Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
53


__ADS_3

Area sepanjang jl. Malioboro padat oleh pengunjung yang sedang menikmati acara festival kesenian dan kerajinan tangan. Malioboro memang tak pernah sepi oleh wisatawan, itu sudah seperti tempat wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.


Jika hari biasa di pinggir jalan kanan dan kiri terhadap para pedagang yang menjual berbagai cindera mata dan makanan khas Yogyakarta. Namun hari ini Malioboro tampak berbeda dengan berbagai kesenian dan kerajinan tangan dipajang di sepanjang 2 kilometer.


Khalisa baru saja memarkirkan mobilnya di tengah mobil yang lain, ia hampir saja tidak mendapat tempat parkir karena didahului orang lain. Namun Rindang dengan gaya ketusnya bilang bahwa mereka mendapatkan tempat tersebut lebih dulu. Hingga akhirnya mereka bisa turun dari mobil untuk ikut menyaksikan festival tersebut.


Tahun kemarin juga ada festival serupa tapi kabarnya tahun ini akan berlangsung lebih meriah karena lebih banyak pengrajin yang ikut serta dalam acara itu.


"Kamu kenapa pakai high heels gitu sih?" Khalisa mengomel karena Rindang justru memakai high heels setinggi 7 centimeter padahal mereka akan berjalan sepanjang 1 kilometer. Seharusnya Rindang mengenakan alas kaki yang nyaman.


"Jason!" Rindang mengabaikan omelan Khalisa dan melambaikan tangan pada sang pacar yang terlihat telah menunggunya. "Tenang Jason pasti bawa sandal ku di mobilnya."


"Bersyukur kamu punya pacar kayak Jason, dia udah kayak asisten pribadi kamu."


"Asisten pribadi gratis." Rindang nyengir, "kita jalan bertiga nggak apa-apa ya?"


"Kalau sampai nggak mau, aku pecat kamu jadi pacar Rindang." Sahut Khalisa yang sontak membuat Jason tertawa.


"Tuh denger, dia lebih berkuasa atas hidup aku." Canda Rindang.


"Ya udah jalan bertiga biar kayak orangtua dan anak nanti aku jajanin sekalian." Jason sama sekali tidak masalah jika mereka bertiga berjalan bersama. Lagi pula mereka juga sering menghabiskan waktu bersama-sama sebelumnya.


"Maksud kamu, anaknya aku gitu?" Khalisa tak terima.


"Nggak mungkin anaknya shalihah," Rindang menunjuk Khalisa, "ibunya begini." Ia menunjuk dirinya sendiri yang hanya mengenakan kaos oblong dan jeans di atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya.


"Udah ah yuk jalan." Khalisa menarik tangan Rindang agar segera berjalan menelusuri jalan yang semakin padat itu.


"Pokoknya hari ini jangan ada yang ngeluarin duit, biar aku yang traktir." Ujar Jason karena tak hanya kerajinan tangan, berbagai makanan juga dijual sepanjang jalan yang akan mereka lewati.


"Aku beli yang mahal nggak apa-apa?" Rindang menggandeng tangan Jason sedangkan tangannya yang lain berada dalam genggaman Khalisa.


"Tentu aja." Jason tersenyum lebar karena ia tahu tak ada makanan mahal di sekitar sini, harga rata-rata dari mereka tidak lebih dari 100 ribu.


"Sa, terang bulan." Rindang menunjuk gerobak penjual martabak dan terang bulan tak jauh dari mereka.


"Eh nggak boleh ya kamu makan itu."


"Cuma nunjuk doang bukan berarti mau beli." Rindang mengerucutkan mulutnya.


"Nggak apa-apa segigit." Jason tahu Rindang ingin makan kue tersebut.


"Jason!" Khalisa melempar tatapan tajam pada Jason. "Itu banyak gulanya, tolong jangan main-main." Katanya dengan wajah serius.


"Oke-oke." Jason sedikit mengangkat tangannya tidak mau lagi melanggar larangan Khalisa.


"Azfan ikut festival ini juga loh." Kata Rindang berusaha tidak menoleh pada penjual terang bulan yang semakin dekat, ia juga menahan napas agar tak mencium aroma mentega dan adonannya yang gurih dan manis. Rindang tidak tahu kapan terakhir kali makan martabak manis atau yang biasa ia sebut terang bulan itu.


"Tahu dari mana?" Khalisa berusaha memasang wajah datar meski jauh dalam hatinya ia terkejut karena ia tidak tahu tentang hal itu.


"Kemarin aku nanya, katanya dia ikut festival ini."


"Oh ya?" Khalisa sendiri tidak tahu kalau ternyata Azfan ada disini, itu artinya ia harus membawa pulang beberapa pajangan karena pasti Azfan menjual banyak kaligrafi dan pajangan lainnya. Dinding apartemen Khalisa tak akan kosong lagi karena ia akan menempelkan berbagai kaligrafi karya Azfan.


"Kamu suka telepon si Azfan itu?" Tanya Jason.

__ADS_1


"Engga suka juga, aku tahu festival ini kan jadi aku nanya sama Azfan dia ikut nggak, ternyata ikut."


"Oh." Jason hanya ber-Oh ria.


"Jangan cemburu." Rindang mencubit lengan Jason pelan, andai saja Jason tahu kalau Khalisa dan Azfan saling menyukai maka ia tak perlu repot-repot cemburu terhadap Azfan. "Kayaknya ini nih stan nya Azfan tapi kok bukan Azfan ya yang jaga." Rindang menunjuk stan yang memajang berbagai kaligrafi dan pajangan dinding.


Khalisa melangkah menghampiri stand tersebut, ia juga mengenal kaligrafi yang semuanya berbeda itu. Azfan memang ingin para pembelinya mendapat kaligrafi ekslusif buatannya.


"Mas, ini stand nya Azfan bukan?" Tanya Rindang.


"Iya benar." Jawab lelaki seumuran Azfan itu sopan.


Terdapat beberapa pengunjung yang juga melihat-lihat pajangan dinding disana.


"Dengan siapa?" Giliran Khalisa bertanya, ia memang suka mengoleksi nama-nama orang di otaknya.


"Saya Idris temennya Azfan."


"Oh kami juga temennya Azfan." Rindang menunjuk mereka bertiga.


Khalisa tersenyum lebar, siapa juga yang tanya?


"Azfan nya kemana Mas Idris?" Khalisa melihat kaligrafi di stan tersebut menimbang-nimbang manakah yang akan ia bawa pulang.


"Lagi sholat ashar, panggil Idris aja saya seumuran Azfan kok." Idris melihat Khalisa, Rindang dan Jason bergantian. Ia menebak bahwa mereka adalah orang kaya yang kehilangan cara untuk menghabiskan uangnya sehingga pergi kesini. Teman anak kuliahan memang beda, begitu pikir Idris. Meski pakaian mereka sederhana tapi itu tidak menutupi aroma kekayaan mereka.


"Oke Idris."


"Aku mau beli ini buat Mama kamu." Rindang menunjuk satu pajangan bertuliskan Be the Energy You Want to Attract.


"Khalisa, kamu disini?" Azfan datang dengan senyum bermekaran, dari kejauhan ia tidak bisa melihat sosok Khalisa karena terhalang oleh pengunjung lain. "Rindang dan Jason juga."


"Azfan, aku baca chat di grub katanya kamu ditunjuk Kak Hasan untuk ikut program latihan bagi Qori' dan Qori'ah ke Turki, kamu jadi ikut?" Khalisa ingin bertanya hal itu pada Azfan tapi ia malu menanyakannya melalui pesan, ia lebih punya nyali bertanya langsung pada orangnya.


"Inshaa Allah aku ikut." Setelah berpikir semalaman akhirnya Azfan menyetujui program tersebut. Meski sekarang ia disibukkan dengan kegiatan festival ini tapi ia tetap akan membagi waktunya untuk ikut program itu. Azfan juga telah meminta Idris temannya dari Bantul untuk menjaga toko saat ia pergi ke Turki. Azfan tidak tahu sejak kapan ia senang disibukkan oleh kegiatan seperti ini karena dulu ia hanya terus bekerja sepulang kuliah. Namun sekarang Azfan bersyukur karena diberi kesempatan untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan.


"Semoga semuanya lancar dan membawa berkah." Doa Khalisa untuk Azfan, tadinya ia akan merayu Azfan jika memang lelaki itu tidak mau ikut. Namun Azfan sekarang lebih memiliki kepercayaan diri setelah mengikuti lomba beberapa waktu lalu.


"Aamiin, makasih Khalisa, eh maaf Mas, bisa jaga jarak?" Azfan mengulurkan tangannya meminta salah satu pengunjung lelaki yang hampir bersentuhan dengan Khalisa.


Khalisa terkejut, ia sedikit mundur untuk memberi ruang pada pengunjung itu. Ia berpindah ke dekat Rindang yang masih sibuk memilih pajangan untuk diletakkan di rumah Jason.


"Azfan, boleh minta tolong nggak, ini kan banyak pajangan nya yang harus dibawa terus Khalisa sama aku masih mau jalan ke ujung sana," Rindang memasang wajah memelas, "tolong taruh ini di mobilnya Khalisa."


"Boleh-boleh." Azfan tersenyum lebar melihat ekspresi Rindang, "dimana parkirnya."


"Disana!" Rindang menunjuk ke salah satu tempat parkir tak jauh dari sana. "Kasih kuncinya Sa." Ia menyikut lengan Khalisa agar segera memberikan kunci mobilnya pada Azfan.


"Beneran nggak apa-apa?" Khalisa ragu jika harus meminta Azfan meletakkan semua yang ia dan Rindang beli ke mobil.


"Nggak mungkin kalian bawa ini jalan kesana kemari kan?"


"Ya udah, makasih Fan." Khalisa memberikan kunci mobilnya pada Azfan.


Sementara Azfan meletakkan pajangan yang telah Rindang dan Khalisa beli, sang pemilik lanjut menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Kerajinan yang dipamerkan tak ada yang tidak menarik perhatian. Bahkan kalau bisa Rindang ingin membawa mereka semua ke apartemen. Sayangnya itu tidak mungkin karena apartemen nya juga sudah penuh. Berbeda dengan apartemen Khalisa yang sangat rapi dan teratur, tak ada barang berserakan.

__ADS_1


"Ngapain Mas?"


Azfan terkejut mendengar suara seseorang di belakangnya ketika ia baru meletakkan pajangan milik Rindang dan Khalisa. Azfan mendapati Kafa berada di hadapannya dengan pandangan menelisik.


"Aku lagi naruh barang-barang nya Khalisa sama Rindang." Jawab Azfan.


"Oh, ini mobil Ce Khalisa kan?"


"Iya."


"Orangnya kemana?"


Azfan juga tidak tahu Khalisa sekarang ada dimana karena ia kesini untuk meletakkan pajangan tersebut.


"Coba kamu telfon aja, aku juga nggak tahu Khalisa dimana sekarang."


"Ternyata kalian masih akrab aja ya?"


"Maksud kamu, aku nggak boleh akrab sama Khalisa dan Rindang?" Azfan mengerutkan kening bahkan alisnya hampir bertaut.


"Bukannya waktu itu aku udah jelasin semua, aku cuma minta kamu berpikir dua kali untuk mendekati Cece ku, apa kalimatku kurang jelas?"


Azfan membalas tatapan tajam Kafa, mungkin saat itu ia bisa mengerti jika Kafa berkata demikian terhadapnya. Namun sekarang Azfan tidak bisa tinggal begitu saja.


"Aku bahkan berpikir seribu kali untuk mendekati Khalisa, aku bukan orang yang mudah yakin terhadap sesuatu dan aku menghargai kamu sebagai sepupu Khalisa tapi jawabanku tetap sama, aku akan memperjuangkan Khalisa."


Khalisa terpaku di balik mobilnya mendengar percakapan Kafa dan Azfan, ia menutup mulutnya karena terkejut. Khalisa tidak pernah menyangka bahwa Kafa akan bicara seperti itu pada Azfan.


"Kafa, kamu disini?" Khalisa akhirnya menunjukkan diri, ia tidak mau mendengar kalimat apa yang akan Kafa ucapkan selanjutnya. Ia juga tidak bermaksud menguping karena tujuannya kesini adalah mengambil topi di dalam mobil sebab matahari begitu terik meski sudah sore.


"Khalisa, ini kunci mobil kamu." Azfan memberikan kunci mobil Khalisa.


"Maaf ngerepotin, makasih ya Fan."


"Sama-sama, kalau gitu aku balik ke stand ya." Azfan segera undur diri dari sana, dalam hati ia berharap Khalisa tidak mendengar percakapannya dengan Kafa barusan.


"Cece udah lama berdiri disana?" Kafa bertanya gugup.


"Lumayan untuk denger percakapan kalian walaupun nggak semua." Khalisa membuka pintu dan mengambil topi putih di kursi penumpang lalu mengenakannya. "Kamu pernah ngobrol sama Azfan, kok nggak bilang sama Cece?" Khalisa menatap Kafa lurus.


"Aku nggak bermaksud apa-apa, aku cuma nggak mau Cece deket sama orang yang salah."


Khalisa mengerutkan kening dan melipat tangan di depan dada, "Cece nggak nanya itu."


"Iya waktu Cece merekomendasikan toko Mas Azfan ke aku, besoknya aku kesana dan karena ada kesempatan berdua aku nanya kenapa kalian deket."


"Terus?"


Kafa tidak mampu melanjutkan kalimatnya, walau bagaimanapun ia tetap akan salah di depan Khalisa. Kafa tidak memiliki maksud lain kecuali ia ingin sesuatu yang terbaik untuk Khalisa terutama pasangan hidup.


"Kamu bilang nggak mau Cece deket sama orang yang salah, memangnya orang yang bener seperti apa menurut kamu?"


"Ce!" Kafa menarik lengan gamis Khalisa agar mereka berhenti membicarakan ini, ia tidak mau berdebat dengan Khalisa.


"Kafa, kamu nggak boleh kayak gitu lagi, kebahagiaan seseorang itu nggak dilihat dari kekayaan mereka tapi bagaimana cara kita bersyukur atas nikmat Allah yang berikan. Kafa kamu harus tahu kalau Azfan adalah laki-laki pertama yang bikin Cece jatuh hati dan Cece akan menjadikannya yang terakhir, tolong hargai keputusan ini." Khalisa melepas tangan Kafa yang memegang lengan gamisnya.

__ADS_1


Kafa tertegun mendengar kalimat Khalisa, ia bahkan tidak berani menatap kepergian Khalisa karena terlalu terkejut.


__ADS_2