
Senyum Rindang mengembang puas melihat ruang kerjanya sendiri yang telah ia dekor ulang. Sebenarnya tidak banyak perubahan, Rindang hanya membuang barang-barang lama yang tidak diperlukan dan menambah satu manekin di sudut ruangan untuk memajang baju hasil jahitannya. Reaksi Rindang terlalu berlebihan untuk ruangan yang tidak banyak berubah. Itu karena Rindang tidak pernah membereskan apartemen nya. Rindang selalu menggunakan jasa orang lain untuk melakukannya. Namun beberapa Minggu terakhir Rindang mengisi waktu luangnya dengan membersihkan apartemen sendiri. Ternyata itu adalah hal yang menyenangkan.
Denting bel mengalihkan perhatian Rindang, sebelum keluar ia lebih dulu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Siapa yang datang hampir tengah malam begini apalagi di luar sedang hujan. Rindang ragu-ragu hendak melangkah ke ruang tamu. Ia punya pengalaman buruk soal bunyi bel atau ketukan pintu.
Mengingat Rindang jarang menerima tamu di apartemennya, ia jadi makin parno. Pikirannya melayang kemana-mana. Sejak memutuskan memeluk Islam jaringan pertemanannya menyempit. Rindang tak lagi berteman dengan orang yang tidak bisa menerima perubahannya.
"Khalisa!" Rindang membelalak melihat wajah Khalisa muncul pada monitor, ia buru-buru membuka pintu karena wajah sahabatnya itu tampak kusut dan basah kuyup seperti kucing kecebur got. "Kamu ngapain hujan-hujanan gini." Rindang menarik Khalisa masuk. "Di rumah nggak ada payung emang?" Rindang lebih kaget lagi melihat kaki Khalisa yang hanya terbungkus kaos kaki tanpa sandal.
Rindang mendorong bahu Khalisa mendudukkannya di sofa. Rindang melepas kaos kaki Khalisa hingga ia bisa melihat sepasang kaki Khalisa yang putih pucat dan berkerut. Berapa lama Khalisa berada di bawah hujan. Rindang yakin bukan hanya satu dua jam karena keadaan Khalisa terlihat sangat kacau.
"Ganti baju dulu ya." Ucap Rindang lembut, ia tak tahu apa yang terjadi pada Khalisa tapi hal pertama yang harus dilakukannya adalah mengganti pakaian Khalisa.
Khalisa menghambur ke pelukan Rindang dan terisak, air matanya kembali mengalir deras seperti hujan yang turun malam itu. Khalisa sudah terlalu lama menangis tapi air matanya tak juga surut. Ia memiliki stok air mata yang melimpah.
Rindang menepuk-nepuk punggung Khalisa untuk menenangkannya, ia tak masalah jika bajunya ikut basah karenanya. Jika Khalisa menangis sehebat ini berarti bukan masalah sepele. Rindang tahu betul Khalisa adalah orang yang jarang menangis.
Setelah lebih tenang Rindang membimbing Khalisa mandi air hangat agar tidak masuk angin dan mengganti pakaian. Khalisa belum mengucapkan apapun. Rindang juga tidak bertanya lebih lanjut mengapa Khalisa berjalan kaki di tengah hujan dari rumah hingga kesini. Jarak tempat tinggal mereka memang tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit jika berjalan kaki.
"Ada apa?" Rindang menatap Khalisa yang duduk bersila di hadapannya. Pandangan Khalisa masih setia pada bed cover putih yang baru Rindang ganti.
Apartemen Rindang adalah tempat terakhir yang Khalisa tuju dengan harapan bisa menemukan Azfan disini meski itu hampir tidak mungkin. Khalisa telah mencari Azfan ke toko kaligrafi, menelepon mertuanya di Bantul, Kafa, Huma hingga Geza, siapapun yang berkelebat di pikirannya. Namun Azfan tidak ada. Seharusnya jika Azfan pergi ke Bantul, saat ini ia sudah sampai. Namun Kirana justru mengatakan Azfan tidak mungkin pulang tanpa Khalisa.
Khalisa putus asa tak tahu harus mencari Azfan kemana lagi. Kali ini kesalahannya luar biasa besar, lebih besar dari gunung Merapi yang setiap hari menjadi pemandangannya saat berada di teras rumah.
"Sini." Rindang kembali menarik Khalisa ke dalam pelukannya setelah mendengar semua cerita Khalisa. Rindang tidak mau menyalahkan Khalisa ataupun Azfan. Tidak sekarang.
"Aku minta Azfan nikah sama Naira." Lirih Khalisa setelah mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya.
Tubuh Rindang menegang tidak percaya pada apa yang Khalisa katakan. Kenapa Khalisa melakukan hal sebodoh itu.
"Terus?" Rindang berusaha mengkondisikan keterkejutannya.
"Mas Azfan marah besar dan pergi."
"Kenapa kamu gegabah banget ngelakuin hal itu, aku tahu kamu pengen punya anak tapi kalaupun Azfan nikah lagi, itu bukan anak kamu, itu anak Azfan dan wanita lain lalu apa bedanya sama adopsi anak." Rindang mengurai pelukan menatap Khalisa. "Kamu bisa berbagi suami?"
__ADS_1
Khalisa menggeleng, Bunda Aisyah saja sering cemburu pada istri-istri lain Rasulullah apalagi hanya seorang Khalisa.
"Kamu bisa gambar apapun bentuk baju yang kamu pengen, bebas tanpa batas dan kamu juga bisa jahit sendiri tapi enggak dengan kehidupan rumah tangga."
"Justru aku sama sekali nggak berpikir kalau kami akan mendapatkan anak dari Naira—"
"Naira?" Entah berapa kali Rindang dikejutkan oleh kalimat-kalimat Khalisa, ternyata Khalisa telah menyiapkan semuanya sampai sejauh ini.
"Kemarin aku ketemu Naira—"
Khalisa mengangkat wajah menatap Rindang, ia memulai cerita pertemuannya dengan Naira kemarin. Tak hanya membahas soal kaligrafi yang Naira inginkan, pembahasan mereka jauh lebih dalam dari yang Khalisa pikirkan.
*******
"Kenapa kamu beli kaligrafi yang ini, ukurannya besar banget loh ini." Khalisa melihat Idris yang tengah menurunkan kaligrafi ayat kursi berukuran 1 meter.
Naira hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan Khalisa, ia memang menginginkan kaligrafi ini untuk dipajang di ruang tengah rumahnya. Naira berharap orang-orang di rumah menyukai kaligrafi indah tersebut apalagi si pembuatnya adalah Azfan. Setidaknya Naira bisa membawa pulang karya Azfan karena ia tidak mungkin membawa si pembuatnya.
"Kamu kelihatan kurang istirahat, jadwal kuliah lagi padat banget ya." Khalisa melangkah ke meja kasir sementara Idris memasukkan kaligrafi itu ke dalam mobil Naira.
"Aku sakit." Naira menyodorkan ponselnya men-scan kode QR untuk membayar dua kaligrafi yang sudah dipilihnya.
"Nggak bisa kalau cuma pakai vitamin." Naira kembali memasukkan ponsel ke dalam kantong cardigan nya.
Khalisa mengelilingi meja kasir mengambil satu kursi untuk Naira, mereka duduk berhadapan. Sekilas ia melihat Huma yang dari tadi sibuk membaca novel di sudut ruangan, keluar sambil bicara dengan seseorang melalui telepon. Khalisa ingin bertanya kemana Huma hendak pergi tapi melihat wajah serius Naira, ia lebih memilih menaruh perhatian pada gadis seumurannya itu.
"Kamu sakit apa Nai?" Khalisa bertanya dengan hati-hati, apakah ada yang lebih buruk dari diabetes tipe satu yang diderita Rindang. Khalisa ngeri membayangkan nya.
"Aku belum cerita ini sama siapapun termasuk Abah dan Umi," Naira menegakkan duduknya. "Kamu pernah dengar istilah Complex Regional Pain Syndrome?"
Khalisa menegang mendengar nama penyakit yang Naira katakan, ia menggeser kursinya lebih dekat dengan Naira. Ia menggeleng pelan tidak percaya.
"Kamu nggak mungkin sakit itu." Khalisa spontan menyentuh punggung tangan Naira. Dingin.
"Nyatanya begitu." Naira tertawa menguarkan kesedihan yang selama ini bersemayam di hatinya. Ia tertawa seolah bisa menghadapi penyakit ini padahal tidak sama sekali. Naira ingin menyerah tapi ia belum berjuang. Apalagi yang bisa dilakukannya. Dunianya gelap. "Setelah ini aku akan pindah ke Yaman."
__ADS_1
"Abah dan Umi setuju?" Potong Khalisa.
Naira mengangguk, "walaupun mereka nggak tahu alasan sebenarnya tapi mereka mendukungku."
"Kamu mau hidup sendiri jauh dari keluarga dan tanah kelahiran mu?"
"Aku nggak sendiri, aku akan punya banyak temen disana."
"Kamu terdengar putus asa."
"Aku nggak boleh putus asa, Allah maha adil, Dia memberikan kesehatan pada sebagian orang dan memberikan kekuatan pada sebagian yang lain."
Khalisa menggenggam tangan Naira yang gemetar, ia tahu betapa beratnya menerima kenyataan tapi Allah memberikan cobaan bersama dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
"Khalisa karena setelah ini kita mungkin nggak akan ketemu, aku boleh bilang sesuatu?" Naira meletakkan tangannya yang lain di atas tangan Khalisa.
"Tentu aja, apapun itu."
"Maaf Khalisa, sebenarnya aku pernah berkhayal menikah dengan Azfan." Naira tertawa di ujung kalimatnya menutupi rasa gugup yang semakin menyelimutinya.
Naira menaruh rasa terhadap Azfan sejak mereka masih SMA. Apalagi setelah tahu Azfan juga menyukainya. Naira selalu menunggu Azfan menyatakan perasaan padanya. Usia mereka masih sangat muda tapi Naira berpikir bukan tidak mungkin mereka menikah diusia. Dua kakak laki-laki Naira juga menikah sebelum usia 20. Namun ternyata hingga keluar dari pondok Azfan tidak juga menyatakan perasaan nya. Setelah itu Naira tidak pernah mendengar kabar Azfan, ia juga mulai belajar melupakan perasannya.
"Waktu reuni dulu, aku semangat banget mau ikut karena Azfan akan hadir tapi aku baru tahu kalau ternyata dia sudah menikah."
"Mas Azfan bilang kamu cinta pertamanya." Sela Khalisa.
"Ajaibnya aku bisa berteman baik dengan istri Azfan, kamu wanita yang luar biasa baik." Mata Naira berkaca-kaca antara terharu dan sedih karena keadaannya sekarang tidak lagi seperti dulu. Naira merasa dirinya terlahir kembali sebagai manusia lain.
"Kamu mau menikah sama Mas Azfan?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Khalisa. Sedetik kemudian Khalisa terkejut karena pertanyannya sendiri.
"Azfan nggak mungkin mau."
"Kamu mau?"
Naira mengangguk lalu menggeleng dengan cepat, ia melepaskan tangannya dari genggaman Khalisa. Mereka memang berteman baik tapi tidak mungkin Naira melakukannya. Sebesar apapun Naira mencintai Azfan, ia tak mungkin menjadi duri dalam rumah tangga Khalisa dan Azfan.
__ADS_1
******
"Kalau cuma Naira yang sakit jadi alasanmu buat nikahin dia sama Azfan, aku juga sakit loh!" Gerutu Rindang geram pada keputusan Khalisa. Kalau sampai itu terjadi Rindang akan berdiri paling depan untuk menggagalkannya lagi pula ia pakai cadar. Orang-orang tak akan mengenalinya.