
"Abi, Abi lihat deh!" Khalisa berseru sambil melompat-lompat kegirangan melihat pemandangan di atas tempat tidur. Ia memanggil Azfan yang sedang berada di kamar mandi.
"Ada apa?" Azfan buru-buru membuka pintu meskipun ia belum selesai mencuci muka, ia sudah membayangkan hal buruk terjadi karena Khalisa terus memanggilnya.
"Lihat deh Azka!" Khalisa menunjuk Azka yang sudah bisa tengkurap sendiri tanpa bantuan dirinya maupun Azfan.
Ekspresi terkejut Azfan langsung berganti dengan senyuman melihat ke arah tempat tidur dimana Azka sedang tertawa dengan posisi tengkurap. Tidak lupa Khalisa mengabadikan momen itu dengan ponselnya—memotret berkali-kali dari berbagai angle. Sejak memiliki Azka ponsel Khalisa dan Azfan penuh dengan foto Azka. Khalisa juga mencetak beberapa foto yang paling bagus dan menyimpannya pada album khusus.
Azfan kembali ke kamar mandi karena wajahnya penuh sabun, ia menyelesaikannya dengan cepat dan menghampiri Azka. Azfan menatap Azka dengan berbinar-binar, ia kagum pada Azka yang setiap hari menunjukkan perkembangan baru. Azka menjadi bayi cerewet yang selalu merespon saat diajak bicara. Sepertinya Azka akan memiliki sifat seperti Khalisa yang ramah pada semua orang.
"Makin pinter Anak Abi." Puji Azfan.
Setelah puas mengambil gambar, Khalisa mengajak Azka bercanda dan bermain ciluk ba. Sedangkan Azfan bergegas mengganti pakaian karena mereka memiliki janji untuk makan bersama keluarga Khalisa di hotel Aswatama.
"Khalisa, Ibu boleh masuk nggak?"
Khalisa mengalihkan perhatian pada pintu mendengar suara mertuanya. Khalisa memperbolehkan Kirana masuk karena kebetulan ia tidak mengunci pintu.
"Azka biar Ibu yang pakaikan baju biar kamu bisa siap-siap juga."
"Makasih ya Bu, saya sudah siapkan baju Azka di Baby Tafel nya." Khalisa mengangkat Azka dan mencium pipinya dua kali, "Azka ganti baju sama Mbah Uti ya."
Kirana mengambil alih Azka dari tangan Khalisa dan meletakkannya di atas Baby Tafel untuk mengganti pakaian. Sementara itu Khalisa menyusul Azka ke walk in closet.
Kemarin Kirana datang untuk menengok Azka dan memutuskan untuk menginap beberapa hari. Kehadiran Kirana begitu membantu Khalisa untuk menjaga Azka. Walaupun ada Nadira yang selalu siap menjaga Azka tapi Khalisa tahu mengurus anak kecil itu tidak mudah. Ditambah Nadira melakukan pekerjaan rumah lainnya meski Khalisa melarangnya karena tujuan Nadira kesini adalah membantu mengurus Azka. Namun Nadira tetap menyelesaikan pekerjaan rumah saat Azka tidur.
"Apa nanti semua keluarga akan hadir?" Azka melihat penampilannya di depan cermin setelah mengenakan kemeja dan celana yang telah Khalisa siapkan. Khalisa selalu memiliki waktu untuk menyiapkan pakaian untuk Azfan dan Azka bahkan sampai ia lupa menyiapkan untuk dirinya sendiri.
Pernikahan mengajarkan Khalisa untuk menekan ego dan mengutamakan kebutuhan suami serta anak daripada dirinya.
Perlahan Khalisa mengerti mengapa dulu mama nya sering makan seorang diri atau hanya dengan papa nya, itu karena seorang mama ingin anak-anaknya makan lebih dulu. Menjadi ibu adalah anugerah luar biasa yang selalu Khalisa syukuri.
"Walaupun nggak semua tapi aku yakin akan banyak yang hadir karena waktu resepsi tadi malam pertemuannya cuma sebentar, Ai dan Susuk mau kita bisa ngobrol lebih lama."
Azfan merasa gugup meskipun ia sudah sering bertemu dengan keluarga besar Khalisa. Namun bertemu dengan banyak orang selalu membuatnya gugup dan kehilangan percaya diri.
"Jangan gugup, ada aku." Khalisa menggenggam tangan Azfan, tanpa mengatakannya Khalisa mengerti apa yang Azfan rasakan. "Lagi pula yang akan menjadi pusat perhatian itu pengantin baru kita, Kafa dan Mahira."
Azfan ingat ketika awal-awal menikah, keluarga besar Khalisa pasti menanyakan tentang pekerjaan, bidang prodi yang dipelajarinya di kampus hingga bisnis keluarga. Atau saat mencoba mengobrol dengan keluarga Khalisa, Azfan tak pernah bisa berbaur karena ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Banyak kata yang tak pernah Azfan dengar sebelumnya. Alhasil Azfan akan menjadi pendengar dan mengangguk serta sesekali tertawa saat yang lain tertawa. Namun pada saat seperti itu Khalisa selalu hadir menyelamatkan Azfan dari orang-orang yang membuat Azfan terpojok.
Sekarang Azfan bisa lebih tenang karena pasti keluarga Khalisa akan lebih fokus pada Kafa dan Mahira yang baru menikah. Kehadiran Azka juga membuat mereka tak lagi banyak bertanya pada Azfan. Keberadaan Azka yang menjadi piala bergilir membuat Azfan tak lagi risau tentang banyak pertanyaan soal pekerjaan dan bisnis.
"Wah cucu Uti makin cakep nih abis ganti baju." Kirana mengangkat Azka tinggi-tinggi untuk melihat penampilan sang cucu yang telah berganti pakaian. "Azka disini aja ya sama Uti nggak usah ikut Abi dan Umma."
Khalisa tersenyum melihat Kirana yang sedang mengobrol dengan Azka.
"Bu, maaf ya ada Ibu tapi Khalisa dan Mas Azfan justru harus pergi."
"Nggak apa-apa Nduk, lagi pula kalian kan nggak nginep." Kirana mencium pipi gembul Azka berkali-kali bahkan ia merapatkan giginya saking gemasnya pada sang cucu.
"Kami akan kembali dengan cepat."
"Jangan buru-buru, nikmati acara kalian, makan bersama seperti itu kan nggak bisa setiap hari, Ibu juga masih lama disini."
"Makasih ya Bu." Khalisa memasang Hipseat di pundaknya, "Ibu mau dibawain apa nanti buat makan malam?"
"Nggak usah Nduk, Ibu masak sendiri aja di kulkas banyak sayur sama daging." Kirana memposisikan Azka menghadap Umma nya, "Ibu nggak bisa pakai gendongan kayak gini, enak pakai jarik."
"Sebenarnya jarik memang lebih enak Bu, tapi kalau buat keluar Khalisa pakai ini."
"Kelihatan lebih bagus juga."
"Bu, Azfan sama Khalisa berangkat ya." Azfan mencium tangan ibunya begitupun dengan Khalisa.
"Iya, hati-hati di jalan." Kirana mencium Azka lagi, ia begitu merindukan Azka setelah cukup lama tidak bertemu.
Restoran hotel Aswatama sudah dipenuhi oleh keluarga Jaya Alindra yang mengenakan pakaian hitam dan mocca sebagai dress code nya. Itu hanya acara makan biasa tapi tetap saja restoran itu diberi sedikit sentuhan dekorasi di setiap sudutnya. Arti biasa saja itu relatif bagi setiap orang. Bagi Jaya ini adalah biasa sedangkan untuk orang baru seperti Azfan dan Mahira ini adalah luar biasa sebab restoran itu ditutup untuk umum hanya untuk acara tersebut.
__ADS_1
Awalnya Mahira berpikir jika Kafa mengatakan hanya makan biasa maka dalam bayangannya adalah benar-benar makan biasa tanpa dress code apalagi dekorasi. Namun ini di luar ekspektasi Mahira, untungnya ia mengenakan gamis mocca yang kebetulan sesuai dengan dress code hari itu. Sayangnya orang-orang yang Mahira kenal seperti Khalisa dan Azfan, mereka mengenakan baju hitam bahkan Kafa juga demikian. Mahira merasa dikhianati karena Kafa tak memberitahu sebelumnya.
Ketika Khalisa dan Azfan sampai, Azka langsung berpindah tangan pada Samuel yang merupakan sepupu Daniel. Khalisa yakin selama acara Azka akan berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
"Wah sepertinya hampir semua keluarga datang." Khalisa takjub melihat keluarga besar Jaya datang hari itu padahal mengumpulkan satu keluarga penuh adalah hal yang sangat sulit. Mereka memiliki kesibukan masing-masing, Aisyah dan Umar pasti telah berusaha keras untuk mengumpulkan semua orang.
"Apa ada dari mereka yang aku nggak pernah bertemu sebelumnya?" Azfan menggandeng tangan Khalisa ketika mereka melangkah bergabung dengan anggota keluarga yang datang lebih dulu.
"Cuma ada beberapa nanti aku kenalin." Khalisa mengembangkan senyum lebar pada Azfan, "Abi bisa menjawab pertanyaan penguji waktu sidang, masa ketemu keluarga sendiri gugup." Ujarnya.
"Karena kalau pertanyaan penguji udah aku perkirakan sebelumnya sedangkan pertanyaan mereka selalu tidak terduga sayang."
Khalisa terkekeh, "pertanyaan mereka pasti standar aja, pekerjaan dan rencana masa depan."
"Azka mana?" Ica heran melihat Khalisa dan Azfan datang tanpa Azka.
Khalisa mengedarkan pandangan, "itu lagi sama Aunty Ariel."
"Ama nya nggak pernah punya kesempatan gendong." Ica geleng-geleng melihat Azka begitu juga berpindah tangan.
"Harus ketemu secara pribadi di rumah." Canda Khalisa.
"Nanti Mama udah balik ke Banyuwangi."
"Yaah, Zunai sama Azmal ikut balik?"
"Iya, nggak mungkin Mama tinggalin mereka disini nanti makin ngerepotin kamu sayang, kalian sapa yang lain gih." Pinta Ica pada Khalisa dan Azfan untuk menyapa saudara mereka yang lain.
Khalisa mengenalkan Azfan pada dua sepupu Daniel yang tinggal di Kanada dan ini pertama kalinya mereka ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan Kafa dan Mahira.
"Uncle nggak adil, waktu aku nikah Uncle Chris nggak pulang."
"Karena Papa kamu ngabarin nya mendadak sedangkan Atalie dari satu bulan yang lalu sudah kasih kabar, jadi ini suami kamu?"
"Iya Uncle."
"Ini takdir atau kebetulan tapi anak-anak dan cucu A-kiu Jaya menikah dengan non Chinese, mulai dari Atalie, Daniel lalu Khalisa dan sekarang Kafa."
"Bukan karena kalian egois?"
"Maksud Uncle?" Khalisa mengerutkan kening.
"Kamu nggak tahu, kabar yang tersebar di antara anggota keluarga, Ama kalian Renata meninggal karena berpikir terlalu keras sebab kamu menikah dengan non Chinese."
Wajah Azfan muram mendengar perkataan uncle Khalisa yang bernama Chris itu.
Netra Khalisa melebar, ia tak tahu gosip semacam itu tersebar di dalam keluarga mereka sendiri. Tentu saja kabar itu tidak benar karena sejak awal bertemu Renata menyukai Azfan.
"Kalaupun kabar itu benar, Ama nggak akan bertahan sejak Ai Aisyah menikah buktinya Ama menjalani seluruh hidupnya dengan kebahagiaan."
Chris terkekeh meremehkan jawaban Khalisa, menurutnya itu hanya pembelaan.
"Apa Uncle kurang bahagia sampai jauh-jauh dari Kanada cuma mau membicarakan ini?"
Kini giliran Chris yang muram, berani sekali Khalisa bicara seperti itu. Ia berpikir Khalisa tak memiliki sopan santun.
"Saya permisi dulu Uncle." Khalisa menarik Azfan untuk segera pergi dari sana.
"Umma nggak apa-apa?" Bisik Azfan.
"Nggak apa-apa, hal seperti ini sudah biasa."
"Umma yakin?" Azfan menghentikan langkah meneliti wajah sang istri.
"Iya." Khalisa tersenyum, "selama ada Abi, aku pasti baik-baik aja."
Acara makan dimulai, semua orang duduk di kursi yang telah disediakan. Kursi-kursi mengelilingi meja berbentuk persegi panjang yang membentang ke seluruh restoran.
"Mahira, kok makannya cuma sedikit?" Khalisa melihat piring Mahira, hanya ada sedikit nasi dan sepotong ayam saus Inggris serta sedikit jamur. Dari tadi Khalisa melihat wajah Mahira kusut tidak seperti biasa yang selalu memasang senyum manis.
"Ini enak juga loh." Khalisa menyodorkan sup wonton ke dekat piring Mahira. "Ini halal kok, ada juga yang digoreng."
Mahira mencoba tersenyum, ia sudah badmood sejak menyadari bahwa hanya dirinya yang mengenakan pakaian berwarna Mocca di antara mertuanya, Akong, Daniel, Ica, Khalisa, Azfan dan Kafa.
__ADS_1
"Abi coba ini." Khalisa menyuapkan Hakau pada Azfan. "Enak kan?"
Azfan manggut-manggut, ia tak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan Hakau berisi udang. Azfan dan Khalisa bisa makan dengan tenang karena Azka sudah tidur di atas stroller nya.
"Kuliah kamu gimana Khalisa?" Tanya Ariel.
"Tinggal tunggu wisuda aja Aunty." Jawab Khalisa.
"Lalu apa rencana kamu setelah ini, mau lanjut kuliah apoteker kan?"
"Belum kepikiran sih." Khalisa ingin belajar lagi untuk mengelola Alindra Beauty, ia juga ingin menjahit lagi jika punya waktu senggang.
"Saya dengar keluarga istri Kafa juga punya bisnis makanan, bakpia ya kalau nggak salah?" Tukas yang lain seraya melihat Mahira.
"Benar Om." Jawab Mahira, ia tak tahu sudah berapa orang yang menanyakan hal serupa padanya sejak ia dan Kafa sampai.
"Udah ada berapa cabang? di Banyuwangi udah ada belum?"
"Itu hanya bisnis rumahan dan tidak ada cabang."
"Belum ada." Kafa meralat perkataan Mahira.
Mahira mengerti arti pandangan mereka yang seolah merendahkan dirinya. Mahira harus menahan diri agar tetap duduk manis di kursinya paling tidak sampai acara selesai.
Obrolan siang itu berisi bisnis dan saling mengolok antar keluarga. Jika Azfan berpikir acara makan akan berlangsung hangat karena semua keluarga telah berkumpul maka ia salah besar. Ini seperti acara reuni yang selalu ada di bayangan Azfan, mereka saling memamerkan kekayaan dan kesuksesan masing-masing. Kini Azfan mengerti mengapa Kafa dan Khalisa ambisius, itu karena sejak kecil mereka hidup di keluarga yang selalu bersaing dalam hal kekayaan. Itu memang tidak terlalu buruk juga tapi ini jauh dari kehidupan Azfan biasanya. Azfan tak mampu mengimbangi obrolan mereka sedangkan ia hanya memiliki toko kaligrafi kecil.
Caramel Custard dan Vanilla Custard disajikan di atas meja setelah mereka menikmati makanan utama yang lezat. Restoran hotel Aswatama memang terkenal dengan Vanilla Custard sehingga Aisyah memilihnya untuk menjadi hidangan penutup.
"Saya permisi dulu." Mahira beranjak dan melangkah meninggalkan restoran, ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi karena sejak awal ia memang sudah kehilangan minat untuk mengikuti acara itu. Mahira tak suka Kafa memberitahu secara mendadak karena ia juga perlu menyiapkan diri. Kenapa tak ada yang memberitahunya untuk mengenakan pakaian berwarna hitam. Mahira ingin marah saat itu juga tapi ia tak mungkin mempermalukan dirinya sendiri.
"Kejar." Khalisa memberi kode pada Kafa untuk segera mengejar Mahira.
Kafa ikut beranjak, awalnya ia pikir Mahira pergi ke toilet tapi ia sadar bahwa istrinya itu melangkah keluar hotel setelah Khalisa memberitahu.
"Mahira tunggu!" Kafa setengah berteriak memanggil Mahira yang melangkah keluar lobi. "Kamu mau kemana, mobil kita disana." Kafa menunjuk ke arah deretan mobil yang terparkir sedangkan Mahira melangkah ke arah lain. Kafa menahan tangan Mahira. "Ada apa kenapa tiba-tiba kamu keluar?"
Mahira menatap Kafa tajam, apa maksud dari pertanyaan itu. Apakah Kafa tidak menyadari bahwa sejak sampai keluarganya memberi pertanyaan yang menyudutkan Mahira. Harusnya Kafa tahu itu.
"Kenapa kamu nggak ngasih tahu kalau semua orang pakai baju warna hitam, maksudku Ummi, Abi, Mbak Khalisa, Mas Azfan bahkan kamu juga pakai warna hitam, aku merasa nggak dianggap tahu nggak?"
"Sumpah aku nggak tahu kalau mereka pakai baju hitam, ini kebetulan aja."
"Kalau dari awal kamu tahu dress code nya hitam mocca, seenggaknya kita pakai baju yang sama." Tubuh Mahira bergetar menahan emosi. "Aku mau pulang." Ketus Mahira.
"Iya kita pulang, ayo masuk mobil dulu."
Mahira melepaskan tangan Kafa dan melangkah pergi keluar area halaman hotel Aswatama. Mahira akan naik apa saja yang lewat di depan matanya untuk pulang.
Kafa masuk ke mobilnya mengejar Mahira yang entah kenapa sosoknya sudah tidak terlihat. Mahira berjalan sangat cepat hingga Kafa tak bisa mengejarnya.
"Mahira aku minta maaf, aku salah." Kafa menyembulkan kepalanya melalui jendela mobil ketika melihat Mahira di trotoar. "Kita bicarakan pelan-pelan ya." Ia segera turun dari mobil dan menahan Mahira.
"Lepasin nggak?"
"Enggak, aku nggak mau lepasin."
"Lepasin!"
"Kamu istriku, aku nggak mau lepasin!" Kafa mengangkat tubuh Mahira dengan paksa dan membawanya masuk mobil.
Mahira tidak bisa melawan karena tenaga Kafa jauh lebih besar. Mahira duduk di jok mobil dengan tidak berdaya, air matanya mengalir deras.
Kafa memasang seatbelt Mahira dan mengunci pintu agar istrinya itu tidak kabur lagi.
"Mahira Atiqah," Kafa memegang tangan Mahira dan menatapnya. "Aku udah salah besar, aku nggak ngasih tahu kamu sebelumnya kalau kita mau makan, harusnya kita juga pakai baju yang sama, maafin aku sayang." Wajah Kafa sendu, baru sehari menikah ia sudah membuat Mahira menangis.
"Aku tahu aku bukan berasal dari keluarga yang setara dengan kamu, aku juga sadar diri ketika mereka menyudutkan aku." Mahira merasa bukan apa-apa di antara keluarga Kafa yang lain, ia tak bisa melupakan pandangan saudara-saudara Kafa terhadap dirinya.
Kafa menggeleng, "kamu istriku, kamu adalah bagian dari diriku." Ia menarik Mahira dan memeluknya. "Aku salah, kalau kamu nggak mau kita nggak perlu datang ke acara seperti ini lagi, ya."
Mahira luluh karena nada bicara Kafa begitu lembut, tak seperti Kafa biasanya yang suka membentak Mahira. Sejak awal Mahira memang jatuh cinta lebih dulu, ia akan mudah luluh oleh rayuan Kafa.
__ADS_1