Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
96


__ADS_3

"Kamu beneran nggak masalah terbang ke Banyuwangi?" Levin menatap Khalisa khawatir. Kebetulan mereka mendapat kursi bersebelahan sehingga Levin bisa terus mengawasi Khalisa selama perjalanan.


Levin bertanya-tanya mengapa Khalisa ada di apartemen Rindang tadi pagi dan ia menyadari bahwa Khalisa bukannya berkunjung tapi menginap. Lalu Khalisa bilang hendak pergi ke Banyuwangi. Kemana Azfan, mengapa Khalisa pergi sendiri. Levin tidak berani menanyakannya pada Khalisa. Kalaupun Khalisa sudi berbagi pasti ia akan menceritakannya sendiri sebelum Levin bertanya. Levin menekan rasa penasarannya, ia hanya bertugas menjaga Khalisa selama perjalanan bukan mencampuri urusan Khalisa.


"Koko nggak usah khawatir karena aku terbang sama dokter hebat disini." Khalisa nyengir menepis rasa khawatir Levin, ia memoles bibirnya dengan liptint agar tidak terlalu pucat. Dengan bibir pucat itu orang-orang menyangka dirinya sakit padahal Khalisa yakin ia sudah jauh lebih baik setelah menguras isi perutnya pagi tadi.


Levin ikut tersenyum, ia melempar pandangan keluar jendela seolah gulungan awan yang perlahan semakin tebal itu dapat menghiburnya dari pada harus melihat Khalisa lebih lama. Levin sudah membangun tembok tinggi di antara mereka dan ia tidak mau runtuh begitu saja hanya karena mendapat kursi tepat di samping Khalisa.


"Ko, salah satu orang yang aku kenal baru aja ngasih tahu kalau dia mengidap CRPS." Khalisa memecah keheningan beberapa saat di antara dirinya dan Levin.


Levin yang tadinya sibuk dengan pikirannya sendiri sontak menoleh melihat Khalisa. Itu adalah penyakit disfungsi saraf langka yang tidak dapat disembuhkan. Biasanya gejalanya berupa sakit luar biasa pada bagian tubuh.


"Maksud kamu Complex Regional Pain Syndrome?"


Khalisa mengangguk samar.


"Apa sakit itu nggak bisa disembuhkan?" Ada nada berharap dari kalimat Khalisa meski ia tahu penyakit langka itu tidak dapat disembuhkan, Naira juga pasti sudah tahu itu sebabnya ia hendak pergi ke Yaman seolah ingin menarik diri dari hiruk-pikuk dunia.


"Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan CRPS sama seperti diabetes tipe 1 yang Rindang derita, siapapun orangnya beri dia semangat bahwa penyakit tersebut bukan akhir dari segalanya."


Khalisa menghela napas berat, obrolannya dengan Naira waktu itu kembali berkelebat di pikirannya.


"Aku ingin mewujudkan salah satu impiannya." Lirih Khalisa.


"Apa itu?"


"Menikah dengan suamiku."


Rahang Levin mengeras, impian macam apa itu? bahkan Levin yang menaruh cinta begitu dalam tak pernah berharap bisa bersatu dengan Khalisa yang kini telah menikah. Levin akan menentang keras kalau sampai Azfan setuju. Levin tak mungkin bisa melihat Khalisa berbagi cinta dengan siapapun.


Pertanyaan yang sedari tadi berkemelut di kepala Levin akhirnya terjawab. Pasti Azfan pergi dari rumah karena tidak setuju dengan permintaan Khalisa. Itu berarti Azfan pergi ke Banyuwangi dan Khalisa menyusulnya.


"Kalau aku jadi Azfan, aku akan kabur ke tempat yang lebih jauh, tempat yang nggak bisa kamu jangkau."


Dari ekor matanya Khalisa melihat Levin kembali kembali mengalihkan pandangan darinya.


"Kenapa?"


"Kamu melukai perasaan Azfan, apa cintamu begitu dangkal sampai berani meminta Azfan menduakan mu?"


Khalisa terdiam, ia menunduk dalam memejamkan mata hingga setetes kristal bening jatuh ke telapak tangannya. Bagaimana ini? hanya Allah yang tahu sedalam apa cinta Khalisa pada Azfan. Jika Palung Mariana yang katanya palung paling dalam di dunia saja bisa diukur kedalamannya maka cinta Khalisa sudah pasti lebih dalam dari itu.


Bagi Khalisa impian seseorang adalah hal luar biasa seperti dirinya yang selalu berusaha menggambar desain disela kesibukannya demi meraih mimpi menjadi designer meskipun materi kuliahnya dipenuhi oleh formulasi aseptik, farmakoterapi, mikrobiologi hingga parasitologi. Khalisa juga ingin menjadi jembatan bagi Naira meraih impiannya.


"Kamu bukan malaikat Khalisa, kamu manusia biasa, itu bukan tugas mu maka mustahil untuk melakukannya lagi pula apa kamu yakin dia bisa bahagia dengan menikahi Azfan atau sebaliknya, jangan salah paham, mungkin dia menginginkan Azfan seutuhnya bukan berbagi denganmu."


Tapi dia nggak nolak soal itu seolah memang menginginkannya. Bukan dulu. Sekarang ia juga menginginkannya.


Rasa rindu menelusup ke dalam relung hati Khalisa, ia ingin mendekap Azfan lalu meminta maaf karena telah membuat kesalahan besar. Khalisa ingin mengatakan betapa ia mencintai Azfan lebih dari dirinya sendiri. Khalisa benci saat dimana mereka harus terpisah jauh. Khalisa ingin selalu berada di dekat Azfan.


Levin baru memutar kepala ketika pramugari mengantarkan makan siang untuk mereka berupa tenderloin panggang, mashed potato dengan tumis kale dan sup jamur yang tampak lezat. Makanan di pesawat memang selalu enak bagi Levin.


Levin melihat Khalisa yang baru terlelap, ia tidak kuasa mengusik istirahat Khalisa yang baru beberapa menit. Namun Khalisa juga harus makan. Percuma Khalisa memoleskan pewarna bibir toh ia tetap tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya.


"Khalisa, makan dulu." Ujar Levin dengan suara lembut agar Khalisa tidak terkejut. "Ntar lanjut lagi tidurnya."


Tanpa Levin mengulangi perkataannya Khalisa bangun. Khalisa melihat makanan tersaji di hadapannya dengan plating cantik.


"Dagingnya buat Koko aja." Khalisa tidak berselera melihat daging yang dipanggang medium rare tersebut, ia hanya ingin makan kentang, tumis kale dan sup jamur.


"Kenapa, ini enak loh."


Khalisa menggeleng menyodorkan piringnya pada Levin.


"Semua?"


"Dagingnya aja Ko."


Levin nyengir mengambil steak milik Khalisa. Bicara soal daging, Levin jadi ingat Rindang yang mengatakan betapa sulitnya berhenti makan baabi kecap setelah menjadi mualaf. Tanpa terasa Levin tersenyum mengingat cerita Rindang.


Khalisa melirik Levin, apa Levin begitu senang mendapat dua porsi daging hingga tersenyum amat lebar seperti itu.


Setelah menghabiskan makan siang, Khalisa langsung memejamkan mata karena perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Tidak, tidak mungkin ia mabuk karena naik pesawat bukan lagi hal baru. Bahkan Khalisa bisa naik pesawat dua kali seminggu tapi kenapa kali ini rasanya berbeda.


"Ko Levin punya scopolamine nggak?" Suara Khalisa amat lirih hampir tidak terdengar, ia harus minum obat penekan rasa mual walaupun terlambat karena mereka telah menempuh setengah perjalanan.


"Mau muntah lagi?" Levin mengecek tas berukuran kecil yang berada di pangkuannya, "aku lihat dulu." Ia menyimpan beberapa obat-obatan di dalam tasnya tapi tidak yakin apakah ia memiliki obat mabuk perjalanan disana. "Nggak ada, muntahin aja." Levin menyodorkan sebuah kantong pada Khalisa.

__ADS_1


Khalisa menggeleng masih dengan mata terpejam.


"Pinjam tangannya, karena kamu duduk sama dokter maka obat bukan satu-satunya cara." Levin menarik tangan kiri Khalisa dan menekan titik antara ibu jari dan telunjuk, ia melakukannya dengan perlahan tapi kuat. Itu bisa mengurangi rasa mual Khalisa. Levin juga melakukannya pada tangan Khalisa yang lain.


******


Begitu sampai di bandara Khalisa langsung berlari menuju toilet, pijatan Levin tadi lumayan membuatnya rileks tapi saat turun Khalisa kembali merasa mual.


Levin setengah berlari menyeret koper dan menenteng tas Khalisa yang tidak terlalu berat. Bahkan Khalisa meninggalkan tas nya.


Levin melihat Khalisa berbelok ke arah toilet khusus wanita lalu menghilang. Levin menunggu di dekat situ sambil memesan taksi. Khalisa tidak memberitahu siapapun bahwa ia hendak menyusul Azfan sehingga tak ada yang menjemputnya di bandara. Jadi Levin akan mengantar Khalisa ke rumah orangtuanya dulu. Azfan juga pasti sudah tidak sabar bertemu istrinya.


"Khalisa!" Levin mengetuk pintu toilet karena sudah 10 menit Khalisa tidak juga keluar dari sana. Ia memastikan Khalisa masih berada disana. "Kamu kenapa?"


Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Levin mundur selangkah memberi jalan untuk Khalisa.


"Kamu perlu ke rumah sakit." Levin mengikuti langkah Khalisa.


Khalisa menggeleng, ia ingin segera bertemu Azfan meski sekarang ia merasa tubuhnya melayang. Khalisa tidak dapat merasakan lantai dimana ia menapak. Tubuh Khalisa terhuyung ke belakang lalu ia mendengar Levin menyerukan namanya. Detik berikutnya Khalisa tidak bisa merasakan apapun. Gelap. Telinganya tak dapat mendengar apapun di tengah kebisingan bandara.


Levin mengangkat tubuh Khalisa membawanya berlari mencari taksi yang sudah dipesannya tadi.


"Tolong ke rumah sakit Pak." Levin membaringkan Khalisa di atas kursi mobil dengan hati-hati. Sedangkan supir memasukkan koper ke bagasi mobil.


Rumah sakit Kafasa bisa ditempuh hanya 10 menit dari bandara yang juga berdekatan dengan rumah Daniel, hotel Jinggo dan kampus Poliwangi.


"Suster tolong!" Levin mengangkat tubuh Khalisa yang lunglai. Wajah Khalisa juga kehilangan rona nya. Semburat kemerahan di pipi Khalisa menghilang.


Dengan sigap dua orang perawat mendorong brankar untuk membawa Khalisa.


Levin menyambar stetoskop yang perawat berikan padanya, ia memeriksa detak jantung Khalisa. Tidak beraturan, kadang cepat lalu lemah.


"Gunakan RL." Titah Levin pada perawat agar segera memberikan infus pada Khalisa.


Levin tidak lagi terlihat seperti dokter magang melainkan dokter sesungguhnya. Ia begitu cekatan menangani Khalisa.


"Dokter, saya akan mengabari Pak Daniel." Levin meminta dokter senior untuk memeriksa Khalisa lebih lanjut sementara ia keluar dari situ untuk menelepon Daniel.


"Kerja bagus Vin." Dokter Helwa menepuk bahu Levin dengan bangga.


******


"Khalisa udah siuman kok." Jelas Levin agar Azfan tidak terlalu panik.


Azfan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Levin karena telah menjaga Khalisa selama perjalanan dan membawanya ke rumah sakit.


"Mas."


Suara lemah Khalisa menyambut Azfan. Ia mengulurkan tangan pada Azfan yang baru memasuki UGD. Ruangan beraroma obat ini selalu menjadi tempat bersejarah bagi Khalisa dan Azfan. Perasaan mereka semakin kuat saat berada di dalamnya.


"Maafin aku Mas." Khalisa turun dari brankar berdiri dengan lututnya mengecup tangan Azfan lama.


"Enggak sayang, aku yang harusnya minta maaf." Azfan berjongkok mendekap tubuh mungil Khalisa dengan erat, ia salah karena telah meninggalkan Khalisa sendiri.


"Aku mencintaimu Mas." Lirih Khalisa, ia tak ingin jauh-jauh lagi dari Azfan. Ini menyakitkan.


"Maka jangan minta aku memenuhi permintaan Haura yang nggak masuk akal itu."


Khalisa menggeleng, ia kembali mengucapkan maaf karena telah menyakiti Azfan.


"Aku sudah memaafkan mu Haura." Azfan membimbing Khalisa bangun dan membantunya kembali naik ke brankar. Kemarahannya luruh seketika mendengar Khalisa menyusulnya kesini. "Dokter, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Azfan pada dokter wanita berusia 40 tahunan yang berada disana.


Dokter Helwa tersenyum, "Mbak Khalisa dehidrasi tapi kami sudah memberikan infus, beberapa jam lagi pasti akan baikan."


"Dokter, saya tidak pernah mabuk perjalanan sebelumnya tapi kali ini saya mabuk parah, kira-kira kenapa ya Dok?"


"Itu karena ada janin disini." Helwa mengusap perut Khalisa sekilas.


Khalisa membelalak tak percaya, untuk beberapa saat ia terdiam bahkan menahan napas karena takut melewatkan kalimat Helwa selanjutnya.


"Saya perlu memastikan dengan melakukan USG, kami akan memindahkan Mbak Khalisa ke ruangan lain."


"Maksud dokter istri saya hamil?"


"Benar Mas."


Azfan tak tahu harus mengucapkan apa mendengar kabar itu, terlalu banyak kalimat yang mengendap di hatinya tanpa bisa dikeluarkan. Perasaan Azfan campur aduk antara bahagia, khawatir, terharu dan syukur yang amat banyak karena Allah mempercayakan mereka untuk memiliki keturunan.

__ADS_1


"Alhamdulillah sayang." Azfan menarik Khalisa ke dalam pelukannya, tubuhnya gemetar menangis bahagia. Ia mencium kening Khalisa berkali-kali. Meski dokter mengatakan hanya kemungkinan kecil Khalisa bisa hamil tapi mereka tetap percaya bahwa tak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Doa-doa panjang mereka terjawab disaat Azfan merasa putus asa terhadap Khalisa karena ia diminta untuk menikahi wanita lain.


Khalisa menangis tersedu-sedu di pelukan Azfan. Kesedihannya selama masa penantian menguap seketika, mengalir bersama air matanya.


******


Kabar kehamilan Khalisa menyebar dengan cepat. Semua orang yang mengenal Khalisa ikut bahagia dan mendoakan agar janin di dalam perut Khalisa sehat hingga lahir nanti. Banyak staf rumah sakit yang memberikan bunga sebagai ucapan selamat pada Khalisa dan Azfan hingga memenuhi ruang rawat.


Aroma Mawar, Tulip, Sedap Malam, Gardenia dan Sweet Pea bercampur menjadi satu di ruangan itu. Alih-alih mencium aroma obat, hidung Khalisa dimanjakan oleh wangi bunga-bungaan tersebut. Ia akan membawa semuanya ke Sleman.


Selembar foto di tangan Khalisa menunjukkan hasil USG pertama janinnya yang masih sangat kecil. Dokter bilang usia kandungan Khalisa memasuki 3 Minggu. Khalisa bahkan tidak menyadari bahwa ia telat datang bulan hampir 1 bulan. Ia pikir tubuhnya merasa tidak enak karena cuaca yang selalu berubah tapi ternyata ada bayi di dalam perutnya.


Di tengah kabar bahagia itu Khalisa menceritakan tentang penyakit Naira. Khalisa mengatakan alasan sebenarnya mengapa ia sempat ingin Azfan menikahi Naira, itu karena Naira terlihat putus asa walaupun mulutnya berkata tidak. Khalisa bukan tipe wanita yang suka memanfaatkan orang lain seperti mengharapkan seorang anak dari wanita lain. Khalisa tidak sejahat itu. Tanpa Khalisa sadari ia telah menyakiti perasaan suaminya sendiri. Itu sebabnya Khalisa tak henti meminta maaf pada Azfan sebab ia tak akan mendapat ridho Allah jika Azfan tidak memaafkannya.


Ketika Khalisa mengatakan itu pada Naira detik berikutnya hanya penyesalan yang ia rasakan. Khalisa mengatakannya karena ia tahu betapa parah penyakit yang akan tinggal di tubuh Naira.


"Doakan aku Mas." Khalisa memohon.


"Tentu." Azfan menggenggam tangan Khalisa dan mengucapkan doa, "semoga Allah selalu melindungi Khalisa dan calon anak kami yang berada di dalam kandungannya, semoga Khalisa selalu diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menghadapi ujian Allah dan semoga Khalisa senantiasa diberi ketenangan hati."


Khalisa mengaminkan doa Azfan, ia memejamkan mata ketika Azfan mendaratkan bibir di keningnya. Itu adalah kebiasaan mereka saat Azfan hendak pergi bekerja tanpa Khalisa di sisinya. Namun karena sekarang Khalisa dan Azfan baru menghadapi dua peristiwa besar dalam rumah tangganya yakni pertengkaran hebat dan kabar bahagia maka Khalisa secara khusus meminta Azfan mendoakannya. Meski demikian Azfan akan selalu mendoakan Khalisa dalam setiap detik kehidupannya.


Pintu terbuka lalu Daniel muncul dengan wajah bahagia, ia yang pertama tahu bahwa Khalisa datang dan dilarikan ke rumah sakit saat Levin menghubunginya. Namun justru Daniel yang terakhir datang karena ia harus menyelesaikan rapat di Bali. Begitu turun dari pesawat Daniel langsung ke rumah sakit apalagi setelah Ica memberi kabar soal kehamilan Khalisa. Daniel masih mengenakan setelan jas lengkap, ia tak sempat ganti baju karena tak sabar melihat keadaan Khalisa.


"Akhirnya Papa akan jadi Kakek." Daniel merentangkan tangan memeluk Khalisa, ia menepuk-nepuk punggung putri sulungnya. "Semoga kamu dan Azfan selalu bahagia, jangan berantem-berantem." Terakhir Daniel mengecup puncak kepala Khalisa.


"Papa belum ngasih nasehat, kalian sudah baikan." Daniel juga memeluk Azfan memberi selamat. "Dulu waktu Khalisa keluar, usia Papa 23 tahun tapi Azfan akan jadi Papa diusia 21 tahun, Papa iri sama kamu."


"Pa, jangan iri karena Papa akan jadi Kakek diusia 45 tahun."


Daniel tersenyum sumringah, Khalisa memang paling pandai merayu papa nya. Ia memandangi Khalisa lama, putri kecilnya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


"Papa sholat ashar dulu, Azfan mau sholat disini atau ikut Papa?"


"Azfan sholat disini aja Pa." Azfan tidak mau meninggalkan Khalisa sendirian disini sedangkan Ica pamit pulang sebentar untuk menjemput Zunaira dan Azmal.


"Ya udah, Papa pergi dulu." Daniel meninggalkan ruangan Khalisa untuk mendirikan sholat ashar.


"Ayo aku bantu ke kamar mandi."


"Aku bisa jalan sendiri Mas." Khalisa turun dari brankar, tenaganya sudah lumayan pulih setelah makan dua buah apel. "Pengen pulang."


"Dokter bilang kalau infusnya udah abis baru boleh pulang." Azfan tetap membantu Khalisa ke kamar mandi karena tidak mau mengambil resiko kalau-kalau Khalisa jatuh.


"Mas, aku mau mandi."


"Mandi?" Azfan melihat Khalisa menggantung kantong infus pada tiang yang telah disediakan, "mandi di rumah aja ya besok.".


Khalisa menekuk bibir bawahnya, ia ingin mandi sekarang dan ganti baju karena pakaian dari rumah sakit belum ia kenakan.


"Ya sudah, sini aku bantu buka bajunya, pelan-pelan ya." Azfan melepas kancing gamis Khalisa satu per satu. Ia harus ekstra hati-hati agar tidak mengenai infus Khalisa.


"Mas." Panggil Khalisa.


Azfan menjawabnya dengan gumaman.


"Kamu ganteng."


Azfan menahan senyumnya, apa ini? rasa panas mengalir ke pipi Azfan hingga telinga. Azfan heran mengapa Khalisa jadi sering memuji ketampanannya. Padahal sebelumnya Khalisa lebih sering memuji suara merdu Azfan atau keterampilannya saat membuat kaligrafi.


"Kok perut aku rata ya, pantes aku nggak sadar kalau ada bayi disini." Khalisa menunduk meraba perutnya.


"Dia kan masih kecil, dokter bilang juga usianya belum genap satu bulan." Azfan menggulung rambut Khalisa agar tidak ikut basah terkena air.


"Akhirnya kita berhasil setelah berusaha setiap hari." Khalisa tersenyum lebar hingga giginya terlihat.


Kini Azfan tak bisa lagi menahan senyumnya, kata-kata polos itu meluncur begitu ringan dari mulut Khalisa membuat Azfan gemas.


"Kalau udah jadi nggak perlu bikin lagi?" Azfan menyiram tubuh Khalisa perlahan-lahan dengan air hangat.


"Bikin dong Mas."


Azfan tertawa, jika ini bukan rumah sakit pasti ia telah menghabiskan Khalisa saat itu juga.


Dulu Azfan tak pernah membayangkan akan menikah diusia 20 tahun apalagi memiliki anak. Impian Azfan adalah lulus kuliah dengan mudah dan bekerja. Namun Allah memberikan lebih dari yang Azfan bayangkan. Sekarang tak hanya kuliah, Azfan juga memiliki penghasilan sendiri. Selain untuk biaya kuliah, Azfan juga bisa membantu ibunya membiayai sekolah Safa dan Marwah.


__ADS_1


__ADS_2