Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
61


__ADS_3

Khalisa melangkah santai melewati koridor setelah menyelesaikan kelas terakhir sebelum libur panjang Idhul Fitri. Ia menenteng tas kain berisi kartu undangan yang kemarin baru sampai ke apartemennya dari Banyuwangi. Di setiap kartu undangan itu juga terdapat QR code untuk mendapatkan tiket pesawat dari Jogja ke Banyuwangi.


Khalisa mengetuk pintu lalu mengucapkan salam sebelum masuk ke ruang sekretariat HAWASI yang penuh oleh anggotanya. Mereka hendak melakukan pemilihan untuk pengurus yang baru.


"Belum dimulai kan?" Khalisa duduk di salah satu kursi kosong.


"Belum kok, nunggu beberapa orang yang belum datang." Jawab Aliyah.


"Lagi ngomongin apa, kayaknya serius banget." Tanya Khalisa karena saat masuk barusan ia melihat Syifa dan beberapa anggota lain seperti membicarakan sesuatu yang penting.


"Kita denger kabar kalau Kak Fawas mau menikah dengan sesama dosen." Jawab Syifa yang terlihat paling bersemangat menceritakan hal itu.


Alis Khalisa terangkat, ia ikut senang jika akhirnya Fawas menikah karena dari kemarin ia ragu untuk mengundang lelaki yang pernah melamarnya itu. Khalisa tidak mau menyakiti Fawas dua kali. Namun sepertinya ia tak akan ragu lagi setelah mendengar kabar tersebut.


"Kak Fawas nggak rugi sih habis ditolak kamu eh dapat yang inshaa Allah lebih baik, dosen pula."


Khalisa tersenyum tipis, meski ia telah menutup rapat soal lamaran itu tapi ternyata hampir semua mahasiswa disini mengetahuinya. Tak akan ada rahasia yang bisa dijaga, lisan memang sangat berbahaya. Menjaga lisan jauh lebih sulit dari pada shalat subuh awal waktu.


"Ih kamu kok ngomongnya gitu." Tegur Ikha.


"Kan emang bener dari pada aku ngomong di belakang kan dosa mending ngomong di depan orangnya langsung."


Raut wajah Khalisa berubah malas padahal ia tahu Syifa juga pernah membicarakannya di belakang.


"Alhamdulillah aku ikut bahagia kalau Kak Fawas akan segera menikah." Kata Khalisa.


Syifa hendak membalas kalimat Khalisa tapi ia melihat Hasan masuk ke ruangan, itu berarti pemilihan pengurus yang baru akan segera dimulai.


Hasan membuka pemilihan pengurus itu dan memberi sedikit sambutan, ia mengatakan banyak terimakasih terhadap semua anggota yang telah bekerjasama untuk semua kegiatan. Hasan juga meminta maaf jika selama ia memimpin ada kata-kata atau perilaku yang membuat mereka tersinggung, sesungguhnya ia hanya lah ketua yang penuh dengan salah.


"Silahkan teman-teman membuka aplikasi HAWASI di ponsel, saya sudah membuka waktu untuk voting, boleh diklik kandidat untuk menjadi pengurus HAWASI."


Dalam hitungan menit mereka telah mendapatkan hasilnya. Sebelumnya semua calon pengurus itu sudah dimintai persetujuan jadi Hasan tidak asal menunjuknya.


"Saya akan mengumumkan pengurus HAWASI baru yang akan menjabat selama satu tahun, Ketua Muhammad Lutfhi dari studi Kimia, wakil ketua Syifa Fauziah dari Hukum, sekretaris Ikha Nur Laila dari Ilmu Komunikasi, bendahara Khalisa Syanin Alindra dari Farmasi." Hasan membacakan hasil voting tersebut. Ia juga menyebutkan pengurus divisi yakni divisi Idarotut Tahfidz, divisi Jam’iyatul Qurro’, divisi Pendidikan dan Pengembangan SDM serta divisi Humas dan Publikasi.


"Saya harap kita semua bisa menghargai satu sama lain khususnya pada pengurus HAWASI yang baru."


"Sebelum saya tutup, Azfan lebih dulu akan memberi kabar gembira pada kita semua, silakan Azfan." Hasan melihat Azfan yang duduk di antara anggota lain, ia sudah lebih dulu diberi tahu oleh Azfan mengenai pernikahannya dengan Khalisa. Sehingga Hasan tidak mampu menahan senyumnya, ia duduk di kursi paling depan saat Azfan maju.


Azfan gugup ketika hendak memberitahu kabar itu padahal dadanya sudah begitu bergemuruh ingin memberitahu pada dunia bahwa ia akan segera menikah dengan gadis yang selama ini cintai, gadis yang diam-diam ia perhatikan, gadis yang namanya ia bisikkan sangat pelan di setiap shalatnya di sepertiga malam.


Khalisa melihat Azfan, ia mengulas senyum simpul berharap dengan itu rasa gugup Azfan sedikit menghilang sama seperti ketika Azfan hendak mengikuti lomba MTQ. Lagi pula Azfan sudah pernah berdiri di depan banyak orang di Turki bahkan memenangkan lomba itu.


"Teman-teman, saya akan memberitahu bahwa tanggal 2 Syawal, inshaa Allah saya dan Khalisa akan menikah setelah dua Minggu yang lalu saya mengkhitbah Khalisa dengan sangat sederhana, saya harap teman-teman bisa hadir di acara bahagia kami."

__ADS_1


Seluruh ruangan heboh oleh kabar tersebut karena mereka tidak melihat kedekatan antara Khalisa dan Azfan lalu tiba-tiba keduanya akan menikah dalam waktu dekat. Ekspresi mereka bermacam-macam, ada yang langsung memberi selamat pada Khalisa, ada juga yang tak percaya dan menganggap ini hanyalah candaan. Ada juga beberapa orang yang memasang eskpresi tidak suka sebab sejak memenangkan lomba MTQ, Azfan berubah menjadi pusat perhatian. Bahkan mereka berharap bisa lebih dekat dengan Azfan meski cowok itu amat pendiam dan menutup diri. Namun harapan mereka pupus sudah. Belum melangkah sudah jatuh duluan.


Syifa tak bisa berkata-kata bahkan kini wajahnya merah padam, air matanya tertahan saking kagetnya dengan kabar itu. Jadi Khalisa menolak Fawas karena hendak menikah dengan Azfan. Syifa pikir tipe cowok Khalisa adalah cowok kaya, keturunan Chinese bermata sipit dan pintar seperti Levin. Syifa menganggap Levin adalah sosok sempurna bagi Khalisa. Namun ternyata mereka menyukai dua orang yang sama. Pantas saja perasaan Syifa selama ini tidak enak, jika melihat Khalisa maka ia ingin marah dan menyudutkan gadis itu. Ternyata ini jawabannya.


Khalisa membagikan undangan kepada teman-temannya sesuai nama yang tertera. Khalisa tidak melewatkan satu pun termasuk anggota yang baru bergabung.


"Tunggu-tunggu, kalian duduk dulu." Aliyah meminta Khalisa duduk di tengah-tengah begitupun dengan Azfan. Sementara anggota lainnya mengelilingi dua orang itu. "Pasti bukan cuma aku aja yang penasaran, yang lain juga penasaran maka izinkan Mbak mu ini bertanya sebelum keluar dari HAWASI."


Khalisa tertawa karena gaya bicara Aliyah seperti seorang detektif yang menanyai tersangkanya.


"Sejak kapan kalian saling suka?" Tanya Aliyah.


Alis Khalisa terangkat sedangkan Azfan menahan senyum, ia sendiri tidak tahu sejak kapan rasa cinta itu muncul di hatinya lalu tumbuh subur hingga sekarang.


"Pertanyaan selanjutnya?" Khalisa tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


"Siapa yang mengungkapkan perasaan lebih dulu?"


"Khalisa." Jawab Khalisa yang disambut teriakan riuh oleh lainnya. Bahkan Khalisa yang melamar Azfan lebih dulu, kalau mereka tahu pasti seisi ruangan ini akan lebih heboh.


"Apa yang bikin Khalisa suka sama Azfan."


"Astaghfirullah, masa ditanya begitu sih Mbak."


"Karena dia sederhana, rasanya aku nggak perlu hal lain waktu dekat dia karena keberadaannya sendiri udah bikin aku bahagia, inshaa Allah dia juga bisa membimbingku Istiqomah di jalan Allah."


Mereka kembali bersorak sementara Azfan hanya curi-curi pandang pada Khalisa.


"Coba Azfan dong, masa dari tadi diam?" Faqih menimpali, "mukanya udah merah tuh."


Azfan mengangkat wajah, apa yang bisa di jawab.


"Kenapa bisa suka sama Khalisa?"


"Sebenarnya saya bisa kasih seribu alasan tapi pasti akan kelamaan."


Mereka tertawa, wajah Azfan sangat polos tapi kata-katanya mampu membuat mereka tidak bisa menahan tawa.


"Khalisa itu sesuatu yang sulit saya gapai, ibaratnya dia langit dan saya bumi, tak mungkin bersatu, tapi Alhamdulillah Khalisa yang sempurna ini nggak minta macam-macam mungkin karena dia juga sudah punya segalanya, saya pikir sampai kapanpun kami nggak mungkin bersatu tapi pada suatu hari Khalisa nyeletuk ingin mahar kaligrafi seluas satu meter maka saya membuat kaligrafi itu untuknya yang inshaa Allah akan jadi mahar pernikahan kami nanti, terimakasih Khalisa karena sudah memilihku." Azfan mengakhiri kalimat panjangnya dengan mengulas senyum manis pada Khalisa yang matanya berkaca-kaca.


Bahkan sampai detik ini Azfan belum percaya bahwa ia akan menikah dengan Khalisa yang beberapa bulan lalu hanya salah satu mahasiswi yang datang untuk makan gelato. Khalisa yang super ramah dan langsung memanggil nama Azfan serta memujinya luar biasa karena itu pertama kalinya Khalisa melihat orang kidal. Jika menceritakannya maka Azfan bisa menghabiskan waktu berhari-hari, bagaimana ia merasa begitu beruntung bisa bersanding dengan gadis itu.


"Ya ampun kalian emang beda banget, jawaban Khalisa bisa bikin yang lain ketawa tapi pas kamu yang jawab malah bikin kami mau nangis." Ujar Aliyah.


"Apapun itu, semoga pernikahan kalian selalu bahagia dan barokah ya." Ucap Hasan tulus.

__ADS_1


"Nanti dateng ya." Khalisa mengedarkan pandangan pada teman-temannya sembari melanjutkan membagi kartu undangan yang sempat tertunda karena interogasi dadakan oleh Aliyah dan Faqih barusan.


"Syifa, dateng ya." Khalisa memberikan kartu undangan berwarna sampanye itu pada Syifa, "oh iya tadi kamu bilang Kak Fawas nggak rugi ditolak aku karena dia mendapat yang jauh lebih baik, kamu benar tapi maaf ya, aku akan menikah dengan laki-laki yang kamu suka." Khalisa mengatakan kalimat itu dengan senyum lebar. Jika Syifa berpikir Khalisa akan diam saja saat ia mempermalukan Khalisa maka ia salah besar. Khalisa bukan gadis lemah yang akan diam saja saat dirinya ditindas. Khalisa menunggu waktu yang tepat untuk membalas semuanya.


Beruntung Khalisa memiliki Renata dan Jaya yang mengajarkan banyak hal berharga dan sekarang ia sedang menerapkannya.


Mereka mengakhiri pertemuan itu dengan bersalaman pada kakak tingkat yang tak akan berada di organisasi itu lagi karena harus fokus pada skripsi.


"Kafa!" Khalisa memekik ketika melihat Kafa melangkah melewati koridor, ia setengah berlari mengejar Kafa yang tidak menoleh meski ia telah memanggilnya beberapa kali. Sejak perdebatan mereka di festival kesenian waktu itu, Khalisa belum bisa bicara dengan Kafa karena ia tak pernah melihat sepupunya itu meski mereka satu kampus. Bagaimana Khalisa bisa minta maaf jika Kafa tidak memberinya kesempatan untuk membicarakan hal itu secara perlahan. Khalisa ingin memberi pengertian bahwa ia bisa bahagia dengan Azfan, lelaki pilihannya.


"Kafa tunggu dulu." Khalisa sedikit menarik jas Kafa.


Kafa menghentikan langkah dan menoleh, melihat tajam pada Khalisa.


"Kafa, kamu masih marah sama Cece?"


Kafa menepis tangan Khalisa yang memegang jasnya lalu mundur selangkah tanpa melepaskan pandangan pada Khalisa.


"Ce Khalisa masih anggap aku keluarga Cece nggak sih?"


"Tentu aja, kamu adik Cece yang paling berani dan baik." Suara Khalisa lembut berusaha melunakkan hati Kafa.


"Kenapa Ce Khalisa nggak ngasih tahu kalau kalian mau nikah, aku taunya dari Umi dan Abi, Cece tahu nggak mereka bilang apa?"


"Bilang apa?"


"Aku disuruh minta maaf, aku nggak mau minta maaf, aku cuma nggak mau Ce Khalisa menderita, sekarang aja udah terbukti kalau Mas Azfan itu nggak cocok buat Cece, biaya pernikahan pasti uang Om Daniel dan Tante Ica kan, sebagai calon suami apa yang Mas Azfan kasih?"


Khalisa menelan salivanya, Kafa tidak tahu kalau Azfan memberikan semua tabungan kepadanya, Azfan memberikan dua kartu ATM miliknya pada Khalisa, Azfan dengan ikhlas memberikan semuanya tanpa menyisakan apapun. Bahkan Kirana memberikan uang cash yang jumlahnya membuat Khalisa terkejut, katanya itu adalah hasil pesanan batik yang beberapa bulan ini sedang ramai. Khalisa sudah menolaknya tapi Kirana tetap memaksa memberikan uang itu. Maka setelah ini Khalisa berjanji terhadap dirinya sendiri untuk membantu biaya sekolah Safa dan Marwah karena perjalanan mereka masih panjang.


"Tolong kamu jangan bicara sembarangan Kafa." Khalisa merendahkan suaranya bahkan hampir seperti bisikan karena ia tidak mau membuat Kafa semakin marah. "Nanti dateng ya."


"Cece jangan harap aku datang." Kafa menghentakkan kaki meninggalkan Khalisa.


Khalisa menghela napas berat melihat punggung Kafa yang semakin menjauh. Kafa memang bukan orang yang mudah goyah dan gampang menyerah. Khalisa tahu Kafa tak akan memaafkannya semudah itu. Namun ini adalah pilihannya, jika Kafa menyayanginya maka seharusnya Kafa menghargai itu.


"Maaf ya."


Suara berat itu membuat Khalisa menoleh, ia segera tersenyum melihat Azfan di hadapannya.


"Nggak ada yang perlu dimaafin, aku yakin nanti dia juga bisa terima kamu."


Azfan mengangguk, meski senyum terlukis di wajah Khalisa tapi Azfan tahu kalau saat ini Khalisa begitu terluka dengan perlakuan Kafa. Azfan ingin sekali merengkuh Khalisa dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja seperti yang Rindang lakukan di rumah sakit waktu itu.


__ADS_1


__ADS_2