Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
144


__ADS_3

Gazebo di luar resor selalu menjadi pilihan terbaik untuk menikmati sarapan karena selain makan, mereka juga bisa menikmati semilir angin. Aroma asin laut dan ombak yang berkejar-kejaran juga membuat selera makan naik.


Khalisa, Azfan, Rindang, Levin, Huma dan Geza sudah duduk manis mengelilingi meja berbentuk persegi di tengah gazebo. Mata mereka berkilat-kilat melihat masakan Swiss yang menjadi tema menu hari ini di resor Jinggo. Harusnya Ica juga berada disana tapi karena ada urusan mendadak ia tak bisa ikut makan bersama, sebagai gantinya ia mengundang Geza untuk meramaikan suasana.


Engadiner Nusstorte menjadi makanan pembuka, kue yang terbuat dari kacang dengan rasa manis dan gurih. Makanan utama spesial pagi itu adalah Chicken Cordon Bleu, olahan ayam yang digulung dengan smoke beef dan keju mozzarella itu tampak menggiurkan didampingi mushroom sauce.



"Wah terimakasih Chef sudah membuat hidangan spesial untuk kami." Khalisa tersenyum lebar pada Dianis yang telah membuat hidangan mewah tersebut.


"Sama-sama Nona Khalisa yang cantik." Dianis sedikit membungkukkan badan menanggapi candaan Khalisa.


"Waduh drama apalagi ini, Tante Dianis kalau ketemu Khalisa langsung klop gitu aktingnya." Rindang geleng-geleng melihat tingkah Dianis dan Khalisa.


"Ini lebih ke hidangan makan malam ya dibanding sarapan." Timpal Khalisa sembari memandangi sajian di atas meja mereka.


"Emang awalnya Tante mau sajikan ini saat makan malam tapi karena nanti malam Rindang nggak disini jadi Tante bikinnya pagi-pagi."


Seorang waiter mengantar dessert untuk mereka, berupa olahan coklat Swiss yang dibuat oleh salah satu chef di resor tersebut.


"Oh iya ini makanan penutup spesial buat pengantin baru." Dianis meletakkan dessert tersebut di atas meja.


"Buat pengantin baru aja, pengantin lama nggak dapet?" Protes Khalisa.


"Pengantin lama ambil sendiri di dapur." Canda Dianis. "Sambil cuci piring sekalian."


"Astaghfirullah, Tante tega banget sama aku." Khalisa mengerucutkan mulutnya.


"Pengantin lama udah kadaluarsa jadi nggak ada makanan penutup." Dianis mengibaskan tangan.


Khalisa tertawa, Dianis memang paling bisa membuat mereka tertawa. Dianis benar-benar cocok menjadi seorang pelawak. Meskipun jabatannya kini adalah ketua chef di resor Jinggo, Dianis tak pernah berubah.


"Walaupun usia pernikahannya sudah kadaluarsa tapi cinta kami nggak akan pernah kadaluarsa." Sahut Azfan yang dari tadi terdiam, ia mengucapkan itu dengan wajah tenang tapi justru mendapat sorakan dari yang lain. Sedangkan Khalisa tengah berusaha untuk tidak meleleh dengan kalimat Azfan tapi percuma, ia telah meleleh seperti keju yang berada di dalam gulungan ayam dan smoke beef.


"Wah parah Azfan sekarang udah bisa gombal, dulu dia malu-malu." Rindang melihat Azfan tak percaya. Ia masih ingat pertama kali bertemu Azfan di apartemen, Azfan bahkan tak berani mengangkat wajah sedikitpun. Walaupun sekarang Azfan juga selalu menunduk saat bicara dengan lawan jenis tapi ia sudah lebih percaya diri.


"Khalisa berhasil mendidiknya." Timpal Huma.


"Kalian nggak tahu aja, suamiku ini kelihatannya malu-malu padahal—" Khalisa tidak melanjutkan kalimat karena Azfan menyikut nya.


"Padahal apa, ih kesel banget kalau ngomong sepotong-sepotong gitu." Huma menuntut agar Khalisa tak memutus kalimatnya yang belum selesai.


Khalisa tertawa, padahal ia ingin bilang Azfan tampak malu-malu tapi sebenarnya ia tipe pria yang hangat. Khalisa tak jadi mengatakannya karena Azfan memintanya untuk berhenti.


"Ngomong-ngomong, Ibu mau punya menantu nggak?" Geza yang sudah lebih dulu menyantap Chicken Cordon Bleu menimpali di sela kunyahan nya.

__ADS_1


"Apa?" Dianis pura-pura tidak mendengar perkataan Geza.


"Kenalin, calon menantu Ibu." Geza melirik Huma yang duduk tak jauh darinya.


"Siapa, Humaira?" Dianis menatap Geza tak percaya, anaknya itu tampak malu-malu saat mengatakan kalimat tersebut.


Huma membelalak, kenapa tiba-tiba membicarakan hal seperti ini. Tingkah lagu Geza memang tak pernah bisa ditebak, ia selalu melakukan semuanya dengan spontan.


"Humaira nggak bakal mau sama kamu." Dianis menoyor kepala Geza karena telah bicara sembarangan.


"Mau kok, eh." Huma membekap mulutnya, "m ... maksudnya—" pipi Huma terasa memanas, bukan karena potongan ayam yang ia santap masih panas dan juga bukan karena sinar matahari yang menerpa sebagian tubuhnya. Tidak. Itu karena ulahnya sendiri.


"Huma, kamu nggak bisa tarik kata-kata itu lagi." Seru Geza girang.


"Selesain kuliahnya dulu, Huma udah dapat gelar sarjana, kamu belum emangnya nggak malu?" Dianis kembali menoyor kepala Geza. "Silakan nikmati makanannya, Tante ke dapur dulu."


"Makasih Tante." Ucap mereka sebelum Dianis meninggalkan gazebo.


Huma menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang pasti sekarang sudah memerah. Huma ingin menghilang dari sini, masuk ke dasar laut atau terbang ke mars saja.


"Apa rencana kalian setelah sarapan?" Tanya Khalisa pada Rindang, ia mengalihkan pembicaraan karena tahu Huma sedang tidak nyaman sekarang.


"Aku mau lihat rumah sih sama Ko Levin." Jawab Rindang.


"Deket rumah lama kamu."


"Oh nggak terlalu jauh dari sini."


Setelah menghabiskan menu utama mereka menikmati makanan penutup yang manis. Walaupun Dianis bilang itu spesial untuk pengantin baru tapi Rindang tak mau menghabiskannya hanya berdua dengan Levin karena porsinya cukup besar. Rindang hanya memakan dua suap karena ia harus menjaga gula darahnya tetap stabil. Rindang tidak mau masuk rumah sakit lagi, bahkan bekas suntikannya masih terasa nyeri.


Cempaka Residence sudah banyak berubah sejak Rindang terakhir kesini belasan tahun yang lalu ketika Khalisa masih tinggal disini. Komplek perumahan itu sangat padat oleh bangunan dua dan tiga lantai. Keluarga Khalisa meninggalkan Cempaka Residence setelah kehadiran Zunaira ke komplek perumahan elit yang lebih dekat dengan resor Jinggo.


"Wah, ini rumahnya?" Rindang terperangah melihat bangunan rumah dua lantai bergaya minimalis modern dengan cat dominan coklat dan putih. Rindang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Selera Levin sangat bagus dalam memilih hunian.


"Semoga kamu suka." Levin membuka gerbang membiarkan Rindang masuk lebih dulu.


"Suka banget Ko." Rindang mengedarkan pandangan ke halaman depan yang tidak terlalu luas. Rata-rata rumah di komplek tersebut memang memiliki halaman yang sempit. Bagi Rindang tidak masalah karena ia tak memiliki hobi bercocok tanam, yang penting adalah bagian dalamnya.


"Ini untukmu." Levin menyusul Rindang. Mereka mulai masuk ke bagian dalam rumah.


"Aku nggak sabar pindah kesini." Ucap Rindang penuh semangat.


"Belum ada perabotannya, kita bisa cicil sedikit-sedikit." Levin mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dinding ruang tamu juga masih kosong melompong, mereka akan meletakkan foto pernikahan disitu.


Rindang mengibaskan tangan, "kita akan menikmati prosesnya bersama-sama." Ia melangkah menuju dapur yang juga masih kosong. Hanya ada kabinet yang menempel pada dinding dan kitchen island di salah satu sisi dapur.

__ADS_1


"Rumah ini nggak lebih bagus dari apartemen kamu di Sleman."


"Beda lah Ko, rumah ini punya dua lantai dan tiga kamar, kalau dibandingkan dengan apartemen ku, ini lebih worth it."


Mereka lanjut berkeliling ke ruang tengah dan satu kamar tamu. Di lantai dua mereka bisa menemukan 2 kamar dan satu ruangan yang cukup luas. Rencananya Levin akan menggunakan ruangan itu untuk ruang kerjanya dan Rindang. Mereka bisa bekerja di ruangan yang sama walaupun bidangnya jauh berbeda.


"Kamu bisa gunakan 3/4 dari ruangan ini untuk bekerja karena aku nggak butuh ruangan yang luas."


"Aku bisa taruh beberapa manekin disini," Rindang menunjuk dinding sisi kiri untuk meletakkan manekin. "dan dua mesin jahit disana." Ia menunjuk sudut ruangan yang memiliki dua jendela kaca.


"Boleh." Levin mengangguk, rumah ini memang milik Rindang.


"Ayo lihat kamar kita." Rindang menarik tangan Levin menuju ruangan sebelah.


Di kamar utama ada satu ranjang king size di tengah-tengah ruangan dengan nakas di kanan dan kirinya. Ada dua pintu yang menghubungkan dengan kamar mandi dan walk in closet. Kamar itu juga memiliki balkon yang menghadap ke jalan.


"Koko beli ranjang?" Rindang menoleh sekilas pada Levin.


"Rumah ini udah include sama ranjangnya."


"Wah, nggak perlu beli ranjang lagi." Rindang menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk tersebut. Rindang berguling-guling seolah ini ranjang paling empuk yang pernah ia tahu. "Ko!" Panggil Rindang


"Hm?" Levin berjalan mendekat dan duduk di samping Rindang.


Rindang bangkit dari posisi terlentang, ia duduk bersila menghadap Levin.


"Aku nggak nyangka masih bisa lihat dunia sampai sekarang, waktu aku tiba-tiba ambruk di depan masjid, awalnya aku masih bisa lihat Koko dan denger suara orang-orang, suara Papa, Mama dan Khalisa tapi lama-lama suara kalian makin jauh dan waktu itu aku pasrah kalau memang itu adalah saatnya aku menghadap Allah, aku—"


Levin mengusap punggung Rindang dan menariknya ke dalam pelukan, "jangan berpikir seperti itu, aku akan jaga kamu seumur hidupku Rindang."


Rindang menangis di pelukan Levin, kalimat Levin membuatnya kembali teringat pada ucapan Valerie. Walaupun Rindang mengelak, Levin akan tetap melakukan persis seperti yang Valerie katakan. Namun ucapan Jonas juga membuat Rindang lebih kuat, kalaupun Levin bukan dokter, Rindang pasti akan tetap menikahinya. Kebetulan saja Levin seorang dokter.


Setelah cukup tenang, Levin melepaskan pelukannya. Ia menatap Rindang dan mengusap mata sang istri yang basah oleh air mata.


"Aku akan ambil pendidikan spesialis." Levin menatap Rindang dengan wajah serius. Ia sudah memikirkan ini sejak dirinya berdebat dengan Irwan saat itu. Levin tak ingin diremehkan lagi.


"Tiba-tiba?"


"Enggak tiba-tiba, aku sudah memikirkannya saat kamu masih dirawat di rumah sakit, karena aku hanya dokter umum, kamu harus konsultasi dengan dokter lain, aku juga mau melakukannya untuk kamu jadi kamu nggak perlu konsultasi sama dokter selain aku."


Rindang tersenyum, ia tak bisa membedakan apakah itu murni keinginan Levin atau karena suaminya itu cemburu hingga ia hanya boleh berkonsultasi dengan Levin.


"Aku dukung apapun keputusan Koko." Ucap Rindang akhirnya disertai senyum—senyum yang tak bisa Levin lihat karena ia mengenakan cadar.


"Makasih ya." Levin kembali memeluk Rindang, awalnya ia ingin istirahat dari dunia perkuliahan dan fokus bekerja tapi kejadian Rindang pingsan itu membuat Levin bertekad untuk menjalani pendidikan spesialis. Levin juga ingin membuktikan pada mamanya bahwa ia bisa menikah sekaligus kuliah dengan usahanya sendiri. Levin tak ingin Valerie memandang Rindang dengan sebelah mata.

__ADS_1


__ADS_2