Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
73


__ADS_3

"Wah belum jadi aja udah kelihatan cakep banget nih baju." Rindang memuji dress berwarna merah yang belum sepenuhnya selesai di hadapannya. Khalisa memang luar biasa saat membuat pakaian contohnya seperti sekarang. Sebagai mahasiswi jurusan desain Rindang amat kagum pada karya Khalisa tersebut.


Khalisa menghela napas panjang dan menghempaskan tubuhnya di samping Rindang. Ia menyandarkan kepala memejamkan matanya yang terasa lelah karena kurang tidur.


"Pucat banget muka kamu." Rindang menyentuh kening Khalisa memeriksa apakah sahabatnya itu sedang demam karena wajahnya pucat pasi.


"Kurang tidur doang." Gumam Khalisa, semalam ia menjahit dress untuk Renata itu hingga larut malam dan hanya tidur sebentar karena harus bangun sebelum subuh. Siang ini sepulang kuliah Khalisa lanjut menjahit lagi dan tidak ikut ke toko Azfan.


"Buru-buru banget sih, kan ulang tahun Ama masih bulan depan."


"Aku pengen buruan pulang sekalian bawa dress itu, nanti kalau ada yang kurang kan aku tinggal tambahin detail-detail nya lagi."


"Ya tetep aja kamu itu harus istirahat." Rindang memperingatkan Khalisa agar tidak mengabaikan kesehatannya sendiri demi membuat pakaian itu karena ia tahu Renata juga tak akan senang melihat Khalisa seperti ini.


"Ama itu dirawat di rumah sakit tapi semua orang disana kompak banget nyembunyiin dari aku." Khalisa kesal mengetahui hal tersebut, ia bukan orang lain mengapa mereka harus menyembunyikannya.


"Loh sejak kapan Ama dirawat?" Rindang terkejut mendengar penuturan Khalisa.


"Waktu terakhir telepon wajah Ama emang pucat terus tadi malam aku lihat Ama lagi di rumah sakit tapi dia bilang cuma medical check up, aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi gitu aja."


"Ya udah sih, mungkin Ama nggak mau bikin kamu khawatir apalagi sampai membebani pikiran kamu."


Khalisa menoleh pada Rindang, mengapa tidak ada yang sependapat dengannya. Ia adalah cucu Renata sudah sepatutnya ia tahu tentang keadaan Ama nya.


"Kenapa lihatin aku gitu?" Rindang meraup wajah Khalisa. "Nikah enak nggak?"


"Enak." Jawab Khalisa singkat.


"Tapi aku nggak akan pernah nikah sih." Rindang mengambil stoples meringue cookies dan melahapnya.


"Lah emang kenapa, kok bilang gitu sih?" Khalisa mengambil toples di tangan Rindang, itu adalah kue dengan komposisi utama gula sehingga Rindang tidak boleh memakannya.


"Emang ada yang mau nikah sama cewek penyakitan kayak aku?" Rindang tersenyum tapi kedua matanya menyiratkan keputusasaan yang ditangkap oleh Khalisa.


Khalisa meletakkan toples, tertegun mendengar pertanyaan Rindang. Itu tidak terdengar seperti Rindang yang dikenalnya selama ini. Rindang adalah orang yang optimis dan berpikir positif lalu sekarang tiba-tiba ia mengucapkan kalimat seperti itu.


"Kamu cantik, pinter, mandiri dan di luar sana banyak yang suka sama kamu, jadi jangan bilang kayak gitu."


"Mereka kan tahu aku luarnya aja."


"Terus apa tujuan kamu pacaran sama Jason kalau sebenarnya kamu nggak ada niat menikah?"


"Sa, sekarang gini tujuan menikah itu apa, pasti punya anak kan dan aku udah cukup capek dan tersiksa sama semua rangkaian medis yang harus aku jalanin sekarang, aku nggak bisa bayangin akan se-ribet dan se-sakit apa nanti kalau aku harus hamil." Mata Rindang berkaca-kaca meski ia sudah mencoba tegar tapi tetap saja pada akhirnya ia akan terlihat rapuh di depan Khalisa.


Khalisa tidak bisa membalas perkataan Rindang selain dengan pelukan, ia menggigit bibir sekuat tenaga menahan tangis. Khalisa tidak boleh menangis di depan Rindang, itu hanya akan membuat Rindang semakin putus asa.


"Pasti akan ada cowok yang menerima apapun keadaan kamu." Bisik Khalisa.


"Aku mau hidup kayak gini aja tanpa menikah."


Khalisa terdiam, ia tidak mau berdebat dengan Rindang lagi.


"Aku jadi Nanny anak kamu aja nanti."


Khalisa mengurai pelukan, "Nanny nya premium banget, nggak mampu bayar gajinya."


"Bisa lah harga persahabatan."


"Nggak ada ya ceritanya kayak gitu." Khalisa melempar bantal sofa pada Rindang. "Mau tidur sebentar." Ia membaringkan tubuhnya di sofa, menyelipkan kaki di balik punggung Rindang.


"Kamu pernah bahas pernikahan nggak sama Jason?" Tanya Khalisa.

__ADS_1


"Aku pernah bilang kalau sampai kapanpun aku nggak mau nikah jadi Jason bilang dia bisa ngertiin itu."


"Terus kalau Jason nikah sama cewek lain gimana?"


"Ya nggak apa-apa, kamu tahu aku nggak pernah serius sama cowok tapi kali ini Jason yang iket aku kenceng banget sampai aku nggak bisa lepas, sebenernya aku juga udah capek sama hubungan ini walaupun Jason baik."


"Kamu bahagia nggak sama hubungan itu?"


Rindang mengedikkan bahu, baginya memiliki pacar atau tidak rasanya sama saja. Tanpa seorang cowok pun ia bisa melakukan semuanya sendiri. Ia bisa menghasilkan uang dan punya tempat tinggal.


"Ikut Tuhan kamu kayaknya seru ya." Rindang menyandarkan kepalanya ke sofa, pandangannya menerawang jauh.


"Maksud kamu?"


"Maksud aku—" Kalimat Rindang mengambang. Ia menoleh pada Khalisa yang ternyata sudah memejamkan mata. Ia menghela napas berat, akhir-akhir ini ia gelisah ingin mengakhiri hubungannya dengan Jason. Rindang memang tak betah jika pacaran lama-lama dengan orang yang sama. Jason adalah orang pertama yang mencapai rekor melewati satu tahun dengan Rindang. Namun sekarang Rindang mulai jengah, bukan karena ia ingin berpindah pada orang lain. Tapi karena Rindang tak ingin memiliki pacar lagi. Banyak hal yang bisa ia lakukan selain berpacaran.


******


Azfan menekan sensor pintu dengan ibu jarinya sebelum membuka pintu apartemen. Ketika masuk, ia terkejut melihat Khalisa tidur di atas sofa dengan Rindang, mereka saling beradu kaki. Bagaimana mungkin mereka tidur berdua di atas sofa yang sempit.


Azfan melangkah sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang istri. Khalisa pasti kelelahan karena kurang tidur tadi malam.


"Mas."


Azfan mengentikan langkah mendengar suara Khalisa memanggilnya.


"Haura, kamu bangun?" Azfan memutar badan, percuma ia berjalan berjingkat jika akhirnya Khalisa tetap bangun.


"Mas udah pulang, jam berapa ini?" Khalisa turun pelan-pelan dari sofa karena kakinya hampir menyentuh kepala Rindang. Khalisa lupa apa percakapan terakhir mereka tadi sebelum ia terlelap.


"Jam 5."


"Astaghfirullah, aku belum shalat ashar!" Khalisa berlari melewati Azfan masuk ke kamar itu berarti ia tidur sangat lama hingga melewatkan waktu ashar.


"Keringkan dulu wajah mu Haura." Azfan meletakkan handuk wajah Khalisa di pinggiran tempat tidur.


"Makasih Mas." Khalisa mengeringkan wajahnya asal dan mengenakan mukena.


"Aku mandi dulu ya."


"Iya Mas." Khalisa menoleh melihat Azfan masuk kamar mandi, ia bergegas mendirikan shalat ashar yang sudah telat.


Sementara itu Rindang juga bangun dari tidurnya, ia menggeliat mengulurkan tangan meraba-raba meja mencari ponsel untuk melihat jam.


"Nyenyak banget tidurnya." Gumam Rindang tidak jelas, ia memeriksa satu pesan teratas dari Jason.


Malam ini aku tidur di apartemen kamu ya.


Rindang mendengus membaca pesan itu. Mereka memang tidak pernah tidur berdua meski Jason menginap di apartemen Rindang. Namun saat ini Rindang hanya ingin mengakhiri hubungannya dengan Jason. Rindang akui bahwa Jason adalah sosok pacar sempurna yang diidamkan banyak cewek. Terbukti kakak tingkat Rindang yang suka sewot sendiri pada Rindang mengetahui fakta bahwa Jason adalah pacarnya. Jason baik, mau menuruti semua kemauan Rindang, poin plusnya adalah Jason pandai memotret. Namun semua itu tidak bisa membuat Rindang betah lama-lama.


Rindang mendial nomor telepon Jason. Tak butuh waktu lama Jason menjawab telepon Rindang dengan suara beratnya.


"Sorry aku baru bangun tidur." Rindang bangkit dari sofa melangkah ke arah jendela yang menghadap ke jalanan. Ia bisa melihat kampus UII dari sini. "Jason, ayo putus." Ucapnya tiba-tiba.


"Apa? kamu bilang apa?"


"Ayo putus."


"Kenapa, aku salah apa sama kamu Rindang? kita juga lagi baik-baik aja kenapa kamu tiba-tiba mau putus."


"Kamu baik dan sempurna." Tapi aku capek, punya pacar kayak beban hidup buat aku.

__ADS_1


"Rindang, kamu nggak bisa seenaknya putusin aku gitu aja, kita udah lebih setahun lo pacaran, aku pikir kita nggak akan pernah putus."


"Dari awal terima kamu, aku udah bilang kalau aku nggak bisa jamin kita bakal pacaran lama."


"Tapi buktinya kita bisa melewati satu tahun itu."


"Jason, maaf banget, aku minta maaf banget sama kamu tapi aku nggak bisa lagi."


"Kasih aku alasan yang kuat, atau kamu ada cowok lain?"


"Nggak ada."


"Terus kenapa?"


Rindang memejamkan mata rapat mengacak-acak rambutnya frustrasi, ia juga tidak bisa menjabarkan alasan mengapa ia ingin putus dengan Jason. Kenapa harus ada alasan sedangkan ia Rindang menerima Jason tanpa alasan.


"Aku nggak bahagia sama hubungan ini."


Hening. Tak ada jawaban dari Jason. Beberapa detik kemudian terdengar deru napas berat Jason.


Sambungan tiba-tiba terputus. Rindang menghela napas berat, apakah ia jahat? ia memang jahat.


******


Azfan memperhatikan Khalisa yang tak kunjung bangun dari sujudnya. Ia sudah selesai ganti baju setelah mandi tapi Khalisa masih mendirikan shalat. Azfan terpaku di tempatnya, ia tak akan bergerak sampai Khalisa bangun dari sujudnya.


Apa aku mandi terlalu cepat?


Azfan lega ketika Khalisa selesai sujud, ia melihat bahu sang istri naik turun dengan cepat saat duduk tasyahud akhir. Azfan bertanya-tanya mengapa Khalisa menangis. Apa yang membuat sang istri bersedih hati. Siapa yang berani membuat Khalisa menangis.


"Ada apa Haura?" Azfan menghampiri Khalisa yang telah selesai shalat. "Kenapa Haura nangis?"


Khalisa melihat Azfan dengan wajah berderai air mata, ia memeluk Azfan tanpa mengucapkan apapun. Khalisa tidak berniat menangis tapi ia telah lalai mendirikan shalat ashar. Padahal ia punya waktu yang sangat panjang untuk shalat diawal waktu.


"Sudah jangan menangis, Haura kan ketiduran tadi." Azfan sekarang mengerti penyebab Khalisa menangis. "Lain kali Haura jangan terlalu capek lagi sampai kurang tidur kayak tadi malam, ya." Azfan mengusap-usap punggung Khalisa, "semoga Allah mengampuni kita."


Azfan mengurai pelukan setelah Khalisa dirasa cukup tenang, "masya Allah istriku cantik sekali walaupun sedang menangis." Azfan mengusap air mata Khalisa. "Malam ini aku yang masak ya, Haura mau apa?"


"Aku mau ikut Tuhan nya Khalisa!" Suara teriakan Rindang membuat Khalisa dan Azfan kaget.


"Rindang kenapa?" Azfan beranjak dari duduknya begitupun dengan Khalisa. Mereka menuju ruang tamu karena Rindang berada disana tadi.


Namun tak hanya Rindang, ada Jason juga di ruang tamu apartemen. Khalisa dan Azfan tidak tahu sejak kapan Jason ada disini.


"Kalian kenapa?" Khalisa kebingungan melihat Rindang dan Jason sama-sama memasang wajah penuh amarah.


"Khalisa, aku tahu kamu sahabatnya Rindang dari kecil tapi kamu jangan ambil dia dari Tuhan kami."


Khalisa membelalak, "aku nggak pernah ambil Rindang dari Tuhannya."


"Sekarang Rindang mau putus dari aku, alasannya karena dia mau ikut Tuhan kamu, apa itu masuk akal?"


Khalisa tertegun mendengar penjelasan Jason, ia melihat Rindang tak percaya. Sekarang Khalisa ingat percakapan terakhir mereka sebelum ia ketiduran tadi. Namun Khalisa tak menyangka bahwa Rindang akan secepat ini mengambil keputusan.


"Sekarang kalian duduk dulu." Azfan meminta Jason dan Rindang duduk agar semuanya bisa dibicarakan baik-baik.


"Rindang, apa bener yang Jason bilang?" Khalisa duduk di samping Rindang. "Itu alasan kamu mau putus dari Jason?"


"Khalisa." Rindang menyentuh paha Khalisa menatap sahabatnya yang mengenakan mukena itu lekat. "Aku mau syahadat." Ujarnya bersungguh-sungguh.


Khalisa membelalak, matanya berkaca-kaca tak percaya pada apa yang Rindang katakan. Khalisa mencari kebohongan di wajah Rindang tapi ia tak menemukannya. Rindang serius dengan ucapannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Khalisa menarik Rindang ke dalam pelukannya, air matanya meleleh deras, itu adalah tangisan bahagia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Khalisa mengucapkan syukur yang tak terhingga karena Allah telah memberikan hidayah pada Rindang, sahabatnya.


Persahabatan mereka telah terjalin sejak keduanya masih kecil. Rindang dan Khalisa bersahabat dengan baik meski berbeda keyakinan. Mereka adalah umat yang taat terhadap agama. Khalisa tak pernah mempengaruhi Rindang untuk menjadi muslim bersamanya. Khalisa hanya berbisik setiap malam agar Allah memberikan hidayah kepada orang-orang terkasih nya.


__ADS_2