Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
138


__ADS_3

Khalisa menatap keluar jendela pada gumpalan awan bergulung-gulung di bawah sana. Saat duduk di bangku sekolah menengah, Khalisa mempelajari tentang bentuk-bentuk awan dan itu adalah Altocumulus yang masuk dalam kategori awan dengan ketinggian menengah.


Pesawat take off 30 menit yang lalu meninggalkan bandara Adisutjipto menuju Banyuwangi. Ini menjadi pertama kalinya Azka naik pesawat ke Banyuwangi diusia 7 bulan. Selain untuk menghadiri akad nikah Rindang, kepulangan Khalisa kali ini juga untuk mengunjungi pabrik Alindra Beauty di Banyuwangi dan melihat tanggapan konsumen setelah kasus yang menimpa beberapa saat lalu. Penjualan memang belum stabil tapi sudah jauh lebih baik jika dibandingkan sebelumnya.


Ketika diberikan kepercayaan oleh Daniel untuk menentukan apapun yang Khalisa inginkan, ia tetap akan mengelola Alindra Beauty. Khalisa akan menyerah pada keinginannya untuk memiliki butik. Khalisa masih bisa menjahit baju dan memajangnya di salah satu butik milik Aisyah. Khalisa harus memilih salah satu dan setelah memikirkannya dengan matang, ia akan meneruskan bisnis Alindra Beauty, itu adalah bidang yang dipelajarinya.


Beauty, itu adalah bidang yang dipelajarinya.


"Awh!" Khalisa meringis kesakitan ketika Azka tiba-tiba menggigitnya saat sedang menyusu, "aduh digigit."


"Eh, Umma jangan digigit sayang, kasihan Umma." Azfan memencet hidung Azka pelan agar melepaskan gigitannya.


"Udah-udah nyusunya." Khalisa menarik resleting gamisnya dan mengusap matanya yang basah. "Sakit." Keluhnya.


"Sini aku yang gendong." Azfan mengambil alih Azka dan menempelkan di kecil ke dada untuk menidurkannya setelah puas minum ASI. "Nanti gantian nyusunya yang kanan aja."


"Dua-duanya udah luka Bi."


"Pakai botol aja sementara." Azfan mengusap-usap kepala Khalisa. "Maafin Azka ya Umma, semoga Umma tetap sabar menyusui Azka." Ia menyandarkan kepala Khalisa ke bahunya. Seperti ini rasanya memiliki dua bayi yang harus Azfan tenangkan. Azfan paham betul kondisi emosi Khalisa sekarang, ia bisa membayangkan seperti apa rasa sakit gigitan Azka yang mulai tumbuh gigi.


"Nanti Abi belikan es krim vanilla buat Umma ya."


Khalisa tersenyum, kenapa Azfan merayunya seolah-olah dirinya adalah anak kecil yang merajuk minta es krim. Khalisa masih bisa merasakan lukanya berdenyut-denyut karena digigit Azka barusan. Rasanya Khalisa ingin menyerah tapi ia sudah bertekad menyusui sang buah hati hingga 2 tahun. Lagi pula sekarang Azka sudah mulai belajar makan sesuatu sehingga ia tak terlalu sering minum ASI.


"Yang banyak ya." Khalisa memeluk lengan Azfan, ia ingin tidur selama perjalanan.


"Aku beliin sama kulkasnya ya?"


"Emang Abi punya uang?" Khalisa mendongak melihat wajah Azfan.


"Mmm, setelah aku ingat-ingat ternyata uang di dompet cuma cukup untuk beli 2 bungkus es krim." Azfan tidak berbohong, ia hanya memiliki selembar 20 ribu di dompetnya. Saat mendapat uang Azfan langsung memberikannya pada Khalisa. Biasanya Khalisa akan memasukkan sebagian penghasilan ke dalam rekening dan mengirimnya pada ibu di Bantul untuk biaya sekolah dan biaya hidup sehari-hari. Istri adalah bendahara terbaik dalam rumah tangga.


"Ya udah habisin sekalian."


"Belikan juga untuk Zunaira dan Azmal tapi pakai uang di dompet Umma, ya?"


Khalisa terkekeh memukul paha Azfan pelan, matanya mulai terasa berat bersiap untuk tidur.


"Azka kalau udah lelap, ditaruh aja Bi." Pesan Khalisa sebelum ia benar-benar berpindah ke dunia mimpi. Mereka membeli tiket business class untuk pertama kalinya demi kenyamanan Azka. Dulu saat sering bolak-balik Sleman-Banyuwangi, mereka harus menghemat uang dan selalu terbang dengan pesawat kelas ekonomi.


Azfan meletakkan Azka setelah memastikan si kecil benar-benar terlelap. Ia memeluk Khalisa menyandarkan pada dadanya. Dari pada sandaran kursi, Khalisa pasti lebih suka dada Azfan yang bidang.


"Terimakasih sayang." Azfan mengecup puncak kepala Khalisa. Setiap kali melihat ekspresi kesakitan Khalisa saat menyusui Azka, Azfan merasa kasihan dan ingin mengambil semua rasa sakit itu, andai bisa.


Dari kursi seberang Rindang tersenyum melihat kemesraan Azfan dan Khalisa.

__ADS_1


Sebelum berangkat ke bandara Rindang menceritakan tentang pertemuannya dengan orangtua Levin termasuk ucapan Valerie pada Khalisa.


"Sabar, ini ujian untuk orang yang hendak menikah, kamu nggak boleh nyerah dan harus tetap melangkah, sebentar lagi kamu akan sampai."


Rindang terus mengingat ucapan Khalisa tadi, bahkan sekarang masih ada sedikit keraguan di hatinya. Hanya saja Rindang merasa sudah terlalu terlambat untuk putar balik. Ketika ditanya tentang perasannya terhadap Levin, Rindang juga tak bisa menjawabnya. Rindang ingin merasakan jatuh cinta tapi selama memiliki pacar, ia tak pernah merasakan hal itu. Rindang bingung, apakah ia juga tak akan jatuh cinta pada suaminya sendiri. Tidak mungkin kan? mencintai seseorang yang kau nikahi adalah kewajiban.


Rindang pernah iseng bertanya pada Kafa tentang pernikahan, ia tak tahu harusnya ia tidak bertanya hal seperti itu pada seorang laki-laki. Namun karena Rindang telah menganggap Kafa seperti adiknya sendiri, ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Ce Rindang nggak usah khawatir kalau sekarang masih belum cinta sama Ko Levin karena setelah malam pertama Ce Rindang akan jatuh sejatuh-jatuhnya sama Koko dan nggak akan bisa bangun lagi."


Rindang bisa melihat sendiri Kafa banyak berubah setelah menikah. Kafa lebih lembut pada Mahira, ia bukan lagi Kafa yang egois dan keras kepala. Itu membuktikan bahwa Kafa benar-benar mencintai Mahira. Namun Rindang tidak dapat mempercayai hal itu sebelum ia membuktikannya sendiri.


******


Dari kejauhan Khalisa melihat mama dan papanya melambaikan tangan ke arahnya, pasti mereka tidak sabar bertemu Azka. Sekarang posisi Khalisa sudah bergeser digantikan Azka. Biasanya Ica dan Daniel akan langsung memeluk Khalisa tapi sekarang mereka lebih memiliki menggendong dan menciumi sang cucu, Azka.


"Ama sama Akong nggak sabar ketemu kamu tuh." Khalisa melirik Azka yang berada di gendongan Azfan.


"Siap-siap nih pipi gembul Azka dicubit Ama dan Akong."


"Siapa sih yang tahan dengan pipi Azka." Rindang yang berjalan di sisi kiri Azfan lebih dulu mencubit pipi Azka.


Azka belum mau tertawa karena baru bangun tidur, ia masih setengah mengantuk saat turun dari pesawat.


"Makasih ya, tanpa sadar barang aku tuh banyak banget ternyata." Rindang membawa tiga koper besar dan dua tas berisi perintilan kecil miliknya. "Padahal udah banyak yang disortir tapi barang baru selalu berdatangan."


"Ya itu namanya rezeki kamu udah segitu porsinya."


"Nggak tahu harus bilang apa sana Allah yang udah baik banget sama aku."


Khalisa tersenyum, "bener kan?"


"Allah nggak butuh kita tapi selalu ngasih apapun yang kita butuhkan dan yang kita minta, Allah punya milliaran umat di bumi dan aku bukan apa-apa tapi Allah perhatian banget sama aku."


"Aku setuju sama kamu, kita punya jutaan alasan untuk mencintai Allah, setiap darah yang mengalir dalam diri kita, itu sudah Allah atur, Allah begitu rinci mengatur semuanya."


"Masya Allah." Mata Rindang berkata-kata mengingat semua anugerah yang Allah limpahkan kepadanya termasuk memiliki sahabat seperti Khalisa.


"Itu supir kamu." Khalisa melihat supir Rindang berjalan ke arah mereka.


"Biar saya yang bawa Mbak." Supir itu mengambil alih dua koper besar di tangan Rindang.


"Makasih Pak." Rindang mengambil kopernya yang Khalisa bawa. Tak seperti dirinya, Khalisa hanya membawa satu koper kecil.


"Cucu Ama yang ganteng nih, Ama kangen banget." Ica datang dan segera mengambil alih Azka. "Baru bangun tidur ya?"

__ADS_1


"Iya Ama, Azka nya masih ngantuk."


"Ya udah lanjut bobo di rumah ya."


Khalisa dan Azfan mencium tangan Daniel dan Ica bergantian.


"Rindang langsung pulang atau ke tempat Ci Gracia?" Tanya Khalisa pada Rindang.


"Ke tempat Ci Gracia dulu, udah bikin janji mau fitting baju." Rindang melambaikan tangan ketika mereka berpisah di parkiran bandara.


H-1 hari pernikahan, Rindang baru sempat melakukan fitting baju pengantinnya. Sebelumnya Rindang sudah mendapat foto gaun pengantinnya dari Gracia. Kalaupun ada yang harus diperbaiki mereka tak akan memiliki waktu lagi. Rindang harus puas pada apapun hasil bajunya.


"Loh." Rindang kaget melihat Levin juga berada di dalam mobil. Tadinya ia tidak sadar karena hanya bisa melihat kepala seseorang yang duduk di jok depan. Namun setelah menoleh, Rindang baru menyadari bahwa dia adalah Levin. "Kok Koko disini?"


"Mau ikut fitting baju kan?" Levin tersenyum lebar melihat reaksi Rindang padahal ia telah memberitahu bahwa siang ini akan ikut fitting baju di butik Gracia.


"Oh, iya." Rindang tidak lupa jika Levin akan fitting baju bersamanya tapi ia pikir Levin akan menunggu di butik bukan pergi bersamanya di mobil yang sama.


"Gimana perjalanan kamu?" Levin menyodorkan air lengkap dengan sedotan pada Rindang.


"Makasih Ko." Rindang membuka tutup botol air mineral itu dan meneguknya hingga setengah bagian, Levin tahu saja jika ia haus. "Alhamdulillah semuanya lancar, karena cuaca cerah jadi nggak ada turbulensi."


Mobil perlahan bergerak meninggalkan parkiran bandara menuju butik Gracia yang letaknya tidak terlalu jauh dari situ. Hanya sekitar 10 menit perjalanan.


"Syukurlah kalau gitu, kamu laper nggak?" Levin bisa mampir di restoran yang mereka lewati jika Rindang lapar.


"Enggak, udah makan tadi." Rindang tak mau menunda waktu untuk bertemu Gracia, ia sudah tidak sabar melihat gaun pengantinnya secara langsung. "Pak, langsung ke butiknya Ci Gracia ya." Pinta Rindang.


"Baik Mbak." Sahut supir.


"Nanti disana Koko jangan lihat bajunya ya."


"Memangnya kenapa?" Levin memutar badan melihat Rindang.


"Nanti nggak spesial lagi kalau Koko udah tahu, besok aja setelah akad."


Levin tersenyum lalu mengangguk mengiyakan permintaan Rindang. Walaupun serba mendadak tapi mereka mempersiapkan semuanya dengan matang. Bahkan dalam waktu tiga hari Levin sudah menemukan tempat tinggal untuk mereka dan Rindang setuju dengan rumah yang ia dapatkan. Rumah yang tidak terlalu besar dan letaknya masih cukup dekat dengan rumah orangtua Rindang.



Rindang: Ngapain Koko jongkok disitu?


Levin: Kelihatan ganteng nggak dari sini?


Rindang: Enggak!

__ADS_1


__ADS_2