
"Bahan steril yang dapat disuntikkan atau alat tertentu yang harus steril, jika diproses dalam otoklaf mencapai probabilitas sejumlah 10 pangkat -6 mikroba yang bertahan hidup."
Para mahasiswa farmasi sedang serius mengikuti praktikum di laboratorium. Di tengah-tengah praktik dosen juga menjelaskan tentang mata kuliah teknologi sediaan farmasi.
"Permisi Pak, saya izin ke belakang." Khalisa melangkah ke depan kelas izin untuk pergi ke toilet, ia tidak tahan mencium aroma sodium ampislin yang digunakan untuk mensterilkan alat-alat kedokteran di laboratorium tersebut. Perut Khalisa terasa diaduk-aduk padahal ia mengenakan masker tapi selembar kain tidak mampu menahan aroma itu untuk sampai ke hidungnya.
"Kamu sakit?" Dosen khawatir melihat Khalisa.
"Tidak Pak." Khalisa menggeleng.
"Ya sudah silakan." Ia mempersilakan Khalisa keluar.
Suara sepatu pantofel Khalisa menggema di koridor yang sepi, ia berlari menuju toilet paling yang dekat dengan laboratorium tersebut.
Begitu sampai di toilet Khalisa langsung memuntahkan semuanya. Sarapan paginya hanya sepotong roti dengan selai kacang bahkan belum tercerna sempurna.
"Mas!" Khalisa terkejut melihat Azfan berada di depan pintu ketika ia keluar.
"Muntah lagi ya?" Azfan maju selangkah memijat tengkuk Khalisa pelan. Saat bangun tidur tadi Khalisa juga muntah-muntah hingga tidak bisa makan apapun kecuali sepotong roti tawar dan selai.
"Mas Azfan kok disini?" Khalisa mengabaikan pertanyaan Azfan karena ia lebih ingin tahu mengapa Azfan tidak di kelas. Padahal jarak laboratorium farmasi dan kelas Ahwal Al-Syakhshiyah cukup jauh.
"Kebetulan aku lihat Haura lari dari laboratorium waktu aku lewat mau fotocopy materi dari dosen jadi aku samperin Haura kesini."
"Aku mual banget pas cium aroma sodium ampislin barusan."
"Mau pulang aja?"
Khalisa menggeleng, jika pulang maka ia akan ketinggalan praktikum hari ini. Ia juga harus menyusun laporan setelahnya, jika tidak ikut maka ia akan kebingungan menyelesaikan tugas dari dosen.
"Pakai masker aja ya biar bisa nahan baunya sedikit."
"Aku udah pakai masker." Khalisa menunjukkan masker di tangannya.
"Dikasih aroma buah-buahan biar nggak kecium lagi sodium amplisin nya." Azfan mengusap-usap lengan Khalisa untuk menenangkannya, andai bisa maka Azfan ingin mengambil semua penderitaan Khalisa sekarang. Ia tidak tahu apa itu sodium ampislin dan bagaimana baunya tapi orang hamil memang lebih sensitif terhadap aroma. Setidaknya itu yang Azfan lihat dari perubahan Khalisa semenjak hamil.
"Ampislin Mas." Koreksi Khalisa karena pengucapan Azfan keliru.
"Iya ampislin."
"Mau aroma jeruk." Pinta Khalisa manja.
Azfan tersenyum melihat tingkah Khalisa, "Haura tunggu disini sebentar ya." Ia mengusap pipi Khalisa yang kehilangan rona nya. Wajah Khalisa yang memang sudah putih pucat kini bertambah pucat setelah hamil.
"Makasih Mas." Khalisa melihat punggung Azfan semakin jauh lalu tak terlihat setelah berbelok ke kanan.
Azfan menaiki motornya untuk pergi ke tempat fotocopy dekat sini sekaligus membeli masker baru dan parfum untuk Khalisa.
"Tolong fotocopy masing-masing sepuluh lembar." Pinta Azfan sesampainya di tempat fotocopy.
Sembari menunggu materi kuliahnya selesai difotocopy, Azfan pergi ke toko sebelahnya untuk membeli masker untuk Khalisa. Ia juga membeli satu bodymist anak-anak beraroma jeruk. Azfan menyemprotkan bodymist itu pada masker Khalisa, ia harap hal tersebut dapat membantu.
Azfan juga melihat salad buah di toko tersebut, ia membelinya satu karena Khalisa pasti butuh asupan makanan setelah muntah tadi.
Ketika kembali, Azfan tidak menemukan Khalisa di toilet sehingga ia memutuskan untuk pergi ke laboratorium farmasi.
Azfan mengetuk pintu dua kali lalu membukanya, ia mengucapkan salam pada dosen laki-laki berusaha 50 tahunan itu dan meminta izin untuk menemui Khalisa.
"Maaf Mas, aku kesini duluan soalnya takut ketinggalan materi." Khalisa menerima masker baru dari Azfan dan langsung mengenakannya.
"Enggak Haura, aku yang minta maaf karena tadi tempat fotocopy nya rame jadi nunggunya agak lama."
"Nggak apa-apa Mas."
"Ini salad buah."
"Salad buah?" Mata Khalisa melebar melihat salad buah di tangan Azfan, warnanya sangat menggoda hingga Khalisa ingin segera menyantapnya. "Tapi nggak boleh bawa makanan ke lab." Katanya.
"Oh gitu, maaf Haura aku nggak tahu, ya udah aku bawa dulu nanti selesai kelas kita ketemu di belakang lab FK."
"Iya, makasih Mas."
Azfan segera pamit dari sana untuk kembali ke ruang kelasnya.
Khalisa melanjutkan praktikumnya kembali setelah insiden muntah karena bau sodium ampislin tersebut. Berkat aroma jeruk yang Azfan semprotkan pada masker itu, Khalisa tak terlalu terganggu dengan bau di laboratorium. Sepertinya setelah ini Khalisa akan selalu menggunakan cara tersebut setiap kali melakukan praktikum.
"Masya Allah lega banget." Khalisa melepas maskernya setelah keluar dari laboratorium. Ia dan Huma duduk di kursi depan laboratorium untuk melepas dan merapikan jubah putih mereka yang selalu digunakan saat praktikum.
"Aku nggak nyangka lo Sa kalau kamu beneran hamil—maksudnya kayak nggak percaya gitu seorang Khalisa bisa hamil." Huma masih heboh sejak mendengar kabar kehamilan Khalisa 2 minggu yang lalu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau perut Khalisa semakin membuncit.
"Maksud kamu, aku nggak boleh hamil gitu?" Khalisa mengernyit heran karena pernyataan Huma.
"Bukan gitu, sebagai anak terakhir di keluarga tuh aku nggak pernah lihat Mama ku hamil dan jarang banget lihat orang hamil jadi sekarang aku nggak bisa bayangin kalau tiba-tiba kamu hamil." Huma sulit menjelaskan apa yang ia rasakan saat tahu Khalisa hamil, antara tak percaya dan bahagia karena Khalisa memang menginginkannya sejak lama.
__ADS_1
"Khalisa, kamu nggak malu?" Tegur salah seorang teman Khalisa yang juga baru keluar dari laboratorium. Ia menatap Khalisa dari atas sampai bawah dengan tatapan tidak suka.
"Malu?" Khalisa tidak mengerti ucapan temannya itu, malu untuk apa.
"Ya malu karena kamu satu-satunya mahasiswi yang udah nikah dan hamil." Ketusnya.
Khalisa tersenyum lembut, "untuk apa malu, ini bukan aib."
"Ya maksudnya kita ini kan baru semester 6, perjalanannya masih panjang sedangkan kamu udah kebelet nikah dan punya anak, denger-denger juga katanya kamu ya yang lamar Azfan duluan?"
Beberapa mahasiswi lain juga berkerumun di depan laboratorium sekolah perdebatan itu adalah tontonan paling bagus untuk mereka.
"Iya, kenapa?"
"Kamu menyalahi kodrat sebagai perempuan yang seharusnya dihiasi rasa malu."
Khalisa hendak menyahut tapi temannya itu tidak memberinya kesempatan untuk menyela.
"Apalagi kabarnya Syifa anak FH yang sekarang jadi wakil ketua HAWASI juga suka sama Azfan tapi kamu kayak nggak mau kalah dan lamar Azfan duluan, Azfan juga nerima kamu pasti karena kamu kaya kan?"
Kepala Khalisa terasa pening mendengar rangkaian kalimat itu, dadanya seperti dihujam benda tumpul berkali-kali. Khalisa menelan salivanya dengan susah payah seperti ada yang tercekat di tenggorokannya. Sakit. Mungkin karena ia sedang berusaha menahan tangisannya.
Semenjak hamil bukan hanya hidung Khalisa yang sensitif tapi perasannya juga tak kalah sensitif. Harusnya Khalisa tidak terlalu tersinggung dengan omong kosong itu. Namun sekarang rasanya Khalisa ingin menampar muka temannya itu karena telah berani bicara begitu.
"Hentikan omong kosong kamu sekarang atau kalau nggak aku bakal timpuk kepala mu pakai novel ini, mau?" Huma tidak bisa diam saja melihat Khalisa difitnah seperti itu. Huma beranjak dan hampir saja melempar temannya itu dengan novel di tangannya jika Khalisa tidak menahannya.
"Kamu udah menyalahi kodrat seorang muslim untuk menahan lisan supaya nggak menyakiti saudara muslim mu yang lain, kalau salah bisa jadi fitnah dan kalaupun bener apa untungnya buat kamu, rumah tangga kami nggak akan berubah." Khalisa segera berlalu dari sana setelah membuat temannya yang anehnya Khalisa tidak tahu namanya. Khalisa tidak pernah lupa nama seseorang apalagi itu teman satu jurusannya tapi kali ini ia beruntung karena tak ingat nama gadis berjilbab merah muda itu. Atau mereka memang belum pernah berkenalan.
Huma mengejar Khalisa, "Khalisa, aku nggak pernah denger ada gosip kayak gitu selama ini." Huma berkata jujur karena ia memang tak pernah mendengar gosip apapun tentang pernikahan Khalisa. Mereka hanya terkejut mendengar kabar pernikahan Khalisa dan itu sudah cukup lama—setahun yang lalu.
Khalisa tidak menyahut, ia tak masalah orang mengatakan apapun tentang dirinya. Namun rasanya sakit sekali jika ada yang mengatakan bahwa Azfan mau menikah karena Khalisa kaya. Padahal selama ini Azfan berusaha keras untuk menafkahi Khalisa dan menolak bantuan Daniel. Khalisa tahu betul itu tidak mudah bagi Azfan ketika ia harus memenuhi kebutuhan rumahtangga sekaligus membiayai kuliahnya sendiri.
"Haura!" Azfan beranjak melihat Khalisa datang, ia telah berada disitu sejak 10 menit yang lalu. Tempat yang biasa mereka gunakan untuk bertemu setelah selesai kelas. "Salad buahnya udah nggak dingin, kita bawa pulang aja dulu atau—" Ucapan Azfan spontan terhenti ketika Khalisa tiba-tiba menghambur ke pelukannya.
Azfan melihat ke arah Huma, dari tatapan itu ia bertanya apa yang terjadi pada Khalisa. Mengapa Khalisa tiba-tiba menangis seperti ini padahal 2 jam yang lalu ia masih baik-baik saja.
"Udah jangan nangis." Huma menyusul, ia duduk di bangku yang berada tepat di bawah pohon sawo kecik tersebut.
Azfan mendekap Khalisa untuk menenangkannya meski ia tidak tahu apa yang terjadi apa istrinya itu. Saat seperti ini Azfan tidak boleh menanyakan apapun karena Khalisa tak akan menjawabnya. Setelah cukup tenang pasti Khalisa akan menceritakannya.
"Mahira stop!"
Suara itu mengejutkan Khalisa, Azfan dan Huma. Mereka melihat ke sumber suara, tampak Kafa sedang mengejar Mahira dari arah laboratorium fakultas kedokteran.
Pernah suatu hari ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, seorang murid laki-laki menjatuhkan es krim Khalisa hingga membuatnya menangis. Kafa yang tidak terima langsung menghardik memukul anak itu hingga membuat ribut seisi sekolah.
Kafa tidak jadi mengejar Mahira dan berbelok menghampiri Khalisa dan Azfan. Napasnya ngos-ngosan karena mengejar Mahira yang memberinya sekotak makanan di depan kelas tadi. Mahira mengatakan sebagai tanda terimakasih karena Kafa tidak menuntut ganti rugi seharga bunga Peony yang Mahira jatuhkan waktu itu.
"Gila tuh anak." Omel Kafa, ia sudah berjanji untuk tidak berurusan dengan Mahira setelah kejadian itu. Namun Mahira masih saja mengusiknya. "Dia pikir aku nggak punya uang buat beli makan."
"Kenapa kamu ribut terus sama Mahira?" Tegur Azfan.
"Mas, dia duluan yang ngajak ribut, masa dia ngasih aku makanan emang dia pikir aku nggak mau beli makan sendiri?" Kafa menjelaskan dengan menggebu-gebu. "Nih, buat Cece aja." Kafa memberikan kotak makanan itu pada Khalisa.
"Kok buat Cece sih ini kan dari Mahira buat kamu."
"Aku nggak mau makan makanan dari dia."
"Coba-coba aku lihat." Huma ikut nimbrung, ia mengambil alih kotak makanan itu dan membukanya. "Wah, cantik banget!"
Kafa ikut melihatnya, terdapat nasi goreng, telur gulung, nugget serta bakso goreng hingga warnanya kecoklatan. Tanpa sadar Kafa menelan air liurnya melihat makanan tersebut apalagi ia belum makan siang. Belum lagi harus mengejar Mahira, Kafa telah kehilangan banyak energi.
"Yakin nggak mau, kelihatannya enak loh." Sindir Khalisa.
"Enggak, aku nggak suka makanan yang terlalu berminyak contohnya nasi goreng ini." Kafa menunjuk nasi goreng tersebut dengan wajah galaknya seolah makanan tak bersalah itu adalah musuhnya.
"Tapi kayaknya ini digoreng pakai mentega deh." Huma menghirup aroma nasi goreng itu.
"Aku nggak peduli." Kafa segera pergi dari sana meski air liur memenuhi rongga mulutnya. Ia akan pergi membeli nasi goreng di restoran terkenal yang tentu lebih enak dibandingkan buatan Mahira. "Jangan lupa balikin tempatnya ke Mahira!" Teriaknya tanpa menoleh.
"Dasar tuh anak, kelakuannya selalu gitu." Khalisa geleng-geleng melihat tingkah Kafa. Padahal Mahira berniat baik tapi Kafa justru mengatakan jika Mahira berpikir dirinya tidak punya uang untuk membeli makan sendiri.
"Nih." Huma mengembalikan nasi goreng itu pada Khalisa, "tadi kan kamu abis muntah, lumayan buat ganjel."
"Makasih ya." Khalisa tersenyum tipis pada Huma.
"Jangan sedih terus nanti keponakan aku ikut sedih." Huma mengusap perut Khalisa. "Aku pulang dulu!" Ia pamit pulang karena sudah ada Azfan bersama Khalisa, ia tidak mau jadi obat nyamuk jika bersama mereka lebih lama.
******
Jam digital di meja menunjukkan pukul 22.15. Azfan belum menyelesaikan kaligrafinya yang terakhir karena ia harus membuat ulang setelah musibah menimpanya malam itu. Azfan harus membeli media lagi dan membuatnya dari awal. Pesanan itu akan diantar lusa sehingga Azfan harus menyelesaikannya malam ini agar tidak mengecewakan pelanggannya.
__ADS_1
Khalisa menyeka air matanya yang tidak terasa meleleh ketika memperhatikan Azfan yang tengah menorehkan tinta di atas kaca dengan telaten padahal suaminya itu jelas terlihat lelah. Mengingat ucapan temannya tadi tanpa terasa membuat Khalisa diam-diam menangis. Tega sekali ia mengatakan Azfan menerima Khalisa karena harta. Bagaimana mungkin itu terjadi sedangkan Azfan harus bekerja hingga larut malam.
Azfan mengangkat wajah hingga pandangannya bertemu dengan Khalisa, ia spontan tersenyum dan beranjak menghampiri Khalisa yang duduk di meja kasir. Toko sudah tutup tapi mereka belum pulang karena harus menyelesaikan kaligrafi.
"Kalau ngantuk tidur dulu gih di belakang." Azfan mengusap-usap kepala Khalisa, "nanti kalau udah selesai aku bangunin."
"Aku belum ngantuk kok."
"Haura belum cerita soal tadi siang, ada apa memangnya?" Azfan meraih tangan Khalisa dan menggenggamnya.
Khalisa menggeleng dan mengulas senyum, ia tak sanggup menceritakan itu pada Azfan.
"Dia bilang karena aku kaya, Mas mau menikah sama aku." Suara Khalisa sedikit tercekat, kalimat itu sangat mengganggunya, "padahal Mas harus kerja sampai malem buat aku tapi kenapa dia bilang kayak gitu, aku nggak suka." Khalisa mengeratkan genggamannya lalu mencium kedua tangan Azfan. "Dia bilang aku ngelamar Mas karena nggak mau kalah dari Syifa." Air mata Khalisa kembali berlinang. Khalisa berusaha membuang jauh ingatan tentang kejadian tadi siang tapi ternyata tidak semudah itu.
"Ucapan itu nggak bener kan, jadi Haura nggak perlu mikirin itu lagi pula pasti ada sebagian orang yang nggak suka sama kita, justru aneh kalau semua orang suka sama kita, karena orang yang paling baik akhlaknya pun pasti ada aja yang nggak suka, kita hidup bukan untuk jadi sempurna sayang." Azfan berjalan ke samping Khalisa, "selama bersama, kita akan saling menguatkan."
Khalisa memeluk perut Azfan, ia tak kuasa melihat wajah lelah Azfan.
"Yuk pulang biar Haura bisa istirahat."
Khalisa mendongak, "tapi kaligrafinya belum selesai."
"Nggak apa-apa aku lanjutin besok, ada Geza juga kan yang mau bantu." Bagi Azfan yang paling penting adalah Khalisa, ia juga menyadari perubahan Khalisa sejak hamil yakni lebih sensitif terhadap keadaan di sekitarnya. Azfan tahu betul Khalisa bukan tipe orang yang mudah ditindas.
"Nanti aku bacain surat Ar-Rahman pas mau tidur, yuk." Rayu Azfan karena Khalisa masih tidak mau beranjak dari kursi. "Atau surat Yusuf?"
"Ar-Rahman." Akhirnya Khalisa beranjak, "tapi surat apapun aku suka."
"Mau dibacain 30 juz?"
Khalisa tertawa, "bisa nggak tidur kita semaleman."
Azfan lega karena akhirnya bisa melihat tawa Khalisa lagi. Sejak tadi siang Khalisa banyak diam dan pura-pura fokus terhadap tugasnya padahal ia sedang menyimpan rasa sakitnya sendirian.
"Haura mau aku samperin orang itu untuk menjelaskan semuanya?" Tanya Azfan meskipun sebenarnya ia tak perlu melakukan itu karena orang yang tak suka pada mereka tidak akan peduli terhadap penjelasan apapun yang ia katakan. Namun Azfan ingin memberikan perlindungan dengan cara itu jika memang Khalisa menginginkannya.
"Nggak usah Mas, buang-buang tenaga dan waktu."
"Tapi nggak boleh sedih lagi, jangan pedulikan ucapan-ucapan negatif itu."
Khalisa mengangguk, ia bersyukur memiliki suami seperti Azfan yang bisa menenangkannya saat menghadapi situasi seperti ini.
*******
"Mahira!" Panggil Khalisa ketika ia keluar dari ruang sekretariat HAWASI. Mahira yang berada tak jauh di depan Khalisa berbalik.
"Kenapa Mbak?" Mahira berjalan menghampiri Khalisa.
"Ini tempat makanan kamu, makasih ya." Khalisa menyodorkan kotak makanan milik Mahira yang sudah kosong dan bersih. Khalisa ingin memuji masakan Mahira tapi jika ia mengatakan itu, Mahira akan tahu kalau Kafa menolak pemberiannya.
"Eh sebenernya nggak perlu dibalikin Mbak."
"Nggak apa-apa, nih udah dicuci."
Mahira menerima kotak makanan itu, "tapi kok ada di Mbak Khalisa kotaknya?"
"Iya Kafa minta aku balikin ke kamu, kebetulan kan kita ada pertemuan tadi."
Mahira manggut-manggut, apakah Kafa begitu tak ingin bertemu dengannya sampai harus menitipkan kotak makanan tersebut pada Khalisa. Ah apa yang Mahira pikirkan, lagi pula untuk mereka bertemu. Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Hanya saja mengganggu Kafa sudah seperti hobi bagi Mahira. Setiap kali melihat Kafa, Mahira merasa ia sedang berhadapan dengan singa yang jika disentuh sedikit maka surai nya akan berdiri. Anehnya itu terasa lucu dimata Mahira.
Mahira baru sadar kalau Khalisa mengenakan gamis yang dibelikan oleh Kafa. Sesuai dugaannya gamis itu sangat cocok untuk badan Khalisa yang ramping. Kafa begitu perhatian terdapat saudaranya tapi memperlakukan orang lain seperti musuh. Mahira juga ingin mendapat perhatian Kafa. Stop Mahira! jangan mikir yang nggak-nggak.
"Duluan ya." Pamit Khalisa.
"Iya Mbak." Mahira melihat Khalisa berlalu dari sana bersama Azfan. "Beda banget adik sama kakak, kakaknya kayak kucing lemah lembut eh adiknya kayak singa." Ia menggerutu sambil lalu.
Mahira terkejut bukan main ketika berpapasan dengan Kafa di koridor, jika ia tidak salah ingat itu adalah salah satu kelas FK. Mahira bukannya sengaja ingin bertemu Kafa karena memang ini jalan yang harus ia lalui untuk sampai ke gerbang utama.
Ketika Mahira merasa ia dan Kafa tidak memiliki alasan untuk bertemu ternyata semesta meminta mereka untuk tetap saling bertemu seolah itu adalah pertemuan yang tidak sengaja. Padahal segalanya telah diatur dan tak ada yang kebetulan. Begitu pikir Mahira untuk membela diri dari tuduhan yang bisa saja Kafa katakan padanya.
"Eh Kafa!" Tegur Mahira karena Kafa melewatinya begitu saja seolah ia hanya tiang kampus yang keberadaannya tidak diperhatikan. Namun bukankah tiang kampus itu salah satu komponen terpenting untuk mendirikan bangunan. Ah Mahira melantur lagi.
Kafa berhenti dan berbalik dengan tatapan dingin seperti biasa. Rasanya Mahira ingin menyiram Kafa dengan air panas agar tatapannya tidak sedingin itu.
"Nasi gorengnya enak nggak?" Mahira perlu mendengarkan pendapat Kafa.
Kafa mengedikkan bahu, "nasi goreng?"
"Iya yang aku kasih kemarin."
"Aku kasih makanannya ke Ce Khalisa bahkan aku nggak tahu isinya apa." Kafa segera berbalik dan melangkah menjauh sebelum Mahira kembali mengusiknya. Kafa seolah lupa jika ia sempat ngiler melihat makanan pemberian Mahira kemarin. Bahkan setelah sampai di apartemen Kafa masih memikirkan nasi goreng itu. Alhasil Kafa pergi ke restoran apartemen dan memesan berbagai jenis nasi goreng. Namun sayangnya itu tidak bisa disamakan dengan nasi goreng buatan Mahira yang terlihat menggiurkan dan memiliki tampilan sederhana dibandingkan buatan restoran.
__ADS_1