
Khalisa memberikan kartu akses masuk apartemen pada petugas resepsionis di lobi ketika ia dan Azfan sampai di gedung apartemen Kafa. Mereka naik lift menuju unit apartemen Kafa dengan langkah terburu-buru. Khalisa meminta Kafa untuk tetap tenang tapi justru ia sendiri yang panik. Bahkan Khalisa merasa lift itu bergerak sangat lambat.
"Umma juga tenang jangan panik nanti Mahira ikutan panik." Azfan memperingatkan, ia menggenggam tangan Khalisa yang berkeringat dingin sejak mereka berangkat dari rumah.
"Aku panik karena Mahira bilang HPL nya masih bulan depan."
"Dokter kan cuma memperkirakan sedangkan semuanya tetap Allah yang menentukan, aku yakin Mahira dan bayinya akan baik-baik saja."
Khalisa melangkah keluar lebih dulu, ia menekan sandi pada pintu dan membukanya. Khalisa meminta Azfan menunggu sebentar sebelum masuk karena mungkin saja sekarang Mahira sedang tidak berjilbab.
"Dimana Mahira?" Tanya Khalisa pada Kafa yang mondar-mandir di depan pintu masuk, ia hampir saja menabrak Kafa.
"Di kamar mandi, dari 15 menit yang lalu nggak keluar-keluar Ce, kita bawa ke rumah sakit sekarang aja ya."
"Kamu tenang, Cece lihat keadaannya Mahira dulu." Khalisa melihat Azfan yang berada di samping pintu masuk, "masuk Bi."
Azfan menyusul Khalisa masuk. Melihat ekspresi Kafa saat ini mengingatkan Azfan pada dirinya saat Khalisa hendak melahirkan dulu. Walaupun semua orang memintanya tenang, sebagai suami dan calon ayah tentu mereka tak bisa tenang ketika melihat sang istri berjuang melahirkan.
Khalisa melangkah masuk ke kamar Kafa untuk melihat keadaan Mahira. Sementara Azfan mengajak Kafa duduk di sofa.
"Mas, aku nggak bisa tenang lihat Mahira kesakitan kayak gitu."
"Mas tahu tapi kita jangan buru-buru bawa Mahira ke rumah sakit, kalau pembukaannya masih lama dokter pasti akan meminta kita pulang, kasihan juga kalau harus bolak-balik."
"Mahira, ini Mbak." Khalisa mengetuk pintu kamar mandi, ia menunggu beberapa saat tapi tak ada jawaban dari Mahira. "Mbak masuk ya." Khalisa membuka pintu, ia mendapati Mahira sedang duduk di atas closet.
"Ah kok Mbak Khalisa masuk, aku malu."
"Gimana rasanya sekarang?" Khalisa berjongkok di depan Mahira mengabaikan ucapan Mahira.
"Mules banget kayak mau BAB tapi nggak bisa." Mahira meringis merasakan mulas pada perutnya.
"Tadi ada keluar darah nggak?"
"Ada sedikit."
"Kamu hitung nggak jarak sakitnya berapa lama?"
Mahira menggeleng. Karena kesakitan Mahira lupa untuk menghitung jarak kontraksinya.
"Ya udah nggak apa-apa." Khalisa membantu Mahira beranjak dari closet. "Dibawa jalan-jalan biar pembukaannya cepet."
Khalisa meminta Mahira berjalan-jalan di sekitar balkon saat rasa kontraksinya berkurang. Jika tak sanggup maka Mahira boleh duduk.
"Mbak, aku takut." Mahira merengek, ia takut tak bisa melahirkan bayinya.
"Eh nggak boleh bilang gitu, Mbak tahu rasanya sakit tapi kamu pasti bisa." Khalisa menyematkan tasbih digital miliknya di jari telunjuk Mahira. "Baca sholawat yang banyak dan berdoa agar Allah memberi kelancaran, kamu pasti bisa demi dia." Khalisa menyentuh perut Mahira.
Kafa datang menghampiri Mahira, ia tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya terhadap sang istri.
"Ibunya Mahira udah ditelepon?" Tanya Khalisa pada Kafa.
"Ibu dan Bapak lagi ke Semarang, ada sepupu Mahira yang nikah, tadi pagi baru berangkat jadi aku nggak ngasih tahu mereka, Abi dan Ummi juga belum pulang dari Turki."
"Nggak apa-apa, kan ada Cece." Khalisa mengusap lengan Kafa, ia akan menggantikan posisi Aisyah sekarang.
Mahira berpegangan pada pagar balkon saat rasa sakitnya datang. Mahira memejamkan mata rapat dan menggigit bibir menahan rasa sakit itu.
"Sakit banget ya." Kafa mengangkat tangan Mahira dan meletakkan di atas bahunya, ia merangkul Mahira mengusap-usap punggungnya pelan. Mahira mengangguk samar, ini lebih sakit dari pada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Ah kenapa Mahira jadi melantur.
"Mahira udah makan belum?"
"Nggak mau makan Ce, aku tadi udah bikinin makan nggak dihabisin."
"Mahira harus makan loh biar kuat nanti, mau makan apa biar Cece bikinin."
__ADS_1
"Aku nggak mau makan nasi."
"Nggak harus nasi kok,mau sereal sama susu nggak?"
Mahira mengangguk, ia mencengkram bahu Kafa saat sakitnya semakin kuat. Mahira ingin mengejan tapi ia ingat dokter mengatakan tak boleh melakukan itu sebelum pembukaan lengkap. Bagi Mahira itu adalah hal tersulit di dunia, ia berusaha menahannya sekuat tenaga tapi itu di luar kendalinya.
"Gimana Mahira?" Azfan melihat Khalisa keluar dari kamar menuju dapur.
"Kita pergi ke rumah sakit setelah Mahira makan, jarak sakitnya udah deket, ibunya Mahira lagi ke Semarang, aku harus dampingi dia."
Azfan mengangguk, "semoga semuanya lancar."
"Kalau anak kita nggak keguguran pasti sekarang aku juga lagi nunggu kelahirannya."
"Ssshhh, Allah sudah mengatur semuanya untuk kita sayang." Azfan merangkul bahu Khalisa dan mengusap-usapnya. "Kita boleh sedih tapi kita harus ridho terhadap ketentuan Allah."
Khalisa menutupi kesedihannya dengan senyum lebar, ia berterimakasih karena Azfan selalu menguatkannya padahal mereka sama-sama kehilangan.
Khalisa menuang susu pada mangkok berisi sereal, ia membawanya ke kamar agar Mahira segera memakannya.
"Sini aku suapin." Kafa mengambil mangkok itu lebih dulu dan menyuapi Mahira.
"Barang-barang yang mau dibawa ke rumah sakit udah disiapin?"
"Belum Ce, soalnya kan perkiraannya masih bulan depan jadi kami belum siapin apa-apa."
"Ya udah Cece yang bantu packing."
"Semuanya ada di walk in closet, Cece cari aja."
Khalisa mengambil tas berukuran sedang dan memasukkan pakaian Mahira dan bayinya nanti, popok dan peralatan mandi.
"Mahira ada barang khusus yang mau dibawa nggak?" Khalisa selesai mengemas semua barang yang diperlukan. Ia lihat Mahira juga sudah selesai makan.
Setelah semuanya siap mereka berangkat ke rumah sakit. Khalisa juga tidak lupa memberi alas di atas kursi mobil untuk Mahira. Belajar dari pengalaman Khalisa yang membuat mobil Kafa basah dulu, ia tak mau kejadian itu terulang lagi.
"Bi, aku di mobil Kafa ya." Ucap Khalisa pada Azfan, ia khawatir jika membiarkan Mahira berdua dengan Kafa.
"Iya, aku ikutin dari belakang." Azfan masuk ke mobilnya. "Kafa nyetirnya hati-hati." Pesannya pada Kafa.
******
Dokter memeriksa Mahira dan mengecek pembukaannya. Beberapa saat kemudian Mahira dipindahkan ke ruang bersalin untuk memulai tindakan.
Azfan dan Khalisa menunggu di depan ruangan bersalin sembari terus mendoakan Mahira agar semuanya berjalan dengan lancar.
"Ce, Mahira minta Cece masuk juga." Kafa melongokkan kepala dari pintu yang ia buka sedikit.
"Hah Cece masuk juga?" Khalisa melihat Azfan seolah meminta jawaban. Ia tak mengira sebelumnya jika Mahira menginginkannya ikut ke ruang bersalin.
"Umma masuk aja, kasihan Mahira." Azfan mengusap lengan Khalisa sesaat.
Khalisa menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke ruangan itu. Ruangan yang pernah menjadi saksi perjuangannya melahirkan Azka. Tangis haru dan tawa bahagia selalu menghiasi ruangan itu. Tak ada yang mengerti seperti apa rasa sakit ibu yang hendak melahirkan bahkan sesama wanita sekalipun. Sebab setiap wanita mengalami rasa sakit yang berbeda.
"Kamu bisa melakukannya sayang." Kafa menggenggam tangan Mahira yang dingin seperti es lalu mengecup keningnya. Ia menatap wajah pucat Mahira. Kafa ingin mengambil semua rasa sakit dan penderita Mahira sekarang, ia tak mampu lagi melihat Mahira kesakitan.
Mahira mengangguk samar, "aku minta maaf kalau selama ini banyak salah sama kamu." Lirihnya.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?"
"Katanya ibu melahirkan itu berada di situasi hidup dan mati, aku takut—"
Kafa menggeleng, "jangan lanjutin kalimat kamu, aku nggak mau denger."
Mahira memejamkan mata bersamaan dengan air mata yang meleleh melewati pelipisnya.
__ADS_1
"Jangan mikir macem-macem, saat seusia kamu, Mbak juga melahirkan Azka jadi kamu pasti bisa."
Mahira mencengkram pergelangan tangan Kafa dan Khalisa saat rasa sakit di perutnya datang dengan kuat, ia mendengar aba-aba dokter dan mendorongnya.
"Lihat aku, kamu pasti bisa, kamu orang yang gigih." Kafa menahan nyeri di tangannya karena cengkraman Mahira, tentu itu tidak sebanding dengan sakit yang Mahira rasakan.
Kafa tahu betapa Mahira dulu tak menyerah untuk mendekatinya. Mahira seperti seorang laki-laki yang sedang mendekati pujaan hatinya.
Bulir keringat membasahi jilbab Mahira, ia menuruti aba-aba dokter tapi tak semudah itu. Hingga beberapa kali mencoba Mahira belum berhasil.
"Bismillah, yuk lagi." Khalisa terus memberi semangat pada Mahira.
Tasbih di tangan Azfan terus bergulir, bibirnya membisikkan sholawat berharap anak Mahira dan Kafa lahir dengan sehat. Ia beranjak mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin. Azfan tak bisa duduk dengan tenang. Hingga akhirnya langkah kaki Azfan terhenti ketika ia mendengar suara tangisan bayi dari dalam sana.
"Puji Tuhan, perempuan." Dokter mengangkat bayi Mahira untuk memperlihatkan pada ibunya.
"Kamu berhasil sayang." Air mata Kafa mengalir deras melihat bayinya secara langsung untuk pertama kali. Kafa mengecup kening Mahira dan berterimakasih karena Mahira telah berusaha keras melahirkan anak mereka.
Mahira tersenyum, rasa sakitnya sirna seketika saat melihat bayinya. Mereka sudah mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi sejak dalam kandungan karena Kafa selalu membawa Mahira ke rumah sakit untuk USG di luar jadwal kontrol. Bahkan andai bisa, Kafa ingin membeli mesin USG sendiri.
"Mbak makasih ya." Ucap Mahira pada Khalisa.
Khalisa telah menggantikan sosok ibu bagi Mahira.
Kafa mengadzani bayinya yang sudah dibalut bedong berwarna merah muda. Suara Kafa terdengar gemetar bercampur haru yang menguasainya. Mungkin jika anaknya bisa bicara, ia akan protes karena suara Kafa terdengar sumbang. Namun anehnya si bayi justru tenang mendengar suara papa nya.
"Ce, aku jadi Papa." Kafa memeluk Khalisa, ia bukan adik kecil Khalisa lagi. Ia sudah menjadi seorang papa dari satu anak.
"Masya Allah, adik Cece udah besar sekarang." Khalisa menepuk-nepuk punggung Kafa. "Karena kamu bukan adik kecil Cece lagi, lepaskan pelukanmu."
"Maaf Ce." Kafa segera melepas pelukannya.
"Siapa namanya?" Khalisa melihat Kafa dan Mahira bergantian.
"Sayang, kasih tahu nama indah yang sudah kita siapkan untuknya." Kafa melangkah mendekat pada Mahira.
Mahira menguluum senyum sengaja berlama-lama untuk membuat Khalisa penasaran.
"Zulaikha Haifa Alindra." Mahira menyebutkan nama anaknya kata per kata dengan perlahan.
"Masya Allah bagus banget, aku yakin bukan Kafa yang ngasih nama itu kan, karena dia paling payah soal nyari nama."
Mahira mengangguk setuju, bahkan ketika ia menyebutkan nama Zulaikha, Kafa langsung protes.
"Kenapa Z sih awalnya, nanti dia di sekolah absen terakhir loh sayang."
"Nggak masalah absen terakhir yang penting nanti kita didik dia jadi anak yang pemberani seperti mamanya."
Mahira tersenyum mengingat perdebatan itu. Setelah ini perdebatan yang lain akan terjadi antara mereka. Namun justru itu yang membuat hubungan keduanya terasa spesial setiap hari.
"Kalian akan dipanggil Mama dan Papa?"
"Sebenarnya kami juga belum menentukan panggilannya Mbak." Jawab Mahira jujur.
Khalisa geleng-geleng, "sekarang Cece tahu kenapa kalian berjodoh." Ia melangkah mendekati box Zulaikha. Khalisa mengangkat tubuh mungil bayi Mahira dan mengucapkan salam. Khalisa mendoakan Zulaikha agar menjadi anak yang Sholehah dan bermanfaat bagi orang lain.
Mahira dan Kafa saling berpandangan lalu tersenyum penuh arti.
Kafa: Saranghaeo anak ku ❤️
__ADS_1