanya Khalisa karena sebelum ia dan Rindang datang barusan Azfan terlihat fokus pada buku.
"Sirah Sahabiyah." Azfan menunjukkan buku bersampul coklat tersebut.
"Aku juga pernah baca tapi penulisnya yang Mahmud Al-Mishri, boleh pinjam?"
"Boleh." Azfan menyodorkan buku tersebut pada Khalisa dengan senang hati. Sebelum sampai di warung bakmi ini Azfan mampir ke toko buku sebentar karena ia mulai kehabisan stok buku untuk dibaca.
"Wah masih baru ya?" Khalisa mengirup aroma halaman buku tersebut, meski tidak bisa disebut enak tapi ia menyukai aroma setiap lembar dari buku itu. Jika ada parfum yang memiliki aroma seperti buku maka Khalisa akan menyemprotnya ke seluruh bantal dan tempat tidurnya. Namun sayangnya tak ada parfum seperti itu sehingga Khalisa harus meletakkan buku-buku di atas nakas untuk selalu mengirup aromanya. Khalisa tidak tahu apakah itu normal atau justru aneh bagi orang lain. "Koleksi buku kamu banyak ya?"
"Nggak banyak karena tempat kos ku sempit jadi setiap mau beli buku baru harus ada buku yang keluar, kalau nggak pasti rak nya nggak bakal muat."
"Terus buku lama dikemanain?" Khalisa membuka halaman pertama buku tersebut.
"Disumbangin ke Taman Baca, disana inshaa Allah pengurusnya amanah jadi buku kita nggak akan sia-sia karena ada banyak orang yang setiap hari kesana."
"Wah solusi bagus buat kamu." Rindang yang dari tadi diam akhirnya ikut menimpali setelah selesai menyuntikkan cairan insulin pada perutnya. "Rak kamu yang gedenya se-dinding kamar udah nggak muat kan?"
"Jangan berlebihan ya, nggak sebesar itu juga lah rak aku."
"Katanya kalau beli baju banyak nggak mau, takut hisab, emang buku nggak dihisab ya?"
Khalisa menggeleng, kalimat itu menggambarkannya seolah-olah Rindang tahu arti dari hisab.
"Asal membawa manfaat nggak apa-apa kok, sesuatu yang banyak mudharat nya justru nggak boleh kalau sampai kita beli lagi dan lagi." Sahut Azfan.
Rindang hendak membalas ucapan Azfan tapi bakmi pesanan mereka telah datang.
"Ah cepet banget datengnya." Rindang mengeluh karena ia harus menunggu 10 menit untuk makan setelah suntik insulin.
"Aku tungguin." Ujar Khalisa padahal mulutnya sudah berair ingin segera menyantap bakmi tersebut.
"Nggak apa-apa makan aja, keburu dingin seperti sikap doi." Rindang terkekeh di ujung kalimatnya.
"Doi itu apa sih?" Azfan tidak benar-benar mengerti apa arti doi tapi ia sering mendengar orang mengatakannya.
"Serius kamu nggak tahu?" Rindang mendelik, itu adalah istilah yang bahkan telah digunakan sejak mama papanya masih remaja dan Azfan tidak tahu.
"Dia orang istimewa." Sahut Khalisa.
__ADS_1
"Kamu kali bukan dia." Rindang mengaduk bakmi miliknya begitu juga dengan Khalisa dan Azfan karena mereka memang menunggu Rindang.
"Kamu siapa?" Khalisa melirik Rindang, awas kalau macam-macam Khalisa akan menendang Rindang hingga kutub utara.
"Kamu yang ada di depan ku."
Azfan tidak mengerti apa yang sedang Khalisa dan Rindang bicarakan sekarang. Mungkin percakapan orang kaya selalu sulit dimengerti.
Mereka menikmati bakmi di tengah riuhnya pengunjung lain. Azfan was-was karena sepanjang memakan bakmi itu Khalisa tidak berkomentar apapun. Apakah rasanya tidak cocok untuk Khalisa?
"Gila cepet banget abisnya, boleh nambah nggak?" Rindang melihat Azfan, ini adalah definisi dikasih hati minta jantung. Ia melirik mangkok Khalisa yang juga sebentar lagi kosong, bersih tak tersisa. Bahkan potongan daun bawang habis oleh mereka.
"Eh jangan." Khalisa menggeleng.
"Kenapa?" Tanya Azfan dan Rindang bersamaan.
"Jatah kamu satu mangkok ya, aku nggak mau kamu pingsan disini."
Rindang mengerucutkan mulutnya, ia memang harus membatasi konsumsi makanan yang mengandung tepung terigu dan bakmi adalah salah satunya. Khalisa sudah seperti dokter bagi Rindang dan ia tidak membuat toleransi apapun terhadap makanan Rindang.
"Tapi bakmi nya enak nggak?" Tanya Azfan pada Khalisa, ia takut jika Khalisa tidak menikmati bakmi itu.
"Enak banget." Khalisa memakan suapan terakhir bakmi dan sebutir bakso yang memang ia simpan untuk dimakan terakhir.
"Alhamdulillah kalau gitu." Azfan senang jika Khalisa dan Rindang menyukai bakmi di tempat itu.
"Bentar ke toilet dulu." Rindang menyambar spray antiseptik yang menyembul dari saku tasnya, ia kebelet BAB setelah makan satu porsi besar bakmi padahal tadinya ia masih ingin makan seporsi lagi jika Khalisa tidak melarangnya.
"Enggak, kita tunggu di luar aja ya biar yang lain bisa duduk." Khalisa beranjak membawa tas Rindang yang tergelatak di kursi.
Sementara itu Azfan pergi ke kasir untuk membayar makanan mereka siang itu lalu menyusul Khalisa yang sudah berada di luar warung.
"Khalisa." Panggil Azfan ketika ia berdiri sekitar 1 meter di samping Khalisa.
"Hm?" Khalisa menoleh sesaat pada Azfan.
"Kamu tahu cerita tentang Ummu Sulaim?" Azfan menunduk melihat sepasang kakinya yang beralasan kan sandal jepit hitam favoritnya—lebih tepatnya satu-satunya sandal yang ia punya.
"Tahu." Khalisa mengangguk. "Beliau dijuluki wanita dengan mahar paling mulia."
"Aku lupa gimana cerita persisnya, cuma ingat nama singkatnya." Azfan terkekeh, malu karena Khalisa tahu banyak tentang sejarah Islam seperti itu. Atau Khalisa bukan hanya tidak bisa lupa nama orang tapi juga punya ingatan kuat tentang apa yang pernah dibacanya.
"Nama lengkapnya Ruimasha' Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Hiram bin Jundab bin 'Amir bin Ghanam bin 'Afie bin an-Najaar al-Ansyariyah al-Khazrajiyah."
Azfan melongo mendengar Khalisa menyebutkan nama lengkap Ummu Sulaim dengan begitu lancar, bahkan tanpa sadar ia menahan napas beberapa saat saking terkejutnya. Azfan melihat telapak tangan Khalisa. Kosong.
"Kenapa?" Khalisa menahan tawa melihat ekspresi Azfan.
__ADS_1
"Aku lihat telapak tangan kamu siapa tahu ada contekan disana." Canda Azfan yang sontak membuat Khalisa tak bisa lagi menahan tawanya. "Aku boleh dengar sedikit ceritanya?"
"Boleh." Khalisa dengan senang hati akan menceritakan kisah wanita dengan mahar paling mulia itu pada Azfan. "Ummu Sulaim juga dikenal karena keteguhannya memeluk Islam meninggalkan kebiasaan menyembah berhala."
Azfan mendengarkan dengan seksama meskipun pandangannya masih tertunduk tapi kali bukan melihat sandalnya tapi kaki Khalisa yang terbungkus kaos kaki. Azfan tidak yakin apa warna kaos kaki Khalisa karena hampir tak terlihat tertutup gamis. Azfan hanya bisa melihat ujung jari kaki Khalisa.
"Suatu hari Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim saudagar kaya yang ngasih banyak harta tapi sayangnya Ummu Sulaim menolak karena Abu Thalhah belum islam."
"Lalu Abu Thalhah menggunakan keislamannya untuk melamar Ummu Sulaim?" Azfan berhasil mengingat cerita itu.
"Iya." Khalisa mengangguk. "Udah ingat ya?"
"Setelah dipancing baru ingat."
Mereka terdiam sejenak memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar situ.
"Kalau boleh tahu, dulu Pak Daniel juga begitu sama Ibu Ica?" Azfan bertanya dengan hati-hati.
"Enggak, setelah beberapa bulan memeluk Islam dan diusir dari rumah, Papa baru berani melamar dan menikahi Mama dengan mahar alat shalat serta cincin emas 2 gram yang akhirnya dijual untuk memperpanjang kontrak rumah." Khalisa tersenyum lebar setelah mengakhiri kalimatnya. Bagi Khalisa, selain kisah cinta nabi dan sahabatnya, kisah cinta Daniel dan Ica memberi Khalisa banyak pelajaran.
"Wah aku nggak nyangka mereka pernah mengalami masa-masa seperti itu, aku pikir Pak Daniel dan Bu Ica memang kaya dan sukses seperti sekarang."
"Aku nggak tahu seperti apa kesulitan mereka saat itu tapi aku yakin perjuangan mereka nggak gampang untuk mencapai titik ini."
"Dan mereka pasti nggak mau kamu mengalami kesulitan seperti itu." Daniel dan Ica membesarkan Khalisa dengan begitu baik. Azfan jadi makin tak percaya diri untuk mendekati Khalisa, ia sungguh tak pantas untuk gadis itu.
"Kalau sudah jalannya ya nggak apa-apa, kadang kesulitan bisa mendewasakan seseorang."
"Lalu apa Khalisa pernah memikirkan mahar yang diinginkan kelak untuk menikah?" Azfan segera menyesal telah menanyakan itu, ia berharap Khalisa tidak mendengarnya karena suasana disitu cukup ramai ditambah jarak mereka yang tak terlalu dekat.
"Kaligrafi sebesar satu meter persegi mungkin?" Khalisa menoleh pada Azfan, ia bisa melihat wajah terkejut Azfan lalu telinga cowok itu mulai memerah. Apakah Azfan tahu maksud dari perkataan Khalisa atau ia justru tidak mengerti sama sekali.
"Sorry aku lama empup nya." Rindang terengah-engah, ia pikir Khalisa telah meninggalkannya karena terlalu lama di kamar mandi. Rindang harus menyemprotkan cairan antiseptik ke seluruh permukaan closet sebelum duduk di atasnya sehingga ia memakan waktu lebih lama.
"Udah cuci tangan pakai sabun belum?" Tanya Khalisa.
"Udah lah, kamu pikir aku Zunaira yang harus diajarin cuci tangan setelah empup, mau kemana lagi kita?" Rindang melihat Azfan yang wajahnya memerah hingga ke telinga. Rindang jadi penasaran apa yang mereka bahas sebelum ia datang barusan. Apakah Khalisa mengungkapkan perasaannya pada Azfan?
"Pulang." Jawab Khalisa singkat, memangnya mau kemana lagi.
"Oh iya, Khalisa dan Rindang kapan pulang ke Banyuwangi?"
"Lusa insha Allah, aku udah pesen tiket."
"Mau ikut?" Rindang melihat Azfan.
"Aku juga harus pulang ke Bantul."
__ADS_1
Rindang manggut-manggut. Mereka berpisah disana. Rindang dan Khalisa masuk mobil lebih dulu meninggalkan halaman warung bakmie yang sempit. Azfan baru naik ke motornya setelah mobil Khalisa tidak terlihat.
Azfan menyentuh telinganya yang terasa panas, ia tidak mau salah paham terhadap kalimat Khalisa soal mahar itu. Namun tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat mendengar hal tersebut. Perasaan aneh yang tak pernah Azfan rasakan sebelumnya mengalir ke dada dengan cepat dan membuat jantungnya berdebar.