Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
170


__ADS_3

"Ini pertama kalinya aku kesini." Azfan memandang hamparan luas pohon apel di hadapannya. Meski telah mengunjungi Malang beberapa kali tapi Azfan tak pernah pergi ke tempat selain Masjid dan hotel. Biasanya setelah mengisi pengajian Azfan akan langsung ke bandara dan pulang hari itu juga. Namun karena kali ini Azfan mengajak Khalisa dan Azka, ia menyempatkan diri untuk datang ke tempat wisata pohon apel di Kota Batu.


Sesuai janji Azfan pada Faiz ketika mereka bertemu di Masjid Nabawi, Azfan akan menghadiri pengajian di Malang.


"Kalau gitu kita harus petik apel sampai puas." Canda Khalisa.


"Karena ini buah kesukaan Umma." Azfan sudah memegang keranjang untuk menampung buah apel yang mereka petik. "Aku akan petik yang banyak."


Azka berlari mendahului Abi dan Umma nya, ia menatap kagum pada pohon-pohon apel yang berbuah lebat dengan sedikit daun. Azka tampak antusias menjelajahi kebun apel karena ini pengalaman pertama untuknya.


"Hati-hati sayang." Khalisa memperingatkan Azka yang cukup jauh di depan sana.


Azfan dapat meraih buah apel dengan mudah karena sebagian besar pohonnya tidak terlalu tinggi. Ia memilih buah apel yang ranum dan memasukkannya ke dalam keranjang.


"Umma mau coba?" Azfan menyodorkan satu buah apel pada Khalisa.


"Nanti aja, belum dicuci."


"Nggak apa-apa, ini udah dicuci air hujan tadi pagi." Azfan menggigitnya terlebih dahulu untuk meyakinkan Khalisa bahwa apel itu akan dimakan. Ia sudah memastikannya sendiri dari petugas sebelum masuk ke perkebunan ini bahwa apel tersebut aman dimakan langsung dari pohonnya. "Air yang turun dari langit sudah membersihkan semua kotoran di apel ini."


Khalisa tertawa menerima apel itu dari Azfan, ia melahap dengan gigitan besar karena sejak memasuki area kebun ini ia memang sudah ingin memakannya tapi ragu.


"Abi yang di bawah boleh diambil nggak?" Azka setengah berteriak, ia hendak memungut apel yang jatuh di atas tanah.


"Jangan sayang, yang itu buahnya nggak bagus."


"Tapi aku nggak bisa ambil yang di atas pohon." Azka mengulurkan tangannya ke atas, ia masih terlalu kecil untuk meraih apel di atas pohon.


Azfan tersenyum menghampiri Azka, ia meletakkan keranjang di dan menggendong Azka.


"Coba petik."


Azka meraih dua apel sekaligus dan memetiknya.


"Wah anak Umma bisa ambil sendiri." Khalisa bertepuk tangan untuk Azka. "Makasih Bi udah gendong Azka."


"Makasih Bi." Azka mencium pipi Abi nya.


"Sama-sama sayang." Azfan balas mengecup pipi kemerahan Azka beberapa kali.


"Umma nggak dicium?" Khalisa pura-pura memasang wajah kesal karena Azka hanya memberikan ciuman pada Azfan.


Azfan mendekatkan wajah Azka pada Khalisa. Azka memberikan ciuman di kedua pipi Khalisa.


"Azka mau cium adik juga." Pinta Azka.


Azfan pun menurunkan Azka dari gendongan nya. Azka mencium perut Khalisa yang mulai terlihat buncit memasuki usia 5 bulan.


"Apel nya buat adik satu." Azka memberikan satu apel pada Khalisa, ia sengaja mengambil dua untuk dirinya dan adik di dalam perut. Menurut Azka jika Khalisa memakannya maka adiknya juga akan ikut makan.


"Makasih Koko." Khalisa mengacak-acak rambut lebat Azka dengan gemas. Azka terlihat tidak sabar untuk bertemu sang adik, ia selalu mengajak ngobrol adik dalam perut Umma nya.


Mereka lanjut menelusuri area perkebunan apel tersebut hingga keranjang penuh. Sesekali mereka mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Khalisa memiliki album foto khusus mereka bertiga, kini ia gemar mencetak foto dan menyusunnya di dalam album. Sebentar lagi mereka akan kedatangan anggota baru, Khalisa tidak sabar menanti kelahiran buah hatinya.


Mereka duduk di salah satu gazebo yang tersebar di luar area kebun. Khalisa dan Azfan memakan apel yang mereka petik sedangkan Azka sibuk membolak-balik buku cerita di pangkuannya.


"Kok nggak dimakan apelnya?" Tanya Azfan pada Azka yang hanya menggigit sedikit apel lalu mengembalikannya ke keranjang.

__ADS_1


"Nggak mau." Azka menggeleng, ia memang tidak terlalu suka buah-buahan. Meski demikian Khalisa selalu mengajari Azka makan dengan nutrisi yang seimbang walaupun Khalisa harus mengakalinya dengan membentuk buah menyerupai hewan atau hal lainnya, yang penting Azka mau makan buah.


"Kenapa?"


"Sepet."


Khalisa dan Azfan tertawa mendengar jawaban Azka. Azfan selalu berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan Azka, sedangkan Khalisa sesekali mengajari Azka bahasa Mandarin. Namun Azka tetap bisa berbahasa Jawa karena Safa dan Marwah yang mengajarinya.


"Jangan yang ijo, ambil yang agak merah." Khalisa memilih apel untuk Azka.


"Nggak mau Umma." Azka menggeleng kuat, ia tetap tidak mau.


"Ya udah enggak, Umma nggak maksa Azka deh." Khalisa mengalah untuk tidak memaksa Azka makan apel. Mereka bisa membawanya pulang untuk oleh-oleh.


"Buat Abi aja." Azfan mengambil apel di tangan Khalisa lalu melahapnya.


Khalisa tersenyum lebar melihat Azfan makan apel berukuran sedang itu dengan lahap.


Azfan tidak mau membuat Khalisa sedih karena Azka menolaknya jadi ia berinisiatif untuk menggantikan Azka makan apel tersebut walaupun sebenarnya perutnya sudah terasa penuh.


"Manis."


"Oh ya?" Khalisa memilih apel yang tepat.


"Lebih manis Umma sih."


Khalisa terkekeh, itu terdengar seperti gombalan anak SMA tapi ia tetap dibuat tersipu. Khalisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


******


Khalisa menggores pensil di atas buku sketsa, ia menggambar gamis dengan aksen ruffle pada bagian lengannya. Angin sepoi-sepoi yang berhembus bersama sinar matahari sore yang hangat membuat Khalisa betah berada disini.


Karena itu adalah pengajian khusus laki-laki maka Khalisa menunggu di taman dekat masjid. Azka juga ikut bersama Azfan tapi Khalisa tidak merasa kesepian karena ia dapat mendengar suara sang suami dari tempatnya duduk.


"Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji."


"Suara Abi mu selalu bikin Umma berdebar." Khalisa mengusap perutnya, ia ternyata tidak sendiri. Ada janin di dalam perut Khalisa yang selalu bersamanya.


Khalisa tak pernah merasa ada yang berubah setelah hampir 5 tahun mereka menikah. Perasaannya terhadap masih sama seperti pada saat ia jatuh cinta pertama kali pada Azfan. Cinta nya tidak akan pernah berubah dimakan waktu.


Khalisa melihat sekeliling, tempat itu semakin ramai menjelang petang. Khalisa mulai gelisah karena banyak orang di sekitarnya.


Hidup Khalisa tak lagi sama setelah kejadian penculikan itu, ia yang awalnya menyukai berinteraksi dengan banyak orang baru kini tidak lagi. Khalisa tidak nyaman saat berada di tengah keramaian bersama orang-orang asing terutama laki-laki.


Banyak penjual makanan di sekitar taman itu seperti Puthu Lanang, Bakso Malang dan berbagai jenis keripik. Khalisa sudah menghabiskan sebungkus keripik kentang yang Azfan belikan untuknya. Azfan khawatir Khalisa bosan selama menunggunya jadi ia membeli banyak camilan untuk sang istri.


Kehamilan Khalisa kali ini berbeda dengan dua kehamilan sebelumnya. Khalisa selalu ingin makan setiap saat, itu membuat berat badannya naik 5 kilogram. Khalisa memakan apapun yang disajikan di hadapannya.


Khalisa terkejut ketika tiba-tiba ada dua orang laki-laki duduk di sampingnya. Khalisa spontan menggeser duduknya ke ujung dan membereskan alat-alat gambar yang semula berada di sampingnya.


"Maaf, boleh duduk disini ya mbak, soalnya nggak ada kursi lain." Ujar salah satu lelaki berambut panjang.


Khalisa mengangguk pelan dan tersenyum tipis, ia tak bisa menolak karena kursi ini bukan miliknya. Taman ini adalah tempat umum yang siapapun boleh datang. Khalisa mengibaskan tangan karena asap rokok laki-laki itu terbawa angin menerpa wajahnya.


Khalisa memekik ketika lengan laki-laki itu bersentuhan dengannya, ia spontan beranjak dari kursi itu.


"Nggak apa-apa Mbak, duduk aja." Ucap laki-laki itu.

__ADS_1


Laki-laki berambut panjang itu mengingatkan Khalisa pada sosok Revan. Gaya rambut mereka sama persis. Tidak mungkin kan Revan masih hidup, Khalisa melihat dengan matanya sendiri ketika Revan menembakkan pistol ke kepalanya lalu terjatuh. Tidak mungkin tiba-tiba Revan hidup lagi, ini bukan sinetron. Khalisa tak bisa berpikir jernih sekarang.


Khalisa melangkah pergi dari sana karena ia mulai merasa tidak nyaman. Khalisa mencari kursi kosong tapi sejauh mata memandang, tak ada kursi kosong untuknya, semuanya terisi. Mungkin karena ini akhir pekan, tempat itu ramai oleh pengunjung.


Khalisa gusar, kemanapun kakinya melangkah ia melihat segerombolan orang asing. Khalisa menoleh ke arah masjid, ia berharap Azfan segera datang menghampirinya.


Khalisa memeluk buku sketsanya, ia seperti seorang anak yang terpisah dari orangtuanya dan tersesat. Ia berkeringat dingin melihat sekelilingnya.


"Aduh maaf-maaf!" Seorang lelaki tak sengaja menabrak Khalisa hingga buku sketsanya terjatuh.


"Nggak apa-apa." Khalisa menunduk mengambil buku tersebut.


"Buku kamu kotor jadinya." Lelaki itu hendak membersihkan noda tanah pada buku Khalisa. "Gimana kalau aku ganti yang baru."


"Nggak perlu, kotorannya bisa dibersihin."


"Kalau gitu aku transfer aja seharga buku ini."


"Nggak perlu, terimakasih." Khalisa hendak pergi dari sana, bukunya hanya terkena sedikit tanah.


"Tunggu." Laki-laki itu menahan tangan Khalisa.


Khalisa mendelik dan langsung menepis tangan laki-laki itu, "maaf, jangan sentuh saya."


"Aku cuma berniat baik mau ganti buku kamu."


"Saya bilang nggak perlu." Nada bicara Khalisa meninggi.


Laki-laki itu terkekeh melangkah mendekat pada Khalisa.


Khalisa mundur selangkah, kepalanya pening karena keramaian ini. Pandangannya berkunang-kunang. Jika diingat-ingat Khalisa tak pernah lagi keluar seorang diri setelah kejadian penculikan itu, apakah ini pertama kalinya. Itu sebabnya Khalisa merasa gusar.


"Ah!" Khalisa memekik kencang saat ada yang menarik tangannya. Khalisa hampir saja menepisnya tapi setelah tahu bahwa itu Azfan, ia melepaskan napas lega. "Abi."


"Ada apa?" Azfan melihat laki-laki yang berada di dekat Khalisa.


"Nggak apa-apa, ayo pergi." Ajak Khalisa, ia tak ingin berada disini lebih lama. "Azka mana Bi?"


"Ada di mobil sama Mas Faiz, Umma kenapa?"


Khalisa mengusap pipinya yang basah, tanpa sadar ternyata ia menangis saat laki-laki asing itu menahan tangannya. Khalisa masih trauma karena kejadian itu, ia jadi lebih sensitif.


"Umma jangan takut, ada aku." Azfan menarik Khalisa ke dalam pelukannya, ia tahu Khalisa takut saat berada di keramaian. "Maaf Umma."


Khalisa membenamkan wajahnya di dada Azfan, tubuhnya bergetar karena takut. Namun ia lega karena Azfan datang.


Azfan akan selalu menjadi pelindung Khalisa, sejak pertama mereka bertemu hingga sekarang dan di masa depan.


Ketika pertama bertemu, Azfan membantu Khalisa mengeringkan buku sketsa nya yang terkena minuman. Lalu Azfan datang saat Khalisa dan Rindang bertemu laki-laki yang melakukan pelecehan pada Rindang. Azfan pula yang pertama kali datang ketika Revan melakukan pelecehan terhadap Khalisa di basemen Casey Avenue.


Dari dulu hingga sekarang Azfan selalu menjadi orang pertama yang datang saat Khalisa membutuhkannya.


"Titip Khalisa ya, dia tinggal sendirian disini."


Azfan masih ingat ucapan Renata saat itu, tanpa Renata minta pun ia akan selalu melindungi Khalisa. Azfan akan mempertaruhkan apapun demi Khalisa—wanita yang membuatnya jatuh cinta, wanita yang telah berjuang melahirkan anaknya. Azfan akan menggunakan seluruh hidupnya untuk Khalisa.


__ADS_1



__ADS_2