
"Mas tolong!" Khalisa berteriak membangunkan Azfan dari tidurnya.
"Kenapa sayang?" Azfan melihat wajah Khalisa berderai air mata, ia segera memeluk sang istri yang sepertinya baru mengalami mimpi buruk. Azfan dapat merasakan tubuh Khalisa gemetar di pelukannya. "Haura tenang ya, ada aku ssshhh." Azfan menepuk-nepuk punggung Khalisa.
"Aku mimpi Revan—" Khalisa tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia bermimpi seolah-olah berada di kejadian itu lagi, di gudang basemen dan Revan menarik jilbab Khalisa lalu melemparnya hingga terbakar.
"Haura tenang ya, Revan nggak akan pernah melakukan itu lagi." Azfan mengecup puncak kepala Khalisa hingga ia bisa mencium aroma floral dari rambut Khalisa. Ini bukan pertama kalinya Khalisa mimpi buruk tentang Revan di tengah malam. Saat itu terjadi Azfan berperan penting untuk menenangkan Khalisa sekaligus meyakinkannya bahwa Azfan akan selalu melindungi Khalisa.
Seseorang yang ceria seperti Khalisa memang biasanya suka memendam kesedihan seorang diri. Khalisa bisa tertawa di depan banyak orang seolah ia baik-baik saja. Namun Azfan tahu Khalisa sering menangis dalam sholat dan doa-doa panjangnya saat malam hari.
"Aku mau ke kamar mandi." Lirih Khalisa setelah cukup tenang, tangisnya juga sudah reda berkat Azfan yang menenangkannya. Khalisa tak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Azfan di sampingnya. Khalisa akan menangis seorang diri dan memeluk dirinya sendiri.
"Aku anterin ya."
"Nggak usah Mas." Tolak Khalisa halus. Khalisa meraih jilbab nya yang digantung di belakang pintu lalu keluar dari kamar.
Azfan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 1 malam, ia ikut bangun dari posisi tidur menunggu Khalisa kembali. Ia berdoa agar Allah menyembuhkan luka Khalisa saat ini dan diberi ketabahan setelah kehilangan Renata—salah satu orang yang paling berharga bagi Khalisa.
Azfan beranjak menyusul Khalisa, karena sudah bangun jadi sekalian mereka mendirikan shalat tahajjud.
"Sayang, belum selesai?" Azfan menunggu di depan pintu kamar mandi, ia mendengar kran dimatikan lalu pintu terbuka. Khalisa keluar dengan wajah masam yang membuat Azfan keheranan. "Kenapa mukanya begitu, hm?" Azfan mengusap pipi Khalisa.
"Bulan ini haid lagi." Suara Khalisa agak tercekat saat mengatakan hal itu.
Azfan menarik Khalisa ke dalam pelukannya dan mengusap kepala sang istri.
"Maafin aku Mas."
"Haura, jangan minta maaf ini adalah ketentuan Allah, kita nggak boleh bersedih atas takdir Allah, aku ikhlas aku menerima semua ini." Suara Azfan sangat lembut, ia tidak mau membuat Khalisa semakin sedih. "Haura tahu kan Allah pasti ngasih sesuatu itu di waktu yang tepat, Allah mau kita berdua dulu."
Khalisa mengangkat wajah menatap Azfan, saat gelap seperti ini Khalisa masih bisa melihat ketampanan Azfan.
"Kenapa Haura begitu menginginkan bayi?" Azfan menangkup pipi Khalisa bertanya dengan hati-hati.
"Memangnya Mas nggak pengen?"
"Aku pengen tapi kalaupun belum dikasih, aku sama sekali nggak masalah, aku ikhlas dengan ketentuan Allah jadi Haura nggak boleh sedih apalagi kesel karena yang paling tahu kita itu Allah, bisa jadi apa yang kita anggap nggak baik itu justru paling baik menurut Allah."
Khalisa tersenyum, kalimat Azfan selalu membuatnya tenang. Benar juga ia tak boleh berburuk sangka terhadap takdir Allah.
"Kalau gitu Haura tidur lagi, aku wudhu dulu terus shalat."
"Iya Mas."
Khalisa kembali ke kamar menyiapkan sarung dan baju koko serta kopiah milik Azfan untuk shalat. Khalisa menunggu Azfan hingga selesai wudhu, ia tidak bisa melewatkan pemandangan wajah basah Azfan karena air wudhu, tidak bisa. Itu adalah saat dimana Azfan akan terlihat paling tampan.
"Kok belum tidur lagi?" Azfan menyeka air yang melewati keningnya.
"Nungguin Mas, aku juga mau ke kamar mandi lagi soalnya belum pakai pembalut."
Azfan berterimakasih karena Khalisa menyiapkan pakaian untuknya.
__ADS_1
"Haura bawa pembalut di koper?" Tanya Azfan.
"Bawa, itu selalu ada di koper kok."
Azfan menggelar sajadah sedangkan Khalisa pergi ke kamar mandi untuk memakai pembalut.
Sepertiga malam terakhir adalah waktu favorit Azfan untuk bersujud bermunajat kepada sang pencipta. Karena disaat itu tak ada suara berisik di sekitar. Hening dan sangat tenang sehingga ia bisa menikmati waktu berdua hanya dengan Allah.
******
Pagi harinya Khalisa buru-buru pergi ke dapur karena ia mencium aroma masakan dari kamar. Khalisa tidak mungkin berdiam diri di kamar sementara mertuanya sibuk di dapur.
"Ibu masak apa?" Khalisa menghampiri ibu yang tampak mengaduk sesuatu di atas penggorengan. Ia juga menyapa Galuh yang sedang memotong kangkung.
"Ini lagi panasin sambal yang kamu bawa semalem, kok kamu udah bangun, kalau ngantuk tidur aja lagi."
"Udah kebiasaan bangun pagi Bu." Khalisa membantu Galuh mengupas bawang merah dan bawang putih lalu mencucinya.
Dua menantu Kirana itu tampak mengobrol ringan karena Khalisa memang mudah akrab dengan orang lain. Khalisa akan menebarkan senyum lebar di depan orang lain seolah tak ada luka di hidupnya.
Mereka memasak berbagai jenis makanan dengan porsi besar karena kedatangan dua anggota keluarga baru di rumah itu. Khalisa juga membawa beberapa bungkus daging dari apartemen nya yang akan dimasak bumbu merah oleh Kirana.
Khalisa belajar banyak soal memasak dari mertuanya. Ia memang cukup pandai memasak tapi jika dibandingkan dengan Kirana, ia masih kalah jauh.
Berbagai hidangan tersaji di atas meja makan hasil tangan tiga wanita yang sudah berada di dapur sejak subuh tadi. Aroma bumbu dan rempah menusuk-nusuk hidung membuat mereka tidak sabar untuk menyantapnya.
Safa dan Marwah sudah siap mengenakan seragam duduk manis di kursi masing-masing. Sejak Azfan kuliah, mereka jarang bisa makan bersama seperti ini. Sehingga momen kebersamaan ini harus mereka manfaatkan sebaik mungkin. Mereka tahu Azfan dan Khalisa tidak akan lama menginap disini.
"Makasih Mas." Khalisa tersenyum pada sang suami.
"Kan mumpung ada Mas nih, anterin aku ke sekolah dong Mas." Rayu Marwah seraya memasang wajah melas pada Azfan.
"Biasanya kan naik sepeda Dek." Sahut Adi.
"Tapi kan Mas Azfan jarang-jarang ada disini."
"Anterin aja sekalian sama Safa juga." Balas Khalisa, ia mengerti Marwah ingin selalu dekat dengan Azfan sama seperti Zunaira yang selalu menempel padanya saat ia pulang ke Banyuwangi.
"Makasih ya Mbak." Marwah nyengir mendapat izin dari Khalisa.
Sementara Azfan mengantar Safa dan Marwah ke sekolah, Khalisa membantu Galuh mencuci piring dan membereskan meja.
Awalnya Galuh berpikir Khalisa tidak akan mudah berbaur dengan lingkungan di rumah Azfan karena berasal dari keluarga kaya. Namun Khalisa begitu ramah dan mudah menyesuaikan diri.
"Agam bangun kayaknya Nduk." Seru Kirana mendengar suara tangisan Agam dari dalam kamar.
"Biar aku yang lanjutin Mbak." Kata Khalisa pada Galuh agar segera menghampiri Agam di kamar. Ia lanjut mencuci piring dan meletakkannya di atas rak. "Ibu biasanya mulai membatik jam berapa?" Tanya Khalisa.
"Sebentar lagi biasanya sudah mulai, Khalisa mau lihat?"
"Mau." Khalisa manggut-manggut. Ia memang sudah lama ingin ikut membatik.
__ADS_1
"Nggak ada kuliah pagi?"
"Agak siang baru ada kuliah, Mas Azfan juga, kebetulan jam kuliahnya sama." Khalisa mengelap tangannya setelah mencuci semua piring dan wadah bekas makanan.
Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di desa Giriloyo adalah membatik. Jadi tak heran jika tempat tersebut menjadi salah satu wisata yang wajib dikunjungi jika pergi ke Bantul.
Kirana mengajak Khalisa menuju gazebo yang terletak sekitar 50 meter dari rumah dimana ia biasa membatik. Ibu-ibu yang lain juga sudah mulai menggambar di atas kain mori yang sudah diberi pola.
Khalisa mengucapkan salam menyapa ibu-ibu yang berada di gazebo tersebut. Kirana memperkenalkan Khalisa sebagai menantunya pada mereka karena saat pertama kali datang kesini Khalisa dikenal sebagai teman Azfan.
"Akhirnya menantu Bu Kirana kenalan juga sama kami, ibu-ibu disini udah penasaran sama istrinya Azfan ini." Ujar wanita yang rambutnya disanggul ke atas.
Khalisa tersenyum meminta maaf karena baru sempat memperkenalkan diri.
"Jadi mobil yang semalam parkir di depan rumah Bu Kirana itu punya Khalisa."
"Iya Bu." Khalisa mengangguk sopan.
"Cantik sekali istrinya Azfan." Puji mereka membuat Khalisa tersipu.
"Udah isi belum?" Tanya salah satu dari mereka.
Alis Khalisa terangkat melihat Kirana tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu. Isi? Khalisa belum pernah mendapat pertanyaan seperti itu.
Kirana mengibaskan tangan pada wanita bernama Lasmi yang telah menanyakan hal sensitif tersebut pada Khalisa. Mungkin bagi mereka itu adalah pertanyaan ringan yang tak akan melukai perasaan. Namun bagi sebagian orang itu adalah pertanyaan yang akan meninggalkan luka.
Kirana memberi kode pada Lasmi agar berhenti bertanya.
"Maksudnya sudah hamil belum?" Lasmi memperjelas pertanyaan yang tidak Khalisa mengerti.
"Oh." Khalisa masih berusaha tersenyum lebar meski hatinya seolah teriris oleh kalimat sederhana itu. "Belum Bu, doain aja ya Bu." Lanjutnya.
"Nggak apa-apa Khalisa, jangan buru-buru lagian kan kalian masih kuliah, berduaan aja dulu nanti kalau udah punya anak waktu berdua sama suami jadi berkurang, makin banyak urusan di rumah dan susah ngatur waktu." Sahut yang lain untuk membesarkan hati Khalisa.
"Iya Bu." Balas Khalisa singkat.
"Ayo Khalisa sini." Panggil Kirana agak menjauh dengan ibu-ibu yang lain. "Kamu kan suka gambar, Azfan bilang juga gambaran kamu itu bagus."
"Mas Azfan bilang gitu Bu?" Pipi Khalisa memanas mendengar pujian itu. Kalimat Lasmi barusan seketika menghilang dari pikirannya.
"Iya, Khalisa boleh gambar pola disini." Kirana menunjukkan kain mori yang masih kosong agar Khalisa menggambar pola sesuai keinginan. Kirana yakin Khalisa akan menyukai kegiatan ini.
"Makasih Bu." Khalisa bersemangat mengambil pensil untuk menggambar pola pada kain mori.
Zaman yang serba canggih seperti sekarang sudah banyak digunakan alat untuk membuat batik di pabrik-pabrik besar. Namun batik tulis tetap menjadi primadona bagi para pecinta batik.
Suasana persawahan dengan angin sejuk membuat Khalisa betah berada disini, ia jadi punya lebih banyak inspirasi untuk menggambar pola batik di atas kain ini. Burung-burung berkicau tiada henti, itu adalah musik alam yang paling menenangkan. Tempat ini adalah pilihan yang tepat bagi Khalisa untuk menghibur diri, sejenak lari dari dunia yang membuatnya bersedih hati.
__ADS_1