Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
137


__ADS_3

"Aku akan menikah dengan Rindang." Suara Levin begitu lirih di tengah keramaian cafe sore itu. Di hadapannya Jason duduk tenang dengan wajah datar tapi sedetik setelah kalimat itu meluncur dari mulutnya, raut wajah Jason berubah terkejut bercampur kesal. Jason mengepalkan tangannya, ia ingin marah tapi setelah dipikir lagi tak ada gunanya marah-marah. Jason sudah mendapat penolakan Rindang, sebesar apapun dirinya berusaha mendekati, ia tak akan berhasil.


"Selamat." Jason mengulurkan tangan menjabat tangan Levin. "Kenapa kamu ngasih tahu aku?" Tadinya Jason hendak menolak permintaan Levin untuk bertemu tapi akhirnya ia setuju karena Levin memaksa.


"Entah lah, aku merasa harus ngasih tahu kamu supaya nggak ada kesalahpahaman di antara kita."


Jason tertawa, tawa palsu yang menyiratkan betapa hancur perasannya saat ini. Saat awal-awal berpacaran dengan Rindang, Jason sering berkata bahwa ia akan terus mencintai wanita itu. Dan ucapan itu masih terbukti hingga sekarang. Jason tak bisa mengusir perasaan itu meski Rindang telah menolaknya mentah-mentah. Jason sadar, dirinya yang sekarang tak pantas untuk Rindang. Lalu siapa yang pantas untuknya? Jason sudah mendapatkan jawabannya sekarang. Levin adalah pasangan sempurna untuk Rindang.


"Aku udah pura-pura tabah tapi ternyata susah, aku nggak bisa." Jason mengusap matanya yang basah, ia tertawa sampai mengeluarkan air mata. Bibir Jason gemetar membentuk senyum melengkung seperti bulan sabit. "Tapi bukan berarti aku nggak rela kamu nikah sama Rindang, walaupun aku akui kenangan ku bareng Rindang sulit dilupain tapi aku harap hubungan kalian langgeng."


"Thanks Jas." Levin meneguk jus jeruk yang sudah dipesannya. Rasa manis dari jus itu tidak membuat Levin terhibur, ia merasa bersalah karena telah memberitahu hal ini. Levin hanya tidak ingin mengkhianati Jason walaupun Rindang sudah tak memiliki hubungan apapun dengan Jason.


Levin mengerti perasaan Jason karena ia pernah berada di posisi itu, ketika Khalisa menolaknya lalu beberapa bulan kemudian ia mendengar kabar bahwa Khalisa akan menikah dengan Azfan. Levin harap Jason juga segera menemukan tambatan hatinya.


"Kamu mau hadiah pernikahan apa?"


"Nggak perlu, kami akan melakukan akad nikah di masjid lalu makan bersama keluarga tanpa resepsi."


"Kenapa?" Alis Jason terangkat, ia pikir Rindang bukan tipe orang yang suka mengadakan acara dengan sederhana. Rindang selalu heboh dalam berbagai hal. Jason pikir mereka akan melakukan resepsi besar-besaran yang dihadiri golongan kelas atas di Banyuwangi. Jason tak percaya jika Levin dan Rindang hanya akan melakukan akad nikah di masjid.


"Itu yang Rindang inginkan dan aku sepakat untuk melakukan akad tanpa resepsi."


"Dia banyak berubah, dia bukan lagi Rindang yang aku cintai, dia sudah menjadi Rindang yang diciptakan untuk kamu."


"Aku rasa gitu." Levin tahu saat ini Jason sedang berusaha membuatnya yakin bahwa Jason telah sepenuhnya merelakan Rindang untuknya. Namun Jason tak bisa menyembunyikan apa yang tersirat di balik senyumnya.


"Aku akan traktir kamu kali ini." Jason memanggil waiter untuk memesan beberapa makanan ringan.


"Harusnya aku yang traktir kamu."


"Ayolah, aku lagi berusaha membuat diriku nggak terlalu terlihat menyedihkan." Jason menunjuk tiga menu dessert coklat untuk dirinya dan Levin. Jason tersenyum getir, sebenarnya dengan dirinya berada disini di hadapan Levin itu sudah cukup membuatnya terlihat menyedihkan. Bagaimana tidak, semua orang datang dengan pasangannya masing-masing. Hanya mereka dua orang laki-laki yang duduk di satu meja.

__ADS_1


"Baru-baru ini, aku ada proyek fotografi prewedding di rumah sakit."


"Mereka dokter?"


"Bukan, mempelai wanitanya lagi sakit." Pandangan Jason menerawang mengingat momen menyentuh antara sepasang kekasih yang sedang melakukan foto prewedding. "Calon suaminya bilang, kalau berhasil sembuh dia akan mengabulkan apapun keinginan kekasihnya."


"Apa keinginannya?"


"Dia ingin calon suaminya itu menikah dengan wanita lain karena penyakitnya nggak bisa disembuhkan, dokter bilang kemungkinan untuk sembuh sangat kecil dan waktunya udah nggak lama lagi."


"Dokter bilang gitu?" Tanya Levin tak percaya, yang lebih mengejutkan adalah mempelai wanita meminta kekasihnya menikahi wanita lain. "Itu nggak masuk akal, mereka menemukan cara terbaik untuk sakit hati bersama-sama."


"Karena dia percaya penyakitnya nggak mungkin sembuh jadi dia berani minta hal itu."


"Terus gimana keadaannya sekarang?"


"Aku nggak tahu, aku berharap mereka tetap menikah."


"Vin, aku cuma berharap kamu akan mendampingi Rindang selamanya, aku tahu kamu akan melakukannya walaupun aku nggak minta tapi kita semua tahu pankreas Rindang nggak akan pernah bisa memproduksi hormon insulin lagi jadi aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya karena penyakit itu."


"Itu sama sekali nggak terlintas di pikiranku."


"Aku tahu."


Kue Black forest dan 2 piring Cheesecake dengan balutan coklat tersaji di atas meja. Sebagai pendampingnya Jason memesan 2 espresso untuk menemani obrolan mereka.


"Kamu suka makanan manis ternyata." Levin menyendok cheesecake dan melahapnya.


Itu adalah 2 jenis kue yang sering Rindang pesan dulu saat sedang makan di cafe bersama Jason. Itu adalah kue kesukaan Rindang yang hampir tidak pernah lagi ia makan. Biasanya Rindang hanya memakan sesuap dan Jason yang akan menghabiskannya. Rindang bilang ia akan puas setelah melihat Jason menghabiskannya, seolah-olah ia ikut memakan kue itu.


"Aku nyesel udah menggunakan kepercayaan kalian untuk kembali mendekati Rindang, aku malu banget kalau ingat itu."

__ADS_1


"Its okay, pada akhirnya kamu mau mengakuinya." Levin berharap suatu hari nanti Jason akan benar-benar jatuh cinta pada Tuhan yang sama dengan dirinya dan Rindang.


"Aku bener-bener nggak terima waktu Rindang mutusin aku karena dia mau masuk islam tapi pada saat yang sama aku juga nggak bisa menentangnya."


"Rindang memang luar biasa." Levin ingat saat bertemu Rindang di museum, ia dibuat kagum oleh penampilan Rindang yang berubah total. "Aku harus pergi." Levin melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oke." Jason mengangguk, sebelum bertemu tadi Levin sudah bilang bahwa hari ini ia akan berangkat ke Banyuwangi. Levin mengajak Jason bertemu sebelum pergi ke bandara.


"Makasih udah mau ketemu dan ngobrol." Levin beranjak.


"Jangan berlebihan, aku nggak mau kita berteman." Jason pura-pura memasang wajah galak.


Levin terkekeh, "kamu udah kayak adik aku." Ia menepuk bahu Jason dua kali.


"Apa aku harus panggil Koko?"


"Boleh."


Jason bergidik ngeri membayangkan hal itu, "semoga acara kalian lancar."


"Aamiin, aku pergi dulu." Levin melambaikan tangan lalu keluar dari sana meninggalkan Jason yang masih harus menghabiskan dua piring dessert. Tiba-tiba Jason menyesal telah memesan kue manis itu terlalu banyak.


Jason kembali menjatuhkan diri di atas kursi memandang kosong pada piring dessert Levin yang sudah bersih tak tersisa, seperti hati Jason yang benar-benar terasa kosong.


Terlalu banyak hal yang harus Jason lupakan saat bersama Rindang dulu. Rindang Anjana yang namanya terpahat di hati Jason hingga sekarang.


Tak butuh waktu lama bagi Jason untuk jatuh cinta pada seorang Rindang. Berawal dari dirinya yang menjadi panitia ospek, selama seminggu Jason memperhatikan Rindang yang menurutnya paling bersinar di antara Maba lainnya. Setelah ospek berakhir Jason melakukan pendekatan dan seminggu setelah itu mereka resmi berpacaran.


Mereka melakukan banyak hal bersama, makan, mengerjakan tugas kuliah hingga melakukan pemotretan Rindang saat harus mempromosikan produk tertentu. Minggu menjadi hari paling dinanti dimana mereka akan melakukan ibadah bersama di gereja. Setelahnya mereka akan makan siang di rumah Jason.


Jason mengaduk Black Forest dengan tidak berselera hingga kue itu tak berbentuk. Jason meluapkan amarahnya pada kue yang tak berdosa itu.

__ADS_1


Jason menatap pantulan wajahnya pada sendok, rambutnya yang berwarna ungu mulai pudar menjurus ke hitam. Dulu ia dan Rindang selalu mengganti warna rambut setiap dua Minggu sekali. Mereka memiliki hobi yang sama yakni gonta-ganti warna rambut. Namun sejak putus dari Rindang, Jason tak lagi mewarnai rambutnya. Jason berharap cintanya juga pudar bersama warna rambutnya.


__ADS_2