Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
50


__ADS_3

Toko yang dulunya kosong itu kini memiliki banyak kaligrafi dengan berbagai macam bacaan dan gaya tulisan. Tak hanya itu, pajangan lain seperti kata-kata motivasi yang ditulis dengan sedemikian rupa hingga terlihat apik juga ada di toko itu.


Sebuah mobil Bentley berwarna biru metalik berhenti di depan toko itu. Tak lama kemudian seorang lelaki bertubuh tinggi dengan kulit pucat berpakaian hitam putih turun dari mobil tersebut. Ia adalah Kafa yang baru pulang dari kampus bahkan ia belum mengganti pakaiannya.


Terdapat dua orang di dalam toko yang sedang melihat-lihat kaligrafi disana. Kafa lihat si pemilik toko juga sedang melayani pembeli, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasa calon pembeli ajukan.


"Mas Azfan jago juga bikinnya." Gumamnya seraya menyentuh satu kaligrafi dekat pintu bertuliskan basmalah.


"Kafa." Akhirnya Azfan menyadari keberadaan Kafa, ia menghampiri Kafa yang berada di depan pintu.


"Toko rame Mas?" Tanya Kafa.


"Lumayan, hari ini laku sekitar 5 kaligrafi."


"Wah lumayan, aku juga lagi nyari kaligrafi buat dipajang di apartemen ku karena disana kosong banget terus Ce Khalisa rekomendasikan tempat ini."


"Lihat-lihat aja dulu, Kafa." Azfan meninggalkan Kafa karena pembeli lain memanggilnya.


Kafa bingung, ia suka semuanya. Kalau begitu harus beli yang paling mahal karena itu untuk apartemennya sendiri. Apalagi terdapat nama Allah dan bacaan dari Al-Qur'an tersebut maka Kafa harus membeli yang harganya paling mahal.


Satu pembeli keluar dari toko itu dengan membawa kaligrafi yang sudah dibungkus dengan kertas berwarna coklat.


"Maaf Mas, yang paling mahal yang mana ya?" Kafa menghampiri Azfan.


"Kenapa cari yang paling mahal bukan yang paling kamu suka?" Azfan mengerutkan kening.


"Aku suka semua jadi supaya nggak merasa berdosa aku harus beli yang paling mahal."


"Oh, bacaan ayat kursi disitu." Azfan menunjuk satu kaligrafi berukuran sedang di salah satu sisi dinding, itu adalah bacaan ayat kursi dengan latar belakang hitam dan tulisan berwarna emas. Jika gelap maka tulisan itu akan berpendar, ayat yang selalu bercahaya dan bisa dibaca meski dalam keadaan gelap.


"Berapa Mas?"


"500 ribu." Azfan memberi harga lebih murah pada Kafa meski ia yakin Kafa tak membutuhkan harga diskon karena saldo rekeningnya yang tidak terbatas.

__ADS_1


Kafa menyembunyikan keterkejutannya karena kaligrafi sebagus itu hanya 500 ribu. Harusnya Azfan menjualnya dua atau tiga kali lipat dari itu. Ah tentu saja Azfan masih baru memulai bisnisnya jadi ia tidak akan terlalu memperhitungkan seperti itu, yang penting terjual lebih dulu meski tak banyak memberikan hasil.


"Ya udah aku ambil itu sama Al-fatihah yang disana."


"Baik, aku bungkus dulu ya." Azfan bergegas melapisi kaligrafi itu dengan kertas dan memasukkannya ke dalam kantong plastik khusus agar bisa melindungi seluruh bagian kaligrafi.


Kafa duduk di salah satu kursi dekat meja kasir sambil memainkan ponsel sementara menunggu Azfan selesai membungkus kaligrafi untuknya.


Kafa melihat laki-laki yang datang lebih dulu darinya keluar, itu berarti tinggal mereka berdua di toko itu. Kafa akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menanyakan sesuatu pada Azfan.


"Sudah Kafa, tinggal dibawa pulang."


"Makasih Mas." Kafa melakukan scan QR code di meja kasir untuk membayar kaligrafi tersebut. "Berapa semua?"


"600 ribu."


"Oke, sudah." Kafa memasukkan ponselnya ke dalam saku celana setelah membayar dua kaligrafi itu. "Aku boleh tanya sesuatu?"


"Boleh." Azfan menarik kursi duduk di hadapan Kafa, ia melihat sepasang mata Kafa yang memiliki garis lancip di bagian belakang sama seperti Khalisa.


"Maaf, kamu punya perasaan suka sama Cece?"


"Hm?" Alis Azfan terangkat. "Kenapa Kafa tanya begitu?"


"Aku cuma mau minta tolong sama kamu, tolong pikir dua atau tiga kali untuk mendekati Cece ku."


Mata Azfan melebar, cara bicara Kafa sangat sopan tapi tetap saja itu membuatnya seperti dijatuhkan dari lantai tiga gedung dan mengenai aspal. Sakit.


"Maaf kalau ini menyakiti perasaan kamu tapi sebagai adik aku cuma nggak mau Ce Khalisa kesusahan, maksud aku Om Daniel dan Tante Ica membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang dan mereka sebisa mungkin nggak pengen Ce Khalisa merasakan apa yang mereka rasakan dulu, aku cuma setahun lebih muda dari Ce Khalisa, dia memiliki sifat suka mengalah dan dituntut untuk jadi dewasa karena dia cucu pertama di keluarga kami jadi aku berharap dia menemukan pasangan hidup yang tepat."


Wajah Azfan muram, meskipun kalimat itu membuatnya tersinggung tapi semua yang Kafa katakan benar. Kafa hanya mengungkapkan unek-uneknya sebagai saudara Khalisa. Kafa ingin melindungi Khalisa dari pasangan yang salah dan ... miskin sepertinya. Meski Azfan berusaha, mereka tetaplah keluarga kaya dan Azfan tidak bisa meraih tempat tinggi itu dengan kakinya yang lemah.


"Aku cuma berpikir realistis, rezeki itu memang sudah ada takarannya masing-masing tapi sebelum terlambat aku harus ngomong semua ini, aku harap kamu nggak tersinggung."

__ADS_1


Azfan tersenyum hambar, bagaimana ia tidak tersinggung sedangkan kemarin ia baru mendapat kabar bahagia bahwa Khalisa memiliki perasaan yang sama dengannya. Azfan seperti dibawa naik pesawat ke angkasa lalu hari ini ia dijatuhkan oleh penumpang lain di pesawat itu. Bagaimana caranya agar ia tidak tersinggung, bagaimana caranya agar ia tidak sedih?


"Maaf kamu harus mendengar kata-kata yang menyakitkan ini, aku pergi dulu." Kafa beranjak mengangkat kaligrafi yang sudah dibelinya, "makasih Mas." Ia berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban Azfan.


Azfan menunduk dalam mengusap matanya yang tiba-tiba basah. Ia tidak mau menyalahkan Kafa karena ia sendiri yang lancang menaruh rasa pada Khalisa. Harusnya dari awal Azfan mengendalikan perasaannya agar tidak telanjur dalam.


******


Azfan baru turun dari motornya sepulang dari toko yang baru ia tutup menjelang magrib. Ia melihat ibu Ayu berada di depan tempat kosnya dengan berkacak pinggang, Azfan buru-buru menghampiri wanita 50 tahunan yang mengenakan daster itu.


"Assalamualaikum Bu." Sapa Azfan sopan.


"Malam ini kamu harus keluar dari sini, bereskan barang-barang kamu." Suara itu bagai petir di telinga Azfan, mengapa tiba-tiba menyuruhnya keluar dari sini padahal ia sudah membayar uang kos bulan ini.


"Kenapa Bu kok tiba-tiba?"


"Kamu bener-bener nggak tahu diri ya, selama ini saya baik sama kamu, setiap pagi saya kasih makan, uang kos saya suruh bayar setengah karena apa itu karena Ayu yang minta, dia suka sama kamu tapi tadi pagi di balik ke rumah sambil nangis katanya kamu udah punya cewek, kalau nggak ada saya siapa yang mau kasih makan kamu tiap pagi hah?"


Azfan tertegun tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas rentetan kalimat yang ibu Ayu katakan. Jadi selama ini keluarga Ayu baik pada Azfan itu karena Ayu menyukainya. Pantas saja Azfan merasa perlakuan mereka terlalu berlebihan kepadanya.


"Bu tapi jangan mendadak seperti ini karena saya juga butuh waktu untuk cari tempat tinggal baru." Azfan memohon, gimana ia harus tinggal jika keluar dari tempat ini sekarang juga.


"Saya nggak peduli."


"Beri saya waktu sampai besok."


"Saya bilang malam ini juga, saya kasih waktu kamu 30 menit buat beresin ini semua, kamu itu cuma mahasiswa miskin yang nggak tahu terimakasih, udah untung saya kasih harga setengah untuk tempat kos sebagus ini." Ibu Ayu berlalu dari sana sambil menghentakkan kakinya kuat-kuat ke tanah.


Azfan mengembuskan napas berat, kenapa dua kejadian ini terjadi pada hari yang sama. Biar sekalian sakit begitu?


Azfan tidak memiliki banyak barang, ia memasukkan pakaiannya ke dalam tas ransel dan buku-bukunya ke koper. Tak terasa ia menitikkan air mata sembari mengambil lukisan karya Khalisa yang ia gantung di dinding. Bibir Azfan tersenyum melihat itu tapi hatinya terasa amat perih. Bahkan jauh lebih perih dari luka jahitan di kepalanya.


Satu-satunya tempat yang menjadi tujuan Azfan adalah toko kaligrafinya. Untungnya masih ada ruangan kecil yang biasa ia gunakan untuk shalat saat menjaga toko. Namun sekarang itu akan menjadi tempatnya tidur, shalat, belajar dan apapun yang biasa ia lakukan disini.

__ADS_1


Sepertinya toko itu memang diciptakan tak hanya untuk menjual kaligrafi tapi juga menjadi tempat tinggalnya. Walaupun ini bukan toko milik Azfan tapi setidaknya ia menemukan tempat untuk berteduh. Menemukan tempat kos murah dekat kampus pasti sulit apalagi saat ini banyak mahasiswa baru yang berdatangan.


__ADS_2