Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
76


__ADS_3

Khalisa mendorong kursi roda membawa Renata jalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk menghirup udara segar karena beberapa hari ini Renata tidak keluar. Pagi ini kondisi Renata sudah jauh lebih baik, saat dokter memeriksanya, tekanan darahnya stabil begitu juga dengan gula darahnya. Renata menunjukkan perkembangan yang signifikan sehingga dokter urung merujuknya ke rumah sakit di Surabaya.


"Akong mau kesini pagi ini." Tukas Khalisa seraya mendorong kursi roda menuju taman samping rumah sakit yang ditumbuhi banyak tanaman hias.


"Kemarin waktu Ama telepon katanya dia nggak kangen tapi hari ini malah mau kesini." Cibir Renata.


Khalisa tertawa, Jaya memang tak mau menunjukkan rasa cintanya dengan berlebihan padahal pada kenyataannya ia sangat bucin pada Renata.


Khalisa duduk di kursi taman mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru, ia menarik napas dalam menghirup udara lamat-lamat. Udara rumah sakit memang tak bisa disebut menyenangkan tapi Khalisa bersyukur setidaknya taman disini sangat terawat sehingga pasien tak akan terlalu stress.


"Ama katanya akhir-akhir ini sulit tidur, memangnya Ama mikirin apa?" Khalisa bertanya dengan lembut mengusap punggung tangan Renata.


"Khalisa, apa kamu nggak masalah kalau nanti tinggal di tempat yang sempit dengan Azfan? kalau Khalisa nggak mau Ama bisa beli satu unit apartemen itu biar Khalisa nggak bingung cari tempat tinggal nanti." Pandangan Renata sendu membuat Khalisa tidak tega melihatnya.


"Ama, Khalisa sama sekali nggak masalah tinggal dimanapun karena bagi Khalisa asal ada Mas Azfan maka semuanya akan baik-baik saja, justru bagus kalau tempatnya lebih sempit jadi waktu Khalisa nggak banyak tersita untuk bersih-bersih apartemen." Khalisa mengulum senyum menenangkan Renata bahwa ia baik-baik saja dimanapun nanti ia tinggal. "Aku tahu, apartemen itu Ama yang pilih dan Khalisa suka banget sama tempatnya tapi nanti kalau Mas Azfan mau kami keluar maka Khalisa akan mengikutinya."


Renata menghela napas berat membayangkan cucu kesayangannya tidak tinggal di apartemen pilihannya.


"Ama percaya kan sama Mas Azfan?"


Renata akhirnya mengangguk setelah berdebat dengan dirinya sendiri, ia bukannya tidak percaya pada Azfan. Renata hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama saat Daniel dan Ica baru menikah dulu. Mereka harus menjual mahar untuk membayar kontrak rumah. Renata tak ingin itu terjadi pada Khalisa.


"Ayo masuk, Khalisa mau tunjukin dress nya." Khalisa beranjak, ia belum menunjukkan dress buatannya pada Renata.


Khalisa melihat Azfan di ujung koridor tengah melangkah menghampirinya dan Renata.


"Aku baru mau kasih tahu kalau Akong sudah datang." Tukas Azfan, "aku yang dorong." Ia menggantikan Khalisa mendorong kursi roda Renata.


"Mas sudah makan?" Tanya Khalisa seraya menggandeng tangan Azfan. Khalisa tadi meminta Azfan sarapan lebih dulu di kantin rumah sakit sementara ia mengajak Renata jalan-jalan.


"Sudah, aku juga beliin nasi pecel buat Haura."


"Makasih Mas."


"Haura?" Sejak semalam Renata mendengar Azfan memanggil Khalisa dengan sebutan Haura. "Itu panggilan sayang Azfan buat Khalisa?"


"Benar Ama, artinya putih bersih dan itu sangat pas dengan Khalisa." Azfan melihat Khalisa sesaat.


"Nama yang cantik." Puji Renata.


Sesampainya di ruang rawat Renata, mereka mendapati Jaya, Ica dan Zunaira sudah menunggu. Begitu melihat Khalisa, Zunaira langsung melompat memeluk Cece nya itu. Bahkan Zunaira yang beratnya hampir sama dengan Khalisa itu merengek minta gendong. Zunaira kesal karena Khalisa tidak pulang ke rumah lebih dulu melainkan langsung ke rumah sakit.


"Aduh Cece belum makan jadi nggak kuat gendong Zunaira." Khalisa mencari alasan agar Zunaira tidak minta gendong.


"Gendong Mas aja sini." Azfan merentangkan tangannya untuk menggendong Zunaira.


Khalisa membelalak pada Azfan, kuat nggak?


Azfan mengangguk samar, "kuat, gendong Haura aja kuat loh."


"Ya ampun udah gede jangan minta gendong ih." Tegur Ica.


"Mau gendong belakang." Zunaira melompat kegirangan.


"Boleh." Azfan berjongkok di depan Zunaira.


Dengan cepat Zunaira naik ke punggung Azfan membuat yang lainnya geleng-geleng karena tingkahnya.


"Hari ini sudah boleh pulang?" Tanya Jaya ketika Renata naik kembali ke atas brankar.


"Belum Pa, kita tunggu sampai Mama benar-benar pulih." Jawab Ica, ia baru saja bertemu dengan dokter membicarakan tentang kondisi Renata pagi ini.


"Udah turun, kasihan Mas nya capek." Pinta Ica pada Zunaira.


Zunaira menurut, ia turun dari punggung Azfan dan langsung duduk di samping Khalisa. Zunaira si hiperaktif yang memang tidak bisa jauh dari Khalisa.


"Loh Zunaira nggak sekolah?" Khalisa mengusap rambut Zunaira yang panjang.

__ADS_1


"Zunai bolos Ce, pengen ketemu Cece katanya." Ica menarik selimut Renata hingga sebatas pinggang.


"Ih nggak boleh gitu dong harusnya tetep sekolah nanti pulang sekolah langsung kesini."


"Tapi Cece kan juga harusnya kuliah tapi kenapa Ce Khalisa disini?" Balas Zunaira.


"Cece kan bisa ikut kuliah online." Khalisa mentowel hidung Zunaira gemas, apakah anaknya nanti akan mirip dengan Zunaira? kalau iya pasti Khalisa akan kewalahan menjawab setiap pertanyaan sang anak.


"Sini Zunai pangku Akong." Jaya menepuk-nepuk pahanya meminta Zunaira duduk di pangkuannya.


Zunaira menggeleng.


"Kenapa?"


"Nanti tulang paha Akong retak soalnya Zunai berat." Tukas Zunaira dengan wajah polos yang mengundang tawa. Rupanya Zunaira sadar diri bahwa dirinya berat tapi ia tetap suka minta gendong Khalisa padahal Cece nya yang kurus itu sudah tidak mampu mengangkat tubuhnya.


"Zunai boleh nggak naik ke kasur Ama?" Zunaira menunjuk brankar Renata, ia ingin naik kesana.


"Boleh, sini." Renata dengan senang hati mengizinkan Zunaira naik.


"Tapi nggak ambruk kan kasurnya?"


"Nggak mungkin ambruk lah, kalau sampai ambruk Zunai harus bikin laporan sama yang punya rumah sakit karena brankar nya kurang kuat padahal Ama sama Zunai kan ringan." Jaya melirik Khalisa yang duduk di sampingnya.


"Kuat kok." Balas Khalisa cepat.


Zunaira meminta bantuan Azfan untuk menaikkannya ke atas brankar tepat di samping kaki Renata.


"Assalamualaikum." Pintu terbuka tampak Aisyah dan si kembar muncul dari balik pintu kaca.


"Waalaikumussalam." Jawab mereka.


"Wah rame sekali disini." Aisyah meletakkan bungkusan di atas meja, ia membawa makanan dan laptop milik Renata. Semalam Renata meminta Aisyah membawakan laptop tersebut.


"Loh Fatah sama Fatimah nggak sekolah juga?" Khalisa mengusap kepala Fatah yang menyalaminya lalu Fatimah—si cantik yang sangat mirip dengan Umar. Di antara cucu Jaya dan Renata hanya Fatimah yang tak terlihat seperti keturunan Chinese. Fatimah mewarisi wajah sang Abi.


"Jangan heran karena dulu Akong nya juga suka bolos." Tukas Renata seraya melihat Jaya.


Jaya mendelik hendak protes karena membocorkan hal buruk pada cucu-cucu mereka. Karena dulu mereka bersekolah di tempat yang sama maka Renata tahu semua kelakuan Jaya.


"Ya ampun Akong, nggak nyangka banget ternyata dulu suka bolos." Ledek Khalisa.


"Ssshhh nanti dicontoh Meme kamu yang nakal itu." Akong menunjuk Zunaira.


Renata senang melihat cucu-cucunya berkumpul seperti ini minus Kafa dan Azmal yang tidak mungkin bolos. Selama ini Renata lihat Azmal adalah cucunya yang paling rajin di antara lainnya. Namun melihat ini sudah cukup membuat Renata bahagia, pikiran-pikiran buruk yang beberapa waktu ini hinggap kini menguap bersama tawa yang terdengar di ruangan itu.


"Mas, duduk." Khalisa menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya agar Azfan duduk.


Azfan bergegas duduk di samping Khalisa, ia senang berkumpul dengan keluarga Khalisa seperti ini. Mereka semua ceria dan mampu membuat suasana hangat. Dulu Azfan membayangkan keluarga Khalisa adalah orang yang kaku dan jarang bercanda. Obrolan mereka hanya seputar bisnis dan barang-barang mahal. Namun Azfan salah besar, semua keluarga Khalisa sangat ramah dan langsung menerima Azfan kecuali Kafa.


"Nasinya belum dimakan." Bisik Azfan di telinga Khalisa seraya melirik kotak makanan di atas meja yang hampir terlupakan.


"Oh iya, aku lupa." Khalisa mengambil kotak tersebut dan izin keluar bersama Azfan untuk sarapan.


Zunaira yang sudah asyik dengan Fatimah tidak menyadari kepergian Khalisa. Jika tahu pasti ia akan merengek ingin ikut kemanapun Khalisa pergi.


******


Khalisa memilih sarapan di taman yang ia dan Renata datangi tadi karena suasana di tempat itu cukup nyaman apalagi untuk menikmati sebungkus nasi pecel.


"Aku boleh tilawah?" Azfan mengeluarkan ponselnya untuk membaca Alqur'an melalui aplikasi.


"Boleh sayang."


Aroma saus kacang menguar ketika Khalisa membuka bungkus nasi pecel, air liur memenuhi rongga mulutnya melihat nasi dengan sayur pakis, genjer dan tauge ditambah tempe goreng dan rempeyek.


"Gimana menurut Mas, nasi pecelnya disini?"

__ADS_1


"Enak kok dan kurang lebih sama dengan pecel di Jawa Tengah tapi kadang kalau pecel disana itu pakai gendar nah kalau disini pakai peyek."


Khalisa mulai menikmati makanannya setelah membaca doa.


"Boleh request surat nggak?" Tanya Khalisa setelah menghabiskan suapan pertama.


"Boleh, mau surat apa?" Azfan dengan senang hati mempersilakan Khalisa meminta surat apapun untuk dibacanya.


"Al-Anbiyaa."


"Baik sayang." Azfan membuka surat Al-Anbiyaa dan mulai membacanya.


Melahap sarapan jauh lebih nikmat ditemani oleh suara merdu Azfan. Khalisa baru menghafal terjemahan surat tersebut jadi ia meminta Azfan membacakannya. Surat tersebut juga menjelaskan tentang umat yang berpaling dan tidak mempercayai wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.


"Aku beli minum dulu." Khalisa membereskan bekas makannya dan memasukannya ke tempat sampah.


Azfan melihat kepergian Khalisa, ia sudah membeli air mineral tadi tapi mereka lupa membawanya.


Letak kantin tidak terlalu jauh dengan taman sehingga Khalisa bisa langsung mendapatkan air untuk mendorong tempe yang nyangkut di kerongkongannya.


"Gratis buat Mbak." Penjaga kantin menolak Khalisa yang hendak membayar air mineral.


"Mbak Lusi kan kemarin aku dikasih gratis masa hari ini gratis juga sih?" Khalisa tetap memberikan selembar uang 50 ribuan pada penjaga kantin bernama Lusi tersebut. "Makasih ya." Ia buru-buru pergi dari sana.


"Mbak ini kebanyakan!" Lusi hendak mengejar Khalisa tapi Khalisa sudah lebih dulu menghilang.


Khalisa setengah berlari melewati koridor yang ramai oleh keluarga pasien. Kapan lagi ia bisa jogging seperti ini.


"Khalisa, ada apa?" Levin berpapasan dengan Khalisa di ujung koridor.


"Eh," Khalisa menghentikan langkah, "Koko mau pulang ya?" Ia melihat Levin membawa tas dan jaket yang disampirkan pada lengannya. Wajah Levin tampak lelah karena harus jaga malam.


"Iya, kamu kenapa lari-larian gitu?"


"Nggak ada apa-apa, mau olahraga aja habis makan." Khalisa mengembangkan senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia memegangi perutnya, ah Khalisa lupa kalau berlari setelah makan itu sama sekali tidak baik untuk tubuhnya.


"Tetap aja jangan lari-larian di koridor, bahaya."


"Iya maaf pak dokter." Khalisa menautkan tangannya di depan dada meminta maaf karena ia bisa membahayakan orang lain. Ia hanya menghindar dari Lusi.


Levin terkekeh, mengapa tingkah Khalisa amat menggemaskan. Sayangnya Levin tidak bisa memiliki Khalisa, sayang sekali.


"Oh iya aku baru dengar kalau Rindang bersyahadat, apa benar?"


"Bener." Khalisa mengangguk.


Untuk beberapa saat Levin tampak terkejut karena sama sekali tidak menyangka kalau Rindang bisa bersyahadat sebab sahabat Khalisa itu amat rajin beribadah. Mungkin Levin tak akan terlalu kaget jika mendengar kabar tersebut dari orang lain tapi beda lagi kalau yang mengatakan hal tersebut adalah Khalisa—orang terdekat Rindang. Tentu saja Khalisa tidak mungkin berbohong.


"Kok bisa?" Levin melongo.


Alis Khalisa terangkat, apa maksud dari kalimat kok bisa? jika Levin sendiri pernah merasakan seperti apa manisnya hidayah yang dulu menghampirinya.


"Bisa, Allah memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki." Jawab Khalisa akhirnya.


"Aku tahu tapi seorang Rindang Anjana?"


"Awalnya aku juga nggak percaya waktu dia bilang, Khalisa aku mau ikut Tuhan kamu." Khalisa menirukan gaya bicara Rindang saat itu. "Aku pikir dia cuma bercanda atau lagi mabok tapi ternyata dia serius, dia putusin Jason di depan Mas Azfan dan aku lalu dengan tegas dia bilang mau ikut Tuhan Khalisa." Khalisa masih merinding ketika menceritakan itu kembali.


"Masya Allah." Levin tidak bisa mengucapkan apapun lagi selain pujian terhadap Allah yang telah memberikan hidayah kepada Rindang.


"Koko bisa ajak Rindang ikut komunitas mualaf karena disitu Rindang akan bertemu banyak orang yang sama sepertinya, tentu saja aku juga akan dampingi dia."


"Nanti aku telepon dia."


"Kamsia Koko ku yang manis dan imut, ya udah Koko hati-hati di jalan." Khalisa melambaikan tangan pada Levin dan berlalu dari sana.


Levin menatap punggung mungil Khalisa yang semakin menjauh lalu menghilang setelah berbelok ke kanan, itu adalah jalan menuju taman samping rumah sakit.

__ADS_1


"Dia harus menghilangkan kebiasaan memuji orang lain." Gumam Levin seraya memegangi pipinya yang terasa memanas saat Khalisa memujinya. Sadar Vin, dia udah punya suami.


__ADS_2