
Suara lirih Azfan melantunkan surat Yusuf menarik Khalisa dari dunia mimpi ke dunia nyata. Khalisa meraba-raba kasur. Kosong. Azfan memang tidak ada disitu. Khalisa pikir itu hanya mimpi.
"Mas kok nggak bangunin aku?" Khalisa bangun dengan mata setengah terbuka. Kenapa Azfan tidak menghidupkan lampu ruangan, ia membaca Al-Qur'an di tengah sinar temaram dari lampu tidur yang berwarna kekuningan.
Azfan mengangkat wajahnya dan mendapati sang istri sudah bangun, ia meletakkan mushaf Al-Qur'an di atas nakas dan duduk di samping Khalisa.
"Aku sengaja nggak bangunin karena Haura susah tidur dan beberapa kali bolak-balik kamar mandi tadi." Azfan mendekap Khalisa dan mengusap-usap lengannya. "Tidur lagi ya." Khalisa hanya tidur sekitar 2 jam karena akhir-akhir ini ia memang susah tidur dengan nyenyak.
"Nggak mau Mas, aku harus siapin makan sahur." Mereka sudah berniat puasa Sunnah hari Kamis.
"Panasin aja makanan semalam, Haura jangan masak lagi."
"Tapi cuma ada sisa ayam dua potong sama tempe." Khalisa ingat mereka hanya punya sisa makanan itu di dapur.
"Nggak apa-apa, cukup kok." Azfan tidak mau Khalisa susah payah memasak lagi karena ia tahu memasak itu adalah hal yang melelahkan. Apalagi tubuh Khalisa terlihat lemas beberapa hari terakhir.
"Bikin sayur bening bayam ya?" Khalisa mendongak melihat wajah Azfan, bahkan di tengah temaram ia bisa melihat ketampanan sang suami. Khalisa tidak sabar melihat wajah anaknya, apakah akan mirip Abi nya? atau justru mirip dirinya dengan mata sipit dan kulit putih pucat.
"Boleh deh kalau Haura mau makan sayur." Azfan mencium perut Khalisa, aktivitas yang biasa ia lakukan saat Khalisa baru bangun tidur "hari ini Umma nya mau puasa ya sayang."
"Udah lewat HPL dua hari, kayaknya dia masih betah di dalam sana."
"Semoga cepet lahir dengan selamat dan nggak bikin Umma kesakitan."
"Sebenernya agak sakit sih Mas di bawah sini." Khalisa menunjuk perut bagian bawahnya, ia merasa bayinya akan keluar saat berjalan tapi tentu saja itu tidak mungkin.
Azfan menegakkan tubuhnya melihat Khalisa, "apa kita ke dokter aja?" Wajahnya berubah khawatir.
"Kan kemarin udah ke dokter." Khalisa mengusap pipi Azfan.
"Hari ini yakin Haura mau puasa?"
"Ya, dokter juga bilang nggak apa-apa kan aku puasa, ayo turun." Khalisa turun dari ranjang begitupun dengan Azfan.
"Biar aku yang beresin kasurnya."
"Ya udah aku ke dapur dulu ya Mas." Khalisa keluar kamar setelah meraih tali rambut yang ia letakkan di meja rias. Ia akan mencuci muka di kamar mandi bawah sembari menyiapkan air untuk membuat sayur bening. Semalam ia telah memotong bayam dan wortel untuk persiapan sahur.
Perasaan Khalisa saat ini campur aduk antara tidak sabar bertemu dengan sang jabang bayi sekaligus takut menghadapi kelahiran. Mungkin karena ini pertama kalinya Khalisa hendak melahirkan. Khalisa tidak henti bersholawat dan berdoa agar Allah melancarkan proses kelahirannya.
Azfan mengambil dua piring nasi dari rice cooker agar tidak terlalu panas saat mereka memakannya sebentar lagi. Ada dua potong ayam dan sepotong tempe, Azfan membaginya menjadi dua dan meletakkan di piring mereka masing-masing.
"Katanya kita nggak perlu terlalu susah payah siapin makanan untuk sahur saat puasa Sunnah, dulu Abu Bakar Ash-Shiddiq marah ketika istrinya menyiapkan banyak makanan sahur, katanya puasa Sunnah nggak boleh mengalahkan puasa Ramadhan tapi karena Haura butuh lebih banyak asupan, jadi aku mau kupas apel dan pir ya."
"Boleh Mas." Khalisa mencicipi kuah sayur bening yang sebentar lagi matang. "Apel nya nggak usah dikupas Mas, aku mau sama kulitnya."
"Baik sayangku." Azfan mencuci apel dan pir lalu mengupasnya. Ia memotongnya lebih kecil dan meletakkan di atas piring.
Mereka berdoa sebelum makan, menu sederhana yang akan membuat Khalisa makan dengan lahap. Berat badan Khalisa naik sekitar 5 kilogram memasuki trimester ketiga. Khalisa sering khawatir karena ia hanya naik 5 kilogram tapi dokter mengatakan semuanya baik-baik saja dan meminta Khalisa tidak terlalu memikirkan itu.
"Haura yakin mau puasa?" Azfan bertanya sekali lagi karena ia melihat wajah Khalisa tidak terlihat seperti biasa. Kulit Khalisa memang putih pucat tapi Azfan merasa wajah sang istri lebih pucat.
"Ada apa Mas?" Khalisa tersenyum karena Azfan sudah menanyakan hal itu tadi.
"Nanti kalau nggak kuat langsung batalin ya."
Khalisa menggenggam tangan Azfan lalu mengangguk.
"Perutnya masih sakit?"
"Kadang-kadang sakit tapi aku nggak tahu ini kontraksi atau bukan, aku takutnya ini kontraksi palsu Mas."
"Mending nanti kita ke dokter ya, aku nggak mau terjadi sesuatu sama Haura."
Khalisa mengangguk menuruti kemauan Azfan. Khalisa merasa punggungnya jauh lebih sakit dibandingkan perutnya, ia tak pernah merasakan sakit yang seperti ini. Rasanya seperti saat datang bulan tapi berkali-kali lipat lebih sakit.
Setelah makan Azfan mencuci semua wadah kotor sementara Khalisa mandi bersiap sholat subuh. Azfan juga menyapu lantai dapur sekaligus mengepelnya. Ia mendengar percakapan Khalisa dan Kafa waktu itu. Kafa bertanya mengapa Khalisa tidak menggunakan jasa ART di rumah. Azfan merasa kecil hati saat mendengar itu, ia terus berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu Khalisa sebisanya. Azfan tidak mau Khalisa kelelahan. Mereka memiliki segudang aktivitas dan hampir tidak ada waktu senggang. Bahkan saat libur semester Khalisa menggunakannya untuk magang di apotek kampus.
Azfan selalu mengatakan bahwa Khalisa tak perlu memaksakan diri melakukan semuanya sendiri. Khalisa harus istirahat saat capek dengan pekerjaan rumah. Namun Khalisa selalu bilang bahwa ia tidak suka diam tanpa melakukan apapun. Berbagai pekerjaan membuat Khalisa merasa lebih baik dibandingkan duduk tanpa melakukan apa-apa.
"Aku berangkat ke masjid ya." Azfan mengenakan kopiahnya.
"Mas Azfan ganteng banget pakai baju itu." Khalisa memperhatikan Azfan dari atas sampai bahwa, jubah putih itu sangat cocok di tubuh Azfan.
Azfan senyum-senyum dipuji seperti itu oleh Khalisa.
"Haura juga cantik pakai itu."
"Pakai ini?" Khalisa mendelik tak percaya karena ia hanya mengenakan bathrobe putih yang setiap hari ia kenakan—maksudnya tak ada yang spesial dari handuk berwarna putih itu tapi Azfan mengatakan dirinya cantik.
Azfan terkekeh, "maksudku, Haura cantik pakai apapun."
Khalisa mengerucutkan bibirnya tak percaya, ia merasa ada puluhan kembang api yang meletup-letup saat Azfan mengatakan hal tersebut.
"Aku berangkat dulu ya, assalamu'alaikum."
"Hati-hati Mas." Khalisa menjawab salam menatap kepergian Azfan.
Azfan berangkat ke masjid sebelum adzan berkumandang, kadang ia juga mengumandangkan adzan di masjid yang tak jauh dari rumah mereka. Khalisa sering dimanjakan oleh suara sang suami yang tengah mengumandangkan adzan.
******
Kafa mematut diri di depan cermin, ia merengut melihat bekas luka di dahinya gara-gara belajar sepeda. Kafa pikir itu akan mudah tapi ternyata ia sulit menyeimbangkan tubuhnya. Bagaimana jika luka ini tidak bisa hilang, Kafa harus segera membeli obat untuk menghilangkan bekas luka itu.
"Udah seminggu belum hilang juga." Gerutu Kafa, niat ingin menyombongkan diri di depan Mahira, sekarang justru ia tak berani menampakkan tampangnya pada Mahira gara-gara bekas luka tersebut.
"Tunggu dulu, kenapa aku harus peduli soal penilaian Mahira, mau ada bekas luka atau enggak ini nggak berpengaruh untuk ketampanan ku." Kafa memuji dirinya sendiri seraya berpose di depan cermin. Jika ada Mahira disini pasti ia sudah meneriaki Kafa, dasar narsis!
Kafa tak berani belajar sepeda lagi setelah jatuh dan kepalanya menghantam pohon palem. Kafa menyesal karena tidak memasang helm nya dengan benar.
__ADS_1
"Kayaknya aku harus belajar sepeda di tempat yang resmi, pasti ini karena Mas Azfan aja yang nggak bisa ngajarinnya." Kafa menyambar kunci mobil dan keluar dari unit apartemen nya. Tangan kiri Kafa membawa dua kotak Castella yang akan ia berikan pada Khalisa. Itu adalah bolu Jepang kesukaan Khalisa. Castella buatan Renata adalah yang paling enak, kue yang memiliki rasa persis seperti buatan Renata tidak dijual dimanapun. Kafa tahu Khalisa tidak pernah makan Castella lagi sejak Renata meninggal mungkin karena tak ada yang bisa menandingi kelezatan bolu buatan Renata. Namun secara tidak sengaja Kafa menemukan Castella enak di toko kue dekat apartemen. Kafa berharap ini bisa mengobati kerinduan Khalisa pada Castella.
"Mahira, ngapain kamu disini?" Kafa terkejut melihat Mahira di lobi, apakah Mahira hendak mendatanginya?
Mahira sama terkejutnya dengan Kafa, semesta memang selalu baik padanya. Bahkan ketika Mahira tidak berniat menemui Kafa, ia tetap dipertemukan. Apa namanya kalau bukan jodoh.
"Emang kamu nggak ada kelas pagi?" Tanya Kafa lagi.
"Ada buktinya aku pakai jas almamater nih, aku cuma nganterin bunga barusan bantuin Tanteku, lah kamu ngapain disini?" Mahira bertanya balik.
"Ini tempat tinggal aku."
Mahira manggut-manggut, pasti unit apartemen Kafa sangat luas meskipun cowok itu tinggal sendirian disini. Mahira tidak kaget karena beberapa temannya juga ada yang tinggal di apartemen mewah seperti ini. Rasanya hanya Mahira yang miskin di UII.
"Dahi kamu kenapa?" Mahira salah fokus pada plester di dahi Kafa.
"Oh ini." Kafa menyentuh dahinya dengan salah tingkah. "Kepentok pintu." Katanya gelagapan.
"Kamu kayaknya emang hobi nabrak ya, kita tiga kali tabrakan loh sekarang bosen sama aku malah nabrak pintu."
"Siapa juga yang bosen sama kamu." Kafa mengedarkan pandangan ke sembarang arah di hadapannya, yang penting bukan pada sosok Mahira.
"Apa?"
"Maksud aku siapa juga yang hobi nabrak, ada-ada aja ya kamu." Kafa melangkah lebih dulu sementara Mahira mengekorinya.
"Selamat pagi, seperti biasa Kafa selalu ganteng." Seorang resepsionis menyapa Kafa dengan ramah.
Kafa tergelak membalas sapaan resepsionis wanita berambut pendek tersebut.
"Pantesan percaya dirinya tinggi, setiap hari dipuji resepsionis cantik." Mahira mencibir dengan suara lirih tak jauh di belakang Kafa.
"Nih buat kamu." Kafa menyodorkan satu kotak Castella pada Mahira.
Mahira membelalak, rasanya ia ingin mengabadikan momen ini dengan ponselnya. Mahira menerima dengan senang hati meskipun tidak tahu apa isi di dalamnya. Bahkan walau itu kotak kosong, Mahira tetap akan menerimanya.
"Makasih."
Tanpa menjawab Kafa berlalu meninggalkan Mahira, tadinya ia akan memakan kue itu sendiri tapi anggap saja ini balasan karena Mahira pernah membuat nasi goreng enak untuk Kafa. Lagi pula Kafa bisa membeli lagi kapanpun ia mau.
******
Satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan setelah dosen mengakhiri kelas mereka hari ini.
"Khalisa, kamu kenapa?" Huma melihat Khalisa dengan wajah khawatir karena dari tadi sahabatnya itu hanya diam dan kadang terlihat meringis seperti menahan sakit.
"Kayaknya aku kontraksi beneran deh." Lirih Khalisa, ia tidak bisa membedakan antara kontraksi palsu atau asli tapi kalo ini ia merasakan mulas dan nyeri pada punggungnya semakin intens. Untungnya Khalisa masih bisa mengikuti hingga kelas terakhir hari ini. Khalisa sudah menghubungi Azfan beberapa kali tapi tidak terjawab, pasti kelas Azfan belum berakhir.
"Telfon Azfan gih, nanti kamu lahiran disini." Huma jadi panik sendiri padahal Khalisa tampak tenang.
"Udah, nggak diangkat." Suara Khalisa gemetar, ia mengeluarkan keringat dingin karena menahan sakit.
Huma mengetuk pintu kelas Azfan dan mengucapkan salam. Ternyata benar, Azfan belum selesai kelas pantas ia tidak menjawab telepon Khalisa.
"Permisi Bu, saya mau bicara sama Azfan." Izin Huma.
"Silakan."
Mendengar namanya disebutkan, Azfan melihat ke arah pintu, ia beranjak menghampiri Huma setelah meminta izin pada dosen.
"Fan, kayaknya Khalisa kontraksi deh, mending kamu kesana sekarang nih bawa sepeda ku." Huma menyerahkan kunci sepedanya pada Azfan.
Azfan meminta izin untuk keluar kelas lebih dulu pada dosennya. Perasaan Azfan juga tidak enak sejak tadi mereka berpisah dan pergi ke kelas masing-masing. Hari ini Khalisa terlihat berbeda, Azfan pikir itu karena Khalisa kurang tidur.
Khalisa terlihat berdiri di depan kelas ketika Azfan sampai disana.
"Sayang, maaf aku terlambat." Azfan merangkul pinggang Khalisa. Ia tahu Khalisa pasti meneleponnya dari tadi. "Kita ke rumah sakit ya." Suara Azfan terengah-engah, ia berusaha tidak panik walaupun itu sia-sia.
Khalisa mengangguk, "punggung aku sakit banget." Lirihnya.
"Mas, Cece, ada apa?" Kafa kaget melihat Khalisa seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Kafa, kamu bawa mobil kan?" Azfan melihat Kafa, ia dan Khalisa berangkat dengan motor tadi pagi.
"Bawa, Cece sakit perut ya?" Tanpa menunggu jawaban, Kafa berlari dari sana menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Ia melempar kotak kue yang tadinya akan diberikan pada Khalisa ke jok penumpang. Kafa tak habis pikir kenapa Khalisa masih berkuliah jika memang keadaannya seperti itu.
Dalam sekejap mobil Kafa terparkir tepat di depan kelas Khalisa.
"Aku bisa jalan Mas." Khalisa mencengkram lengan Azfan ketika perutnya semakin mulas.
Azfan mengabaikan ucapan Khalisa dan tetap menggendongnya menuju mobil Kafa.
"Aku ikut!" Huma ikut masuk duduk di jok depan di samping Kafa, ia begitu mengkhawatirkan Khalisa dan ingin mendampinginya.
Azfan mendekap Khalisa dan mengusap-usap punggungnya pelan, ia membisikkan sholawat di telinga Khalisa untuk menenangkannya.
"Haura minum dulu ya, batalin aja puasanya." Azfan mengambil sebotol air mineral dari dalam tasnya.
"Aku kabarin Tante Ica ya." Seru Huma seraya mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
"Iya, makasih Huma." Gumam Azfan. "Pelan-pelan sayang." Azfan membantu Khalisa minum air mineral tersebut.
Khalisa menggigit bibir bawahnya dengan kuat, ia ingin menangis tapi tak ada air mata yang keluar. Ia merasa ada cairan merembes hingga membasahi jok mobil yang didudukinya.
Azfan menggenggam tangan Khalisa erat sambil terus berdoa agar Allah melancarkan kelahiran Khalisa.
Perjalanan dari kampus ke rumah sakit harusnya memakan waktu lebih dari 10 menit tapi Kafa menyetir dengan kecepatan tinggi dan berhasil sampai dalam waktu kurang dari 5 menit. Kafa memang jagonya ngebut di jalan, mungkin jika tidak kuliah kedokteran, ia akan jadi pembalap.
Beberapa perawat datang membantu Khalisa naik ke kursi roda.
__ADS_1
"Bu haoyisi," Khalisa meminta maaf pada Kafa "Cece ngompol di mobil kamu." Katanya, walaupun Khalisa tidak yakin apakah itu air kencing atau air yang lain.
"Meiguanxi." Kafa menggeleng, tidak perlu minta maaf, Kafa bisa membersihkannya asal Khalisa segera sampai ke rumah sakit.
"Saya akan periksa Bu Khalisa dulu." Ucap Dokter Evelyn, ia adalah dokter kandungan yang selama ini melakukan pemeriksaan rutin terhadap Khalisa.
Azfan ikut masuk sementara Kafa dan Huma menunggu di luar dengan cemas. Huma tak pernah melihat orang yang hendak melahirkan, pikirannya jadi kemana-mana karena Khalisa terlihat sangat kesakitan.
Kafa duduk di kursi tunggu menunduk dalam mendoakan Khalisa agar semuanya baik-baik saja. Ia tidak kuasa melihat Khalisa seperti itu.
"Kontraksinya terasa intens?" Tanya dokter.
"Lumayan dokter." Khalisa sudah mempersiapkan aplikasi pada ponselnya yang bisa menghitung intensitas kontraksi tapi tadi ia lupa melakukannya.
"Lebih sakit di punggung ya?"
Khalisa mengangguk.
"Sudah pembukaan dua." Kata dokter setelah memeriksa Khalisa. "boleh jalan-jalan dulu supaya lebih cepet ke pembukaan selanjutnya, jalan sekitar sini saja."
Khalisa harus berganti pakaian rumah sakit lebih dulu agar lebih leluasa bergerak kemudian ia dipindahkan ke ruang bersalin.
Azfan melantunkan sholawat sembari menemani Khalisa jalan-jalan di sekitar ruangan. Jika sudah merasakan kram yang hebat maka Khalisa akan berhenti sejenak.
"Ya Allah." Khalisa bersuara lirih, matanya terpejam bersamaan dengan air mata yang meleleh melewati pipinya merasakan kram perut dan nyeri pada punggungnya. "Mas."
"Aku disini sayang, Haura makan dulu ya aku suapin, Haura kan belum makan seharian ini." Azfan mendekap tubuh Khalisa.
Khalisa mengangguk, jujur saja ia memang lapar tapi karena mulas dan kram pada perutnya lebih mendominasi Khalisa jadi mengabaikan rasa laparnya.
"Haura mau makan apa, nasi soto mau?" Azfan bertanya dengan lembut.
Khalisa kembali mengangguk yang penting perutnya terisi karena ia pasti butuh tenaga ekstra untuk melahirkan nanti.
Sembari tetap memeluk Khalisa, Azfan memesan soto melalui layanan pesan antar.
Huma dan Kafa juga berada disana. Huma memberitahu Khalisa bahwa Ica dan Daniel sedang dalam perjalanan setelah memesan tiket penerbangan tercepat hari ini.
******
Khalisa dan Azfan malaksanakan sholat magrib di ruangan itu. Khalisa melakukan sholat di atas brankar karena rasanya ia tak sanggup untuk berdiri lagi setelah merasakan kontraksi sejak pagi tadi. Hanya saja Khalisa merasa kram perutnya makin terasa setelah ia menyelesaikan kelas terakhir.
Azfan pikir proses kontraksi tak akan berlangsung se-lama itu tapi Khalisa harus kesakitan sejak tadi siang. Wajah Khalisa pucat pasi, tak ada lagi rona di wajah cantiknya.
"Maafkan aku Mas kalau selama ini aku banyak salah sama Mas Azfan." Khalisa mencium punggung dan telapak tangan Azfan sangat lama.
"Aku nggak pernah merasa Haura berbuat salah, Haura sudah jadi istri yang baik dan sekarang sedang berjuang untuk melahirkan anak kita, semoga Allah menguatkan Haura." Azfan menitikkan air mata ketika mencium kening Khalisa. Azfan tak ikut merasakan sakitnya kontraksi tapi rasanya ia tak sanggup melihat Khalisa kesakitan lebih lama.
Dokter kembali mengecek pembukaan, ada dua orang perawat yang ikut berada di ruangan itu.
"Pembukaannya sudah lengkap, kita akan memulainya." Dokter Evelyn memberikan senyum semangat pada Khalisa. "Apa Bu Khalisa nyaman dengan posisi berbaring seperti ini atau mau posisi yang lain?"
"Posisi kepalanya kurang tinggi dok." Pinta Khalisa.
Seorang perawat segera meninggikan posisi brankar di bagian kepala Khalisa.
"Bismillahirrahmanirrahim." Azfan menggenggam tangan Khalisa.
Khalisa mencengkram tangan Azfan erat bersamaan dengan kontraksi yang datang begitu hebat. Khalisa mengejan dengan kuat menuruti aba-aba dokter Evelyn.
"Lagi Bu."
Khalisa kembali mendorong di bagian bawah perutnya. Proses itu berlangsung beberapa kali hingga tubuh Khalisa bermandikan keringat. Bahkan Khalisa merasakan peluh menetes di wajahnya bercampur dengan air mata.
Azfan bisa melihat guratan merah di wajah Khalisa saat mengejan. Azfan menahan tangisnya, sungguh ia tak sanggup melihat Khalisa menderita.
"Ah dokter." Khalisa merasa ingin menyerah.
"Bisa, kamu pasti bisa, sedikit lagi yuk." Dokter Evelyn memberi semangat. "Rambutnya sudah kelihatan lo Bu, Papa nya mau lihat?" Ia melihat ke arah Azfan.
Dengan ragu Azfan mengangguk, ia bisa melihat rambut bayi mereka menyembul dari sana.
"Mas." Khalisa menatap Azfan yang mengangguk beberapa kali.
"Kamu pasti bisa sayang." Azfan kembali menggenggam tangan Khalisa dan menciumnya.
Ketika merasakan tekanan yang begitu kuat di bagian bawah tubuhnya, Khalisa kembali mengejan masih dengan mencengkram tangan Azfan. Khalisa bisa mendengar gemeretak sendi jari Azfan karena ia mencengkeramnya terlalu kuat. Namun suara itu segera digantikan dengan tangisan bayi yang menggelegar ke seluruh ruangan.
"Puji Tuhan!" Evelyn mengangkat bayi itu menunjukkannya pada Khalisa. "Laki-laki."
Tangis Azfan pecah melihat bayi mereka yang diletakkan ke atas dada Khalisa. Tangis yang dari tadi tertahan otomatis keluar dengan sendirinya setelah proses melahirkan yang tidak sebentar.
Rasa sakit yang menguasai Khalisa hilang seketika saat mendengar tangisan bayi mereka.
"Alhamdulillah sayang." Azfan mengecup kening Khalisa.
Khalisa menangis dan tersenyum sekaligus, ia merasakan tubuh mungil bayinya dalam dekapan. Tangisan anak mereka begitu nyaring memekakkan telinga tapi setelah beberapa saat berada dalam dekapan sang ibu, ia perlahan tenang.
Perawat membersihkan bayi Khalisa dan Azfan dan menimbang serta mengukur panjangnya.
"3,2 kilogram dan 51 centimeter." Ujar perawat tersebut. Ia segera membalut tubuh bayi mungil Khalisa dan Azfan dengan kain agar tidak kedinginan.
Azfan mengadzani bayinya di telinga kanan dengan penuh haru, suara yang biasanya merdu saat itu terdengar gemetar karena akhirnya ia bisa melihat sang bayi lahir ke dunia. Dilanjutkan dengan Iqamah di telinga kiri. Bayi Azfan tampak tenang saat mendengar Abi nya melafalkan Iqamah.
Telunjuk Azfan menyentuh pipi kemerahan bayi mungilnya, dari pada terlihat seperti dirinya bayi itu justru mirip Daniel.
"Terimakasih sudah berjuang dengan Umma sayang." Bisik Azfan, rasanya ia belum percaya jika bayi itu adalah anaknya. Bayi yang lahir dari rahim Khalisa. "Sepertinya nanti kamu akan lebih tinggi dari Abi."
__ADS_1