Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
44


__ADS_3

"Kita sampai dimana Pak Dhe?" Azfan mengucek matanya saat baru bangun dari tidurnya, ia sedikit meregangkan badannya yang terasa kaku karena tidur dengan posisi duduk dalam waktu cukup lama. Azfan melihat pemandangan di luar jendela. Gelap. Namun Azfan bisa mendengar deburan ombak sepanjang jalan yang berarti ada pantai di sebelah kiri mereka.


"Situbondo, sebentar lagi kita sampai di Banyuwangi."


Mendengar nama kota itu membuat jantung Azfan berdegup tak karuan, ia tak tahu kalau mereka akan mengirim batik itu ke kota kelahiran Khalisa ini. Kemarin Tris hanya bilang bahwa mereka akan mengirim batik ke Jawa Timur tanpa menyebutkan nama kota nya secara spesifik.


Padahal Azfan belum tentu bertemu dengan Khalisa tapi membayangkannya saja membuat gelayar aneh di perutnya. Apakah ia mabuk karena perjalanan yang begitu lama?


Azfan melihat jam pada ponselnya lalu mencari jadwal shalat Banyuwangi karena ia telah berniat puasa rajab hari ini. Jika masih ada waktu maka Azfan akan sahur dengan makanan yang ibunya bawakan di dalam


"Mau sahur ya?" Tanya Tris melihat Azfan membuka ranselnya.


"Pak Dhe mau?" Azfan menyodorkan sebungkus roti pada Tris.


"Nggak usah, Pak Dhe nggak puasa." Tolak Tris masih fokus pada jalanan.


"Nggak apa-apa, roti ini nggak dikhususkan untuk orang yang mau puasa kok."


Tris terkekeh pelan mendengar ucapan keponakannya itu, ia senang jika Azfan menemaninya mengirim batik apalagi tujuannya jauh seperti sekarang karena ia tak akan bosan lagi di dalam mobil. Selain itu Azfan bisa menggantikannya menyetir.


Ibu Azfan memasukkan banyak roti dan camilan ke dalam tas Azfan untuk dimakan selama perjalanan.


Mereka berhenti di depan masjid untuk membersihkan diri dan mendirikan shalat subuh. Mereka memiliki waktu untuk minum dan numpang mandi di masjid karena adzan subuh belum dikumandangkan.


Dingin menusuk kulit Azfan ketika ia pertama kali menyentuh air. Padahal tadi ia sudah percaya diri untuk mandi tapi subuh disini terasa amat dingin. Padahal di Jogja ia bisa mandi pukul 3 pagi tanpa merasa kedinginan.


"Bismillah hangat." Gumam Azfan ketika hendak mengguyur tubuhnya dengan air seolah-olah ia bisa merubah air itu menjadi hangat. "Ah dingin banget." Tubuh Azfan gemetar bahkan ia kesusahan mengambil sabun di dalam pouch miliknya.


Mungkin itu menjadi waktu tersingkat bagi Azfan mandi, tak sampai 15 menit ia telah selesai mengganti pakaian dengan sarung dan kaos lengan panjang berwarna putih.


"Dingin ya?" Tegur Tris melihat Azfan gemetaran meski telah mengganti pakaian.

__ADS_1


"Iya Pak Dhe." Azfan memeluk tas nya masuk ke masjid.


Satu per satu jamaah mulai berdatangan ketika adzan subuh dikumandangkan oleh seorang muadzin yang bersuara merdu.


Sebagian jamaah mendirikan shalat sunnah qabliyah subuh sebelum shalat subuh dimulai oleh imam. Shalat qabliyah subuh adalah shalat yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah karena kebaikannya lebih baik dari pada dunia dan seisinya.


Mereka melanjutkan perjalanan setelah selesai shalat. Tris memeriksa alamat yang telah dikirimkan oleh costumer yang memesan batik seminggu lalu. Ia memastikan jalan yang mereka lalui tidak salah karena jika sampai terjadi itu akan membuang waktunya.


"Masih jauh ya?" Tanya Azfan.


"Lumayan."


"Grand Watu Dodol." Azfan membaca tulisan besar di pinggir jalan yang mereka lewati. "Wah mataharinya mulai terbit, Masya Allah cantik sekali." Azfan dibuat kagum oleh matahari yang mengintip dari balik bukit di seberang laut. Ia menyangga kepalanya dengan lengan enggan melewatkan pemandangan indah tersebut.


"Sunrise of Java." Itu adalah julukan bagi Banyuwangi karena kabupaten tersebut terletak di paling timur pulau Jawa.


Saat gelap tadi Azfan hanya bisa mendengar suara deburan ombak dari laut tapi sekarang akhirnya ia bisa melihat betapa indahnya ciptaan Allah. Laut biru dengan pasir pantai hitam.


"Nanti Pak Dhe mampir sarapan di warung nasi tempong yang terkenal disini ya?"


"Iya, kamu tidur aja dulu kalau ngantuk nanti kalau udah sampai Pak Dhe bangunin."


Azfan mengangguk. Ia masih terus menggulir tasbih baru pemberian seniornya di organisasi HAWASI dengan mulut membisikkan puji-pujian terhadap Allah. Tasbih itu mengeluarkan aroma wangi sehingga kadang Azfan menggosokkannya ke pakaian tanpa perlu pakai pewangi baju lagi.


"Katanya kamu mau mulai buka toko kaligrafi sendiri ya Fan?" Tris ingat kemarin adiknya bilang bahwa Azfan akan membuka toko sendiri di Sleman. Itu adalah kabar menggembirakan bagi keluarga besar Azfan karena akhirnya ada jalan untuk Azfan memulai usaha sendiri mengandalkan keterampilannya membuat kaligrafi.


"Iya Pak Dhe, Alhamdulillah ada orang baik yang membiarkan Azfan menggunakan toko itu." Sahut Azfan.


Azfan tidak henti mengucapkan syukur pada Allah mengingat kebaikan keluarga Khalisa kepadanya. Mereka sama sekali tidak menganggap bahwa Azfan berasal dari kalangan yang berbeda. Bahkan Renata begitu baik dari pertama kali bertemu dengan Azfan.


******

__ADS_1


Voice Command memberitahu bahwa tujuan Tris dan Azfan hampir sampai setelah mereka menempuh 3 jam perjalanan dari Situbondo. Azfan menegakkan tubuhnya dan sedikit merapikan rambut agar terlihat tidak berantakan saat turun nanti.


"Itu kayaknya hotel punya orang yang pesen batik ini Fan." Tris menunjuk sebuah bangunan dengan belasan lantai di sisi kanan jalan. Tertulis Jinggo Hotel di bagian lantai paling atas yang memantulkan cahaya matahari. "Katanya batik ini untuk seragam karyawan hotel dan resor milik beliau."


"Terus sekarang kita kemana Pak Dhe?" Tanya Azfan karena mereka hanya melewati hotel itu, ia pikir tujuan mereka adalah hotel tersebut.


"Kita disuruh ke resor nya aja karena nanti pakaiannya juga dibikin disana."


"Oh." Azfan manggut-manggut.


Azfan kembali mencium aroma pantai ketika mobil box Tris memasuki jalan aspal yang lebih kecil, bukan lagi jalan utama.


"Sepertinya kota ini dikelilingi pantai Pak Dhe." Gumam Azfan karena ia mulai melihat pantai. Hanya saja pantai ini tidak memiliki ombak sebesar laut tadi.


"Dikelilingi laut dan gunung."


"Pak Dhe pernah ketemu sama orangnya?"


"Belum pernah sih, ini aja kita belum tentu ketemu karena beliau pesannya melalui telepon dan email tapi dari suaranya sepertinya beliau orang yang santun."


Dari kejauhan Azfan melihat bangunan tiga lantai yang terbuat dari kayu dengan warna coklat yang mendominasi. Sungguh kental dengan suasana alam ditambah pepohonan yang berada di sekitar bangunan itu. Bahkan ada bangunan yang berbaris di atas laut. Pasti yang menginap disini adalah orang-orang berada karena resor itu bisa disebut mewah. Azfan tebak harga sewa semalam nya berkisar 1 jutaan.


Tris menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan resor tersebut. Azfan segera turun dari mobil box itu ketika melihat beberapa karyawan dengan pakaian seragam menghampiri mereka.


Azfan mengedarkan pandangan ke sekitar menghirup aroma laut sebanyak-banyaknya karena tidak setiap hari ia bisa merasakan ini. Azfan melihat bangunan yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Azfan tak sengaja melihat seseorang yang menatap ke arahnya dari balik gorden putih yang menutupi jendela kaca pada bangunan tersebut.


Khalisa?


Azfan mengerjapkan matanya lalu sosok yang ia kira adalah Khalisa tak lagi terlihat. Padahal mereka sempat saling berpandangan selama beberapa detik tapi rupanya Azfan salah. Sungguh kebetulan yang menyenangkan jika pemesan batik itu ternyata adalah orangtua Khalisa.


Azfan tersenyum sendiri menyadari kebodohannya, tentu saja meski ini Banyuwangi ia tak mungkin bertemu Khalisa.

__ADS_1


"Azfan!"


Suara itu?


__ADS_2