Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
48


__ADS_3

"Angin tadi pagi emang kenceng banget sampai ranting kering itu jatuh terus kena kamu Fan, mungkin karena lama libur jadi tukang kebun kampus nggak terlalu memperhatikan ranting-ranting itu." Syifa terus mengucapkan rentetan kalimat tentang kejadian tadi pagi, "kamu tenang aja tadi aku udah selesain bacaan surat Ali Imran sampai ayat 6 sesuai dengan yang Kak Hasan bilang." Lanjutnya.


Khalisa yang duduk di sudut ruangan sampai terkantuk-kantuk mendengar Syifa bicara panjang lebar. Khalisa tidak bermaksud untuk tak menghargai Syifa tapi gadis itu memang menganggapnya seolah tidak ada di ruangan ini.


Selain Syifa, Bimo, Huma dan Hasan berada di ruangan itu untuk melihat keadaan Azfan. Mereka lega karena tak ada luka yang serius dan kalau Azfan sudah tidak pusing saat berjalan maka ia diperbolehkan pulang hari ini juga.


"Untung ada kamu." Gumam Azfan menanggapi kalimat Syifa.


Azfan meminta maaf pada Hasan karena tidak bisa menjalankan amanah membaca surat Ali Imran untuk pembukaan Pesta tadi pagi. Namun Hasan berkata bahwa Azfan sama sekali tidak perlu meminta maaf justru ia ikut prihatin atas kejadian tadi. Hasan berharap luka Azfan segera sembuh dan bisa kembali ke kampus karena kegiatan akan sangat padat untuk memulai semester baru sekaligus membuka pendaftaran bagi mahasiswa baru.


Ponsel Khalisa berdering mengejutkan si pemilik yang hampir saja melangkah ke dunia mimpi. Khalisa beranjak, ia meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Maaf." Khalisa menyambar ponselnya dan melangkah keluar untuk menjawab telepon.


Syifa melihat Khalisa keluar ruangan itu, ia menarik kursinya lebih dekat dengan brankar Azfan.


"Kalian tahu nggak waktu hari libur kemarin Khalisa dilamar Kak Fawas." Suara Syifa lirih tapi berhasil didengar oleh Azfan, Hasan, Huma dan Bimo yang juga berada disana. Merdeka terkejut mengenai apa yang Syifa katakan. Huma mendelik, tahu dari mana Syifa tentang lamaran itu dan kenapa juga Syifa membicarakannya disini apalagi ada Hasan dan Azfan. Rasanya tidak pantas jika Syifa menyebarkan hal seperti itu terhadap mereka.


Tubuh Azfan menegang, mengapa ia tidak tahu tentang hal itu. Hawa panas tiba-tiba menyergapnya seolah ia berada di tengah gurun sahara. Apakah itu terjadi sebelum ia pergi ke Banyuwangi atau setelahnya. Khalisa sama sekali tidak menyinggung hal tersebut dengannya. Namun setelah dipikir lagi untuk apa Khalisa menceritakannya pada Azfan. Hubungan mereka hanya sebatas teman.


"Tapi ditolak." Syifa bicara dramatis membuat Huma ingin menjejali mulut itu dengan tisu di tangannya.


Tapi ditolak? Azfan tidak tahu apakah ia harus senang atau sebaliknya mendengar Khalisa menolak lamaran Fawas. Azfan senang karena ia masih memiliki kesempatan atau justru sedih karena lelaki sehebat Fawas, lulusan Kairo, baik, pandai Qiraah dan telah menjadi dosen di usianya yang muda tapi tetap ditolak Khalisa apalagi hanya seorang Azfan. Apa yang bisa Azfan banggakan dari dirinya? ini membuat Azfan yang tadinya berani maju selangkah kini mundur jauh ke belakang.


"Fawas anak Pak Husein lulusan Kairo itu?" Bimo menanggapi. Syifa mengangguk mengiyakan. "Kenapa ditolak?"


Syifa mengedikkan bahu, gosip yang menyebar adalah Khalisa hanya menginginkan pasangan yang berasal dari keturunan Chinese sepertinya. Namun Syifa juga tak bisa memastikan hal itu.


"Sudah jangan membicarakan hal seperti itu." Tegur Hasan apalagi saat melihat ekspresi muram Azfan.


Ketika Khalisa kembali Syifa mengatupkan bibirnya rapat dan berusaha mengkondisikan ekspresi wajahnya sedatar mungkin.


"Dokter bilang Azfan coba turun terus jalan dikit, dokter mau tahu masih pusing nggak." Saat menerima telepon dari Rindang Khalisa bertemu dokter di depan dan memberitahu hal tersebut padanya.


"Kebetulan aku mau ke toilet." Azfan menyingkap selimutnya dan turun dari brankar.


"Pelan-pelan aja." Khalisa fokus melihat Azfan seperti saat ia sedang mengawasi Zunaira yang baru belajar berjalan. Ia takut tiba-tiba Azfan kembali pingsan seperti tadi pagi. "Gimana, pusing nggak?"


"Udah enggak." Azfan tersenyum simpul melangkah masuk ke kamar mandi, itu berarti sudah bisa pulang sore ini karena ia juga tidak betah hanya berbaring di atas brankar tanpa melakukan apapun.


"Khalisa bawa mobil nggak?" Tanya Hasan.


"Sebentar lagi temen aku kesini bawa mobil buat anterin Azfan ke tempat kosnya." Jawab Khalisa, ia memberitahu Rindang kejadian tadi pagi dan sahabatnya itu langsung menuju kesini untuk melihat keadaan Azfan sekaligus mengantarnya ke tempat kos jika memang diperbolehkan pulang.


"Kalau gitu Kak Hasan sama Syifa pulang duluan aja, aku mau ikut anterin Azfan, nggak apa-apa kan Khalisa?" Bimo melihat Khalisa.


"Boleh." Khalisa mengangguk, justru bagus jika Bimo ikut karena dia adalah satu-satunya teman baik Azfan.


"Kalau gitu aku balik juga ya?" Huma beranjak lebih dulu menghampiri Khalisa dan merangkulnya. "Kabar tentang kamu tolak lamaran Kak Fawas kayaknya udah tersebar deh." Bisiknya di telinga Khalisa.


Alis Khalisa terangkat, kenapa kabar itu bisa sampai ke telinga mahasiswa sini padahal saat itu tidak ada yang tahu mengenai lamaran Fawas. Khalisa melihat Huma, kok bisa?


Huma menggeleng samar, ia juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Ia justru baru tahu setelah Syifa bercerita barusan.


Khalisa melirik pintu kamar mandi, Azfan tahu juga?


Huma mengangguk, "ayo Syifa." Ajaknya.


"Tolong sampaikan pada Azfan kalau kami pulang dulu." Ucap Hasan.


"Iya Kak, sebentar lagi aku sampaikan." Kata Khalisa.


Syifa dan Hasan pulang lebih dulu bersama Huma karena mereka juga harus menyelesaikan tugas kampus. Hanya tinggal Bimo dan Mhalisa yang berada di ruangan itu.


Azfan keluar dari toilet ketika di ruangan itu hanya ada Khalisa dan Bimo.


"Yang lain pulang dulu." Tukas Khalisa mengerti maksud tatapan Azfan. "Udah nggak pusing?"


"Iya." Azfan mengangguk.

__ADS_1


"Sebentar lagi Rindang kesini, aku anterin kamu pulang."


"Maaf aku jadi ngerepotin banyak orang."


Khalisa mengerutkan kening, "ini musibah, nggak ada yang mau juga kena musibah tapi kamu kan udah sering nolongin Rindang dan aku, ini bukan apa-apa."


"Pantas aja banyak yang salah sangka sama hubungan kalian." Ujar Bimo mengalihkan perhatian Khalisa dan Azfan.


"Salah sangka gimana?" Tanya Khalisa, siapa yang salah sangka?


"Anak-anak pikir kalian pacaran."


Azfan diam tidak menanggapi perkataan Bimo, sekarang yang memenuhi kepalanya justru Khalisa menolak yang lamaran Fawas. Itu sungguh mengganggu pikiran Azfan.


"Bukannya kalian salah sangka sama Azfan dan Syifa?"


Azfan melihat Khalisa, kenapa harus salah sangka padanya dan Syifa, mereka bahkan jarang ngobrol kecuali untuk membicarakan soal lomba dan terakhir tadi pagi sebelum membaca doa untuk pembukaan acara Pesta.


"Emangnya Azfan dan Syifa kenapa?" Bimo tidak melihat ada keanehan di antara mereka.


"Azfan kelihatan deket sama Syifa akhir-akhir ini dan banyak juga yang bilang serasi." Khalisa berusaha membuat nada bicaranya sedatar mungkin dan tidak menggebu-gebu padahal hatinya panas seperti dipanggang di atas bara api, jika membiarkannya sebentar saja pasti hatinya akan gosong. Apakah kalian mencium aroma gosong sekarang?


Wajah Khalisa merah padam, itu karena ada seseorang yang memanggang hati di sekitar sini hingga membuatnya kepanasan.


Azfan terkejut dengan ucapan Khalisa, apakah Khalisa begitu tidak menyukainya sampai mengatakan bahwa ia dan Syifa serasi. Siapa yang berkata begitu? apa mereka buta?


Bimo tertawa melihat perubahan raut wajah Khalisa. Mengapa Khalisa mengatakan hal yang membuat dirinya sendiri cemburu.


"Ya udah sorry karena aku nyangka kalian pacaran." Bimo nyengir mengacungkan jari telunjuk dan tengah permintaan damai dengan Khalisa.


"Kenapa pacaran, kalau memang suka langsung—" Ucapan Khalisa terputus karena seorang dokter masuk ke ruangan itu dengan satu orang perawat. Dokter hendak melakukan pemeriksaan sekali lagi sebelum memperbolehkan Azfan pulang.


"Aku keluar dulu." Khalisa keluar dari ruangan itu untuk menenangkan diri sekaligus agar Rindang mudah menemukan klinik itu.


Benar saja Khalisa melihat mobil Rindang memasuki area kampus, ia melambaikan tangan pada Rindang.


"Eh dokter masih periksa Azfan." Khalisa menahan tangan Rindang agar tidak masuk lebih dulu.


"Mukanya nggak kenapa-napa kan?"


"Nggak apa-apa tapi kepalanya harus dijahit, kenapa sih?"


"Ya dia kan mau nikah sama kamu kalau wajahnya kenapa-napa gimana?"


Khalisa mendelik memukul lengan Rindang, ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Azfan karena cowok itu tak menunjukkan tanda-tanda apapun. Apakah ini cinta bertepuk sebelah tangan?


Mereka masuk setelah dokter melakukan pemeriksaan. Dokter memperbolehkan Azfan pulang karena kondisinya sudah jauh lebih baik dan tak ada gejala serius lainnya.


"Ini resep obatnya Mbak." Dokter memberikan resep obat Azfan pada Khalisa.


Khalisa membaca resep obat tersebut dengan teliti, "dokter tidak meresepkan ibu profen untuk meredakan nyeri bekas jahitannya?" Tanyanya.


"Itu hanya jahitan kecil, saya rasa tidak perlu pereda nyeri."


"Kalau tiba-tiba tengah malam dia kesakitan gimana dok, lagi pula jahitannya tidak bisa disebut kecil." Khalisa mengacungkan ibu jari dan telunjuknya selebar jahitan Azfan.


"Yang dokternya kamu atau dia sih?" Rindang berbisik tapi Khalisa tak menghiraukannya.


"Kalau bisa ada tramadol juga dok." Tambah Khalisa.


"Astaga Mbak, itu cuma luka robek sedikit bukan jahitan operasi caesar, sungguh berlebihan kalau saya meresepkan tramadol untuknya."


Akhirnya Khalisa terdiam, benar juga apa yang dokter bilang, "tapi saya akan tetap membeli ibu profen."


"Ya sudah terserah kamu, untuk jaga-jaga." Akhirnya dokter menyerah karena Khalisa begitu bersikukuh untuk memberikan obat pereda nyeri itu.


Mereka mengantar Azfan menuju tempat kosnya yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari kampus setelah membeli obat di apotek. Azfan berada di jok penumpang dengan Bimo. Sedangkan Khalisa di kursi kemudi dan Rindang di sampingnya. Karena Rindang harus menyelesaikan tugas kuliahnya mendesain pakaian maka ia minta tolong pada Khalisa untuk menyetir.


"Azfan, itu di tangan kamu apa?" Rindang penasaran karena Azfan tidak pernah melepas benda seperti kalung yang terdiri dari butiran-butiran berwarna hitam.

__ADS_1


"Ini tasbih."


Rindang memutar badannya melihat Azfan, "tapi nggak kayak punya Khalisa."


"Punyaku tasbih digital." Timpal Khalisa. "Tapi fungsinya sama."


"Buat apa?" Rindang masih melihat Azfan.


"Untuk menghitung jumlah dzikir." Jawab Azfan.


"Kenapa harus dihitung?"


"Karena Rasulullah melakukannya, kami mencontoh perilaku Nabi Muhammad."


"Oh." Rindang manggut-manggut, tapi ia tidak melihat semuanya melakukan itu. "Kenapa?"


"Kenapa?" Azfan balik bertanya.


"Kenapa berdzikir?" Rindang memperjelas pertanyannya.


Khalisa melirik Rindang, kenapa juga menanyakan hal seperti itu pada Azfan. Kenapa Rindang tak menanyakannya pada Khalisa saja saat sedang berdua.


"Aku melakukan sesuatu yang Allah suka, kalau udah timbul rasa cinta pada Allah di dalam hati maka kita akan melakukan apapun yang Allah suka, contoh sederhananya Rindang mencintai Jason maka pasti apapun yang Jason suka Rindang akan melakukanya, apapun yang Jason minta pasti Rindang akan mewujudkannya, itu semua karena cinta."


"Dan juga menjauhi apa yang Tuhan benci?"


"Benar sekali, yang terpenting adalah bagaimana cinta itu terus tumbuh sehingga semua yang kita lakukan itu ikhlas, kalau udah cinta mau shalat lima waktu, dzikir ribuan, shalat malam, puasa sunnah dan apapun itu pasti akan kita lakukan tanpa beban."


Khalisa mencengkram kemudi, ia ingat Daniel juga pernah mengatakan hal seperti itu padanya saat dulu ia masih kanak-kanak. Bahwa ibadah yang kita lakukan semata-mata karena cinta kita kepada Allah bukan karena adanya surga yang Allah janjikan untuk umatnya yang taat. Namun murni karena cinta.


Mereka turun dari mobil Rindang sesampainya di depan tempat kos Azfan.


"Maaf ya tempatnya belum diberesin." Jika tahu mereka kesini pasti Azfan akan membereskannya lebih dulu tadi pagi.


"Sebagai cowok kamu termasuk rapi lo Fan." Rindang mengekori Azfan masuk diikuti Bimo.


Khalisa fokus pada lukisan gaun pengantin di sudut ruangan yang diletakkan di dalam bingkai. Khalisa tidak menyangka kalau Azfan masih menyimpan lukisan yang dibuatnya dengan setengah hati itu bahkan memberi bingkai.


"Azfan, ini diminum tiga kali sehari setelah makan, udah ada tulisannya semua." Khalisa memberikan seplastik obat pada Azfan.


"Iya, makasih Khalisa, kamu udah ngurusin semuanya."


Khalisa mengangguk, "kami nggak lama-lama disini biar kamu bisa istirahat." Ia menepuk bahu Rindang yang duduk bersila di dekat lemari.


"Aku nginep disini satu malam." Ucap Bimo, ia khawatir jika membiarkan Azfan sendirian.


"Udah sana duluan masuk mobil, aku mau ngomong sebentar sama Azfan." Rindang mengibaskan tangannya agar Khalisa keluar lebih dulu.


"Azfan, kalau ada apa-apa telfon Rindang atau aku ya." Khalisa mengucapkan salam sebelum keluar dari tempat kos Azfan yang sesak karena keberadaan mereka disini.


"Azfan." Rindang menggeser duduknya lebih dekat dengan Azfan.


"Ada apa?"


Rindang menoleh ke arah pintu memastikan Khalisa sudah tidak ada disini


"Kamu suka sama Khalisa nggak, suka sebagai laki-laki bukan sekedar temen." Rindang memelankan suaranya.


Azfan terdiam mendengar pertanyaan Rindang, ia menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa Rindang terang-terangan menanyakan hal itu pada Azfan.


"Kenapa kamu tanya gitu?"


"Aku cuma mastiin cinta Khalisa nggak bertepuk sebelah tangan."


"Jadi maksud kamu?"


Rindang mengangguk.


Wajah Azfan memerah hingga ke telinga. Dadanya bergemuruh mengetahui fakta itu. Apakah selama ini Khalisa cemburu jika ia mengobrol dengan Syifa. Sudut bibir Azfan tertarik mengulum senyum.

__ADS_1


__ADS_2