
Kondisi Renata semakin membaik dan hari ini dokter memperbolehkannya pulang dan tetap harus dipantau waktu istirahat dan makanan yang dikonsumsi karena gula darahnya naik drastis beberapa hari terakhir.
Karena Renata telah diperbolehkan pulang maka ini Khalisa dan Azfan juga akan kembali ke Sleman untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Khalisa merasa waktu berjalan begitu cepat sejak ia menikah karena semua aktivitas yang dilakukannya terasa menyenangkan. Khalisa tak lagi melakukan muroja'ah seorang diri tapi ada Azfan yang mendampinginya. Jika sedang haid maka Khalisa cukup tidur di pangkuan Azfan sembari mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan Azfan.
Khalisa bisa beradaptasi dengan mudah dari status lajang menjadi istri seseorang. Sejak menikah ia juga bisa mengontrol diri untuk tidak membeli sesuatu yang tak berguna.
"Dua Minggu lagi Khalisa balik kesini untuk ngerayain ulang tahun Ama." Khalisa menggenggam tangan Renata yang duduk di atas kursi roda.
"Tahun ini Ama nggak ada semangat lagi buat bikin acara ulang tahun, gimana kalau makan sama anak yatim aja?"
Khalisa mengangguk setuju, "terus dress nya gimana?" Tanyanya karena Khalisa telah menjahit dress yang cocok untuk acara pesta dengan warna merah menyala.
"Disimpan aja dulu, kamu hati-hati ya disana." Renata mengusap kepala Khalisa yang tertutup jilbab berwarna putih.
"Pasti Ama, ada Mas Azfan yang jagain Khalisa."
"Kuliah yang rajin karena Papa mu kerja keras untuk biayain kuliah setelah lulus nanti Khalisa bebas pilih kerja apapun, nggak harus di rumah sakit, kalau Khalisa suka bikin baju maka Khalisa bisa buka butik dan jadi designer terkenal."
Khalisa tertawa, "Ama bisa aja, mana mungkin Khalisa bisa jadi designer terkenal."
"Khalisa punya bakat dan baju-baju yang Khalisa bikin nggak ada yang jelek, semuanya bagus."
"Khalisa nggak mungkin biarin Kafa sendirian."
"Walaupun Ama berharap kalian baikan tapi Ama nggak mau Khalisa terlalu merendah diri di depan Kafa, Khalisa sudah minta maaf kalau Kafa tetep nggak mau maafin biarin aja, nanti pasti Kafa akan mengerti."
"Ama tenang aja, mungkin sekarang Kafa masih nggak bisa menerima Mas Azfan tapi Khalisa yakin suatu hari Kafa akan memaafkan kami."
"Peluk Ama." Renata merentangkan tangan untuk memeluk Khalisa.
"Sehat terus ya Ama." Khalisa merasakan pelukan erat Renata dan menepuk-nepuk punggungnya.
Renata memeluk Khalisa lama seolah enggan ditinggalkan cucu pertamanya itu. Renata berkaca-kaca ketika telah mengurai pelukan.
"Kenapa Ama nangis?" Khalisa mengusap air mata Renata.
"Makasih udah jadi anak dan cucu yang baik buat Papa Mama, buat Akong dan Ama."
"Ama kenapa tiba-tiba melow gini, Khalisa nggak suka ah." Khalisa pura-pura memasang wajah kesal.
"Maaf kalau Akong dan Ama sering menuntut Khalisa."
Khalisa menggeleng, "tahu nggak walaupun Khalisa ngikutin semua kemauan Ama dan Akong itu nggak bisa membalas semua kebaikan kalian."
"Khalisa memang anak baik." Renata kembali menarik Khalisa ke dalam pelukannya sampai akhirnya Azfan datang.
"Kita dapat tiket jam 11 sayang." Ujar Azfan seraya duduk di sofa.
"Oke, aku udah masukin semua barang kita ke koper." Mereka tidak membawa banyak barang karena hanya tinggal beberapa hari disini.
Tak lama kemudian Daniel dan Ica datang untuk membawa Renata pulang. Umar sedang ada keperluan sehingga meminta Daniel untuk menjemput Renata.
Azfan memasukkan koper Khalisa yang berisi barang mereka ke dalam mobil yang nanti juga akan mengantar mereka ke bandara.
Selama di mobil Renata banyak mengobrol dengan Khalisa karena sebentar lagi cucunya itu akan kembali ke Sleman maka ia harus menghabiskan waktu mereka yang sedikit.
"Khalisa udah tahu cara bikin sayur asin kan?" Tanya Renata. Sejak Khalisa kecil, Renata banyak mengajarinya membuat berbagai makanan khas Cina termasuk sayur asin yang bisa dimasak dengan apapun sesuai selera.
"Khalisa belum pernah bikin sendiri sih karena selama ini kan Ama selalu kirimin sayur asin ke apartemen."
"Coba nanti Khalisa belajar bikin sendiri kalau lagi nggak sibuk."
Khalisa ingin bertanya mengapa ia harus membuatnya sendiri tapi akhirnya ia mengiyakan ucapan Renata. Khalisa harus mengerti bahwa usia Renata semakin bertambah sedangkan kekuatannya makin menurun. Khalisa harus bisa membuat makanan kesukaannya sendiri.
__ADS_1
Mobil berhenti di halaman rumah Jaya yang luas dan penuh dengan tanaman hias yang amat terawat. Di usia senja Renata tetap produktif dengan merawat tanaman, membuat kue dan mengikuti berbagai organisasi keagamaan.
Cucu-cucu Renata sudah menunggu kedatangan Ama nya kembali ke rumah itu. Kafa, Azmal, Fatah, Fatimah dan Zunaira telah membuat kejutan kecil dengan meniup balon-balon menyambut Renata.
"Wah, cucu-cucu Ama baik banget." Renata mengusap kepala Kafa lalu Azmal dan memeluk dua cucunya itu sekaligus. Renata mengedarkan pandangan pada Fatah dan Fatimah dan memeluknya. Lalu si bungsu Zunaira memeluk Renata sangat erat hingga membuat tubuh Renata sedikit limbung. "Terimakasih ya semuanya."
Renata menatap mereka lama dan mencium kening para cucunya satu per satu penuh kasih sayang. Mereka adalah harta paling berharga di kehidupan Renata dan Jaya.
"Untuk Ama yang paling cantik." Jaya dituntun Fatimah menghampiri Renata dengan membawa setangkai bunga, sebenarnya Jaya tidak mau melakukan ini tapi Kafa memaksanya untuk membuat Renata terkesan.
"Duh Akong malu banget dikasih beginian." Renata mengambil alih bunga tersebut.
"Ko Kafa yang bikin Ama." Ujar Azmal.
Mata Renata berkaca-kaca mendapat perlakukan ini dari Jaya dan para cucu mereka.
Mereka adalah obat paling mujarab yang bisa mengembalikan kesehatan Renata. Hanya dengan bersama mereka Renata bisa tertawa lepas.
"Ayo Ama ke kamar, dokter bilang harus banyak istirahat dulu." Khalisa membimbing Renata masuk ke dalam lift menuju lantai tiga dimana kamar Renata dan Jaya berada.
"Mas ayo ikut!" Zunaira menarik tangan Azfan menyusul Khalisa.
"Ih ngapain anak kecil ini ikut." Ledek Khalisa.
"Zunai udah gede lo Ce." Sahut Zunaira tidak terima.
"Kalau gede kenapa masih suka minta gendong?"
"Zunai cuma mau menguji kekuatan Cece aja."
"Ada aja ya jawaban kamu." Khalisa mengacak-acak rambut Zunaira yang dibiarkan tergerai dengan gemas.
Azfan hanya senyum-senyum melihat interaksi antara Khalisa dan Zunaira.
Renata berbaring di atas ranjangnya yang empuk dan luas tidak seperti di rumah sakit. Kini ia bisa tidur nyenyak di kasur yang nyaman.
"Iya."
"Nanti Ama mau dibawain apa kalau Khalisa balik kesini?"
Renata menggeleng, ia tidak menginginkan apapun kecuali kebahagian Khalisa dan Azfan.
"Azfan pamit ya Ama."
"Titip Khalisa ya Fan." Renata memeluk Azfan sekali lagi dengan erat. "Ama percaya kamu bisa jaga Khalisa."
"Iya Ama, pasti."
"Ama tenang aja, ada Zunai disini yang jagain Ama." Seru Zunaira membuat Renata yang tadinya ingin menangis jadi tersenyum. Benar juga ada Zunai, Azmal dan si kembar disini. Kadang Renata tak ingin cucu-cucunya tumbuh dewasa karena menjadi dewasa itu berarti pergi jauh dan meninggalkannya.
"Zunai anterin Cece sama Mas ke bawah gih, mereka mau berangkat." Pinta Renata pada Zunaira yang sudah naik ke tempat tidurnya.
"Oke Ama." Zunaira kembali turun mengikuti Khalisa dan Azfan keluar kamar.
"Ma, Khalisa berangkat ya." Khalisa mencium tangan Ica dan memeluknya beberapa saat.
"Hati-hati ya, Azfan hati-hati ya disana." Ica mengusap puncak kepala Azfan.
"Iya Ma." Jawab Khalisa dan Azfan bersamaan. Mereka juga berpamitan pada saudara sepupu Khalisa yang berkumpul di ruang tamu.
"Azmal tolong anterin Akong naik ya biar nemenin Ama." Tukas Khalisa ketika Azmal mencium tangannya.
"Iya Ce."
__ADS_1
"Anak baik." Khalisa mengusap kepala Azmal—adiknya yang sangat penurut tersebut.
Rumah itu adalah tempat paling berkesan bagi Khalisa karena sejak kecil ia banyak menghabiskan waktu disini. Rumah yang memiliki gereja dan mushalla sekaligus. Rumah dimana Khalisa bisa melihat toleransi antar anggota keluarga.
"Nggak sabar dua Minggu lagi." Khalisa menyelipkan tangannya di antara lengan Azfan ketika mereka sudah berada di mobil.
"Sabar, dua Minggu akan cepat berlalu yang penting Haura menjalaninya dengan bahagia." Azfan mengusap-usap lengan Khalisa untuk menguatkannya. Ini bukan pertama kalinya mereka meninggalkan Banyuwangi. Namun Khalisa selalu merasakan hal yang sama. Apalagi kali ini Khalisa harus meninggalkan Renata yang baru keluar dari rumah sakit. Khalisa ingin menjaga Renata lebih lama sampai benar-benar pulih. Namun ia juga tidak mungkin meninggalkan kuliahnya.
"Jangan cemberut terus." Azfan mencium tangan Khalisa.
Khalisa menarik senyum lebar dengan terpaksa yang membuat Azfan gemas. Azfan menarik tangannya untuk mendekap tubuh mungil Khalisa.
"Ini tempat yang paling sering kita kunjungi selain kampus, ya nggak?" Khalisa turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada Suryo yang telah membukakannya pintu mendahului Azfan.
Azfan memasang muka masam karena ia keduluan supir membuka pintu untuk Khalisa.
Khalisa menahan senyum melihat ekspresi Azfan, lihatlah suami siapa yang begitu menggemaskan ini?
"Biar saya yang turunin kopernya." Ujar Azfan ketika Suryo membuka bagasi mobil.
"Nggak apa-apa Mas, ini sudah tugas saya."
Azfan tidak peduli, ia tetap menurunkan kopernya sendiri. Lagi pula Azfan biasa melakukan semuanya sendiri.
"Ih kenapa mukanya begitu?" Khalisa mentowel lengan Azfan menggodanya. "Itu emang udah tugas Pak Suryo, masa Mas cemburu?"
"Aku nggak bilang cemburu." Azfan menarik koper melangkah masuk ke area bandara Blimbingsari.
"Nggak bilang bukan berarti nggak cemburu."
Azfan mengangkat lengannya melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya, pukul setengah 11.
"Kalau bisa aku pengen masukin Haura ke koper biar nggak ada yang lihat." Gumam Azfan tidak terlalu jelas.
"Apa?" Khalisa mendelik, "ih jahat banget ya Allah."
Azfan menarik Khalisa agar lebih dekat dengannya.
"Bentar-bentar." Khalisa merogoh tasnya ketika merasakan ponselnya bergetar panjang. "Mama?" Khalisa mengerutkan kening melihat nama Mama pada layar ponselnya. "Apa ada yang ketinggalan ya?"
"Angkat aja sayang, pasti penting."
"Halo Ma." Khalisa menempelkan ponselnya di telinga.
"Khalisa." Suara Ica terdengar gemetar.
"Kenapa Ma?" Khalisa tiba-tiba merasa ada yang tidak beres, tubuhnya menegang. Khalisa terdiam demi mendengar kalimat Ica selanjutnya.
"Khalisa, Ama—"
"Ama kenapa Ma?" Khalisa tidak sabar, bahkan tak terasa Khalisa menghentakkan kakinya membuat Azfan bertanya-tanya apa yang sedang Ica bicarakan.
"Ama nggak ada."
"Nggak ada?" Tubuh Khalisa seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Apa maksudnya? Khalisa tidak mengerti apa yang mamanya katakan.
"Ama meninggal."
Tanpa sadar Khalisa menjatuhkan ponselnya. Telinganya berdenging pada saat yang bersamaan suasana di sekitarnya sepi. Khalisa tidak dapat mendengar apapun.
Khalisa berlari keluar bandara. Tidak. Tidak mungkin itu terjadi karena Renata terlihat sangat baik ketika Khalisa menidurkannya di atas ranjang. Khalisa bisa melihat rona wajah Renata yang berarti kesehatannya sudah kembali pulih tidak seperti beberapa hari yang lalu saat dirinya baru sampai. Pasti Ica salah kan?
Azfan memungut ponsel tersebut dan berlari mengejar Khalisa.
__ADS_1
"Pak, balik ke rumah." Khalisa menemukan mobil Ica masih berada di tempat parkir bandara.
Azfan juga ikut naik ke mobil tanpa bertanya apapun pada Khalisa. Azfan merengkuh Khalisa yang menunduk dalam menangis tanpa suara. Azfan tidak mau menduga apa yang telah terjadi, ia hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja.