
Selama lima hari dirawat di rumah sakit Khalisa tidak mau dijenguk siapapun. Bahkan saat Daniel dan Ica datang, Khalisa enggan menemui mereka. Khalisa hanya mau bicara dengan Azfan dan Azka. Khalisa terlihat ketakutan saat orang lain masuk ke ruangannya.
Daniel dan Ica sangat terpukul setelah mendengar kabar buruk yang menimpa Khalisa. Namun mereka bisa mengerti jika Khalisa belum mau ditemui siapapun. Begitulah cara Khalisa menyembuhkan rasa trauma nya. Daniel tahu butuh waktu yang lama untuk Khalisa kembali seperti dulu.
Azfan meminta maaf pada Daniel dan Ica karena ia tidak menjaga Khalisa dengan baik. Azfan telah mengingkari janjinya sendiri terhadap orangtua Khalisa yang telah menaruh kepercayaan penuh terhadap dirinya.
Dalam hal ini orangtua Khalisa tentu tidak bisa menyalahkan Azfan. Ini adalah musibah yang datangnya tak bisa mereka duga. Di masa depan mereka harus lebih hati-hati agar tidak ada kejadian serupa.
"Ma, Pa, Khalisa sudah tidur." Azfan keluar dari ruangan Khalisa, ia memberitahu Daniel dan Ica yang berada di depan ruangan itu.
"Kami masuk ya." Daniel segera beranjak, ia dan Ica harus menunggu Khalisa untuk melihat keadaannya.
"Iya Pa." Azfan menunggu di kursi sementara mertuanya melihat Khalisa.
Kondisi Khalisa sangat memprihatinkan, wajahnya penuh dengan luka lebam. Sudut bibirnya membiru.
Ica menggigit bibirnya menahan isak yang mungkin tak terkendali saat ia berjalan makin dekat ke ranjang Khalisa. Sejak sampai di rumah sakit, Ica dan Daniel hanya bisa melihat Khalisa dari jendela.
"Khalisa, maaf kamu harus mengalami hal seperti ini." Ica mengusap kepala Khalisa lalu mengecup keningnya.
Daniel marah saat tahu bahwa ini semua adalah perbuatan Revan. Ia ingin menghajar laki-laki itu tapi sayangnya Revan sudah berada di dalam tanah.
"Mama."
Ica terkejut melihat Khalisa membuka mata, ia buru-buru mengusap air matanya agar tidak ketahuan. Ica tahu Khalisa paling tidak suka melihat orang lain sedih karena dirinya.
"Maaf sayang, Mama bikin kamu bangun, kalau kamu nggak suka Mama dan Papa bisa keluar."
Khalisa menahan tangan Ica yang hendak pergi lalu menghambur ke pelukan sang mama.
"Khalisa takut Ma." Tangis Khalisa pecah, entah berapa banyak air mata yang telah keluar selama ia berada di rumah sakit. Setiap kejadian yang dialami Khalisa terekam jelas hingga sekarang.
"Jangan takut, ada Mama dan Papa disini, ada Azfan juga di depan." Suara Ica begitu lembut.
"Ma, laki-laki itu bilang dia mencintai Khalisa sesaat sebelum menembak dirinya sendiri, Khalisa nggak mau dicintai sama dia Ma."
"Ssshhh, dia bohong, yang cinta sama kamu itu Azfan, Mama, Papa dan Azka serta adik-adik kamu, kami semua mencintaimu, jangan percaya sama omong kosongnya." Ica mengusap-usap kepala Khalisa yang tertutup jilbab hitam.
Hati Ica hancur melihat Khalisa seperti ini, putrinya yang ceria itu berubah pendiam dan tak mau bertemu siapapun. Ica bisa merasakan tubuh Khalisa gemetar di pelukannya. Luka fisik Khalisa mungkin bisa sembuh dalam beberapa Minggu ke depan tapi tidak dengan luka dalam hatinya. Itu akan mengendap seumur hidup.
"Mama." Azfan masuk ke ruangan, "Ma, Zunai nyariin Mama."
"Iya sebentar." Balas Ica. Ia mencium kening Khalisa sebelum mengurai pelukan dan keluar ruangan.
Sebenarnya Khalisa merindukan orangtuanya tapi ia tak mau mereka melihat keadaannya yang menyedihkan. Setelah merasa lebih baik Khalisa baru mau bicara dengan mereka.
Daniel yang semula menunggu di sofa berpindah menggantikan posisi Ica.
"Gimana perasaan Khalisa?" Daniel bertanya dengan lembut, ia meraih tangan Khalisa dan menggenggamnya. Dulu tangan itu masih sangat kecil dan beraroma bayi. Sekarang Khalisa sudah menjadi seorang ibu. Usia Khalisa sudah 22 tahun tapi bagi Daniel, Khalisa tetaplah gadis kecilnya. "Papa nggak akan pernah mengerti bagaimana perasaan Cece Khalisa sekarang karena Papa nggak mengalaminya sendiri jadi Papa nggak pantas ngasih Khalisa nasehat."
"Kenapa Allah memberikan kesempatan Khalisa hamil kalau akhirnya diambil lagi?" Pandangan Khalisa kosong, ia sedang mencoba mengambil hikmah dari kejadian ini tapi walaupun memikirkan siang dan malam Khalisa tak bisa menemukan hikmah nya.
"Allah mau mengajarkan Khalisa untuk mengikhlaskan sesuatu." Daniel mengusap punggung tangan Khalisa. "Papa tahu ini berat untuk Khalisa dan Azfan tapi bukankah cobaan membuat kita jauh lebih dekat dengan Allah sebab kita jadi lebih banyak berdoa kepada-Nya."
Khalisa menekan dadanya yang terasa nyeri, ia kembali terisak.
"Khalisa harus kuat untuk Azka." Daniel menarik Khalisa ke dalam pelukannya. "Azka membutuhkan Umma nya, Azka ingin Umma nya kembali tersenyum seperti dulu."
Khalisa mengangguk, ia tidak boleh stress karena ia sudah berkomitmen untuk menyusui Azka hingga 2 tahun. Perjalanan Azka masih panjang. Setidaknya Khalisa bisa fokus pada Azka sekarang.
"Khalisa tidur lagi ya, Papa mau pulang sama Mama, kasihan Azka cuma berdua sama Mbak Nadira."
"Iya Pa."
Khalisa kembali berbaring, Daniel menarik selimut hingga menutupi Khalisa sebatas pinggang. Daniel mengusap kepala Khalisa dan mencium keningnya sesaat sebelum keluar dari situ.
******
Pagi harinya Azfan mengajak Khalisa jalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk menghirup udara segar karena selama 5 hari Khalisa sama sekali tidak keluar. Awalnya Khalisa ragu untuk keluar tapi Azfan meyakinkan nya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Bi, aku baru inget kalau hari itu aku janjian ketemu sama kakak nya Naira." Khalisa baru mengingat hal itu saat bangun tadi pagi.
"Iya, aku udah bilang sama dia kalau Umma dirawat di rumah sakit jadi belum bisa ketemu lagi."
__ADS_1
"Abi bawa hp ku nggak?" Khalisa menoleh melihat Azfan.
"Bawa." Azfan mengeluarkan ponsel Khalisa dari dalam saku jaketnya. Azfan justru meninggalkan ponselnya di ruang rawat Khalisa.
Khalisa mengirim pesan pada Naura untuk memintanya kesini jika ada waktu luang. Sebab Khalisa tidak tahu kapan ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, mungkin besok atau lusa tapi Khalisa penasaran apa yang ingin Naura bicarakan dengannya. Khalisa ingin bertanya mengapa Naira tidak mengirim pesan sendiri padahal sedang ada di Indonesia.
"Oh Mbak Naura langsung bilang bisa kesini." Khalisa mengembalikan ponselnya setelah memberitahu letak ruang rawatnya pada Naura.
"Syukurlah kalau begitu."
Mereka berhenti di taman samping rumah sakit dimana ada beberapa pasien lain yang juga sedang menikmati suasana pagi sambil berjemur. Matahari pagi baik untuk kesehatan.
"Umma mau sarapan apa, katanya Mama mau masak hari ini karena Umma bilang bosen sama makanan rumah sakit."
Khalisa memikirkan kira-kira makanan apa yang sering dimasak mama nya. Khalisa tidak mau membuat mama nya bersusah payah memasak jika ia minta sesuatu yang aneh.
"Sandwich aja Bi, pakai telur sama sayur."
"Apa itu bisa disebut memasak?"
"Masak juga, goreng telur kan pakai kompor." Khalisa menarik Azfan agar duduk di salah satu kursi disana. Azfan tidak tahu saja jika mertuanya sangat tak mahir memasak. Itu sebabnya saat Ica datang, ia lebih sering memesan makanan dari luar.
Azfan mengetik pesan untuk Ica, ia menyebutkan makanan yang Khalisa inginkan untuk sarapan pagi ini. Itu menu yang sangat simpel tapi cukup mengenyangkan.
Azfan menatap Khalisa, ia senang karena Khalisa mulai banyak bicara. Tidak seperti beberapa hari yang lalu, Khalisa hanya terdiam sepanjang hari dan menjawab seperlunya saat Azfan mengajak bicara.
"Abi nggak tanya gimana kronologi nya aku bisa dibawa sama Revan." Khalisa menatap lurus ke depan pada pasien anak-anak yang sedang bermain gelembung sabun.
"Walaupun ingin tahu aku nggak akan pernah tanya."
"Kenapa?"
"Itu cuma membuat Umma teringat kembali pada kejadian itu, aku nggak mau Umma semakin menderita." Azfan juga melarang semuanya untuk bertanya pada Khalisa tentang peristiwa itu. Pertanyaan itu sama saja seperti pisau yang menusuk-nusuk Khalisa dan menimbulkan luka baru. Jika sudah siap Khalisa akan menceritakannya tapi setelah itu Azfan tak ingin Khalisa mengingat-ingat peristiwa itu lagi.
"Dia udah mati tapi aku masih takut." Khalisa tersenyum getir, ini benar-benar berada di luar bayangannya. Khalisa pikir ia tak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi. Khalisa pikir Revan menyesal setelah membuatnya celaka hingga harus mendekam di penjara. Namun Khalisa salah besar, Revan kembali untuk mengukir kenangan buruk yang lebih dalam.
"Umma jangan takut, ada aku." Azfan merangkul Khalisa.
Dokter mengatakan tak ada luka dalam setelah melihat hasil MRI. Besok jika keadaan Khalisa sudah benar-benar membaik maka ia diperbolehkan pulang.
"Nanti siang ada pemeriksaan dari psikiater kami, saya harap Khalisa bisa lebih baik setelahnya."
"Terimakasih dokter." Ucap Khalisa.
"Saya permisi dulu." Dokter dan dua orang perawat itu keluar dari ruangan Khalisa.
Beberapa saat kemudian Ica datang membawa kotak makanan dan pakaian ganti untuk Azfan. Sesuai permintaan Khalisa, Ica membuat sandwich berisi telur dan sayur dengan saus tomat.
"Mama nggak perlu bawa baju ganti buat Azfan." Azfan merasa tidak enak karena Ica membawa baju ganti miliknya.
"Nggak apa-apa, itu Bu Kirana kok yang masukin." Ica duduk di sofa membuka kotak makanan yang dibawanya. "Ini punya Azfan." Ia memberikan satu kotak pada Azfan dan kotak lainnya pada Khalisa.
"Silakan nikmati sarapannya, Mama keluar dulu, Mama tinggalin Zunaira di lobi." Ica beranjak dari sana.
"Loh kok ditinggal sendiri Zunai, Ma?" Azfan melihat Ica yang berada di ambang pintu.
"Tahu nggak, dia heboh mau ketemu Cece nya, Mama nggak bolehin karena dia pasti berisik, takutnya ganggu pasien lain." Ica mengucapkan salam dan pergi dari sana.
"Kok punya Umma beda rotinya?" Azfan berpindah ke kursi dekat ranjang, ia melihat Khalisa mulai melahap sandwich buatan Ica.
"Ini roti gandum."
"Oh, yang biasa Rindang makan."
"Iya, roti gandum lebih sehat tapi rasanya lebih enak roti putih, Abi mau nggak?" Khalisa mendekatkan sandwich miliknya ke bibir Azfan.
Azfan menggigit sedikit roti tersebut, "tekstur nya lebih kasar."
"Iya makanya Mama pakai roti putih untuk sandwich Abi."
"Makan sandwich mengingatkan ku saat kita pergi bareng ke rumah ku, waktu itu Umma bikin sandwich buat kita semua." Azfan tersenyum mengingat momen dimana ia berada satu mobil untuk pertama kalinya. Saat itu Azfan merasa kagum pada sosok Khalisa yang sangat ramah dan suka berbagi.
"Setelah diingat sekarang, tanpa sadar saat itu sebenarnya aku udah jatuh cinta sama Abi." Khalisa memandang Azfan dalam.
__ADS_1
"Apa alasannya?"
"Karena selama perjalanan Abi nggak pernah lepas sama tasbih, Abi selalu berdzikir."
"Tapi Umma juga." Azfan melihat Khalisa selalu menyematkan tasbih digital di telunjuknya. Khalisa juga senantiasa berdzikir.
"Itu sebabnya aku jatuh cinta, karena aku yakin Abi akan jadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti."
Azfan tersipu, wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia menghabiskan sandwich nya dengan cepat karena salah tingkah dipuji seperti itu oleh Khalisa. Azfan bahkan tak tahu seperti apa rasa sandwich buatan mertuanya, ia hanya memakannya sampai habis tanpa mengecap rasanya.
******
Naura menaiki lift menuju lantai 4, ia telah membaca pesan Khalisa sekali lagi sebelum melangkah masuk rumah sakit. Sebenarnya Naura sudah mendengar kabar bahwa Khalisa menjadi korban penculikan tahanan yang kabur bernama Revan itu. Saat itu Naura ingin langsung melihat kondisi Khalisa tapi ia tak tahu rumah sakit tempat Khalisa dirawat. Ternyata letaknya tak jauh dari rumahnya.
Naura melihat nomor pada pintu ruangan dengan teliti. Naura menghentikan langkah setelah menemukan nomor 35. Ia ragu-ragu untuk mengetuk pintunya, takut jika Khalisa sedang istirahat.
Tak lama kemudian pintu terbuka, Azfan muncul dari balik pintu. Naura mengingat Azfan sebagai sosok laki-laki yang pernah Naira sukai dulu hingga Naira berangkat ke Yaman. Naura tak habis pikir bagaimana caranya Naira dan Khalisa berteman. Keduanya mencintai orang yang sama tapi masih bisa menjalin pertemanan.
Azfan mempersilakan Naura masuk sementara ia keluar sebentar agar Khalisa dan Naura leluasa berbicara.
"Maaf Mbak, aku nggak datang hari itu." Khalisa turun dari ranjang melihat Naura datang.
"Jangan minta maaf, aku sudah dengar semuanya, yang penting sekarang kamu baik-baik saja." Naura mengulas senyum, ia prihatin melihat kondisi Khalisa. Jalan Khalisa sedikit pincang dan terhadap luka lebam di wajahnya. Seharusnya Naura yang minta maaf karena jika siang itu ia tidak mengajak Khalisa bertemu, mungkin Khalisa tak akan mengalami ini.
Khalisa mengajak Naura duduk di sofa, ia meletakkan sebotol jus jambu merah dan buah apel di atas meja.
Sekarang Naura mengerti mengapa Naira bisa berteman dengan Khalisa. Saat sakit seperti ini Khalisa masih memperlakukan Naura sebagai tamu dengan menyajikan minum di atas meja. Khalisa sangat baik, jauh dari perkiraan Naura.
"Aku yang harus minta maaf, andai aku datang langsung ke rumah mu mungkin kejadiannya nggak akan kayak gini."
Khalisa menggeleng, "kalau hari itu dia nggak berhasil, dia akan mencoba hari lain jadi walaupun hari itu aku nggak pergi pada akhirnya dia pasti berhasil melakukan aksinya."
"Aku datang kesini buat ngasih ini." Naura menyodorkan amplop putih pada Khalisa. "Naira yang minta aku buat ngasih amplop ini ke kamu."
Khalisa mengambil amplop tersebut dan membukanya dengan tidak sabar. Tadinya Khalisa ingin bertanya mengapa Naura tidak datang bersama Naira. Namun Khalisa menjawab rasa penasarannya sendiri, mungkin Naira tidak bisa keluar karena fokus pada bayinya. Harusnya anak Naira sudah lahir berdasarkan perhitungan Khalisa.
Khalisa, aku mau bilang terimakasih yang sebesar-besarnya karena selama ini kamu udah baik banget sama aku. Kamu menguatkan ku di tengah penyakit ku yang nggak bisa sembuh. Kamu ahlinya menyemangati orang lain, entah bagaimana kalau kamu sedih, siapa yang akan memberimu semangat. Kamu bisa menyemangati dirimu sendiri kan?
Kamu selalu mengutamakan orang lain, lain kali pikirkan dirimu sendiri. Itu penting Khalisa dan jangan pernah minta suami mu menikah lagi. BIG NO!
Khalisa, jangan sedih. Inshaa Allah saat kamu menerima surat ini aku sudah tenang di pangkuan bumi. Aku harap kamu dan bayi mu lahir sehat. Selamat menanti anak kedua. Apa kamu juga akan punya seorang putri?
Khalisa menjatuhkan kertas itu setelah membaca sebagian isinya. Khalisa tak percaya ini, apa maksudnya? Tidak, ini pasti salah.
Khalisa melihat Naura yang menatapnya sendu, "Mbak?"
Naura mengangguk, ia mengerti apa yang sedang Khalisa tanyakan sekarang.
"Sudah 20 hari sejak Naira meninggalkan kami semua."
"Mbak, kenapa ... kenapa aku nggak tahu kalau Naira—" Khalisa tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ini terlalu menyesakkan.
"Naira yang meminta kami untuk merahasiakan kepulangannya kesini, Naira nggak mau ada orang tahu kondisinya, hingga Naira mengembuskan napas terakhir, nggak ada yang tahu kecuali keluarga dekat."
Khalisa menutup wajahnya dengan tangan, ia tak sanggup menerima kabar ini. Khalisa pikir Naira sedang fokus menyambut kelahiran anaknya, itu sebabnya Khalisa tidak mendapat kabar Naira. Namun ternyata—
"Naira meninggal saat melahirkan anaknya, dokter bilang kondisinya sudah cukup parah tapi Naira masih bisa melahirkan putrinya."
Tangis Khalisa pecah mendengar cerita Naura, kepalanya pening tak sanggup membaca surat itu lagi. Khalisa bahkan belum mengucapkan selamat atas kelahiran anak Naira. Khalisa terisak-isak memungut surat itu kembali.
Naura memeluk Khalisa, sebelum pergi kesini ia sudah berjanji untuk tidak menangis. Namun siapa yang sanggup menahan tangis ketika kehilangan sosok sang adik.
Bicara soal putri, aku titip Ravina pada Rindang. Aku percaya Rindang dan suaminya bisa menyayangi Ravina seperti anak kandung sendiri. Ravina memiliki arti langit yang cerah. Aku harap Ravina bisa membuat hidup Rindang semakin cerah. Rindang boleh menyematkan nama belakangnya, seperti Ravina Anjana.
Aku bahagia sekali karena sebelum meninggal, Allah memberiku kesempatan menikah dengan laki-laki yang amat mencintaiku, hamil dan melahirkan seorang putri cantik.
Khalisa sesenggukan, dadanya semakin terasa sesak seperti dihujam benda tumpul berkali-kali. Pandangannya berkunang-kunang. Bumi seperti berhenti berputar saat itu juga.
Terimakasih Khalisa dan Rindang. Kita bicara banyak hal lagi nanti, di surga Allah kalau ada kesempatan. Tolong cari aku kalau kamu nggak menemukan ku di surga.
__ADS_1