
"Masya Allah, cantik sekali istriku." Azfan terpana melihat Khalisa mengenakan kebaya dengan rok batik motif Kangkung Setingkes—batik tradisional Banyuwangi yang memiliki filosofi kerukunan dan kesatuan. "Baju yang Umma buat nggak pernah gagal." Khalisa menjahit sendiri kebaya dengan bahan brokat yang dipadukan dengan satin berwarna biru.
Tak hanya untuk dirinya, Khalisa juga membuat pakaian untuk orangtua dan mertuanya yang akan hadir hari ini. Khalisa tidak bisa memberikan apapun untuk membalas kebaikan mereka selain berusaha menjadi anak dan menantu yang baik, tentu itu tak ada apa-apanya dengan kebaikan mama nya yang telah melahirkan dan merawatnya atau papa nya yang telah mendidiknya hingga seperti sekarang. Khalisa juga tak mampu membalas jasa mertuanya yang telah melahirkan anak luar biasa seperti Azfan.
"Jadi Abi mau memuji kecantikanku, pakaianku atau kemampuanku menjahit kain?" Khalisa berjalan mendekat, Azfan juga telah siap mengenakan setelan jas berwarna hitam. Khalisa memegang dasi yang hendak ia pasangkan pada Azfan. Dulu Khalisa sering melihat mama nya memasangkan dasi untuk papa nya. Sekarang Khalisa akan mempraktekkan hasil pengamatannya pada Azfan. Khalisa juga sudah beberapa kali menonton video cara memasang dasi untuk memastikannya lagi.
"Bagaimana ini, semua yang ada di diri Umma patut dipuji." Azfan mengusap pipi Khalisa yang kemerahan, kali ini bukan karena terkena cahaya matahari tapi Khalisa mengaplikasikan blush on di kedua pipinya. "Umma juga pandai merias wajah."
"Abi mau dibikin merah nggak pipinya?" Khalisa melihat Azfan dengan tatapan menggoda.
"Hm?" Azfan mengerutkan kening, "aku nggak mau pakai make-up juga."
"Bukan dengan make-up?"
"Lalu?"
"Dengan ini." Khalisa berjinjit mengecup bibir Azfan lalu lanjut memasang dasi.
Azfan terpaku merasakan desiran aneh di tengkuk dan wajah pada saat yang bersamaan.
Khalisa tersenyum, "lihat, aku berhasil." Ujarnya menatap wajah Azfan yang mulai memerah hingga ke telinga. Azfan selalu seperti itu saat gugup dan tersipu. Azfan benar-benar menggemaskan. "Udah." Khalisa mengusap bahu Azfan dua kali setelah ia selesai memasang dasi.
"Umma pandai dalam segala hal."
Khalisa terkekeh, "terimakasih atas pujiannya, aku dulu sering lihatin Mama waktu pasangin dasi buat Papa."
"Karena aku nggak kerja di kantor seperti Papa, jadi Umma nggak bisa melakukan ini setiap hari."
"Itu makanya aku sengaja ngulur waktu buat pasang ini."
"Umma mau aku kerja di kantor seperti Papa?"
"Hm?"
"Biar Umma bisa pakaikan dasi untukku setiap hari?"
Khalisa menggeleng, "aku lihat Papa selalu pulang dengan wajah lelah seperti melakukan pekerjaannya dengan setengah hati, sebaliknya Papa akan tersenyum dan tertawa lepas saat bersama binatang."
"Papa tetaplah dokter hewan." Azfan merapikan ciput Khalisa ketika ada sehelai rambut menjuntai dari dalamnya. Azfan berharap Khalisa bahagia dengan pilihannya. Bagi Azfan, kebahagiaan Khalisa adalah yang utama. "Aku dengar binatang yang menggigit Papa itu bukan kucing tapi anjing tapi kenapa Umma justru fobia kucing?" Azfan bertanya dengan hati-hati.
Khalisa tampak berpikir mencari-cari jawaban dalam dirinya.
"Kalau sulit nggak usah dijawab." Azfan tidak mau Khalisa jadi mengingat sesuatu yang membuatnya trauma.
Khalisa duduk di sofa dengan jendela kaca sebelum menjawab pertanyaan Azfan.
"Mungkin karena aku pernah lihat Papa digigit kucing, tangan Papa bengkak dan malam harinya dia demam, sepanjang malam Mama terjaga karena takut kejadian Papa hampir kehilangan nyawanya terulang lagi tapi akhirnya Papa sembuh dengan cepat." Khalisa tersenyum tapi matanya berkaca-kaca mengingat kejadian itu, "itu sebabnya aku terus berpikir kalau kucing bikin Papa sakit dan lama-kelamaan aku takut kucing dengan berlebihan."
"Sudah, maafkan aku karena Umma harus menceritakan ini." Azfan mengusap telapak tangan Khalisa yang basah oleh keringat.
"Mama punya tempat khusus menampung kucing-kucing liar yang mulanya nggak terurus, cuma aku yang nggak pernah ikut kalau Mama pergi kesana sedangkan Zunaira dan Azmal paling seneng lama-lama di tempat itu." Khalisa mengulas senyum, ia sudah jauh lebih baik sekarang.
Bel rumah berdenting mencuri perhatian mereka. Khalisa melirik Azka memastikan suara bel itu tidak membangunkan sang anak.
"Biar aku yang buka." Azfan segera keluar kamar untuk membuka pintu, siapakah yang bertamu pagi-pagi begini.
__ADS_1
Ketika membuka pintu Azfan melihat buket bunga tepat di depan wajahnya. Pandangan Azfan turun, dari bentuk tangannya ia bisa menebak siapa yang membawa buket tersebut.
"Kafa."
"Ini buat Cece, aku nggak bisa datang ke kampus karena ada urusan." Kafa menyerahkan buket tersebut pada Azfan. "Berat banget."
"Masa begini aja berat."
"Berat kayak beban hidup." Seloroh Kafa, ia merogoh saku jaketnya mengeluarkan kotak berwarna hitam dengan tulisan nama salah satu merek jam tangan. "Ini hadiah buat Mas."
"Aku dapat juga?" Azfan menerima kotak itu, ia ingin membukanya tapi tangannya yang lain sedang memegang buket.
"Dapet dong, terimakasih Mas Azfan sudah bekerja keras dan lulus kuliah, terimakasih udah jagain Cece ku, semoga kalian hidup damai dan bahagia." Kafa meniru kalimat Jaya saat mendoakan dirinya dan Mahira dihari pernikahan mereka.
"Hidup damai?" Azfan memiringkan kepalanya, "dunia bukan tempat yang damai."
"Jangan dianggap serius." Kafa mengibaskan tangannya, "aku cuma nyontek kalimat Akong, eh Mas pakai lipstik ya?" Ia mengernyit heran melihat noda lipstik di bibir Azfan.
"Enggak." Azfan reflek merapatkan bibirnya, pasti noda lipstik Khalisa tertinggal di bibirnya akibat ciuman itu. "Ayo masuk." Ajaknya.
Kafa menahan senyum, ia bisa menebak apa yang Azfan dan Khalisa lakukan sebelum ia datang. Kini Kafa juga mengerti mengapa Azfan beberapa kali menyambutnya dengan wajah memerah. Dulu Kafa tidak menyadari itu tapi setelah menikah ia mulai mengerti. Kafa merasa bersalah karena datang tiba-tiba saat itu. Namun pagi ini Kafa datang tiba-tiba lagi, harusnya ia memberitahu Khalisa sebelum datang.
"Kafa." Khalisa menuruni anak tangga, "kamu bawa apa?"
"Aku bawain bunga buat Cece, ada Peony kesukaan Ce Khalisa."
"Wah besar banget buketnya, makasih ya." Khalisa hendak mengambil alih buket itu tapi Azfan mencegahnya.
"Ini berat." Azfan meletakkannya di atas meja dekat tangga.
Khalisa menghirup aroma buket bunga itu dalam-dalam, aroma Peony selalu paling menonjol di antara bunga lainnya. Khalisa akan meletakkannya di kamar nanti.
"Ini apa?" Khalisa melihat kotak hitam di tangan Azfan.
"Kafa ngasih aku hadiah juga."
"Oh ya?" Khalisa membuka kotak tersebut, "wah bagus banget, aku pakein ya." Ia mengeluarkan jam tangan berwarna hitam metalik itu dari kotaknya dan melingkarkan nya di tangan kiri Azfan. "Kafa udah sarapan belum, kita sarapan bareng aja disini sekalian."
"Aku udah sarapan, tadi Mahira bikin nasi goreng." Kafa duduk bersila di atas karpet merah yang terbentang ke seluruh ruangan. Sejak hari kedua menikah hingga sekarang Kafa selalu minta dibuatkan nasi goreng. Hingga hampir menginjak 1 bulan Kafa belum bosan dengan nasi goreng itu karena Mahira mengganti isiannya setiap hari, kadang sosis, ayam, telur dan berbagai bahan yang ada di kulkas.
"Enak ya punya istri, ada yang masakin." Azfan duduk di hadapan Kafa.
Kafa tersenyum mendapat pertanyaan itu, "bukan cuma itu aja Mas, walaupun kadang ribet tapi—punya istri tuh bukan sekadar memberikan kebahagiaan tapi kayak ada warna baru di kehidupan kita, awalnya hidupku cuma hitam putih lalu Mahira menambahkan warna hijau, merah, jingga, kuning kayak pelangi."
Azfan tertawa, ia setuju dengan perkataan Kafa. Dunianya yang semula sepi kini ramai karena ada Khalisa. Walaupun kadang itu terlalu ramai dan membuat Azfan tidak nyaman tapi Khalisa telah merubah kehidupannya dengan lebih baik.
"Azka mana?"
"Ada di atas, tidur."
Khalisa membawa dua kaleng minuman dingin untuk Kafa dan Azfan.
"Ini batik kangkung setingkes ya?" Kafa memperhatikan rok yang Khalisa kenakan.
"Iya, kamu masih inget sama motif-motif batik tradisional Banyuwangi?" Khalisa duduk bergabung dengan Azfan dan Kafa.
__ADS_1
"Inget lah, itu materi Basa Osing waktu SD." Kafa sudah pernah bilang jika ingatannya cemerlang. Sepertinya cucu-cucu Jaya Alindra diberikan ingatan yang bagus sejak lahir. "Aku balik dulu." Kafa menyambar kaleng minuman itu untuk membawanya pulang, ia tidak mau membuat Mahira menunggu terlalu lama.
"Buru-buru banget." Khalisa ikut beranjak.
"Sekarang udah punya istri jadi nggak mau pergi lama-lama." Ledek Azfan.
"Bye!" Kafa melambaikan tangan tanpa menoleh mengabaikan ledekan Azfan.
"Makasih ya hadiahnya." Seru Khalisa sekali lagi sebelum Kafa masuk mobil, ia kembali menutup pintu setelah mobil Kafa meninggalkan halaman. "Kenapa Bi?" Khalisa melihat Azfan sedang mengusap-usap bibirnya.
"Kafa bilang ada noda lipstik, masih ada nggak?"
"Nggak ada." Khalisa menggeleng, "oh jangan-jangan karena aku cium Abi barusan."
"Iya lah sayang, nggak mungkin aku pakai lipstik kan?"
Khalisa nyengir menyadari kecerobohannya, "lain kali aku akan pakai lipstik yang transferproof."
"Apa itu?"
"Lipstik yang nggak akan nempel kemana-mana, stay di bibir."
"Mana ada yang boleh seperti itu, cuma aku yang boleh stay di bibir kamu."
Mata Khalisa membulat lalu dua detik kemudian ia tertawa, "ada-ada aja nih Abi."
"Aku serius sayang." Wajah Azfan sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang bercanda.
"Oke deh oke." Khalisa akhirnya mengiyakan perkataan Azfan dari pada mereka memperdebatkan hal yang tidak penting "lagi pula seluruh tubuhku adalah milikmu."
Akhirnya Azfan tersenyum, ia mengajak Khalisa kembali ke kamar. Mereka tidak boleh meninggalkan Azka di kamar sendirian terlalu lama.
"Eh anak Umma sudah bangun!" Khalisa terkejut melihat Azka sudah duduk di atas bantalnya. Azka tidak menangis saat bangun dari tidurnya, itu sebabnya Khalisa khawatir jika meninggalkan Azka terlalu lama. Sepertinya setelah ini Azka sudah bisa turun sendiri dari box nya.
"Nanti Azka ikut ya ke kampus Mama." Khalisa mengangkat Azka dan mencium wajahnya berkali-kali. "Kamu wangi banget sayang."
"Azka lihat deh, Umma cantik banget ya?" Azfan merapikan rambut Azka yang berantakan saat baru bangun tidur.
"Abi juga cakep banget kan."
Azka tertawa terbahak-bahak melihat Khalisa dan Azfan. Sepasang matanya berbinar-binar, mata bulat yang sangat mirip Daniel.
"Waktu sangat cepat berlalu." Azfan duduk di kursi dekat Baby Tafel memandangi Khalisa dan Azka.
"Ini hari bahagia kita, Bi tapi sayang banget Rindang nggak bisa datang padahal aku berharap orang-orang terdekat kita ikut hadir."
"Kenapa Rindang nggak bisa datang?"
"Mungkin sibuk, dia lagi nyiapin pernikahannya."
"Umma mau kesana nanti?"
"Emang boleh?" Khalisa memiringkan kepalanya menunggu jawaban Azfan.
"Boleh, aku jagain Azka disini." Azfan mengusap lengan Azka dan mencubit pipinya pelan.
__ADS_1