
"Astaghfirullah, kenapa anak kita jadi begini Bi?" Khalisa berseru dari ruang tengah. Ia kaget melihat Azka sudah penuh dengan krim kue hampir di seluruh tubuhnya. Khalisa hanya meninggalkan Azka pada Azfan sebentar tapi anak mereka langsung penuh krim kue. Apakah semua ayah di dunia ini sama? Pantas saja Azka tidak berisik saat Khalisa meninggalkannya untuk menerima telepon. Harusnya Khalisa curiga jika Azka tak bersuara karena pasti ia sedang melakukan sesuatu yang besar, contohnya membaluri tubuhnya dengan kue.
Azfan berlari tergopoh-gopoh mendengar teriakan Khalisa. Berbeda dengan eskpresi Khalisa, Azfan justru tertawa melihat Azka berlumur krim kue.
"Abi kenapa biarin Azka makan kue sendiri?" Khalisa hampir menangis melihat anaknya seperti itu tapi ekspres polos Azka membuatnya ingin tertawa. Khalisa menangis dan tertawa pada saat bersamaan.
"Maaf maaf." Azfan tidak bisa menahan tawanya.
Azka bingung melihat orangtuanya tertawa tapi akhirnya ia ikut tertawa sambil menepuk-nepuk kue coklat di depannya.
"Ini susah lo Bi ngilanginnya."
"Umma udah janji mandiin Azka sore ini." Azfan tertawa jahil.
"Abi sengaja bikin Azka gini karena waktunya aku yang mandiin?"
"Enggak kok, aku cuma nurutin kemauan Azka dari pada nangis."
Khalisa mengembuskan napas berat, Azfan memang akan selalu menuruti apapun kemauan Azka.
"Azka, masih mau makan kuenya ya?" Khalisa duduk di hadapan Azka. "Udah ya, mandi sama Umma ya terus jalan-jalan sama Abi dan Akong, yuk." Khalisa mengulurkan tangan mengangkat tubuh mungil Azka.
Azka tertawa riang saat Khalisa menggendongnya. Azka paling suka diajak mandi karena ia bisa main air dan mainan karet dengan beragam bentuk. Kadang ia justru menangis saat Khalisa dan Azfan mengakhiri sesi mandi.
"Abi baik banget ya, kalau Umma nggak bakal bolehin kamu makan kue sendiri." Khalisa melepas popok Azka dan menyiram si kecil dengan air sedikit demi sedikit. Sebenarnya sesi memandikan bayi adalah sesuatu yang menyenangkan tapi kali ini Khalisa harus membalurkan sabun lebih banyak karena krim kue itu sangat lengket.
"Eh Papa dan Mama udah dateng?" Khalisa melihat papa dan mamanya di ruang tamu ketika ia selesai memandikan Azka.
"Azka udah mandi ya!" Daniel mencium wajah Azka yang masih basah.
"Aduh cucu Ama yang paling ganteng udah wangi nih." Ica mengecup kedua tangan Azka.
Khalisa melirik Azfan, mereka tidak tahu saja apa yang terjadi pada Azka 15 menit lalu. Untungnya Khalisa buru-buru memandikan Azka, kalau tidak ia pasti akan kena marah orangtunya karena membiarkan Azka makan kue sendiri.
"Udah dong, Azka mau pakai baju dulu, tungguin ya Akong, Ama."
"Iya, Akong tungguin." Daniel melambaikan tangan pada Azka, ia tidak sabar menggendong cucunya itu meski kemarin ia dan Ica telah membawa Azka jalan-jalan seharian bersama Azmal dan Zunaira.
Begitu Khalisa memberi kabar tentang kehamilannya, papa dan mamanya langsung terbang ke Sleman. Kemarin mereka pergi ke dokter bersama. Begitupun dengan Mahira dan Kafa. Daniel dan Ica begitu bersemangat menunggu kelahiran cucu kedua mereka.
Pagi ini Azfan dan Daniel hendak pergi melihat bangunan yang akan Azfan jadikan tempat produksi kaligrafi miliknya.
"Masya Allah, anak Umma wangi banget." Khalisa menciumi Azka setelah selesai memakaikan baju untuknya.
Ketika Khalisa turun ke ruang tamu, ia melihat Daniel telah siap mengenakan Hipseat. Rupanya Daniel takut keduluan Azfan untuk menggendong Azka.
"Kita tunggu Kak Levin sebentar Pa." Tukas Azfan setelah memeriksa ponselnya sebentar.
__ADS_1
"Ko Levin ikut?" Tanya Khalisa.
"Iya dia dan Rindang udah di jalan mau kesini."
Tak hanya Daniel dan Ica, Rindang dan Levin juga ingin bertemu Khalisa secara langsung. Rindang ingin membicarakan banyak hal dengan sahabatnya itu setelah hampir satu bulan tidak bertemu.
"Azfan, sebentar lagi kamu akan punya anak kedua, yang ini Papa bawa aja ke Banyuwangi ya." Daniel mengacak-acak rambut Azka dengan gemas padahal Khalisa sudah menyisirnya barusan.
"Eh nggak boleh." Tukas Khalisa, walaupun ia pasti kerepotan setelah kelahiran anak keduanya tapi ia tak akan memperbolehkan papa nya membawa Azka. Tidak akan pernah.
"Ih pelit banget, dulu Khalisa juga sering nginep di rumah Akong dan Ai sebelum ada Kafa, ya Ma."
"Tapi kan jarang rumahnya berdekatan Pa, jadi sewaktu-waktu Papa dan Mama kangen tinggal naik motor aja samperin aku, nah kalau Mas Azfan dan aku tiba-tiba kangen Azka harus beli tiket pesawat dulu."
Daniel terkekeh, Khalisa memang pandai berdebat dengannya.
"Papa kesepian di rumah tahu nggak apalagi kalau Mama pulangnya lebih malem dari Papa."
"Nggak mungkin kesepian selama ada Zunaira." Timpal Khalisa.
"Mama mau nggak punya bayi satu lagi?" Tanya Daniel menggoda Ica.
"Kita udah kepala empat Pa, udah nggak sanggup punya bayi lagi." Ica mencubit lengan Daniel karena telah menggodanya.
Beberapa saat kemudian Rindang dan Levin datang. Setelah berbincang sebentar mereka berangkat ke kota Yogyakarta. Hanya Rindang dan Khalisa yang tinggal di rumah.
"Ah kapan lagi aku bisa rebahan gini." Khalisa menghempaskan tubuhnya ke ranjang, ia merentangkan tangannya menatap langit-langit kamar sementara Rindang mengeluarkan berbagai camilan yang ia beli di minimarket barusan. Rindang juga membeli mie instan untuk ia masak dengan Khalisa.
Khalisa yang sedang menikmati waktunya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong, melirik Rindang lalu bangun.
"Niat banget beli makanan sebanyak ini?" Khalisa melihat semua makanan yang Rindang keluarlah dari paper bag.
"Aku udah lama banget nggak makan mie instan, terakhir tahun lalu padahal dokter bilang nggak masalah makan sesekali."
"Ayo masak." Khalisa melompat turun dari tempat tidur. "Masak yang mana?" Ia bingung memilih mie instan karena semuanya enak.
"Ada telur nggak di kulkas?" Rindang tetap memilih mie yang paling pedas apalagi cuaca pagi ini mendung.
"Ada." Khalisa memilih mie yang sama dengan Rindang.
"Sosis?" Rindang ingin menambahkan banyak topping ke dalam mie nya.
"Ada, sayur ada." Khalisa memiliki banyak bahan makanan karena ia baru belanja kemarin setelah pulang dari rumah sakit.
Mereka beranjak pergi ke dapur untuk memasak mie. Khalisa juga sudah cukup lama tidak makan mie instan karena itu tidak sehat jika dikonsumsi terlalu sering.
"Mbak Nadira mau aku bikinin mie nggak?" Tanya Khalisa pada Nadira yang sedang membuang air bekas mandi Azka.
"Nggak usah Mbak, saya udah makan bubur ayam barusan." Tolak Nadira sopan. Ia melanjutkan pekerjaannya yang lain yakni menyapu dan membersihkan lantai bekas kue Azka tadi.
__ADS_1
Khalisa mengambil telur, sosis dan sawi di dalam kulkas untuk campuran mie.
"Kalau lagi masak gini, aku jadi inget waktu kita masih gadis." Rindang tiba-tiba mengingat momen kebersamaannya dengan Khalisa. Dulu memasak bersama adalah hal yang biasa tapi sekarang jadi momen spesial. Mereka tak bisa bertemu setiap hari lagi.
"Time flies so fast."
"Dulu waktu awal masuk kuliah aku bilang, pokoknya dalam 4 tahun ke depan aku bakal warnain rambut dua kali seminggu dan ganti pacar sebulan sekali eh ternyata aku berakhir di pelukan cowok yang pernah suka sama kamu, kisah cintaku plot twist banget."
"Aku harap Tante Val segera merestui hubungan kalian." Khalisa menepuk-nepuk bahu Rindang.
Itu yang selalu Rindang bisikkan di setiap doanya setelah shalat. Bagi Rindang kebahagiaannya tak akan sempurna tanpa restu dari mama Levin. Apalagi jika Valerie tahu jika Rindang dan Levin memutuskan untuk tidak memiliki anak. Rindang yakin itu akan sulit diterima. Namun untuk saat ini Rindang tak ingin terlalu memikirkannya. Rindang tak boleh memenuhi otaknya dengan pikiran-pikiran buruk.
Khalisa dan Rindang duduk di ruang makan tak sabar menikmati mie instan buatan mereka sendiri. Sebelum itu Khalisa meletakkan tablet di hadapannya, ia telah berjanji akan melakukan panggilan video dengan Naira.
"Bentar-bentar aku input insulin dulu." Rindang menekan tombol pada alat pompa insulin sebelum makan. Ia hampir melupakan itu karena terlalu semangat ingin makan mie yang membuat rongga mulutnya penuh air liur.
"Assalamualaikum, kepagian nggak teleponnya?" Khalisa mengawali ketika wajah Naira muncul di layar tabletnya.
"Waalaikumussalam, enggak kok aku emang nungguin telepon kamu."
"Emang disana jam berapa?" Rindang melihat Naira masih mengenakan mukenah.
"Jam enam aku baru aja selesai tilawah."
"Kamu berubah banget lo Nai, makin cantik." Puji Khalisa tulus.
"Aura ibu hamil selalu terpancar cerah, dan kamu harus tahu kalau Khalisa juga hamil." Rindang melahap sesendok penuh mie, sosis dan potongan sawi. Itu adalah sesendok penuh kenikmatan yang tak bisa Rindang dapatkan setiap hari.
"Oh ya?" Naira terlihat terkejut tapi dua detik berikutnya ia mengucap hamdalah atas rezeki yang Khalisa dapat. "Aku juga pengen punya anak banyak tapi ini satu aja masih di dalam perut."
Khalisa dan Rindang tertawa, mereka mengobrol sambil memakan mie instan yang cukup pedas. Namun keduanya memang memiliki toleransi yang tinggi terhadap makanan pedas.
"Kamu hebat Nai bisa sampai di titik ini, aku tahu nggak mudah buat menjalani kehamilan dengan penyakit yang nggak bisa disembuhkan tapi kamu kuat."
"Kamu juga hebat Rindang, kamu luar biasa."
"Aku dan suami sepakat untuk adopsi anak nanti, aku nggak sekuat kamu."
"No, it's okay, jangan merasa sedih karena memilih jalan tersebut, aku yakin kalian udah pikirin itu matang-matang dan jangan pedulikan komentar orang di luar sana, ada Khalisa yang akan selalu dukung kamu."
"Aku bersyukur banget punya dia di hidup aku." Rindang menyikut Khalisa, ingin merangkul tapi gengsi karena Naira akan melihatnya.
"Kamu hebat, dulu waktu awal ketemu kamu baru aja mualaf kan tapi sekarang Masya Allah udah Istiqomah bercadar."
"Nah justru sekarang aku yang malu sama dia." Khalisa menyikut Rindang. Mereka pasti akan saling menyikut hingga mie di mangkok keduanya habis.
"Ya ampun cangkangnya doang yang bagus, dalemnya masih amburadul."
"Semua diawali dari cangkang, nanti dalemnya ngikut." Timpal Khalisa bijak.
__ADS_1
Azka happy banget jalan-jalan sama Akong!