
Tubuh Khalisa terasa begitu ringan bahkan ia menaiki tiga anak tangga sekaligus menuju kamar Renata dan Jaya yang berada di lantai paling atas. Khalisa mengabaikan keberadaan lift karena ia merasa kakinya lebih cepat dibandingkan lift.
Azfan yang berada tak jauh di belakang melihat Khalisa khawatir, takut jika kaki Khalisa salah berpijak dan jatuh. Namun hingga anak tangga terakhir, Khalisa bisa melewatinya dengan mulus. Gerakan Khalisa lincah meski ia mengenakan gamis panjang.
"Ama!" Khalisa berteriak menerobos masuk ke kamar melewati beberapa ART yang berkerumun di depan kamar. Semua orang melihat kedatangan Khalisa dengan pandangan sedih.
Daniel sedikit mundur memberi ruang untuk Khalisa, ia menutup wajahnya yang basah oleh air mata. Ia membalikkan badan tidak sanggup melihat Renata lagi. Daniel menjatuhkan pelukan pada Ica yang berada tepat di belakangnya.
Khalisa tertegun melihat tubuh Renata terbujur kaku di atas tempat tidur. Matanya terpejam dengan bibir tertutup rapat. Tangis Khalisa pecah ketika memeluk tubuh Renata—seseorang yang selalu peduli terhadap perasaan Khalisa.
Zunaira yang tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi ikut menangis memeluk kaki Ica.
Azmal duduk di sudut ruangan memeluk kakinya sendiri, seperti Jaya ia adalah orang yang tenang. Tangisannya tidak terdengar tapi itu justru membuktikan betapa pedihnya perasaan Azmal saat ini.
Azfan terpaku di depan pintu, ia tak bisa melangkah lagi ketika melihat Aisyah terduduk di atas lantai menangis tersedu-sedu seraya memegangi kaki Renata.
Khalisa memanggil nama Renata berkali-kali meraung menangis mengguncang tubuh Ama nya. Namun Renata sama sekali tidak berkutik.
Khalisa memegang leher Renata yang masih terasa sedikit hangat tapi anggota tubuh lainnya telah dingin. Khalisa menatap Renata lekat, bagaimana mungkin Renata meninggal ketika Khalisa sedang tak ada di sampingnya. Itu hanya sekitar 15 menit setelah Khalisa pergi ke bandara.
"Ama cuma kepikiran siapa nanti yang akan mendoakan Ama karena anak, menantu dan cucu-cucu Ama semuanya muslim."
"Kenapa Ama bicara begitu?"
"Ama pengen lihat cicit-cicit Ama yang dilahirkan Khalisa, Kafa dan cucu Ama yang lain tapi Azfan—kamu tahu kan sebanyak apapun uang yang Ama punya itu nggak bisa memperpanjang usia."
__ADS_1
Azfan teringat percakapan dirinya dan Renata beberapa hari yang lalu. Azfan sama sekali tidak punya firasat bahwa Renata akan pergi. Azfan pikir kalimat-kalimat itu hanya kekhawatiran seorang nenek untuk melepas cucunya. Namun ternyata Renata akan pergi selama-lamanya. Renata tak lagi memiliki kesempatan untuk melihat cicit nya. Tuhan memanggilnya lebih dulu.
Azfan melangkah mendekati Khalisa dan mengusap-usap punggungnya lembut, ia luar biasa terkejut karena beberapa saat yang lalu ia masih bisa melihat senyum Renata. Namun Azfan tahu, Khalisa jauh lebih sedih.
"Ini semua gara-gara Cece!" Kafa tiba-tiba berteriak.
Khalisa mengangkat wajah melihat Kafa yang melempar tatapan tajam kepadanya. Meski pandangan Khalisa berkabut karena air mata tapi ia bisa melihat dengan jelas wajah penuh amarah Kafa.
Aisyah dan Umar yang juga berada di ruangan itu terkejut mendengar teriakan Kafa. Begitupun dengan Daniel dan Ica. Mengapa Khalisa disebut sebagai alasan meninggalnya Renata. Usia sudah ditentukan oleh Tuhan.
"Gara-gara Cece nikah sama dia, Ama jadi mikirin Cece terus sampai sakit, kapan sih Cece sadar?" Kafa mendekati Khalisa.
Khalisa gemetar mendengar makian Kafa, mengapa adik sepupunya itu tega mengatakan hal seperti itu padahal mereka sama-sama sedang bersedih dan kehilangan.
"Kafa!" Bentak Umar, "kenapa bilang gitu sama Cece?" Umar menarik tubuh Kafa. Azfan juga melindungi Khalisa dari amukan Kafa. "Berani kamu bilang seperti itu lagi sama Cece, kamu keluar dari rumah, Papa ambil lagi semua fasilitas kamu!" Emosi Umar memuncak, ia tak pernah mengajarkan Kafa untuk menjadi tinggi hati seperti itu.
"Oke sekarang gini, Cece pilih aku yang ada hubungan darah sama Cece atau dia yang belum genap satu tahun Cece kenal?" Kafa tidak mau kehidupan sempurna Khalisa jadi rusak karena pernikahan itu.
"Kafa berhenti." Tegur Aisyah, ia tak tahan lagi dengan tingkah laku anak sulungnya itu.
Kafa tetap menatap Khalisa menunggu jawaban.
Khalisa menarik napas dalam dan memejamkan mata mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
"Kafa aku ngerti maksud kamu," Khalisa membuka mata membalas tatapan Kafa. "Aku rela kehilangan semua kemewahan ini untuk memilih Mas Azfan." Sebenarnya Khalisa tidak ingin berdebat seperti ini apalagi keadaan mereka sedang berduka. Namun Khalisa harus menegaskan ini pada Kafa. Khalisa tidak masalah dengan semua perlakuan Kafa terhadap dirinya. Namun ketika Kafa menyinggung Azfan, Khalisa tidak terima. Kafa sudah keterlaluan, walau bagaimanapun itu adalah pilihan Khalisa.
__ADS_1
Kafa tertegun mendengar jawaban Khalisa yang tak pernah ia duga. Bukankah Khalisa sangat menyayanginya sebagai adik tapi ia tetap memilih Azfan.
"Kafa, kamu nggak tahu apa-apa soal pernikahan, bagi seorang istri, ridho Allah ada di tangan suami, tolong berhenti mempermasalahkan ini, tolong maafkan Cece." Ucap Khalisa dengan tulus meminta maaf untuk kesekian kalinya pada Kafa karena telah mengecewakannya. Khalisa tahu maksud Kafa baik tapi untuk kali ini ia tidak dapat menerima kebaikan tersebut.
Azfan menggenggam erat tangan Khalisa ketika mendengar kalimat tersebut. Azfan tersentuh karena Khalisa mengucapkan hal itu di depan semua orang tapi pada saat yang bersamaan ia merasa sedih karena Khalisa harus memutus hubungan persaudaraan nya dengan Kafa. Padahal jika Kafa mau sedikit membuka hati dan menghargai pilihan Khalisa, hal itu tak akan terjadi.
"Aku nggak akan pernah maafin Ce Khalisa." Kafa menghentakkan kaki keluar dari kamar itu.
Khalisa tidak peduli jika Kafa tak memaafkannya, ia mendekat pada Renata dan mengusap sepanjang lengan Ama nya. Air mata Khalisa kembali meleleh, ia sungguh tak menyangka kalau Renata akan pergi secepat ini. Khalisa sudah membuat pakaian untuk hari ulang tahun Renata. Namun Renata tidak memiliki kesempatan untuk mengenakannya. Andai Khalisa tahu Renata akan meninggal pasti ia akan mengizinkan Renata mengenakan dress yang begitu diinginkan tersebut.
"Akong, maafin Khalisa." Khalisa turun ke lantai menggenggam kedua tangan Jaya yang sudah keriput dan menciumnya. Khalisa menatap Jaya yang tidak menangis tapi menyiratkan kesedihan mendalam. Sepasang mata Jaya redup seolah tak ada lagi semangat di dalam dirinya. Jaya tak pernah menangis di depan banyak orang, ia akan menumpahkan kesedihannya di kala sendiri.
Siang itu kamar Renata penuh dengan hujan tangis. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela tersenyum lebar seolah ingin menghibur semua orang di dalam sana.
Jaya mengusap pundak Khalisa yang berguncang hebat, Khalisa menangis tersedu-sedu membenamkan wajahnya di pangkuan Jaya.
"Bangun sayang." Pinta Jaya dengan suara serak. "Ama cuma mau Khalisa bahagia."
Khalisa beranjak dari lantai, pandangannya tiba-tiba berubah gelap.
Bruk!
Khalisa bisa mendengar suara benturan tubuhnya dengan lantai tapi ia tidak dapat membuka matanya.
"Haura!" Suara Azfan masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Khalisa tapi setelah ia tidak mendengar apapun lagi.
__ADS_1