Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
110


__ADS_3

Khalisa menurunkan kaca jendela mobil demi menghirup udara segar pedesaan. Mobilnya melewati jalan yang membentang di antara persawahan. Khalisa dan Azfan berangkat ke Bantul pagi-pagi sekali, pemandangan matahari terbit menyambut kedatangan mereka. Sinar kuning itu menyembul dari balik bukit memanjakan mata.


"Mau kemana?" Khalisa menyapa tiga bocah laki-laki yang membawa layangan di punggungnya.


"Main layangan Mbak di ujung sana." Jawab mereka.


Khalisa tersenyum lebar melihat mereka begitu bersemangat hendak main layangan padahal hari masih pagi. Ia juga menyapa beberapa orang yang berpapasan dengan mobil mereka.


"Tiba-tiba aku inget Ama." Gumam Khalisa ketika melihat seorang nenek menggendong cucu nya yang baru saja mereka lewati.


Azfan menoleh sekilas pada Khalisa dan mengulas senyum.


"Dulu aku sering dipangku Ama atau Akong kalau mereka lagi doa pagi di gereja rumah terus kami makan cookies dan minum susu hangat." Khalisa menyandarkan tubuhnya, andai Renata masih ada pasti ia senang melihat Khalisa hamil dan akan melahirkan. "Ama dan Akong rebutan mau mandiin aku tapi akhirnya mereka mandiin aku bareng-bareng." Khalisa tersenyum tapi setetes kristal bening jatuh ke telapak tangannya, ia bahkan masih ingat aroma sabun yang Renata usapkan ke badannya. Sabun beraroma bayi yang segar.


"Sebentar lagi cicit Ama dan Akong akan lahir." Azfan mengulurkan tangan mengusap perut Khalisa.


"Dulu aku nggak ngerti kenapa cara ibadah Akong dan Ama berbeda dari apa yang Papa Mama lakuin." Tiba-tiba tangis Khalisa semakin menjadi, ia menunduk dalam menutup wajah dengan kedua tangannya.


Azfan menghentikan mobil di halaman rumahnya, ia membuka seatbelt dan menarik Khalisa ke dalam pelukannya. Azfan mengusap-usap punggung Khalisa untuk menenangkannya.


"Nanti kita ke makam Ama ya sayang." Bisik Azfan lembut.


"Maaf Mas, aku jadi emosional gini." Setelah puas menangis Khalisa mengurai pelukan dan menghapus air matanya kasar.


"Jangan minta maaf." Azfan mengusap pipi Khalisa dengan ibu jarinya. "Aku bikinin susu hangat sebentar lagi ya sama cookies." Ia mengecup kening Khalisa.


Bibir Khalisa mengembangkan senyum lalu mengangguk.


"Mau mandi pakai sabun bayi nanti siang."


"Boleh, nanti aku belikan sabun bayi di warung mau nggak?"


Khalisa kembali mengangguk.


Azfan kembali memeluk Khalisa karena tidak tahan dengan ekspresi Khalisa yang menggemaskan. Azfan tidak kaget jika Khalisa tiba-tiba ingin mandi dengan sabun bayi karena sebelumnya keinginan Khalisa justru lebih aneh.


Khalisa yang sebelumnya paling anti makan di luar jam kebiasaannya justru beberapa kali makan tengah malam. Khalisa sering kelaparan pada pukul 12 hingga satu malam. Alhasil Azfan hanya bisa membuat telur ceplok atau apapun yang ada di kulkas. Atau Khalisa pernah ingin makan jeruk bali yang dipetik langsung dari pohonnya, semangka lonjong berwarna kuning hingga manggis dengan 7 biji di dalamnya. Azfan menuruti semua itu walaupun pada akhirnya ia yang akan menghabiskannya. Hal yang paling berkesan bagi Azfan adalah ia harus menghabiskan jeruk bali yang memiliki rasa asam, manis dan sedikit pahit.


Azfan tidak tahu apakah hal tersebut disebut ngidam atau bukan yang jelas itu tidak seperti Khalisa biasanya. Hanya ini yang bisa Azfan lakukan yakni menuruti keinginan Khalisa meski terkadang tidak masuk akal. Lagi pula Khalisa sudah cukup kesusahan, aktivitas berat membuatnya sesak napas. Andai bisa Azfan rela bayi mereka dititipkan ke perutnya sebentar tapi sayangnya itu tidak mungkin.


Marwah membuka pintu ketika melihat mobil Khalisa terparkir di depan rumah. Marwah berlari mendekat dengan tidak sabar tapi langkahnya terhenti ketika mendapati Azfan dan Khalisa sedang berpelukan di dalam mobil. Marwah melotot ketika Azfan mencium bibir Khalisa. Ia melihat adegan yang seharusnya tak dilihat. Dengan gerakan sangat pelan Marwah membalikkan badan dan melangkah kembali masuk rumah tanpa membuat suara sedikitpun.


"Mas Azfan sama Mbak Khalisa udah dateng ya?" Safa ikut melihat mobil Khalisa.


"Eh jangan keluar Mbak, tunggu mereka masuk aja." Marwah menahan Safa agar tidak keluar.


"Kenapa sih?"


"Ssshh ini rahasia." Marwah menarik Safa agar mendekat. "Aku barusan lihat Mas Azfan cium Mbak Khalisa." Marwah mengetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk.


"Ih kok kamu ngintip sih, nggak boleh tahu." Safa menepuk lengan Marwah.


"Aku nggak sengaja!" Semprot Marwah.


"Ada apa sih kalian ribut bukannya bukain pintu buat Mas dan Mbak Khalisa." Kirana menghampiri dua anak perempuannya yang terdengar ribut di ruang tamu.


"Bu, jangan ke depan!" Marwah menarik tangan Kirana.


"Kenapa memangnya?" Kirana bingung melihat Marwah menahannya.


"Ini rahasia, Ibu jangan bilang siapapun ya." Marwah meminta ibunya merendahkan tubuh, "aku lihat Mas Azfan cium ini nya Mbak Khalisa." Ia mengulangi gerakan yang sama seperti saat menjelaskan pada Safa.


Kirana mendelik, "mereka tahu nggak kalau Marwah keluar barusan?"


Marwah menggeleng, ia yakin jika tadi Azfan dan Khalisa tidak mengetahui keberadaannya.


"Ya udah nanti kalau Mas dan Mbak mu masuk, kamu pura-pura nggak lihat apapun ya."


Marwah mengangguk beberapa kali dengan wajah polosnya.


Diam-diam Kirana tersenyum karena sepertinya kehidupan rumah tangga Azfan dan Khalisa semakin harmonis apalagi dengan kehamilan Khalisa. Kirana tak henti memanjatkan doa untuk kebahagiaan mereka dan anak-anaknya yang lain. Dulu Kirana sempat khawatir karena keluarga mereka memiliki latar belakang yang jauh berbeda. Namun Kirana bersyukur karena ternyata keluarga Khalisa menerima Azfan dengan baik. Kirana kagum pada keluarga Khalisa karena mereka semua begitu rendah hati. Apalagi saat melihat pemandangan keluarga Khalisa melakukan muroja'ah bersama di ruang tamu setelah shalat isya'. Pemandangan langka yang membuat Kirana tak henti tersenyum.


"Assalamualaikum." Suara Azfan dan Khalisa mengejutkan Safa, Marwah dan Kirana.


Kirana melangkah lebih dulu dan membukakan pintu untuk anak dan menantunya.


"Gimana kabar Ibu?" Khalisa mencium punggung tangan Kirana dan memberi pelukan.


"Alhamdulillah sehat, kalian juga kan?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Bu." Azfan juga mencium tangan ibunya. "Dinding yang retak sudah beres kan Bu?"


"Udah kok, udah disemen dan dicat lagi sama Mas Adi."


Safa dan Marwah juga bersalaman dengan Khalisa dan Azfan bergantian.


"Kok muka dan telinga Mas Azfan merah sih?" Marwah mendongak melihat Azfan.


"Oh ya?" Azfan memegang telinganya, kenapa Khalisa tidak bilang jika wajahnya memerah. Setidaknya mereka menunggu hingga wajah Azfan kembali normal untuk turun dari mobil. Ini salah Azfan, harusnya ia menunda keinginannya untuk mencium Khalisa. Azfan pikir ciuman itu tak akan berpengaruh pada rona wajahnya karena ia melakukannya hanya sebentar.


Safa menyikut perut Marwah, mereka sudah berjanji untuk pura-pura tidak tahu mengapa Marwah justru bertanya seperti itu.


Khalisa menahan senyum, ia yakin saat ini wajahnya juga memerah. Namun jika Marwah bertanya maka Khalisa akan menjawab bahwa wajahnya terkena cahaya matahari.


"Safa, Marwah bantu Mbak Khalisa bawa barangnya gih." Pinta Kirana agar dua anak itu tak lagi mengingat kejadian yang Marwah saksikan barusan.


"Iya Bu." Jawab Safa dan Marwah bersamaan.


"Khalisa ke belakang dulu ya Bu." Pamit Khalisa, ia sempat mengerlingkan mata pada Azfan sebelum berlalu dari ruang tamu bersama Safa dan Marwah.


"Doain Azfan dan Khalisa ya Bu, kalau ada rezeki lebih kita bisa renovasi rumah ini."


"Duh, kamu jangan mikirin rumah ini dulu." Kirana mengibaskan tangan, "rumah ini masih layak banget untuk ditinggali, belum butuh direnovasi."


"Nggak apa-apa Bu."


"Khalisa kenapa, kayak habis nangis?" Kirana bisa melihat jejak air mata di wajah Khalisa.


"Tiba-tiba kangen Ama."


"Wanita hamil memang sensitif, sebagai suami kamu harus selalu ada buat Khalisa ya."


"Pasti Bu." Azfan tersenyum lembut.


Suasana rumah Azfan tidak seperti biasa karena banyak saudara dekat yang berdatangan. Dari pada menggunakan jasa katering, Kirana mengundang saudara dekat untuk mempersiapkan acara 7 bulanan tersebut. Mulai dari makanan, pakaian untuk Khalisa hingga berbagai perintilan untuk acara yang juga disebut mitoni dalam istilah Jawa.


"Ini dia menantunya sudah datang." Kedatangan Khalisa mengalihkan perhatian para saudara Azfan yang sedang sibuk di dapur.


Khalisa menyalami mereka satu per satu dan menyapanya dengan ramah. Beruntung Khalisa orang yang mudah berbaur termasuk dengan orang yang baru ditemuinya.


Khalisa membantu mengupas buah-buahan yang nantinya akan dibuat rujak.


"Azfan kemana?" Tanya mereka pada Khalisa.


"Eh Khalisa coba ngomong bahasa Osing, katanya kalau orang Banyuwangi mahir ngomong Osing, coba Budhe mau denger."


Khalisa tertawa, ia memang lahir di daerah yang masyarakat nya berbahasa Osing tapi Khalisa tak pernah menggunakan bahasa tersebut di kehidupan sehari-hari.


"Saya nggak bisa." Kata Khalisa setelah meredakan tawanya.


"Memangnya kamu Banyuwangi mana?" Tanya wanita berusia 50 an itu lagi.


"Rogojampi Budhe."


"Kalau gitu bahasa Mandarin aja, bisa kan?" Tukas yang lain.


"Xie-xie nin wei choubei zhe ci huodong er fuchu de xinqin gongzuo." Khalisa mengatakan terimakasih karena mereka semua telah bekerja keras untuk mempersiapkan acara tersebut.


Mereka tertawa karena tidak mengerti apa yang sedang Khalisa bicarakan. Tawa mereka menular pada Khalisa.


"Berarti Mbak Khalisa kalau nonton drama China nggak usah baca terjemahan ya?" Tanya Marwah.


"Mbak nggak pernah nonton drama China." Balas Khalisa. "Tapi kayaknya kalau nonton, pasti tetep baca terjemahan lah karena bahasa disini sama yang di China tuh beda."


"Khalisa coba mangga nya enak nggak?" Budhe menyuapkan sepotong mangga pada Khalisa.


"Enak banget, manis." Khalisa jadi ingin makan sepotong lagi. "Mau satu lagi, boleh nggak Budhe?" Ujarnya.


"Boleh, buat kamu semua juga boleh."


Khalisa tertawa, ia tak mungkin menghabiskan semua mangga itu. Selain mangga, ada jambu dersana, pepaya, nanas, kedondong dan bengkoang.


"Khalisa, coba sini." Kirana memanggil Khalisa hendak menunjukkan baju batik yang ia buat dan jahit sendiri untuk dipakai Khalisa saat siraman nanti. "Kamu coba bajunya dulu ya."


Khalisa mengikuti mertuanya ke kamar, matanya berbinar melihat baju terusan batik yang tergantung di depan lemari.


"Bagus banget Bu." Khalisa menyentuh permukaan kain baju itu. "Kayaknya cukup ke badan Khalisa."


"Azfan udah wanti-wanti Ibu, bikin bajunya yang lebar soalnya dia nggak mau lekuk tubuh kamu kelihatan waktu waktu dimandiin nanti, tapi nanti kan di luarnya pakai bunga melati jadi inshaa Allah lekuk tubuhnya nggak akan kelihatan."

__ADS_1


Khalisa mencoba mengenakan terusan batik yang sangat longgar di badannya.


"Makasih ya Ibu udah bikin buat Khalisa." Khalisa bisa membayangkan saat mertuanya menggambar pola di atas kain mori lalu menggambarnya dengan lilin dan menjahitnya sendiri. Pakaian ini dibuat dengan cinta.


"Sama-sama sayang."


Mereka mendengar seseorang mengetuk pintu kamar. Kirana membuka pintu setelah Khalisa melepas pakaian batiknya.


"Kenapa Luh?" Kirana mendapati menantunya Galuh berada di depan pintu.


"Besan Ibu udah dateng."


"Orangtua kamu?"


"Bukan, besan Ibu yang lain."


"Ya udah Ibu ke depan dulu." Kirana mengusap lengan Galuh sekilas ketika keluar kamar melangkah ke ruang tamu untuk menemui orangtua Khalisa.


"Udah selesai nyoba bajunya? padahal Mbak pengen lihat." Galuh menghampiri Khalisa.


"Yah udah aku lepas Mbak, kalau Mbak mau lihat aku pakai lagi sekarang."


"Eh nggak usah, nanti siang kan kamu udah pakai baju itu." Galuh membantu Khalisa menggantung pakaian itu lagi. "Dulu waktu Mbak 7 bulanan Ibu juga bikin baju kayak gini."


"Oh ya? bagus banget kan bajunya Mbak, jadi pengen dipajang di kamar nanti kalau udah selesai acaranya."


"Tahu nggak, anugerah yang paling besar dari Allah selain suami yang baik, punya mertua baik juga salah satunya."


"Maka kita beruntung punya mertua seperti Bu Kirana." Timpal Khalisa.


******


Rangkaian prosesi 7 bulanan dimulai dengan membaca doa di ruang tamu rumah Azfan bersama sanak saudara dan tetangga yang hadir hari itu. Anak-anak pondok pesantren dekat situ juga diundang untuk ikut mendoakan keselamatan Khalisa dan calon anaknya. Mereka juga berharap kelahiran Khalisa nanti berjalan dengan lancar.


Makanan yang disajikan berupa tumpeng berukuran besar dan 7 tumpeng yang lebih kecil di sekitarnya dengan urab-urab dan berbagai macam lauk bersama 7 macam bubur yang memiliki arti berbeda-beda.


Dilanjutkan dengan prosesi sungkeman pada Kirana, Daniel dan Ica. Prosesi yang selalu membuat mereka menjadi sangat emosional dimana tak ada tangis yang bisa ditahan.


"Doain Khalisa Ma." Khalisa memeluk Ica.


"Selalu sayang." Suara Ica gemetar dengan air mata berderai, ia mencium pipi dan kening Khalisa. Semuanya berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin Ica membelikan Khalisa balon di pinggir jalan ketika mereka sedang dalam perjalanan ke kantor Daniel. Namun hari ini Ica melihat Khalisa sudah menjadi seorang istri dan calon ibu.


Khalisa diantar ke belakang rumah untuk melakukan siraman. Air yang digunakan berasal dari 7 sumber berbeda dalam sebuah wadah gerabah. Terdapat berbagai macam bunga seperti mawar, melati, kenanga, magnolia dan cempaka putih yang memiliki wangi semerbak.


"Dingin ya?" Azfan tak kuasa melihat tubuh Khalisa gemetar ketika anggota keluarga menyiram Khalisa bergantian. Ia ingin prosesi ini segera berakhir tapi tak cukup satu atau dua orang, harus 7 orang yang melakukannya. Khalisa mengangguk pelan, ia heran kenapa air ini sangat dingin. Mungkin karena Khalisa selalu mandi air hangat di rumah meskipun cuaca panas.


Azfan kemudian diminta menempelkan telur ayam kampung ke dahi dan perut Khalisa lalu memecahkannya.


"Bismillahirrahmanirrahim." Azfan memotong janur yang diikat pada perut Khalisa.


Prosesi selanjutnya memasukkan sepasang kelapa gading yang sudah diukir dengan gambar wayang Kamajaya dan Dewi Ratih.


Azfan memilih salah satu kelapa dengan mata tertutup dan bersiap memecahnya.


"Wah laki-laki!" Seru mereka ketika mereka mendapati Azfan berhasil memecah kelapa secara sempurna.


Azfan tersenyum melihat Khalisa, dari pandangan itu ia seolah memberitahu bahwa tak masalah laki-laki atau perempuan yang terpenting adalah ia lahir sehat dan sempurna.


Saatnya berganti busana dengan 7 macam kain yang Khalisa baru tahu setiap kain melambangkan 7 hal berbeda. Diantaranya Sidomukti melambangkan kebahagiaan, Sidoluhur kemuliaan,  Semen Rama melambangkan cinta abadi, Udan Iris agar kehadirannya menyenangkan bagi orang-orang sekitar,  Cakar Ayam berarti kemandirian dan terakhir kain lurik bermotif lasem melambangkan kesederhanaan.


Setelah berganti busana, Azfan dan Khalisa melakukan prosesi seolah-olah menjual rujak dan cendol yang sudah dibuat tadi. Sanak saudara yang hadir membeli rujak tersebut menggunakan uang yang terbuat dari tanah liat atau biasa disebut kreweng.


Ica kagum karena besan nya masih mempertahankan adat istiadat yang banyak orang sudah mengabaikannya. Dulu saat hamil Khalisa, Ica tidak melakukan prosesi 7 bulanan sedetail itu.


"Sayang, katanya mau mandi pakai sabun bayi." Azfan menyusul Khalisa ke kamar.


Khalisa tengah mengganti pakaian dengan gamis longgar setelah mengeringkan rambut. Mengingat dinginnya air saat siraman tadi, Khalisa jadi tidak ingin mandi lagi.


"Nggak jadi Mas, dingin banget." Khalisa melihat pantulan dirinya melalui cermin sambil menyisir rambut.


"Besok aja ya." Azfan memeluk Khalisa dari belakang dan mengecup lehernya. "Wangi bunga cempaka."


"Masih kecium ya?" Khalisa menoleh hingga wajah mereka beradu sangat dekat.


Khalisa menjatuhkan sisirnya dan membalikkan badan memeluk Azfan. Dingin yang dari tadi menyelimuti tubuh Khalisa perlahan menghilang digantikan kehangatan.


"Semoga Haura sehat terus dan lancar lahirannya, aku akan selalu ada buat Haura." Bisik Azfan seraya mengusap punggung Khalisa yang semakin cekung. Pantas saja Khalisa sering mengeluh sakit punggung.


"Jadi Mas Azfan sudah siap dipanggil Abi?"

__ADS_1


"Siap Umma, sangat siap."



__ADS_2