Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
136


__ADS_3

Tiga hari sebelum pulang ke Banyuwangi Rindang mengunjungi rumah sakit tempat Valerie bekerja. Saat mendengar Levin diusir dari rumah Rindang begitu terkejut karena tak menduga jika orangtua Levin akan menentang pernikahan mereka sejauh itu. Rindang merasa bersalah pada Levin karena sejak awal ia tahu jika Valerie tidak menyukainya tanpa ia tahu alasannya.


"Koko yakin akan melanjutkan rencana pernikahan kita?"


Rindang mengajukan pertanyaan tersebut saat bertemu Levin di gedung komunitas mualaf sehari setelah Levin meninggalkan rumah. Saat itu tanpa pikir panjang Levin menjawab ia sepenuhnya yakin terhadap keputusannya untuk menikahi Rindang. Levin juga mengingatkan Rindang agar tidak pernah mengajukan pertanyaan seperti itu lagi.


Rindang kagum dengan tekad Levin untuk menikahinya, di sisi lain ia merasa kasihan kepadanya. Rindang telah memisahkan Levin dengan orangtuanya.


Koridor rumah sakit tampak ramai ketika Rindang melangkah melewatinya. Sebelumnya Rindang telah mendapat informasi keberadaan Valerie.


"Dokter Valerie sedang berada di ruang operasi." Begitu keterangan resepsionis tadi saat Rindang menanyakan tentang Valerie.


Rindang akan menunggu di depan ruangan Valerie hingga selesai melakukan kunjungan pasien. Walau bagaimanapun Rindang harus meminta restu pada orangtua Levin dan meminta maaf pada mereka. Rindang merasa ada sesuatu yang mengganjal jika ia tidak melakukan itu.


Rindang tidak mau egois, sebesar apapun keinginannya untuk menikah dengan Levin tentu itu tak lebih besar dari rasa sakit orangtua Levin saat anak mereka memilih pergi dari rumah.


"Maaf,  dokter Valerie sedang berada di ruang operasi." Seorang wanita berpakaian perawat menghampiri Rindang. "Anda tidak bisa membuat janji temu dengan beliau saat ini."


Rindang yang semula menunduk membaca Al-Qur'an berukuran kecil seketika mengangkat wajah.


"Oh, saya bukan pasien dokter Valerie, saya ingin bertemu dengan beliau secara pribadi."


"Dokter Valerie sedang melakukan operasi dan saya tidak bisa memastikan kapan beliau akan selesai."


"Tidak masalah, saya akan menunggu." Meski harapan Rindang untuk mendapat maaf dari Valerie sangat kecil tapi ia akan tetap mencoba.


"Kalau ada sesuatu yang penting, saya bisa menyampaikannya pada dokter Valerie."


"Tidak perlu, terimakasih."


"Baiklah kalau begitu." Perawat tersebut meninggalkan Rindang.


Rindang melanjutkan tilawah di tengah keramaian koridor siang itu. Mushaf berukuran kecil itu menjadi barang wajib yang Rindang bawa kemanapun selain mukenah. Dengan membaca Al-Qur'an, menunggu bukan lagi sesuatu yang membosankan. Rindang bisa melakukan banyak hal seperti berdzikir, tilawah, menghafal Al-Qur'an dan sesekali memeriksa pekerjaannya menggunakan ponsel.


Beberapa orang yang lewat menjadi salah fokus pada Rindang dengan pakaiannya yang sangat tertutup. Bagi Rindang itu bukan lagi hal yang mengejutkan. Ia sudah terbiasa mendapat pandangan aneh atau penasaran dari orang-orang di sekitarnya. Lagi pula itu tidak merugikan Rindang.


Tak terasa Rindang telah membaca 1 juz, ia mengangkat wajah menoleh ke kanan dan kiri. Kini ia menjadi satu-satunya orang yang berada di koridor tersebut. Rindang memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Ternyata Rindang sudah duduk disini selamat 2 jam. Akhirnya Rindang memasukkan mushaf ke dalam tas, ia beranjak dari sana ketika melihat pemberitahuan pada ponsel bahwa sudah masuk waktu Ashar. Namun ketika hendak melangkah, Rindang melihat Valerie di ujung koridor.


"Tante." Sapa Rindang seraya menganggukkan kepala dengan sopan.


Valerie hendak berbalik setelah tahu bahwa wanita yang berdiri sekitar 3 meter darinya adalah Rindang tapi ia terlambat, Rindang sudah melihatnya.


"Apa kabar Tante?" Rindang mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Valerie.


"Ada perlu apa kamu kesini?" Tanya Valerie mengabaikan ukuran tangan Rindang. Apakah Rindang akan memamerkan keberhasilannya menarik hati Levin.


"Saya boleh izin bicara berdua dengan Tante?"


"Apa kita punya sesuatu untuk dibicarakan?"


"Sebentar saja Tante Val." Rindang menarik tangannya kembali setelah beberapa detik nganggur di udara.


"Masuk ruangan saya." Valerie berjalan mendahului Rindang masuk ke ruangan dengan papan nama dr. Valerie Sp.An.


"Tante, saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya pada Tante." Rindang melihat Valerie duduk di kursi putarnya dengan gaya anggun. "Tolong maafkan Ko Levin dan saya memohon restu Tante untuk pernikahan kami."


"Coba banyakan jika kamu jadi saya, saya yang melahirkan dan membesarkannya hingga dia menjadi seperti sekarang, saya membiayai pendidikan dan memilih universitas bagus untuknya, sekarang bahkan dia belum setengah tahun menjadi dokter tapi dia berani sekali meninggalkan rumah demi kamu."


"Maafkan saya Tante, saya sama sekali tidak bermaksud membuat Ko Levin meninggalkan rumah, saya sangat mengharapkan kebesaran hati Tante untuk memaafkan kami."


"Memangnya apa istimewanya kamu sampai Levin mau meninggalkan rumah demi kamu?"

__ADS_1


"Saya tidak istimewa tapi sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa Tante sangat membenci saya."


"Kamu mau tahu alasannya?"


Rindang mengangguk.


"Saya mengkhawatirkan masa depan Levin karena dia akan menikah dengan wanita penyakitan seperti kamu, penyakit yang nggak bisa disembuhkan, apa kamu berniat menjadikan Levin sebagai perawat mu seumur hidup?"


Dada Rindang terasa nyeri mendengar perkataan Valerie, ia sungguh tidak menduga bahwa alasan Valerie tak merestuinya adalah karena penyakit yang dideritanya. Air mata menggenang di pelupuk mata Rindang, sekali berkedip kristal bening itu pasti akan lolos begitu saja.


Rindang tak mampu mengeluarkan kalimat apapun, ia bungkam. Hatinya terlalu sakit untuk membalas ucapan Valerie. Rindang ingin menghilang saja dari ruangan serba putih ini. Rindang tak sanggup melihat wajah Valerie lagi, hatinya seperti diiris-iris menjadi beberapa bagian. Sakit sekali. Jika Rindang sudah kebal oleh tusukan jarum di perut atau lengannya, lain halnya dengan ucapan—itu bisa membekas hingga bertahun-tahun atau bahkan selamanya.


"Duibuqi, wo bushi na zhong ren." Rindang mundur selangkah dan menaikkan dagunya menatap lurus ke arah Valerie. "Xiexie ni gei wi jihui shuohua, Wo qu." Rindang menjelaskan bahwa ia bukan tipe orang seperti yang Valerie katakan. Terakhir Rindang berterimakasih karena telah diberi kesempatan untuk bicara lalu segera undur diri dari situ.


Valerie melihat kepergian Rindang, sebenarnya ia tak terlalu mengerti apa yang Rindang katakan. Nilai bahasa Mandarin nya tidak terlalu baik saat bersekolah dulu.


Pandangan Rindang berkabut, ia melangkah cepat melewati koridor. Beberapa kali ia menabrak orang yang berpapasan dengannya. Rindang tak peduli dengan seruan orang-orang yang tak sengaja bertabrakan dengannya, ia hanya ingin cepat sampai mobil.


Dada Rindang begitu sesak mengingat kalimat Valerie barusan, ia memeluk kemudi dan menangis tersedu-sedu. Bahu Rindang naik turun dengan cepat, rasa sakit ini menariknya kembali ke masa lalu dimana ia pertama kali didiagnosa mengidap diabetes tipe 1 oleh dokter. Hanya saat ini sedikit lebih sakit. Rindang bisa melawan penyakitnya hingga sekarang tapi ia ragu untuk melanjutkan pernikahannya dengan Levin.


******


Rindang bisa sedikit tenang setelah mendirikan shalat ashar di masjid dekat rumah sakit. Tadinya Rindang urung pergi ke hotel Aswatama karena upaya yang ia lakukan seolah tak gunanya. Orang-orang yang tidak menyukai Rindang akan tetap seperti itu meski ia telah berusaha mendekati mereka.


Namun setelah melaksanakan shalat, tubuh Rindang seperti bergerak seperti menjalankan mobilnya menuju hotel Aswatama. Rindang pasrah pada apapun yang akan ia dapat nanti ketika menemui Michael.


Layar pada mobil menampilkan telepon masuk dari kontak bernama Ko Levin. Rindang mengetuk ikon telepon pada layar untuk menjawab telepon dari Levin.


"Halo." Rindang mengawali. "Kenapa Ko?"


"Suara kamu kok gitu, kamu pilek?"


Akibat terlalu lama menangis suara Rindang terdengar sengau seperti orang pilek.


"Aku udah dapat tiket pesawat ke Banyuwangi, nanti malam aku akan pergi lebih dulu."


Pandangan Rindang nanar ke arah jalanan di depannya. Mendengar Levin begitu semangat membuat Rindang tidak kuasa jika harus mengungkapkan keraguannya tentang pernikahan ini. Levin telah mengorbankan banyak hal sementara Rindang masih dikuasai oleh keraguan dalam dirinya.


"Oh iya, sampai sana nanti biar Papa yang jemput."


"Eh nggak perlu, lagian aku udah sering ke Banyuwangi."


"Nggak apa-apa, Papa emang mau jemput kok."


"Nggak usah, aku naik taksi aja ke hotel."


Rindang mengangguk mengiyakan padahal Levin tak bisa melihatnya sekarang.


"Ya udah Ko, aku lagi di jalan."


"Ya udah aku cuma mau bilang itu, jangan lupa minum obat, kamu harus jaga kondisi, hari pernikahan kita semakin dekat."


"Iya, safe flight Ko."


Sambungan terputus setelah Levin mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh Rindang.


Berbicara dengan Levin membuat Rindang kembali galau, ia seperti perahu kecil di tengah lautan yang terombang-ambing terbawa angin. Sedangkan perahu itu tak tahu dimana keberadaan dermaga untuknya bersandar. Ia hanya bisa mengikuti kemana arah angin akan membawanya.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?"


"Sore, saya bisa bertemu dengan Pak Michael?"

__ADS_1


"Sebelumnya sudah ada janji dengan Pak Michael?"


"Belum."


"Kalau begitu saya coba hubungi beliau dulu, atas nama siapa?"


"Rindang."


"Rindang?" Alis resepsionis itu terangkat karena tak asing dengan nama tersebut. Sepertinya beberapa hari yang lalu Michael pernah memberitahu bahwa mungkin saja ada seseorang bernama Rindang yang akan datang ke hotel ini. Perkiraan Michael benar.


"Rindang Anjana." Rindang mengulang namanya lebih lengkap.


"Baik, tolong ditunggu sebentar."


Rindang mengangguk pelan, karena sudah sampai disini maka tak ada alasan lagi bagi Rindang untuk merasa ragu.


"Silakan tunggu, Bapak sedang menuju kesini."


"Terimakasih." Rindang duduk di sofa yang berada di lobi.


Interior hotel Aswatama didominasi oleh kayu berwarna coklat dan lantai putih bersih yang memantulkan bayangan apapun yang ada di atasnya.


"Selamat sore Rindang."


Rindang mengerjap mendengar seseorang tiba-tiba berada di dekatnya. Rindang beranjak membalas sapaan pria berusia 50 tahunan yang mengenakan kacamata bulat tersebut, ia adalah Michael—papa Levin.


"Sebelumnya maaf karena kedatangan saya menyita waktu Om Michael."


"Sama sekali tidak mengganggu." Michael mempersilakan Rindang duduk kembali, ia tak kaget ketika resepsionis memberitahu kedatangan Rindang karena sebelumnya ia telah memperkirakan hal ini.


"Sepertinya Om sudah tahu kalau Ko Levin dan saya akan menikah dalam waktu dekat, saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Om karena mungkin hal ini juga yang membuat Ko Levin pergi dari rumah, saya sama sekali tidak berniat seperti itu."


"Saya mengerti."


"Maaf jika lancang tapi saya mohon doa restu Om Michael untuk pernikahan kami."


"Tanpa kamu minta, saya pasti mendoakan kalian."


Rindang terperangah tak percaya mendengar respon Michael yang tidak seperti bayangannya. Rindang sudah mempersiapkan diri diusir dari hotel ini sesaat setelah menemui Michael ternyata ia salah. Michael justru menyambut Rindang dengan hangat.


"Kamu mau minum apa?" Michael celingukan mencari karyawannya untuk meminta minuman.


"Tidak usah Om." Tolak Rindang.


"Apa sebelumnya kamu juga menemui Mama Levin?"


"Iya, saya baru saja dari rumah sakit."


Michael mengangguk, ia bisa melihat dari mata Rindang yang tampak sayu. Namun sekarang sepasang mata itu kembali berbinar.


"Saya janji akan membawa Mama Levin untuk hadir di pernikahan kalian."


Walau bagaimanapun ini adalah pernikahan anak pertama mereka. Michael tahu Valerie begitu menentang pernikahan tersebut tanpa ia ketahui alasannya. Kalaupun Valerie menyebutkan alasan dirinya menolak pernikahan itu, Michael yakin itu adalah alasan yang tidak masuk akal. Rindang dan Levin saling mencintai serta memiliki satu kepercayaan yang sama. Bagi Michael itu sudah cukup untuk memberi mereka restu.


Rindang kembali terkejut, matanya melebar tak percaya. Ia memang sangat menginginkan kehadiran orangtua Levin pada saat akad nikah nanti. Ternyata harapan setipis apapun masih bisa terwujud, bahkan Rindang sudah menyerah untuk berharap tapi tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak.


"Terimakasih banyak Om, tapi apa Om Michael tidak pernah berpikir kalau saya akan membuat Ko Levin merawat saya seumur hidupnya karena pernikahan ini apalagi dia seorang dokter?" Rindang menanyakan itu dengan hati-hati. Kalimat Valerie masih mendiami kelapa Rindang, itu sebabnya ia menanyakannya pada Michael.


"Saya tidak pernah berpikir seperti itu." Michael menggeleng.


"Apa Om tidak tahu penyakit saya?"

__ADS_1


"Saya tahu tapi saya tidak pernah berpikir bahwa kamu akan menjadikan Levin sebagai perawat mu karena saya percaya kalaupun Levin bukan seorang dokter, kamu akan tetap menikahinya kan?"


Rindang tersenyum lalu mengangguk berkali-kali, ia begitu tersentuh dengan ucapan Michael. Beban berat di bahunya tiba-tiba terlepas karena perkataan calon mertuanya tersebut. Sekarang Rindang tahu dari mana pemikiran bijak Levin berasal, itu datang dari papanya yang juga bijaksana.


__ADS_2