
Untuk setahun ini, kamu dan Khalisa boleh tinggal di apartemen itu. Namun setelah itu terserah nak Azfan mau bawa Khalisa tinggal dimana, saya bukannya mau membuat kalian menderita tapi saya ingin kamu belajar memperjuangkan kebahagiaan Khalisa seperti saya dulu terhadap mama Khalisa bahwa perlu kerja keras untuk mencapai kebahagiaan itu. Saya percaya kamu bisa menjaga dan membahagiakan Khalisa meski bukan dengan kemewahan.
Saya akan tetap membiayai kuliah Khalisa jadi kamu nggak perlu khawatir soal itu.
"Dari tadi diem aja, ada apa?" Pertanyaan Khalisa membuyarkan lamunan Azfan yang masih memikirkan kalimat Daniel padanya semalam saat mereka sedang berdua di taman belakang rumah.
Azfan hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Khalisa, ia akhirnya mengulas senyum setelah bengong sejak masuk pesawat yang akan membawa mereka menuju kota asal Azfan, Sleman Yogyakarta.
Ketika memutuskan untuk menikahi Khalisa, Azfan tahu ia harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan Khalisa yang terbiasa hidup mewah. Meski Khalisa tak akan menuntut Azfan tentang apapun tapi Azfan mengerti sejak kecil Khalisa telah hidup dengan kemewahan maka tak mungkin ia membiarkan Khalisa hidup kekurangan.
"Kalau nanti aku ajak Haura tinggal di tempat kos, Haura mau nggak?" Tanya Azfan dengan suara lembut tidak mau membuat Khalisa terkejut karena ia tiba-tiba memberi pertanyaan itu.
"Nggak masalah, aku ikut kemanapun Mas Azfan tinggal." Khalisa mengulum senyum yang membuat Azfan tersentuh. Azfan sudah menduga Khalisa akan menjawab seperti itu.
"Mulai sekarang aku yang bertanggung-jawab terhadap kebutuhan dan biaya hidup kita, bagaimana kalau suatu hari aku nggak punya uang untuk makan dihari itu."
Khalisa mengerutkan kening, mengapa Azfan selalu memberi pertanyaan pesimis seperti itu.
"Asal Mas tahu, kalau kita khawatir tentang rezeki hari esok maka kita akan berdosa karena sesungguhnya Allah sudah mengatur semuanya dan kenapa kita masih mengkhawatirkan hal seperti itu?"
Azfan terdiam merasa tertampar dengan perkataan Khalisa, "astaghfirullah." Gumamnya memohon ampun karena telah meragukan sang pencipta yang telah mengatur semuanya dengan begitu rapi.
Khalisa tersenyum lembut, ia mengecup telapak tangan Azfan lalu meletakkan kepala pada pundak sang suami.
Khalisa ingat semalam Azfan mengatakan bahwa meskipun ia tahu jumlah saldo di kartu ATM Khalisa tidak terbatas tapi setelah menikah Azfan ingin Khalisa menggunakan uang Azfan kecuali itu memang sesuatu yang mahal dan benar-benar Khalisa inginkan.
"Kalau boleh tahu, berapa biaya kuliah Haura selama satu tahun?"
"Sepertinya di bawah 200, aku nggak tahu jumlah persisnya." Pihak kampus akan langsung mengirim tagihan biaya pada email Daniel sehingga Khalisa tidak tahu berapa uang yang ia habiskan untuk kuliah.
Azfan terkejut, itu berarti 3 kali lipat dari biaya kuliahnya. Pantas saja Daniel langsung memberitahu Azfan bahwa ia akan tetap membiayai kuliah Khalisa. Daniel tahu Azfan tidak akan mampu membiayai kuliah dua orang.
"Wo ai ni, Mas." Ucap Khalisa tiba-tiba.
"Wo ai ni?" Azfan mengulang kalimat Khalisa, ia sepertinya pernah mendengar itu sebelumnya. Ah Azfan ingat Zunaira mengatakan hal seperti itu pada Khalisa tadi di bandara.
"Uhibbuka." Khalisa mengganti bahasa mandarin itu dengan bahasa Arab yang pasti Azfan mengetahuinya.
"Uhibbuki wahai Haura ku yang cantik, istriku yang shalihah." Azfan mencium puncak kepala Khalisa yang tertutup jilbab hitam.
Khalisa tersipu disebut shalihah padahal ia merasa jauh dari kata itu.
"Pada suatu siang Rabiah Al-Adawiyah berjalan di kota Bagdad dengan menenteng air dan obor di tangan kirinya." Azfan mulai bercerita karena sepertinya Khalisa hendak tidur padahal mereka baru naik pesawat sekitar 15 menit yang lalu. Mungkin karena Khalisa hanya tidur sebentar tadi malam karena mereka sibuk berkemas.
"Orang-orang bertanya kepadanya untuk apa ia membawa obor dan air itu lalu beliau menjawab aku hendak membakar surga dengan obor dan menyiram neraka dengan air tersebut agar manusia tidak lagi mengharapkan surga saat beribadah atau ketakutan akan siksa neraka, melainkan agar manusia beribadah semata-mata karena cintanya kepada Allah."
"Astaghfirullah, luruskan niat ibadah kita supaya nggak ada rasa pamrih dalam diri ini." Khalisa mengangkat kepalanya dari pundak Azfan.
"Sebenernya nggak ada yang salah dengan mengharap pahala tapi alangkah lebih baik jika kita tanamkan dalam diri ini rasa cinta kepada-Nya." Azfan menatap Khalisa teduh.
Bagi Khalisa tatapan itu laksana pepohonan di tengah padang pasir yang bisa menyejukkannya. Suara Azfan setiap kali membaca Alqur'an seperti mata air yang mampu melepaskan dahaga Khalisa. Jika begitu maka Khalisa akan selalu kehausan karena ingin mendengar suara merdu Azfan melantunkan ayat-ayat Allah.
"Bicara soal cinta apa sebelum menikah Mas pernah jatuh hati sama wanita selain aku?"
__ADS_1
Azfan tampak berpikir, "itu dulu sekali."
Alis Khalisa terangkat, ia pikir dirinya adalah cinta pertama Azfan.
"Kapan?"
"Waktu SMA dan waktu itu aku masih mondok."
"Dia cantik?" Khalisa melepaskan genggamannya berpura-pura membenarkan jilbab yang sebenarnya sudah rapi.
"Sepertinya begitu karena hampir semua santri laki-laki menyukainya."
"Dia santri juga?"
"Bukan, dia anak kyai pengasuh pondok tapi sungguh sekarang aku sudah melupakannya bahkan aku lupa nama dia."
Khalisa mendengus, bagaimana mungkin seseorang lupa pada nama orang yang pernah dicintainya. Khalisa memalingkan wajah melihat keluar jendela pada gumpalan awan yang terlihat seperti kapuk.
Azfan hendak menyentuh Khalisa tapi tidak berani, mengapa pembahasan mereka jadi bermuara pada cinta pertama Azfan padahal tadi Azfan bercerita tentang Rabiah Al-Adawiyah yang begitu mencintai Allah.
Lihatlah, perempuan memang suka memancing sesuatu yang dapat menyakiti dirinya sendiri.
"Haura, sekarang yang memenuhi diriku cuma Haura seorang, itu dulu waktu aku masih remaja, Haura tahu cintanya seorang remaja itu nggak serius."
Khalisa enggan menoleh, jika marah maka ia terlihat seperti anak kecil padahal dirinya sudah 20 tahun tapi Khalisa tetap kesal mengetahui fakta bahwa dirinya bukan cinta pertama Azfan padahal ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Azfan adalah orang pertama bagi Khalisa.
"Sayang, kamu istriku dan pelabuhan terakhir yang aku nggak akan pergi kemanapun." Azfan menyentuh punggung Khalisa. Mengapa merayu istri tidak diajarkan di sekolah padahal itu materi yang sangat sulit. "Haura, maafkan aku."
"Mau aku ceritakan apalagi?" Asal jangan meminta Azfan bercerita tentang cinta pertamanya itu. "Atau mau tidur?"
"Aku emang ngantuk, gara-gara kamu tadi malam."
"Aku ngapain tadi malam?" Azfan menarik Khalisa dan mendekapnya.
"Mau aku sebutin tadi malam Mas ngapain aja?"
"Enggak usah." Azfan mengusap-usap kepala Khalisa.
*******
Sesampainya di apartemen Azfan mengeluarkan pakaiannya yang tidak banyak dan menyusunnya di lemari Khalisa. Walk in closet di apartemen tersebut memiliki 8 pintu lemari tapi pakaian Khalisa hanya memenuhi 3 lemari termasuk jilbab.
Sementara itu Khalisa membuka hadiah dari beberapa temannya yang belum sempat dibuka. Ia tidak perlu membersihkan apartemen itu karena Renata telah meminta jasa pembersih selama Khalisa pulang ke Banyuwangi. Renata benar-benar memanjakan Khalisa.
"Mas, kita dapat couple mug dari Ko Levin." Khalisa menghampiri Azfan di kamar, ia menunjukkan 2 cangkir dengan inisial A dan K pada masing-masing cangkir yang terlihat mahal.
"Oh ya?" Azfan menoleh pada Khalisa, "bagus, kita bisa gunakan itu untuk minum teh atau kopi."
"Cantik ya."
"Iya."
Khalisa kembali ke dapur untuk meletakkan cangkir tersebut sekaligus melanjutkan membuka hadiah yang lain. Mereka mendapat banyak perabotan rumah tangga seperti alat masak, piring, gelas hingga Vacuum Cleaner dari Humaira. Padahal Huma tahu kalau Khalisa sudah memiliki benda itu di apartemennya.
__ADS_1
"Wah Huma ngasih buku juga." Khalisa mengeluarkan sebuah buku bersampul merah muda yang terselip di bawah Vacuum Cleaner hingga sedikit terlipat. "Rumah tangga bahagia." Khalisa membaca judul buku tersebut. Rupanya itu adalah buku keluaran baru yang diterbitkan oleh perusahaan penerbit milik orangtua Huma.
Perhatian Khalisa teralih pada layar ponsel Azfan yang menyala. Ia melihat ada satu email masuk.
"Mas, ada email masuk nih." Khalisa meraih ponsel itu dan melangkah ke kamar.
"Dari siapa sayang?" Azfan telah selesai melipat baju dan memasukkannya ke dalam lemari.
Khalisa mengedikkan bahu menyodorkan ponsel tersebut pada Azfan.
Azfan duduk di sofa bulat yang berada di tengah-tengah walk in closet sementara Khalisa memeriksa apakah Azfan telah melipat semua bajunya dengan rapi atau tidak.
"Wah." Harusnya Khalisa tidak meragukan Azfan soal merapikan pakaian karena suaminya itu paling jago merapikan sesuatu.
"Dari siapa?" Khalisa duduk di samping Azfan.
"Undangan reuni dari temen seangkatan ku." Azfan mematikan ponselnya setelah membaca email tersebut.
"Kapan?" Khalisa tampak antusias, kalian tahu ia suka berkenalan dengan banyak orang dan menambah teman.
"Dua Minggu lagi tapi aku nggak akan pergi." Azfan memiliki sifat yang berlawanan dengan Khalisa. Azfan tidak percaya diri berkumpul dengan teman-temannya meski dulu mereka pernah menimba ilmu bersama.
"Kenapa?"
"Aku memang nggak pernah pergi ke acara reuni."
"Kalau gitu tahun ini ayo pergi."
Azfan menggeleng.
"Kenapa Mas, aku juga pengen tahu temen-temen kamu, kemarin kamu nggak ngundang banyak temen, justru 80% tamu itu temen aku." Khalisa memperhatikan ekspresi wajah Azfan, mencaritahu apa yang sedang Azfan pikirkan sekarang. "Kamu nggak PD ketemu mereka?"
Azfan mengangguk, "mereka pasti sekarang sudah jadi orang hebat, kuliah di luar negeri bahkan ada yang punya pondok pesantren, ketika datang mereka akan keluar dari mobil bagus dan mengkilap."
Khalisa sudah menduga bahwa Azfan akan minder untuk ikut acara reuni seperti itu. Padahal Azfan bisa saja berbangga diri setelah mendapat juara 1 MTQ di Turki tapi Azfan sama sekali tidak berpikir begitu.
"Memangnya mereka pernah mengolok-olok Mas Azfan?"
"Sering."
Hati Khalisa serasa teriris mendengar pengakuan Azfan, mengapa orang-orang selalu menindas mereka yang tidak mampu.
"Ayo tahun ini kita pergi." Khalisa meraih tangan Azfan, "kita juga punya mobil bagus dan kuliah di tempat bagus, Mas Azfan nggak punya alasan untuk minder."
"Haura yakin mau pergi, itu reuni SMA ku."
"Yakin." Khalisa mengangguk mantap.
"Kalau begitu aku pikir-pikir dulu." Azfan mengembuskan napas berat. Ayolah itu hanya acara reuni.
"Baiklah."
Mereka lanjut menyusun hadiah dari teman-teman Khalisa yang sudah dibuka hingga waktu dhuhur tiba.
__ADS_1