
"Aku udah memutuskan untuk beli ponsel baru!" Mahira berseru setelah lama terdiam, diamnya bukan tanpa maksud tapi ia sedang berpikir barang apa yang hendak dibeli dengan mahar pernikahannya. Mahira tak akan menggunakan semua, ia hanya ingin membeli sesuatu yang benar-benar diperlukan yakni ponsel. Mahira harus mengganti ponsel bututnya dengan yang baru.
"Ayo jalan." Kafa yang semula duduk di kursi putar dan fokus pada laptop di meja belajarnya spontan beranjak mendengar perkataan Mahira. Akhirnya ia bisa keluar setelah setengah hari hanya berdiam diri di apartemen. Kafa masih merasa canggung pada Mahira walaupun beberapa kali Mahira berusaha mencairkan suasana. Namun Kafa perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Kafa adalah orang yang sulit mengungkapkan perasaannya sehingga suasana menjadi canggung dalam waktu yang lama.
"Aku ganti baju dulu." Mahira melompat dari sofa berlari masuk ke kamar untuk mengganti pakaian karena ia hanya mengenakan piyama seharian ini.
Kafa menunggu Mahira dengan sabar sembari memainkan ponselnya. Kafa melihat foto-foto pernikahannya yang baru dikirimkan oleh tim fotografer. Bibir Kafa reflek tersenyum ketika memperbesar foto Mahira yang sedang menggandeng tangannya. Mata Mahira begitu mempesona membuat Kafa iri.
"Kenapa aku baru sadar kalau kamu tuh cantik banget." Lirih Kafa.
"Udah." Mahira keluar dari kamar setelah siap mengenakan gamis mocca dengan khimar berwarna senada.
"Udah?" Kafa mengalihkan pandangan dari ponsel, ia memperhatikan penampilan Mahira dari atas sampai bawah.
"Ayo berangkat." Mahira melangkah ke depan lebih dulu.
"Tunggu dulu." Kata merasa ada yang kurang dari penampilan Mahira.
"Apalagi?"
"Kaos kaki kamu mana?" Tatapan Kafa mengarah pada kaki Mahira tanpa kaos kaki.
"Kan gamisnya udah panjang, ketutup kok." Mahira tersenyum lebar merayu Kafa walaupun ia tahu Kafa bukan tipe pria yang mudah dirayu.
Kafa menggeleng, "harus pakai kaos kaki."
"Cuacanya lagi panas gini masa pakai kaos kaki." Mahira cemberut, sesuai dugaannya Kafa tidak bisa dirayu semudah itu.
"Panas dunia nggak seberapa sama panasnya neraka." Tatapan Kafa tajam—setajam silet yang bisa mengiris Mahira hingga meninggalkan rasa perih.
Mahira mendelik, ya ampun pakai bahas neraka segala.
"Mau pakai atau nggak usah pergi?" Tegas Kafa, jika Mahira tidak mau memakai kaos kaki maka lebih baik mereka tidak usah pergi.
"Ya udah aku pakai." Mahira menghentakkan kakinya ke lantai melewati Kafa kembali ke kamar untuk memakai kaos kaki. "Kalau udah bahas neraka, hamba bisa apa." Gerutunya ketika memilih kaos kaki di dalam laci. Harus Mahira tidak perlu memilih karena semua kaos kakinya berwarna hitam.
Mahira keluar setelah selesai mengenakan kaos kaki, "udah nih."
Kafa memutar badan, ia tersenyum melihat kaos yang membungkus kaki Mahira.
"Begini kan lebih cantik." Kafa mengusap kepala Mahira.
Mahira tersipu disebut cantik, apakah ini pertama kalinya Kafa menyebutnya cantik hingga membuat pipinya memanas. Sepertinya bukan yang pertama karena semalam Kafa meracau beberapa kali menyebut Mahira cantik ketika mereka sedang bergelut di atas tempat tidur.
"Ini demi kebaikanmu." Tambah Kafa dengan nada yang lebih lembut, ia rasa barusan bicaranya terlalu kasar hingga membuat Mahira kesal.
"Maaf aku belum bisa seperti Ummi." Mahira menunduk, ia hampir lupa bahwa dirinya memiliki mertua yang sempurna di matanya. Tak hanya penampilannya tapi perilaku Aisyah juga membuat Mahira kagum.
"Kamu nggak perlu jadi seperti Ummi, kamu akan tetap jadi dirimu sendiri." Kafa kembali mengusap kepala Mahira, sebagai suami ia harus membimbing Mahira pelan-pelan.
Kafa meraih kunci mobil yang tergeletak di meja ruang tamu. Biasanya Kafa meletakkannya di kamar tapi mungkin karena semalam buru-buru ia melemparnya ke sembarang tempat.
"Ngapain bawa itu, aku udah bawa kunci motor." Mahira menunjukkan kunci motornya di tangan kiri. "Nih kamu yang nyetir." Ia menyodorkannya pada Kafa.
"Kok aku?" Kafa menunjuk dirinya sendiri.
"Kan kamu suami." Mahira mengangkat alis, "dimana-mana suami tuh yang nyetir."
Kafa menelan saliva, ia bahkan belum bisa nyetir sepeda motor. Terakhir belajar sepeda dengan Azfan, Kafa menabrak pohon hingga membuatnya takut untuk belajar lagi. Kafa berencana untuk belajar di tempat khusus tentu dengan orang profesional tapi ia memiliki setumpuk kegiatan yang membuatnya tak sempat pergi ke tempat kursus sepeda.
"Jangan-jangan kamu nggak bisa naik motor." Mahira menyipitkan matanya menelisik eskpresi wajah Kafa.
"Udah kita naik mobil aja, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau siang ini panas banget, nanti kulitku terbakar." Kafa melenggang keluar lebih dulu, ia gengsi mengakui bahwa dirinya tidak bisa nyetir motor. Kafa harus sempurna di mata Mahira.
"Alasan." Cibir Mahira. "Ayo aku ajarin naik motor." Ia mengejar Kafa masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka menuju basemen.
__ADS_1
Kafa mengabaikan Mahira yang masih saja membahas tentang motor. Mahira tidak boleh mengetahui kelemahan Kafa. Tidak boleh.
Kafa menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalan Kaliurang menuju Alindra Mall. Kafa memberikan saran beberapa merek ponsel yang menurutnya bagus pada Mahira. Namun dari sekian banyak merek yang Kafa sebutkan, tak ada satupun yang membuat Mahira jatuh hati.
"Merek hp yang kamu sebutin mahal semua, aku nggak perlu yang terlalu mahal yang penting bisa dipakai." Mahira masih mencari-cari merek ponsel yang menurutnya bagus dan tak terlalu mahal di internet.
"Sekalian beli yang mahal karena kualitasnya juga pasti bagus."
"Banyak kok yang murah tapi bagus, menurutku nggak masalah beli hp mahal tapi untuk orang-orang yang kerjanya mengandalkan hp kayak Ci Rindang misalnya jadi dari hp itu dia dapat penghasilan yang jauh lebih besar dari harga hp nya tapi kalau aku belum perlu yang mahal."
Kafa terdiam mencerna kalimat Mahira lalu perlahan membenarkannya dalam hati. Pikiran Mahira sangat realistis dan jauh dari kata gengsi. Kini Kafa mengerti mengapa ia memutuskan untuk menikahi Mahira. Kafa hanya tidak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba ingin memperjuangkan Mahira saat ia mendengar Mahira melantunkan ayat Al-Qur'an yang begitu merdu. Kafa tak bisa menjabarkan jatuh cinta dengan kata-kata, itu terjadi begitu saja.
"Beli disini?" Mahira terperangah tak percaya ketika mobil Kafa memasuki area tempat parkir Alindra Mall. Biasanya Mahira membeli ponsel di e-commerce.
"Iya, sekalian lihat-lihat." Kafa turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Mahira.
Untuk sesaat Mahira terkejut karena ia tak pernah diperlakukan seperti ini. Alasan terbesarnya adalah Mahira tidak memiliki mobil sehingga tak ada yang membukakan pintu mobil untuknya sebelum ini.
Kafa menggenggam tangan Mahira sepanjang keluar dari tempat parkir hingga ketika mereka berhenti di salah satu tenant smartphone Kafa baru melepas genggamannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang karyawan toko menyambut Mahira dan Kafa.
"Boleh lihat yang ini." Mahira menunjuk salah satu ponsel di atas etalase.
"Boleh, silakan." Ia membiarkan Mahira memegang salah satu ponsel buatan Indonesia seraya menjelaskan spesifikasi dan keunggulan-keunggulan nya.
"Mau ini, gimana menurut mu?" Mahira menoleh meminta pendapat Kafa.
"Nggak lihat yang lain dulu?" Kafa tak akan buru-buru jika Mahira masih ingin melihat ponsel yang lain.
"Aku mau yang ini." Mahira telah melihat review pemakaian ponsel itu di internet saat perjalanan menuju kemari.
"Yang ini keluaran terbaru dari merek serupa." Karyawan toko wanita itu menunjukkan ponsel lain pada Mahira sebagai bahan pertimbangan.
"Cepet banget milihnya." Gumam Kafa dengan suara lirih, ia pernah menemani Khalisa dan Aisyah belanja hingga berjam-jam. Kafa pikir semua wanita akan menghabiskan waktu sangat lama untuk belanja tapi ternyata istrinya berbeda.
"Yuk." Mahira menarik tangan Kafa keluar dari toko smartphone tersebut menaiki eskalator menuju lantai tiga. Dulu Mahira sering melakukan ini dan Kafa akan langsung melepasnya tapi sekarang tidak lagi. Diam-diam Mahira tersenyum mengingat momen itu.
"Kamu mau beli baju dimana?" Tanya Mahira ketika mereka melewati tenant-tenant pakaian berbagai merek.
"Aku nggak mau beli baju."
"Tadi kamu bilang sekalian lihat-lihat kan?"
"Bukan lihat-lihat baju."
"Terus lihat apa?" Mahira mengerutkan kening, ia pikir Kafa hendak membeli pakaian atau sepatu.
"Ikut aja."
Sebelumnya Kafa telah mengecek tenant kosong di Alindra Mall untuk ia berikan pada mertuanya. Kafa bermaksud mengembangkan usaha rumahan tersebut karena melihat potensinya. Kafa yakin meskipun ada dua merek bakpia yang lebih dulu ada disini tapi bakpia buatan orangtua Mahira pasti akan laris manis.
"Ngapain kita kesini?" Mahira kebingungan ketika mereka berhenti di satu tenant kosong. "Mau beli angin?"
"Gimana menurut mu kalau bakpia Bapak dan Ibu dijual disini?"
Mahira masih berusaha mencerna pertanyaan Kafa, ia mengerti tapi—
"Maksud kamu?"
"Aku pengen usaha Bapak dan Ibu lebih berkembang, waktu pertama kali coba bakpia di rumah kamu aku langsung suka karena rasanya enak banget dan beda dari bakpia yang biasa aku coba jadi aku mau kasih tenant ini untuk mereka."
Mahira terperangah tak percaya untuk beberapa saat, kenapa Kafa tidak memberitahu sebelumnya jika merencanakan hal ini.
"Terimakasih karena kamu begitu peduli sama keluargaku tapi aku harus bicara sama Ibu dan Bapak, belum tentu mereka kau."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena selama bertahun-tahun mereka berjualan di samping rumah dan Alhamdulillah cukup untuk biaya hidup dan kuliah kami, mereka nggak punya karyawan kalau aku libur biasanya aku sama Mbak ku yang bantu, kalau pindah kesini mau nggak mau mereka harus pakai karyawan kan?"
Kafa terdiam, ia tidak berpikir sejauh itu. Kafa pikir Mahira akan senang dan langsung setuju ternyata masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan.
"Aku minta maaf." Gumam Kafa seraya menggenggam dua tangan Mahira.
Mahira menggeleng, walaupun ia cukup terkejut tapi Kafa tak perlu minta maaf. Mahira tahu niat Kafa baik.
"Aku bisa pikirin lagi tentang karyawan."
Mahira kembali menggeleng, "kamu belum punya penghasilan sendiri, jangan berpikir untuk bantu lagi."
"Aku bisa bantu kok." Kafa meyakinkan Mahira, ia bisa menggunakan uang tabungannya.
"Aku tahu kamu bisa tapi aku cukup nyusahin kamu Kafa."
"Kita sudah menikah, jangan bicara seperti itu." Kafa maju selangkah lalu mengecup kening Mahira, kemarin ia masih ragu-ragu hendak melakukan itu tapi sekarang mereka telah menyatu dan Kafa mulai menyukainya.
Mahira melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang karena tempat ini cukup tersembunyi. Kafa mulai berani mencium Mahira padahal ini tempat umum.
Ketika perjalanan pulang Mahira menelepon orangtuanya membicarakan tentang Kafa yang bermaksud memberikan satu tenant kosong di Alindra Mall untuk mereka. Orangtua Mahira mengatakan mereka hendak mempertimbangkan beberapa hal sebelum memberikan jawaban.
"Kita mau kemana?" Tanya Mahira ketika menyadari jalanan yang mereka lalui bukan jalan pulang.
"Hotel Aswatama." Jawab Kafa santai, tadi pagi Aisyah menghubunginya mengajak dirinya dan Mahira makan bersama keluarga besar di hotel Aswatama.
"Ngapain?" Tidak mungkin kan Kafa mengajaknya bulan madu di hotel. Tidak mungkin. Mereka tidak merencanakan hal itu sebelumnya. Lagi pula apartemen Kafa sudah cukup mewah dan nyaman.
"Ummi dan Abi ngajak makan bareng."
Mata Mahira melebar, "kok nggak bilang sih?"
"Barusan kan aku bilang." Kafa melirik Mahira yang sepertinya sebentar lagi akan mengomel.
"Maksud ku kenapa baru bilang kan aku bisa pakai baju yang lebih bagus tadi Kafa." Mahira menegakkan tubuhnya melihat Kafa kesal.
"Baju kamu udah bagus kok, mau pakai baju yang gimana lagi?"
"Laki-laki mana ngerti." Dengus Mahira kesal. "Sama siapa lagi makannya?"
"Sama Cece Khalisa, Mas Azfan, Susuk-Susuk dan Ai-Ai ku, ada Akong juga."
"Tuh kan nanti mereka bilang apa kalau aku cuma pakai baju kayak gini?" Mahira melihat gamis yang dipakainya, ia bisa membayangkan penampilan keluarga Kafa lainnya. Pasti baju yang mereka kenakan bagus-bagus dan mahal.
"Percaya deh sama aku penampilan kamu udah bagus kok, aku aja cuma pakai celana sama kemeja biasa." Kafa berusaha membangun kepercayaan diri Mahira, ia tahu Mahira bukan tipe orang yang mudah minder.
"Tapi kan kamu chindo." Mahira mengerucutkan mulutnya, rasanya ia ingin mencakar muka ganteng suaminya itu karena telah membuatnya kesal bukan main.
"Memangnya kenapa kalau chindo?"
"Pakai kaos sama celana pendek aja udah bagus."
Kafa terkekeh, "lagian kecantikan kamu tuh cuma boleh buat aku jadi pakai baju yang biasa aja kalau keluar."
Mahira tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Apakah ia harus tampil seperti orang gembel di depan keluarga suaminya sendiri. Dasar Kafa!
Lagi selfie sama hp baru
__ADS_1