
Aroma soto menyebar ke seluruh apartemen Kafa ketika Khalisa membuka kotak makanan yang dibawanya. Khalisa meracik soto tersebut dengan menambahkan bihun, irisan seledri dan bawang goreng. Sedangkan sambal bisa diambil sesuai selera.
Air liur memenuhi rongga mulut Kafa tidak sabar ingin menyantap soto tersebut dengan nasi hangat. Tadi Khalisa menanak nasi terlebih dahulu di dapur Kafa karena ia hanya membawa soto dan pelengkapnya.
"Buruan Ce." Pinta Kafa ketika Khalisa masih mengaduk soto tersebut setelah menambahkan berbagai macam pelengkap.
"Sabar." Tegur Azfan, Kafa tidak tahu Khalisa memasak itu dari pagi usai shalat subuh.
Kafa hanya melirik Azfan. Sepertinya setelah ini mereka akan sering bertengkar seperti kucing dan tikus. Dalam hal ini Kafa akan berperan sebagai kucing yang suka membantai tikus.
Khalisa mengambil soto untuk Azfan lebih dulu sedangkan Kafa mengambilnya sendiri karena ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mereka membaca doa sebelum makan dipimpin oleh Azfan.
"Enak banget." Puji Kafa sesaat setelah ia menghabiskan suapan pertama. "Tahu nggak Ce, waktu itu Tante Ica bikin soto kayak gini, Cece bisa tebak nggak rasanya gimana?"
Khalisa menggeleng tidak mau menjawab karena Ica selalu menambahkan rempah yang seharusnya tidak digunakan pada makanan tersebut sehingga rasanya akan aneh. Namun Khalisa tidak mau membicarakan itu karena Daniel saja mau menerima apapun masakan Ica meskipun tidak bisa dibilang enak.
"Rasanya mirip banget sama jamu yang suka Mbak Jum bikin." Kafa menahan tawa, Jum adalah ART di rumahnya yang suka membuat minuman tradisional dan memaksa dirinya atau Fatah serta Fatimah untuk meminumnya.
"Mama memang nggak ditakdirkan untuk pintar masak tapi beliau sangat mahir dalam bidang lain."
"Bener sih, Tante Ica juga salah satu orang yang aku kagumi."
"Enak kan?" Khalisa meminta pendapat Azfan karena ia lihat dari tadi suaminya itu tidak bicara apapun. Ia khawatir rasa sotonya tidak enak meskipun Kafa telah memujinya.
"Selalu enak sayang." Jawab Azfan, ia tidak berkomentar karena masakan sang istri tak pernah gagal. Namun setiap kali makan Khalisa pasti akan menanyakan pendapat Azfan.
Khalisa bisa makan dengan tenang setelah mendengar pendapat Azfan mengenai masakannya. Tidak sia-sia ia berada di dapur sejak pagi.
"Ngomong-ngomong kamu kenal Mahira?" Tanya Khalisa pada Kafa karena kemarin ia lihat mereka mengobrol di parkiran.
"Enggak, dia aja yang sok kenal padahal kami cuma nggak sengaja tabrakan di hotel Jinggo waktu itu."
Khalisa dan Azfan saling berpandangan mendengar jawaban Kafa. Berarti dugaan mereka benar bahwa Kafa datang ke pernikahan itu, hanya saja Kafa tidak menampakkan diri dan bersembunyi di balik pintu masuk.
"Jadi kamu dateng waktu itu."
Kafa mendelik dan terbatuk-batuk karena secara tidak langsung ia telah memberitahu kedatangannya di hari pernikahan Khalisa dan Azfan. Kafa memukul mulutnya sendiri karena tidak bisa menjaga rahasia.
"Minum." Azfan menyodorkan air pada Kafa yang langsung diteguk hingga tandas.
"Lain kali turunin dikit gengsi kamu, masa ngalahin gunung Merapi."
Kafa terdiam seperti maling yang tertangkap basah, ia sudah merahasiakan itu selama hampir satu tahun dan mewanti-wanti orangtuanya untuk tidak memberitahu Khalisa. Namun ternyata ia sendiri yang justru tak sengaja memberitahu Khalisa. Dasar Kafa, mau ditaruh dimana muka kamu? lempar kolong meja aja!
"Jangan meremehkan Mahira, dia hafal 6 juz lo." Khalisa mengalihkan pembicaraan agar Kafa tidak malu lagi.
"6 juz atau juz 6?"
"6 juz!" Ulang Khalisa lebih menekankan kalimat tersebut.
"Tapi aku udah 30, Ce."
"Nggak boleh sombong, nanti kalau Allah hilangin semua hafalan kamu gimana?"
"Amit-amit Ce, astaghfirullah jangan bilang gitu."
"Kalau gitu lanjutin ayat ini." Khalisa membacakan surat Al-Baqarah ayat 284 setelah meneguk sedikit air.
Azfan memperhatikan Khalisa saat melafalkan ayat tersebut dengan fasih dan suara merdu. Bahkan tanpa sadar Azfan menghentikan makannya selama Khalisa melakukan itu. Hal tersebut tidak luput dari perhatian Kafa, kali ini ia bersikap seperti seorang kakak yang mengawasi pasangan adiknya.
Kafa menyambung ayat yang Khalisa bacakan hingga ayat 286 juga dengan pengucapan yang fasih. Tentu saja hal itu tidak mengherankan karena Kafa adalah putra pertama seorang ustadz terkemuka yang terkenal dimana-mana.
Azfan tak pernah menyaksikan pemandangan seperti ini sebelumnya yakni sambung ayat saat sedang makan. Mereka dibesarkan dengan ilmu agama Islam yang kental.
"Walaupun suaraku nggak semerdu Mas Azfan tapi lumayan juga untuk jadi mahar pernikahan."
"Maksud kamu?"
"Mahar mengajarkan Al-Qur'an kepada istri." Kafa menaikkan dan menurunkan alisnya dengan cepat seraya melihat Khalisa.
"Berat sekali mahar kamu wahai adikku." Khalisa menghabiskan suapan terakhir tanpa menyisakan sebutir nasi pun di piringnya.
"Aku suka sesuatu yang berat."
__ADS_1
"Memangnya siapa yang mau sama kamu?" Ledek Khalisa, ia beranjak meletakkan piring pada wastafel dan menuang air ke gelas Azfan yang sudah kosong.
Khalisa mencuci piring bekas makannya dan beberapa wadah yang ada di wastafel. Sepetinya semalam Kafa langsung tidur setelah makan tanpa mencuci piring lebih dulu.
"Ya ada." Kafa juga belum memikirkan soal pernikahan, melihat Khalisa dan Azfan betapa kerasnya kehidupan setelah menikah ia jadi membuang jauh-jauh keinginan untuk menikah muda. Ia harus menyelesaikan pendidikan kedokterannya sebelum menikah.
"Sebentar lagi mau kemana Mas?" Tanya Kafa.
"Mau ketemu Kak Fawas dan istrinya di museum Al-Bayan."
"Aku ikut boleh nggak?" Kafa berpikir akan berada di apartemen seharian tapi jika dipikir-pikir ia pasti bosan karena tidak memiliki kegiatan.
"Boleh, kami juga ajak Rindang kok."
Kafa beranjak setelah piringnya kosong. Ia makan dengan lahap karena amat merindukan masakan Khalisa setelah lama tidak memakannya.
"Biar aku yang cuci piring kamu." Azfan hendak mengambil piring Kafa tapi Kafa mencegahnya.
"Aku mau nambah nasi." Tukas Kafa dengan wajah polos. Ia melangkah untuk mengambil nasi di rice cooker.
"Oh." Azfan hanya ber-Oh ria, ia pikir Kafa juga sudah selesai makan ternyata masih ada ronde kedua.
"Taruh aja Mas, sekalian." Khalisa meminta Azfan meletakkan piring di wastafel agar sekalian ia mencucinya.
"Makasih sayang."
"Sama-sama suamiku."
Kafa menuang semua sisa soto ke piringnya dan melanjutkan makan pura-pura tidak mendengar percakapan Khalisa dan Azfan yang akan membuat jiwa jomblonya meronta tak karuan. Kafa jadi penasaran siapakah wanita beruntung yang akan menjadi istrinya nanti.
******
"Al-Bayan itu artinya penerangan dan merupakan salah satu nama lain dari Al-Qur'an artinya Al-Qur'an akan menjadi penerang untuk kehidupan kita." Azfan memberi sedikit penjelasan tentang nama museum Al-Qur'an terbesar se-Jawa Tengah tersebut. Karena Azfan yang memilih tempat itu maka ia memberi alasan mengapa mereka wajib mengunjunginya. Itu karena mereka bisa melihat banyak koleksi Al-Qur'an dari segala penjuru dunia serta mendengarkan murottal dari imam besar Masjidil Haram.
"Aku merasakannya." Timpal Rindang. Ia merasa hidupnya jauh lebih berarti setelah memeluk Islam, ia telah jatuh sedalam-dalamnya pada pesona Islam. Rindang menikmati setiap proses belajarnya, mulai dari berkenalan dengan huruf Hijaiyah hingga sekarang sudah lumayan lancar membaca Alqur'an. Rindang bersyukur dikelilingi orang-orang baik seperti Khalisa, Azfan, Humaira, Levin dan ustadzah pembimbing di komunitas. Meskipun jauh, Levin selalu memantau perkembangan Rindang dan menjawab apapun pertanyaan yang kerap Rindang lontarkan kepadanya.
"Alhamdulillah." Khalisa tersenyum bangga pada Rindang, ia hari ini juga mengenakan cadar seperti Rindang.
"Itu Mbak Ayin." Khalisa menunjuk Ayin dan Fawas yang menunggu mereka di depan pintu masuk.
"Fawas itu yang pernah ngelamar Cece ya?" Tanya Kafa karena ia tidak asing dengan nama tersebut.
"Ssshhh." Khalisa meminta Kafa tidak membahas hal itu lagi.
Mereka mengucapkan salam pada Fawas dan Ayin serta menanyakan kabar masing-masing setelah cukup lama tidak bertemu. Fawas dan Ayin tinggal di Surabaya yang merupakan kampung halaman Ayin, disana mereka sama-sama menjadi dosen di salah satu universitas swasta.
"Masya Allah sudah besar, boleh pegang nggak?" Khalisa meminta izin untuk memegang perut Ayin yang sudah buncit. Ayin sangat beruntung karena langsung diberi kepercayaan oleh Allah sesaat setelah menikah.
"Boleh-boleh." Ayin menuntun tangan Khalisa untuk memegang perutnya. "Udah 24 Minggu."
"Semoga sehat dan lancar sampai lahiran."
"Aamiin Khalisa, terimakasih ya semoga kamu segera diberi amanah oleh Allah untuk memiliki keturunan."
Khalisa mengaminkan doa Ayin. Azfan bisa melihat mata Khalisa berkaca-kaca saat Ayin mengucapkan kalimat tersebut.
"Alhamdulillah sebentar lagi rumah kami akan ramai oleh tangisan dan tawa bayi." Fawas menggenggam tangan Ayin dengan penuh kasih sayang. "Bukankah rumah akan terasa sepi tanpa tangisan anak-anak."
"Benar." Ujar Azfan, "tapi Alhamdulillah kami nggak pernah membiarkan rumah sepi karena selalu diisi oleh lantunan ayat suci Al-Qur'an." Lanjutnya.
"Khalisa beruntung menikah denganmu Azfan." Fawas pikir dirinya lah yang akan beruntung memiliki Khalisa tapi Allah memberinya Ayin yang tidak kalah baik.
"Enggak Kak, justru saya yang beruntung memiliki istri sebaik Khalisa." Azfan menarik Khalisa agar lebih dekat dengannya padahal jarak mereka hanya sekitar setengah meter ketika Khalisa memegang perut buncit Ayin.
"Jomblo harap bersabar." Bisik Kafa pada Rindang yang tak jauh berada di sampingnya.
"Siapa jomblo?" Rindang melirik tajam pada Kafa.
"Siapa lagi?" Kafa mendelik, atau jangan-jangan Rindang punya pacar dan hanya dirinya yang jomblo disini. "Jadi Ce Rindang punya pacar."
"Enggak lah tapi jangan salah, hatiku nggak pernah kosong karena aku selalu bershalawat untuk Rasulullah."
"Masya Allah sama dong, Ce Rindang mau nggak nikah sama aku?" Canda Kafa.
__ADS_1
"Nǐ shuō shénme?" Kamu bilang apa?
"Ayo nikah sama aku Ce." Kafa mengulang candaannya, tentu saja ia tidak serius berkata seperti itu karena Kafa juga menganggap Rindang kakak perempuannya seperti Khalisa.
"Bùxiǎng!" Rindang mentoyor kepala Kafa dan meninggalkannya, ia menyusul Khalisa yang sudah beberapa langkah berada di depan. Ternyata Fawas telah memesan tiket sebelum mereka datang sehingga bisa langsung masuk tanpa harus antre membeli tiket lagi. Karena ini akhir pekan, museum tersebut cukup ramai oleh pengunjung yang juga datang dari daerah lain.
Kafa tertawa mendengar penolakan Rindang, ia setengah berlari menyusul yang lain. Kafa tidak mau nyasar di tempat seluas ini karena ia paling muda kesasar.
Dari kejauhan Rindang melihat seperti sosok Levin, ia tidak begitu yakin karena hanya tampak punggungnya.
"Itu Ko Levin bukan?" Rindang menunjuk ke arah seseorang yang terlihat seperti Levin.
"Kayaknya iya, kapan dia balik kesini?" Khalisa tidak tahu jika Levin pulang karena mereka memang jarang bertukar pesan.
Rindang mengedikkan bahu, ia juga tidak tahu kalau Levin kembali ke Sleman.
"Koko!" Kafa lebih dulu menghampiri Levin, dari kejauhan ia sudah tahu kalau itu Levin. "Ko Levin."
Mendengar namanya dipanggil Levin berbalik mengalihkan pandangan dari tulisan Al-Fatihah super besar di hadapannya. Ia terkejut untuk beberapa saat melihat Kafa, Khalisa dan Azfan. Meskipun Khalisa mengenakan cadar tapi Levin tetap bisa mengenalinya. Levin bisa melihat pancaran kebahagiaan dari sepasang mata Khalisa, ia bersyukur jika Khalisa bahagia bersama Azfan. Perlahan Levin mengikhlaskan Khalisa yang tidak bisa menjadi miliknya, sekarang hal terpenting baginya adalah Khalisa bahagia meskipun bukan karenanya.
"Koko kapan pulang?" Tanya Khalisa.
"Kemarin baru aja sampe, nggak nyangka bisa ketemu disini." Levin mengembangkan senyumnya. "Kalian bertiga sama siapa?" Tanyanya.
"Koko nggak tahu dia siapa?" Kafa melirik Rindang.
"Temennya Khalisa ya?" Tanya Levin ragu.
"Koko beneran nggak kenal aku?" Rindang tak percaya jika Levin tidak mengenalinya, "kalau begitu perkenalkan nama aku Rindang Anjana." Katanya dengan nada serius, apakah orang-orang tidak mengenali Rindang dari sepasang matanya.
Levin terperangah tak percaya, "Rindang?"
Levin terkesima melihat penampilan Rindang yang baru, meski mereka sering bicara lewat telepon tapi Levin tidak tahu jika penampilan Rindang berubah total. Tidak ada lagi Rindang yang mengenakan kemeja crop dan celana sepaha atau Rindang yang suka gonta-ganti warna rambut. Entah kenapa mata Levin berkaca-kaca melihat penampilan baru Rindang, ia merasa kagum padanya.
Setelah mengobrol sebentar akhirnya Rindang dan Kafa memutuskan untuk berkeliling bersama Levin sedangkan Khalisa dan Azfan bersama Fawas serta Ayin.
"Koko pulang dalam rangka apa nih?" Tanya Rindang.
"Dalam rangka kangen Papa Mama dan Meylin, udah satu tahun nggak pulang, Mama ngomel terus nyuruh aku pulang."
"Betah banget kayaknya di Banyuwangi." Timpal Kafa, mereka sedang melewati lorong yang kanan kirinya terdapat Al-Qur'an dengan ukuran sedang.
"Sebenernya bukan betah sih—" Lebih ke lari dari patah hati karena ditinggal menikah sama Khalisa padahal ia bisa pulang sebulan sekali tapi ia menghindar agar tidak bertemu Khalisa.
Kampung halaman Khalisa justru menjadi tempat pelarian bagi Levin.
"Terus?" Rindang penasaran pada kalimat Levin selanjutnya.
"Karena keadaan, di rumah sakit sibuk banget sampai lupa waktu."
Rindang ragu dengan jawaban Levin karena ia selalu mendapat respon cepat ketika bertanya sesuatu.
"Tapi Rin, aku nggak nyangka loh kamu sekarang begini." Levin segera mengalihkan pembicaraan yang tidak menarik itu.
"Begini gimana?"
"Ya begini." Levin menunjuk Rindang dari kepala hingga kaki yang hampir semuanya tidak terlihat, hanya sepasang mata sipit Rindang yang nampak.
"Aku nyaman seperti ini."
"Alhamdulillah, semoga cahaya hidayah selalu menerangi kamu."
"Menerangi kita semua." Sahut Kafa, ia sendiri kagum pada Levin dan Rindang yang meskipun tidak terlahir sebagai muslim tapi ketaatan mereka sangat luar biasa. Kafa jadi insecure berada di dekat mereka, perasaan yang tak pernah dialaminya sejak lahir. Kafa selalu percaya diri tapi dua orang itu membuatnya merasakan hal tersebut.
"Aamiin." Levin dan Rindang mengaminkan doa Kafa bersamaan.
__ADS_1