Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
164


__ADS_3

Khalisa mengeluarkan dua botol susu Azka yang sudah kosong. Ia beristighfar berkali-kali sejak dari apartemen Kafa jingga sampai di rumah karena telah berbohong soal asam sulfat itu untuk menakut-nakuti perempuan di lift tadi. Padahal itu adalah botol susu Azka, untuk apa Khalisa membawa asam sulfat. Namun sepertinya wanita tadi percaya pada ucapan Khalisa.


Azka sudah tidur setelah menghabiskan dua botol susu dan setengah buah apel di apartemen Kafa tadi. Khalisa bisa mengerjakan hal lain selama Azka tidur seperti membersihkan botol misalnya.


"Umma." Suara Azfan terdengar dari luar dapur. Khalisa yang tengah memasukkan botol susu ke dalam bottle sterilizer menoleh ke arah pintu dapur. Ia melihat Azfan melangkah menghampirinya.


"Kenapa Bi?" Khalisa mengulas senyum.


"Ada Humaira di depan."


"Humaira?" Khalisa mengulangi ucapan Azfan.


"Huma."


"Zalfa Humairah?" Mata Khalisa melebar tak percaya jika sahabatnya itu ada disini. Sejak wisuda mereka hampir tidak pernah bertemu lagi. Terakhir kali adalah saat pernikahan Rindang dan Levin. Huma menginap beberapa hari di rumah Khalisa.


"Memangnya ada Huma lain?" Azfan tampak berpikir, ia tidak tahu jika Khalisa memiliki beberapa teman bernama Huma.


"Banyak Bi, teman satu jurusan ku aja ada lima yang namanya Huma." Khalisa menghentikan aktivitasnya membersihkan botol, ia mengeringkan tangannya dan meminta tolong Azfan melanjutkannya.


"Ya udah, Umma ke depan dulu gih." Azfan menggantikan Khalisa mensterilkan botol susu Azka. Ia juga mencuci dua piring kotor di wastafel.


"Huma!" Khalisa berseru melihat punggung Huma di depan pintu, dari belakang saja ia yakin bahwa gadis itu memang Huma sahabatnya.


Ketika Huma berbalik, Khalisa langsung menghambur memeluknya.


"Kangen banget!" Khalisa memeluk Huma sangat erat.


"Aku juga, makanya aku bela-belain dari Surabaya kesini cuma mau nemuin sahabatku yang cantik!" Huma membalas pelukan Khalisa. "Aku nonton acara talk show kamu tadi." Ia menontonnya selama perjalanan menuju kesini. Huma berencana menginap beberapa hari di rumah Khalisa atau hotel sekitar situ.


"Oh ya?" Khalisa melepas pelukan menatap wajah Huma lekat, ia amat merindukan sahabatnya itu.


"Gila kamu mau siram pelakor pakai asam sulfat beneran?" Mata Huma melebar, ia tak percaya jika Khalisa memiliki cairan itu disini. Namun jika Khalisa tak punya, Huma bisa memberikannya demi menghempas jauh pelakor.


Khalisa tertawa, mengapa orang-orang percaya padahal ia hanya bercanda.


"Enggak lah." Khalisa mengibaskan tangan.


"Emang beneran ada pelakor." Tanya Huma tak percaya, memiliki suami tampan memang berbahaya.


"Pelakor itu apa?" Khalisa tak mengerti istilah yang Huma gunakan.


"Ck masa kamu nggak tahu, perebut laki orang." Huma mengatakannya dengan suara lantang agar Khalisa mengingatnya.


"Oh, Ada." Khalisa menarik Huma ke ruang tengah. "Aku ketemu dia tadi."


"Serius? terus gimana?"

__ADS_1


"Jangan deketin Mas Azfan, atau aku bakal siram kulit kamu pakai asam sulfat." Khalisa mengulang perkataannya pada wanita di lift tadi.


"Kamu bilang gitu?" Huma ingin bertepuk tangan untuk Khalisa, sayangnya ia tidak ada disana saat itu.


"Iya sambil nepuk-nepuk botol di dalam tas dan dia kelihatan ketakutan padahal itu botol susunya Azka."


Huma tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Khalisa. Tak disangka bahwa Khalisa ternyata bisa menghadapi perempuan yang berniat mengganggu rumah tangganya. Padahal dulu saat masih kuliah, jika ada yang membully Khalisa, Huma yang akan membelanya. Namun sekarang Khalisa sudah bisa mengatasinya sendiri. Tentu Khalisa bisa menyesuaikan kapan ia cukup mendiamkan mereka atau ia harus melawannya.


"Oh iya, aku bawain sesuatu buat kamu." Huma membuka tas di sampingnya dan mengeluarkan sebuah kotak, "aku suka banget sama produk ini dan Geza kirimin buat aku padahal aku baru aja beli, jadi buat kamu satu."


"Wah Geza masih suka ngirimin kamu sesuatu?" Khalisa membuka kotak berwarna biru muda tersebut.


"Iya padahal aku udah bilang berkali-kali jangan pernah kirimin aku sesuatu lagi, aku nggak enak sama dia."


Terdapat 4 buah liptint dengan berbagai warna di dalam kotak tersebut. Kotak dan packaging liptint tersebut memiliki motif yang tidak asing bagi Khalisa. Sepertinya Khalisa pernah melihatnya beberapa kali.


"Ini Slytherin, Gryfindor, Ravenclaw dan Hufflepuff." Huma menunjuk satu per satu liptint dan menyebutkan nama-nama mereka. Itu adalah liptint seri Harry Potter yang dijual terbatas. Huma kaget saat tahu Geza berhasil mendapatkannya. Namun saat itu Huma telah memiliki liptint yang sama, jadi ia memberikan satu untuk Khalisa.


"Ini liptint Harry Potter?"


"Exactly!"


"Look expensive."


"Kamu pasti suka yang Slytherin, dia warnanya cantik banget." Huma mengambil satu liptint dan mengoleskannya di bibir Khalisa. "Bagus banget."


"Tanya Azfan, Fan bagus nggak?" Huma melihat Azfan datang sekalian ia menanyakan pendapatnya tentang liptint di bibir Khalisa.


"Bagus, Umma bagus pakai warna apapun." Puji Azfan jujur.


Huma memutar bola mata jengah, percuma saja ia bertanya pada Azfan. Itu tak akan membantu. Bahkan meskipun Khalisa tak mengenakan apapun, Azfan tetap akan mengatakan Khalisa cantik.


"Mau dibikinin minum apa?" Tanya Azfan.


"Nggak usah Bi, aku aja yang bikin ntar." Sahut Khalisa.


Azfan meninggalkan Khalisa dan Huma agar mereka lebih leluasa mengobrol tanpa merasa sungkan padanya. Azfan memilih menemani Azka tidur di dalam box.


"Geza baik banget ya beliin kamu barang mahal kayak gini ditambah lagi dia ngerti apa yang kamu suka, dia tahu cara mengambil hati seorang Humairah."


"Aku kesini juga mau ngomong soal Geza, dia selama ini udah baik banget sama aku tapi hubungan kami nggak ada kejelasan, aku tahu mungkin dia mau nyelesain kuliahnya dulu tapi—" Kalimat Huma menggantung, ia sedang mencari kalimat yang tepat untuk dikatakan pada Khalisa.


"Ada yang ngajak kamu serius ya?" Duga Khalisa, melihat raut wajah galau Huma sepertinya ada seorang lelaki yang mengajak Huma berhubungan serius.


"Kok kamu langsung tahu sih?" Huma bahkan belum memberitahu apapun tapi Khalisa langsung bisa menebaknya.


Khalisa mengedikkan bahu, "aku nebak aja."

__ADS_1


"Jadi gimana menurut kamu?"


"Kamu suka sama Geza?" Sebenarnya Khalisa tak perlu menanyakan itu karena perasaan Huma terlihat jelas.


Huma mengangguk. Sejak pertama bertemu Geza, Huma langsung menyukai cowok itu. Geza humoris dan amat mengerti apa yang Huma inginkan. Itu sebabnya berat bagi Huma untuk memilih.


"Aku juga udah akrab sama Tante Dianis, tipe calon mertua yang baik dan jago masak pula."


"Justru punya mertua yang jago masak itu beban lo karena kita akan khawatir kalau masakan kita nggak seenak punya mertua."


"Aku klop banget sama Tante Dianis, kayak sahabat yang udah kenal lama tapi aku juga nggak punya alasan untuk menolak cowok itu, dia ganteng dan sholeh apalagi yang aku cari, dia tipe husband material idaman aku."


"Kamu suka Geza karena dia bisa ngerti kesukaan mu, dia tahu banget kamu suka Harry Potter dan nggak semua cowok kayak gitu kan?"


Tentu saja zaman sekarang adalah sesuatu yang langka jika ada seseorang menyukai Harry Potter. Itu adalah cerita fantasi yang populer puluhan tahun lalu.


"Iya, kenal cowok kayak Geza tuh langka banget, dia mau dengerin cerita ku soal film-film yang aku tonton, dia kerja di tempat Azfan juga katanya demi aku."


"Demi beliin kamu barang itu?"


"Mungkin?"


"Mending kamu shalat istikharah, kamu minta petunjuk sama Allah supaya nggak salah langkah."


Huma menghela napas berat menyandarkan tubuhnya. Ia makin galau.


"Kamu takut jawabannya nggak sesuai sama keinginan mu?"


Huma menoleh menatap Khalisa, "kamu bisa baca pikiranku ya?"


"Enggak lah, aku pernah ada di posisi kamu waktu Kak Fawas dateng ke rumah dan melamar ku, aku nggak bisa tidur semalaman tapi kamu harus yakin, pilihan Allah itu yang terbaik buat kamu walaupun kadang nggak sesuai keinginan mu, kita nggak akan pernah tahu jawabannya sebelum mencoba." Khalisa memegang kedua lengan Huma.


Huma mengangguk beberapa kali, ia akan mencoba saran Khalisa. Siapa yang dapat memberi jawaban terbaik selain Allah? tidak ada. Allah adalah penulis skenario terbaik untuk seluruh makhluk walaupun kadang itu tak sesuai keinginan dan harus melalui berbagai kesulitan.


"Ngomong-ngomong, siapa cowok itu?"


Huma tersenyum penuh arti, "aku nggak mau kasih tahu kamu dulu."


"Aku kenal ya?" Mata Khalisa membulat, ia mulai menebak-nebak nama cowok yang ia kenal di kepalanya. Apakah itu teman satu angkatan atau satu fakultas atau bahkan orang terdekat mereka. Khalisa bisa gila karena penasaran.


Huma kembali mengangguk, senyumnya semakin lebar seolah senang karena telah membuat Khalisa penasaran.


"Kasih tahu ih siapa!" Khalisa mengguncang tubuh Huma.


"Kalau ternyata memang dia jawaban yang Allah kasih, aku bakal kasih tahu kamu." Huma beranjak dari sana. Ia haus setelah menempuh perjalanan cukup jauh dari stasiun kesini. Huma ingin membuat minuman dingin, ia tahu Khalisa memiliki banyak buah di kulkas.


"Ih curang!" Khalisa menyusul Huma ke dapur. Ia tidak suka dibuat penasaran seperti ini.

__ADS_1



__ADS_2