Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
169


__ADS_3

Khalisa melihat pengunjung memenuhi lobi Alindra Mall di bawah sana. Ini adalah hari dimana Alindra Beauty meluncurkan produk baru berupa krim penghilang bekas luka dan produk sunscreen. Khalisa dan Aisyah membuat dua produk tersebut. Setelah melalui berbagai proses yang tidak mudah akhirnya produk tersebut resmi diluncurkan pertama kali di Alindra Mall Banyuwangi dan kota Yogyakarta.


Senyum Khalisa mengembang melihat antusiasme pengunjung menyambut produk baru Alindra Beauty. Khalisa harap produk ini bermanfaat bagi masyarakat dan tak ada kejadian seperti saat ia membuat krim anti strechmark dua tahun yang lalu. Khalisa belajar banyak dari kejadian itu.


"Minum sayang." Azfan muncul di belakang Khalisa menyodorkan sebotol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.


"Makasih Bi." Khalisa berjongkok sebelum meneguk air mineral tersebut hingga tersisa setengah. Ia memang haus karena cuaca hari ini cukup panas.


Khalisa dan Azfan akan turun sebentar lagi menyapa pengunjung yang datang.


"Alhamdulillah sejauh ini acaranya berjalan lancar." Azfan ikut melihat ke bawah sana. Lobi Alindra Mall dipenuhi oleh lautan manusia yang menyambut produk baru dengan penuh semangat. "Ini adalah hasil dari kerja keras Umma, apa Umma bahagia sekarang?"


"Hm?" Khalisa mengangkat alis, mengapa Azfan bertanya soal kebahagiaannya? tentu saja ia bahagia setelah melihat masyarakat menyambut baik adanya produk tersebut.


"Maksudku, Umma selalu kelihatan bersemangat saat menjahit dan begitu bahagia setelah pakaian itu jadi." Azfan mengambil botol air mineral di tangan Khalisa lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Tentu aja aku bahagia Bi, melihat orang-orang senang dengan adanya produk ini maka aku ikut bahagia."


Meskipun mulanya bekerja di Alindra Beauty bukan lah passion Khalisa tapi ia senang karena ilmu nya bisa bermanfaat. Saat sedang sedih karena harus melepas satu mimpinya untuk memiliki butik, Khalisa selalu berpikir bahwa akan banyak orang yang terbantu dengan produk yang sudah dibuatnya.


Khalisa harus menekan ego nya untuk lebih bermanfaat bagi orang lain dari pada harus memenuhi keinginannya sendiri. Lagi pula sesekali ia masih bisa membuat desain dan menjahit.


"Papa bilang, aku dan Kafa serta adik-adik kami memang terlahir untuk ini, kami nggak bisa menolaknya selain menuruti orangtua untuk meneruskan bisnis keluarga."


Azfan menatap Khalisa mengulurkan tangan untuk mengelus kepala sang istri.


Lahir di keluarga kaya tak semudah itu, segala kebutuhan memang terpenuhi tapi mereka juga harus rela melepas mimpi demi meneruskan bisnis keluarga. Seolah-olah mereka tidak boleh hidup untuk diri mereka sendiri. Mereka hidup untuk banyak orang. Tak hanya konsumen tapi juga karyawan yang bekerja di Alindra Grup.


"Aku bangga sama Umma." Tangan Azfan turun menggenggam tangan Khalisa.


"Aku juga bangga sama Abi." Khalisa mengecup punggung tangan Azfan.


"Kenapa?" Azfan tidak merasa melakukan sesuatu yang bisa membuat Khalisa bangga.


"Usaha kaligrafi dan kerajinan tangan Abi sekarang udah sukses."


"Kalau nggak ada Papa yang ngasih aku bangunan toko itu mungkin sekarang aku masih kerja bikin kaligrafi di tempat orang lain."


Khalisa menggeleng, "Abi emang punya peluang besar untuk ini, sejak awal ketemu aku udah kagum sama tangan kiri Abi yang luar biasa."


"Azka juga kidal, ini gara-gara aku." Azfan tak tahu jika ternyata kidal itu dapat menurun pada anak.


"Kenapa bilang gitu, menurutku itu kelebihan Azka, hanya karena Abi dan Azka nggak seperti orang pada umumnya bukan berarti kalian harus kehilangan percaya diri."


"Aku khawatir kalau aja Azka malu karena nggak sama dengan teman-temannya yang lain nanti."


"Azka bukan anak yang seperti itu, kita udah ajarin Azka untuk percaya diri."


"Aku jadi tahu gimana dulu Papa dan Mama mendidik Umma karena sekarang Umma mendidik Azka dengan cara yang sama."


Ketika nama Khalisa dipanggil, Azfan melepas genggamannya dengan berat hati.


"Aku ke bawah dulu." Pamit Khalisa.


"Iya." Azfan menatap kepergian Khalisa, melewati eskalator menuju lobi.

__ADS_1


Para pengunjung bersorak menyambut kedatangan Khalisa, inilah sosok yang mereka tunggu-tunggu. Tanpa mereka ketahui Khalisa sudah ada disana sejak acara baru dibuka. Hanya saja Khalisa melihat dari lantai dua bersama Azfan.


"Selamat siang semuanya, gimana kabar kalian hari ini?" Khalisa menyapa pengunjung yang hadir hari itu. Khalisa mengucapkan terimakasih atas antusiasme mereka dalam menyambut peluncuran produk baru Alindra Beauty.


Azfan berdiri di belakang para pengunjung, senyumnya melengkung sempurna melihat Khalisa di depan sana. Ia ikut bangga atas pencapaian Khalisa. Azfan menyaksikan sendiri bagaimana Khalisa telah menguras waktu dan tenaganya untuk membuat satu produk. Khalisa mencurahkan semuanya untuk menghasilkan satu produk bagi Alindra Beauty.


"Saya akan menceritakan sedikit di balik pembuatan produk ini." Di antara orang-orang yang berkerumun, Khalisa masih bisa menemukan Azfan. Pandangannya terarah pada Azfan di belakang pengunjung. Azfan mengangguk dan tersenyum seolah mengerti apa yang Khalisa pikirkan saat ini.


Pengunjung yang tadinya riuh seketika senyap bersiap mendengar cerita Khalisa.


"Kalau ada yang masih ingat, saya pernah jadi korban penculikan—"


Pengunjung berseru bahwa mereka masih ingat persis kejadian yang sempat menggemparkan dimana seorang narapidana kabur dengan membawa senjata milik polisi.


"Itu adalah peristiwa traumatis bagi saya, saat itu saya mendapat siksaan fisik hingga keguguran." Khalisa menceritakan itu dengan suara gemetar, potongan-potongan kejadian penculikan oleh Revan tersebut masih lekat dalam ingatannya.


Hal yang paling membuat Khalisa trauma adalah ketika Revan memeluk lehernya seraya mengacungkan pistol. Sedetik kemudian terdengar ledakan senjata api lalu Revan jatuh bersama Khalisa. Revan menembak dirinya sendiri di depan Khalisa.


"Setelah beberapa bulan berlalu, lukanya sudah sembuh tapi bekasnya masih ada dan setiap kali saya melihat bekas itu saya pasti teringat akan kejadian tersebut, jadi saya berpikir untuk membuat produk ini." Khalisa mengacungkan tube berwarna jingga yang merupakan produk penghilang bekas luka tersebut.


"Produk ini dapat menyembuhkan bekas luka fisik dan saya harap juga bisa menyembuhkan luka psikis kita semua."


Tepuk tangan riuh terdengar ketika Khalisa mengakhiri sambutannya.


Khalisa memberikan goodie bag berwarna merah jambu kepada pengunjung yang telah melakukan per order satu bulan sebelum produk tersebut diluncurkan.


Azfan juga bergabung dengan Khalisa dan beberapa staf Alindra Mall untuk memberikan goodie bag.


Beberapa pengunjung mengabadikan momen tersebut dengan foto bersama Khalisa dan Azfan. Tidak setiap saat mereka bisa bertemu Khalisa. Itu sebabnya saat ada kesempatan mereka memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.


"Nanti aku tag akun Instagram Ce Khalisa ya." Ucap salah satu pengunjung wanita setelah selfie berdua dengan Khalisa.


"Oh ya? tapi Ce Khalisa dan suami punya akun fanbase loh di Instagram." Pengunjung itu menunjukkan salah satu akun Instagram dengan nama Khalisa Azfan yang selalu membagikan foto-foto keduanya.


Mata Khalisa melebar melihat akun tersebut, ia sudah seperti artis atau selebgram karena memiliki akun fanbase. Ternyata tak hanya Rindang yang memiliki penggemar, Khalisa juga memilikinya.


Ketika hendak keluar dari lobi menuju mobil, para wartawan mengerumuni Khalisa dan mengajukan pertanyaan. Dengan sigap Azfan merangkul Khalisa dan meminta agar wartawan tidak berada terlalu dekat. Begitupun dengan empat orang security yang berusaha melindungi Khalisa dan Azfan.


Khalisa tersenyum kepada mereka meski ia merasa tak nyaman. Sebelum kejadian penculikan itu Khalisa tak pernah merasa tidak nyaman berada di antara kerumunan laki-laki. Namun Khalisa tak bisa seperti dulu lagi.


"Khalisa, tolong beri pernyataan mengenai kabar yang beredar bahwa kamu sedang hamil?"


Untuk beberapa saat Khalisa terkejut dengan pertanyaan tersebut. Khalisa dan Azfan sudah berusaha menyembunyikan tentang kehamilan itu. Hanya keluarga dan teman dekat yang mengetahuinya. Karena Khalisa pernah mengalami keguguran sebelumnya, Azfan ingin menjaga agar itu tidak terjadi lagi dengan merahasiakan kehamilan Khalisa.


"Sebenarnya kami ingin merahasiakan ini sampai kehamilan saya lebih stabil tapi ternyata teman-teman wartawan sudah mengetahuinya."


Azfan merapatkan tubuh Khalisa padanya, awak media ini cukup berbahaya karena tetap mengetahui kehamilan Khalisa meski mereka telah merahasiakannya.


Khalisa mengetahui kehamilannya saat pulang umroh. Sebelum berangkat Khalisa memang merasa ada yang aneh dari dirinya. Ia sempat meminum penunda haid. Namun Khalisa tidak haid hingga bulan berikutnya. Khalisa iseng menggunakan test pack dan ternyata hasilnya positif.


Khalisa dan Azfan segera masuk mobil karena menanggapi pertanyaan wartawan itu tak akan ada habisnya. Mereka juga harus segera pergi ke Taman Tahfidz.


******


"Abi?" Khalisa menyentuh punggung tangan Azfan. Azfan tampak melamun setelah keluar dari Alindra Mall. Untung saja saat ini Azfan tidak sedang menyetir.

__ADS_1


Khalisa menggenggam tangan Azfan dan mengulas senyum, ia tahu bertemu banyak orang dapat membuat energi Azfan terkuras. Bahkan Azfan pernah bilang lebih baik ia lari keliling lapangan dibandingkan dengan bertemu banyak orang. Namun pekerjaan mengharuskan mereka bertemu dengan orang-orang.


Sebenarnya Khalisa sudah meminta Azfan melihat dari jauh jika memang Azfan tak mau berinteraksi dengan banyak orang. Namun Azfan tidak bisa membiarkan Khalisa sendiri. Ia harus selalu berada di dekat sang istri.


"Abi capek ya?" Tanya Khalisa walaupun ia sudah bisa melihat jawabannya dari wajah Azfan.


Azfan menggeleng dan tersenyum tipis, ia tak mau membuat Khalisa kecewa. Itu adalah acara penting bagi Khalisa.


"Istirahat aja dulu, perjalanan kita masih lama." Khalisa menepuk pundak nya agar Azfan bisa meletakkan kepala disana.


"Harusnya aku yang begitu."


"Aku nggak ngantuk."


"Bangunkan aku setelah sampai disana." Azfan meletakkan kepalanya di pundak Khalisa dan memejamkan mata.


Mereka sedang dalam perjalanan menuju Taman Tahfidz yang baru. Setelah mengumpulkan uang dan dana suka rela dari para alumni akhirnya mereka memiliki tempat yang lebih layak—tak lagi di ruang tamu ruko Azfan.


Kini beberapa alumni ikut membantu bimbingan disela kesibukan mereka di sekolah. Mulanya Taman Tahfidz hanya memiliki dua peserta lalu semakin bertambah hingga 20 orang. Azfan dan Fawas bergantian memberi bimbingan begitupun dengan Khalisa dan Ayin. Mereka bekerjasama mencetak penghafal Al-Qur'an.


Sebagian dari hafidz meneruskan pendidikan di Yaman. Sebagian besar universitas di Yaman dan Mesir memberi syarat hafal Al-Qur'an pada calon mahasiswa nya. Itu sebabnya mereka dapat menggunakan hafalan Al-Qur'an untuk meneruskan pendidikan.


Mobil berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai dengan pepohonan di sekelilingnya. Bangunan itu terletak di tengah kota tapi lingkungan di sekitarnya tampak asri dengan adanya tumbuhan hijau.


Nantinya anak laki-laki akan mengikuti bimbingan di lantai satu sedangkan perempuan di lantai dua.


Khalisa melihat Azfan yang masih terlelap, ia tidak tega membangunkan Azfan meski mereka telah sampai. Wajah Azfan terlihat sangat lelah karena ia harus menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam yakni membuat sketsa kaligrafi untuk masjid Ulil Albab yang tengah direnovasi.


Azfan mengangkat kepalanya dari bahu Khalisa setelah sadar bahwa mereka sampai. Azfan mengerjap dan mengucek matanya.


"Kok nggak dibangunin?"


"Aku nggak tega mau bangunin Abi, aku pikir tunggu sebentar lagi tapi ternyata Abi udah bangun duluan."


"Terimakasih Umma." Azfan mengusap kepala Khalisa yang tertutup jilbab merah muda.


"Untuk apa?" Khalisa merapikan rambut Azfan yang sedikit berantakan.


"Karena sudah membiarkanku tidur."


Mereka keluar dari mobil menuju Taman Tahfidz. Fawas dan Ayin sudah menunggu bersama anak-anak dan alumni serta para orangtua.


"Maaf membuat kalian menunggu." Ujar Azfan setelah mengucapkan salam, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Kami juga baru datang kok." Sahut Fawas.


Mereka melakukan doa bersama agar Taman Tahfidz selalu memberikan manfaat dan membawa berkah tak hanya bagi mereka tapi juga untuk banyak orang.


"Kami mengucapkan terimakasih kepada Ustadz Azfan, Ustadz Fawas, Ustadzah Khalisa dan Ustadzah Ayin karena sudah membantu anak-anak kami menghafal Al-Qur'an, kami pikir karena berasal dari keluarga kurang mampu kami tidak akan pernah mendapat kesempatan memasukkan anak kami ke tempat bimbingan hafalan, tapi dengan adanya kalian, mimpi kami bisa terwujud." Salah satu perwakilan orangtua mengucapkan terimakasih pada para pembimbing Taman Tahfidz.


"Bagi kami, kesempatan membimbing mereka justru jauh lebih berharga." Balas Fawas seraya melihat ke arah Azfan dan mengulas senyum, ia sendiri tak percaya karena bisa akrab dengan Azfan—suami seorang wanita yang pernah ia lamar. Awalnya Fawas merasa terluka karena Khalisa menolaknya dan memilih Azfan. Namun seiring berjalannya waktu, Fawas dipertemukan dengan Ayin. Hingga akhirnya Fawas dapat mengikhlaskan Khalisa. Kini Fawas telah menganggap Azfan seperti adiknya sendiri. Bagi Fawas, keikhlasan juga merupakan tanda kedewasaan seseorang.


"Ini berkat semuanya, kita bisa berada di titik ini, akhirnya Taman Tahfidz memiliki tempat yang lebih baik." Azfan menambahkan. "Saya minta maaf karena selama bimbingan di rumah kami, anak-anak merasa kurang nyaman."


Ruang tamu yang tak terlalu luas biasanya juga menjadi tempat Azka bermain. Kadang mainan Azka berserakan dimana-mana. Saat anak-anak datang, Khalisa dan Nadira harus segera membereskannya. Azfan bersyukur kini mereka telah memiliki tempat sendiri.

__ADS_1


"Sama sekali tidak Ustadz." Sahut mereka.


Azfan amat bersyukur karena Allah memberinya kesempatan berbagi ilmu. Azfan bertemu dengan anak-anak yang membuatnya banyak belajar dari mereka tentang arti kesabaran dan ketekunan. Mereka begitu gigih untuk menghafal Al-Qur'an dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.


__ADS_2